Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Penculikan.


__ADS_3

Nisa dan Alex masih sibuk melayani obrolan para tamu dan keluarga yang masih belum pulang. Sementara, si kembar sudah di serahkan kepada pengasuhnya untuk di bawa ke kamar. Semua orang berkumpul di ruang tamu, dan Nina sudah membawa Abiyasa ke kamarnya.


Lain halnya dengan Nita, diam-diam dia menyelinap keluar dari ruang dapur. Sambil menggendong Anindita, dia menemui


seseorang di belakang rumah. Keduanya berjalan menjauh dari rumah mewah tersebut dengan membawa bayi perempuan Irene.


Nita memanfaatkan suasana rumah yang sedang ramai, untuk menculik Anindita. Dia sudah mengamankan barang-barang nya sejak siang tadi. Dia juga sudah membuka pintu rumah belakang untuk jalan mereka kabur dari rumah Irene.


Nina yang merasa heran karena Nita tidak kunjung kembali membawa si kecil, segera berkeliling rumah untuk mencari tahu. Dia memeriksa setiap bagian rumah Irene, tapi tak juga menemukan Nita. Dia kemudian menggendong Abi dan menemui Irene yang sedang berbincang di ruang tamu.


"Kenapa kembali lagi Nina, apa Abi belum mau tidur??".


"Itu Bu, dari tadi Nita membawa non Anin keluar kamar dan belum kembali sampai sekarang".


"Apa kata mu,, di bawa ke mana Andin?".


"Saya kurang tahu Bu, saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi tak ada juga".


"Jangan bercanda Nina".


"Tidak Bu,, memang benar begitu".


Alex langsung berdiri dan mengambil ponselnya. Dia memeriksa rekaman cctv di rumahnya. Sementara Irene sudah menangis dan berteriak histeris.


"Tenang dulu Irene, kau jangan panik".


"Mungkin Nita hanya membawanya keluar cari angin".


nyonya Renata dan Bu Wijaya masih mencoba menenangkan Irene. Sementara Alex memanggil petugas keamanan di rumahnya. Dia juga langsung menelpon polisi, setelah melihat putrinya benar-benar di culik oleh pengasuhnya.


"Kalian cari sekarang, di seluruh perumahan ini, temukan Nita, mungkin saja mereka belum jauh".


"Jadi, putri kita benar-benar di culik oleh Nita?".


"Ya Tuhan,, apa lagi ini??".


"Sabar Irene,, kau tenang dulu".


"Aku sedang memeriksa rekaman nya".


"Tunggu,, berhenti di situ,, ya.....siapa lelaki ini,, kenapa Nita menemuinya?".


"Aku yakin,, ini pasti sudah di rencanakan".


"Ok, pak....kita tunggu polisi, biar mereka yang mengidentifikasi pelaku".


"Aku seperti mengenal dirinya".


Irene masih terus menangis di sofa. Dia menyesali dirinya yang ceroboh, sehingga membuat Anindita di bawa kabur pengasuh baru nya. Alex menghampiri dan memeluknya


Dia berusaha menenangkan istrinya tersebut.


"Kau tenang saja sayang, anak kita pasti segera di temukan".

__ADS_1


"Aku akan mengejarnya walau ke ujung dunia sekalipun".


Kebahagiaan di ruang tamu, seketika berubah menjadi kesedihan. Seluruh keluarga ikut merasakan kehilangan Anindita. Mereka menemani dan memberi dukungan kepada Irene dan Alex.


Polisi baru saja datang, saat telepon di rumah Irene berbunyi. Alex bergegas menjawab panggilan tersebut.


"Selamat malam tuan Alex,,,bagaimana kejutan yang saya berikan malam ini??".


"Tentunya istri anda menangis meratapi putrinya bukan??".


"Apa mau mu sebenarnya,,, kau mau uang,, katakan berapa jumlah yang kau inginkan, tapi kembalikan putri ku segera".


"Sabar tuan,, saya masih ingin melihat istri anda menderita sedikit lagi".


"Biar dia juga merasakan apa yang saya rasakan waktu itu".


"Apa maksud mu??".


"Selamat menangis dan bersedih tuan,, besok saya akan telpon kembali".


"Tunggu.......hei.......!!".


"Sialan.....dia matikan telepon nya".


"Apa katanya Alex, bagaimana kondisi putri kita??".


"Dia tak bilang Irene, tapi kau mungkin mengenalnya".


"Dia menaruh dendam padamu".


"Mungkin ada mengenal orang ini nyonya".


Polisi menunjukkan wajah asli pria yang ada di dalam rekaman cctv. Mereka memperbesar ukuran gambar pelaku penculikan Anindita.


"Itu kan Roger,, aku tak mungkin lupa dengan


wajahnya".


"Bukan nya dia sedang di cari polisi??".


"Itulah nyonya, makanya kamu bisa mencocokkan sidik jari yang tertinggal di kursi pelaku".


"Kami akan berusaha menemukan pria ini secepatnya".


"Alat komunikasi di rumah ini sudah di pasang penyadap".


"Kami akan melacak lokasi penculiknya"


"Kalian tak perlu khawatir, putri anda pasti segera di temukan".


Polisi segera pergi untuk mencari keberadaan Roger. Sementara ada dua orang petugas yang masih tinggal. Orang tua Irene dan Alex pun menginap di rumahnya. Sementara Irene berada di kamarnya bersama dengan Abiyasa.


Di sebuah rumah kontrakan, terlihat Nita dan Roger sedang berusaha menenangkan bayi Irene yang sejak tadi terus menangis.

__ADS_1


"Suruh bayi itu diam,, aku sudah pusing mendengar suara tangisan nya".


"Tapi, saya lupa membawa susunya tuan, jadi terpaksa anda harus membelinya".


"Kalau sampai dia meninggal karena kelaparan, maka kita berdua yang repot".


"Dasar kau ini, menyusahkan saja".


"Apalagi yang harus ku beli sekarang??".


Nita menuliskan daftar belanja yang harus di beli untuk bayi Irene. Nita sangat takut kalau dirinya nanti ikut terseret ke dalam penjara. Tapi, dia sudah menerima uang besar untuk biaya operasi ibunya di kampung. Dan Nita tak mungkin bisa mengembalikan nya. Jadi, dengan terpaksa dia menuruti kemauan Roger menculik bayi Irene dan Alex.


Setiap kali keluar rumah, Roger selalu memakai topi, kacamata dan jaket, agar dirinya tidak di kenali. Dia adalah buronan kasus penggelapan uang di butik Irene.


Kali ini dia pun mampir ke telepon umum untuk menelpon rumah Alex kembali.


Telepon berdering. Alex dan para polisi bersiap untuk melacak keberadaan penculik tersebut.


"Selamat malam tuan Alex".


"Tak usah basa-basi Roger,, aku sudah tahu kalau ini kau".


"Cepat kembalikan anakku sekarang, dan aku akan pertimbangkan tuntutan terhadap mu".


"Tapi, kalau sampai kau menyakiti putri ku,, aku tak segan-segan menghukum diri mu".


"Baiklah Alex,, rupanya kalian sudah mengenali ku".


"Bagus,, jadi istri mu bisa meminta maaf padaku atas perbuatan nya di masa lalu".


"Apa maksud mu,, apa yang Irene perbuat, sehingga kau begitu membencinya??".


"Tanyakan itu padanya,, setelah itu, baru ku pertimbangkan, akan mengembalikan putri mu atau membuang nya ke panti asuhan".


Telepon di matikan begitu saja. Namun polisi sudah bisa melacak lokasinya. Mereka segera bergerak menuju ke tempat yang terpantau di GPS.


"Mari pak, anggota saya sudah ada yang di sana".


"Aku ikut Alex, aku ingin tahu dendam apa yang di milikinya padaku".


"Ini akan sangat berbahaya Irene, sebaiknya kau di rumah saja".


"Tidak, aku harus ikut, nyawa putri ku dalam bahaya bukan??".


"Kalau begitu, ayo cepat.....!!!".


Alex dan Irene masuk ke dalam mobil bersama petugas polisi. Sementara Laura bertugas menjaga Abiyasa di rumah.


Sejak dari telepon umum, Roger memang sudah di awasi oleh petugas yang menyamar.


Mereka berjaga di depan rumah kontrakan yang tadi di masuki nya, sambil menunggu perintah.


Saat rombongan Irene dan Alex datang, polisi segera mengepung rumah tersebut. Mereka mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Namun, alangkah terkejutnya para polisi saat mendapati Roger tidak ada di lokasi. Padahal mereka sangat yakin kalau rumah tersebut yang di masuki nya.


...****************...


__ADS_2