
Pesta resepsi Tamara berlangsung sangat meriah. Semakin malam,artis-artis malah baru berdatangan.Irene agak sedikit canggung karena dia jarang sekali menghadiri pesta seperti ini.
Alex yang sedianya menemaninya malah sudah terlihat minum-minum bersama rekan artis yang lain. Irene ingin menghampiri nyonya Renata dan Sofi, ketika dari belakang
pundaknya disentuh oleh seseorang.
"Hai cantik,,,,,sendirian saja, boleh aku temani??".
"Doni,,, darimana saja kau,, aku mencari mu sejak tadi".
"Syukurlah,,,akhirnya ada yang merindukan ku juga".
"Jangan bercanda,,,ayo temani aku makan sekarang".
Irene memegang lengan Doni agar mengikutinya. Mereka menuju tempat catering makanan. Sambil berjalan, sesekali Irene tertawa karena candaan Doni. Mereka tampak serasi sebagai sepasang kekasih.
Alex yang sudah sedikit mabuk, dari tadi memperhatikan tingkah Irene dan Doni. Hatinya dibakar cemburu melihat kedekatan mereka berdua. Alex gelap mata dan menghampiri Irene. Alex memegang tangan Irene dan menyeretnya ke depan pelaminan.
Tubuhnya dilemparkan ke sembarang arah hingga Irene jatuh terduduk.
"Kalian lihat siapa dia,,,,Irene Wijaya karyawan baru mama yang sedang naik daun".
"Tingkah lakunya tak bisa menutupi kelasnya yang sebenarnya".
"Dia hanya gadis miskin yang berharap bisa menjerat pengusaha kaya di pesta berkelas seperti ini".
"Jangan harap,,, kau dengar itu,,gadis miskin seperti mu tak pantas berada di pesta semacam ini, gadis penebus hutang!!!".
"Plak.......!!!!.
Tamparan keras mendarat di pipi Alex. Doni hendak menambahkan pukulan ke wajahnya, tapi Irene lebih dulu mencegahnya.
"Cukup Doni,, aku tak mau merusak pesta Tamara, sebaiknya aku pergi dari sini".
Irene melangkah keluar dari aula dengan menanggung malu.
"Tunggu Irene,,,aku yang mengundangmu ke sini, bukan Alex, jadi kau tak boleh meninggalkan pesta sebelum selesai".
"Lagipula, kau tamu kehormatan ku, bukan seperti yang Alex tuduhkan kepadamu".
"Seharusnya orang sepertinya yang harus pergi dari sini??".
"Oh...kau mengusirku demi gadis itu??".
"Iya,,aku tak mau ada pengacau mabuk yang merusak pestaku".
"Alex,,,kau sudah keterlaluan,, ayo pergi dari sini, mama malu melihat kelakuan mu".
"Sebaiknya Tante bawa dia, sebelum aku hilang kendali dan memukulnya lagi".
Tamara menggandeng tangan Irene menuju ke panggung.
"Teman-teman sekalian,, Irene tidak seperti yang dikatakan Alex".
"Aku mengenalnya, dan aku bangga bisa berteman dengan Irene".
"Kalian tahu, busana yang ku kenakan seharian ini adalah hasil rancangan Irene, dia stylish ku untuk acara besar hari ini".
"Kalian lihat penampilan ku kan,, so..jangan ragu untuk menghubungi Irene jika butuh stylish keren".
__ADS_1
Irene hanya dapat meneteskan air mata. Begitu banyak yang mendukungnya. Bahkan Tamara, yang baru saja mengenalnya sangat baik padanya.
Irene mengira Alex sudah berubah. Nyatanya
sifatnya masih sama saja. Tidak bisa menghargai orang dan cenderung sombong serta arogan.
Irene duduk semeja dengan Tamara dan suaminya. Teman-teman Tamara mendatanginya hanya untuk meminta no
handphone. Irene sangat tersanjung dan berterimakasih kepada Tamara.
Doni yang sejak tadi ada di sampingnya ikut tersenyum dan memegang tangan Irene.
"Ini kesempatan mu,, kembalikan uang Tante Renata,dan pergilah dari sana".
"Aku yakin setelah ini, pasti banyak yang bersedia mempekerjakan mu".
"Terimakasih Don,,kau selalu saja melindungi ku, entahlah kalau tak ada dirimu".
Nyonya Renata dan Sofi sudah sampai di rumah. Alex masih saja mengoceh tak karuan sepanjang jalan pulang ke rumah. Keduanya turun dari mobil dan memanggil penjaga.
"Pak, tolong bawa Alex ke kamarnya, dia sudah sangat mabuk".
"Baik Bu".
"Aku tak habis pikir Sofi, apa yang ada di otak anak ini, sehingga dia tega mempermalukan Irene seperti itu".
"Padahal Irene sudah bersedia memaafkan nya".
"Ahh....apa yang akan kukatakan pada gadis itu nanti".
"Alex kan mabuk Tante, jadi mungkin dia bicara di luar logika nya".
"Anak itu harus diberi pelajaran kalau sudah sadar nanti".
Pesta pernikahan masih berlangsung walaupun sudah larut malam. Doni mengajak Irene pulang. Dari tadi sore Irene sudah bekerja, dia sudah nampak kelelahan".
"Aku antar kau pulang sekarang".
"Kau tidak cocok berada di sini,,pergaulan artis hanya berisi dunia malam dan minum-minuman".
"Aku tahu,,lagipula aku juga sudah capek, ngantuk".
"Untungnya ada teman yang baik hati, bersedia jadi tukang ojek".
"Enak saja,, tunggu saja di rumah, nanti ku kirim tagihan nya".
"Bagaimana kalau barter saja??".
"Tawaran menarik,, apa yang kau punya untuk
kau tukar dengan jasa ku??".
"Hmmm....sedang ku pikirkan".
"Bagaimana kalau makan malam romantis berdua saja denganmu??".
"Kau yakin,,, hanya mau bertukar makan malam??".
"Iya,, aku ingin menikmati satu hari bersama mu, itu saja cukup bagi ku".
__ADS_1
"Ok,,, nanti ku pertimbangkan!!".
"Ayo cepat jalan,, keburu tidur di tengah jalan nanti".
Tangan Irene berpegangan pada pinggang Doni, sementara kepalanya bersandar di bahunya. Irene sudah sangat kelelahan. Dari
kaca spion, dilihatnya Irene sudah memejamkan mata. Doni mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, takut Irene terbangun di tengah jalan.
"Irene,,,,ini sudah sampai rumahmu".
"Masuklah, dan teruskan tidur mu di dalam".
"Maaf Doni,,aku meminjam bahu mu terlalu lama".
"Sana....masuklah,,selamat beristirahat".
Irene masih sempat melambaikan tangan nya ke arah Doni. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan teman sebaik dirinya.
Keesokan harinya, di keluarga nyonya Renata.
"Alex,, duduklah..mama ingin bicara dengan mu".
"Aku sudah terlambat ma...".
"Hari ini kau tidak usah ke kantor".
"Sampai kau bisa memperbaiki sikapmu, mama sendiri yang akan mengurus perusahaan".
"Tapi ma......".
"Renungkan kesalahan mu,,, setelah kau menyadarinya,perbaiki segera".
Alex kembali ke dalam kamarnya. Tas kerjanya di lempar begitu saja di pojok kamarnya.
"Sialan......gara-gara gadis kampung itu, mama jadi menghukum ku seperti ini".
"Sepertinya dia butuh shock terapi sekali lagi".
"Kau belum tahu apa yang sanggup aku lakukan untuk diri mu".
"Lihat saja ,, kau akan mengemis kepadaku nanti".
"Irene,, hari ini Tante tidak ke butik,, kau urus saja semuanya di sana,, Tante percaya padamu".
"Dan Tante juga minta maaf untuk kejadian tadi malam,, Alex sudah benar-benar mengecewakan Tante".
"Iya Tante,, sebentar lagi aku berangkat, dan tante tak perlu minta maaf, aku sudah mengerti semuanya".
"Mungkin kebencian pak Alex terhadap ku terlalu besar hingga dia berbuat seperti itu".
"Kalau Tante mengijinkan, sebaiknya aku mengundurkan diri saja, lagi pula uangku sudah cukup untuk membayar hutang ku ke Tante".
"Kau jangan macam-macam, tunggu sampai Tante datang, nanti kita bicarakan lagi".
Irene menutup sambungan telepon dari nyonya Renata. Tadi, pagi-pagi sekali beliau sudah menelponnya untuk mengurus butik selama dua hari. Nyonya Renata ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.
Irene bergegas berangkat ke butik dengan menggunakan kendaraan umum. Berulang kali Doni menawarkan untuk membeli sepeda motor, tapi Irene masih belum berminat.
Sikapnya yang sederhana dan tidak bermewah-mewahan membuat usahanya berkembang dengan pesat. Tak ada yang tahu kalau Irene sudah punya lima cabang toko Frozen food di Jakarta.
__ADS_1