Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Nita Menyerahkan Diri.


__ADS_3

Irene masuk ke dalam rumah. Di sana, sepasang suami istri tengah menggendong seorang bayi. Irene menyapa mereka berdua, namun keduanya tampak ketakutan. Mata mereka terus melihat ke arah kamar. Saat hendak keluar rumah, bayi yang di gendongan suami istri itu menangis. Irene berhenti karena merasa mengenali suara tangisan bayi tersebut.


"Cepat buka selimutnya,, aku yakin itu bukan putri kalian".


"Tolong nyonya,, bayi ku sampai ketakutan".


"Pergi dari sini, ku mohon".


Andin nekat maju hendak merebut bayi tersebut, walaupun di halangi oleh suaminya.


Dari jauh, Roger dan Nita terus memantau kondisi di ruang tamu tersebut. Alex dan polisi mencoba menenangkan Andin yang masih histeris.


"Alex,, lihatlah dulu wajahnya, aku yakin dia Anindita kita".


"Minta dia buka selimut itu,, baru aku mau pergi dari sini".


Alex maju dengan di bantu dua orang polisi.


Suami istri itu pun sudah tidak bisa berkutik lagi. Mereka berteriak memohon ampun sambil menyerahkan bayi Irene. Polisi segera mengamankan keduanya, walaupun mereka bersumpah bahwa dirinya tidak bersalah.


"Tuan,, bukan kami yang menculik bayi ini".


"Kami tidak bersalah,, mereka sudah lari dari sini".


"Pasangan itu yang menyerahkan bayinya".


"Aku tidak menyakitinya,, silahkan nyonya,, ini lihatlah,, bayi mu baik-baik saja".


"Tolong percayalah pada kami".


"Kami tidak bersalah sama sekali".


Irene menerima Anindita dengan penuh rasa syukur. Bayinya selamat dan tidak terluka sedikit pun. Polisi membawa pasangan suami istri tersebut ke kantor, untuk di mintai keterangan. Mereka harus bertanggung jawab atas penculikan Anindita.


Irene mendekap bayinya sambil menangis.


Akhirnya putrinya di temukan kembali. Walau-pun Roger dan Nita berhasil melarikan diri.


Irene sangat bersyukur bisa berkumpul kembali dengan Anindita putrinya.


Polisi masih memburu dua orang yang menjadi dalang penculikan dari putrinya. Sementara Alex dan Irene kembali ke rumahnya. Mereka membawa pulang Anindita dengan perasaan gembira.


Sampai di rumah, Kedua orang tua Alex dan Irene menyambut sukacita. Untung saja Anindita langsung bisa di temukan, kalau sampai di bawa pergi jauh, Irene pasti bisa benar-benar gila.


"Syukurlah,, cucu kita bisa di selamatkan".


"Dia baik-baik saja kan Irene??".


"Iya ma, Anindita tertidur di jalan tadi,, dia pasti tidak nyaman beberapa hari ini".


"Aku akan membawa ke kamarnya sebentar".

__ADS_1


Sementara Irene membawa bayi nya ke kamar, Alex masih sibuk menelpon polisi. Mereka kehilangan jejak Roger dan Nita.Alex menceritakan bagaimana keduanya akhirnya bisa menemukan Anindita. Untung saja Irene mengenali suara tangisan bayinya, kalau tidak


Anindita tak mungkin di temukan.


Di tempat berbeda, kedua orang buronan itu berhasil kabur. Mereka lari setelah Irene memaksa untuk melihat dirinya. Kesempatan itu mereka gunakan untuk meninggalkan rumah kontrakan.


"Bagaimana ini tuan, saya takut sekali".


"Bagaimana kalau kita tertangkap,, mana ibu saya ada di rumah sakit".


"Kau jangan khawatir, aku akan memberi mu uang yang banyak".


"Kau bisa pergi kemana pun kau suka".


"Tapi setelah ini, jangan pernah sebut nama ku".


"Tapi, mereka juga sedang mencari ku tuan".


"Kalau tertangkap aku bisa di penjara".


"Dasar bodoh,, pergi jauh dari sini, kalau perlu keluar negeri sekalian".


"Kau bisa sekalian kerja di sana bukan??".


"Ini uang mu,, jangan ikuti aku lagi".


Roger meninggalkan Nita di pinggir jalan setelah memberinya sejumlah uang. Gadis itu bingung, hendak bersembunyi di mana lagi.


Roger untuk menculik putri Irene. Sekarang dia sendiri yang harus menanggung akibatnya.


Nita duduk termenung di pinggir jalan. Sementara Roger sudah pergi entah kemana.


Nita begitu takut akan di penjara. Padahal dia terpaksa melakukan hal tersebut.


Nita berpikir untuk kembali ke rumah Irene dan mengakui kejahatan nya, serta meminta maaf kepada keluarganya. Mungkin hukuman nya nanti bisa lebih ringan. Setidaknya, dia


sudah berusaha untuk memperbaiki keadaan.


Nita bergegas mencari ojek online untuk berangkat ke rumah Irene. Pagi-pagi sekali dirinya akhirnya sampai di sana. Nita mengetuk pintu rumah Alex dari luar. Kebetulan, Nina yang membukakan pintu.


"Mau apalagi kau kemari,, kalau sampai tuan dan nyonya tahu, kau bisa di penjara".


"Aku memang ingin bertemu dengan mereka Nina".


"Mereka masih di kamar nya,,kelelahan mencari si kecil yang kau bawa pergi".


"Sudah enak kerja di sini, gaji besar, majikan yang baik, kau malah bikin ulah".


"Tolong panggilkan Bu Irene dan pak Alex, aku ingin minta maaf kepada mereka".


"Aku janji setelah ini akan menyerahkan diri ke kantor polisi".

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar, biar aku panggilkan dulu".


Nina menutup pintu rumah dan langsung naik ke lantai atas. Dia mengetuk kamar Irene pelan. Tak berapa lama Irene membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Nina,, si kembar baik-baik saja bukan??".


"Iya Bu,, tapi......di luar ada Nita, dia ingin ketemu ibu dan bapak".


"Mau apa anak itu kemari,, belum kapok menyusahkan seisi rumah ini".


"Lagi pula kan dia sedang di cari polisi".


"Katanya, Nita memang berniat menyerahkan diri Bu, tapi setelah meminta maaf pada Bu Irene dan pak Alex".


"Ya sudah, tunggu sebentar aku ganti baju dulu".


Irene masuk ke dalam dan membangunkan Alex yang masih terlelap. Dia terlihat masih mengantuk.


"Kenapa sayang,, ini kan masih pagi".


"Di luar ada Nita mas,, dia mau bertemu dengan kita".


"Rupanya dia punya nyali juga datang kemari".


"Ayo kita lihat,, mau apa dia".


Di ruang tamu, Nita terlihat sudah duduk di sofa, di awasi oleh Nina. Saat melihat kedua majikan nya turun, Nina lantas kembali ke kamar bayi. Sementara Nita langsung bersimpuh mencium kaki Irene dan meminta maaf.


"Ampuni saya Bu,, saya telah berani membawa pergi non Anin".


"Saya terpaksa Bu, karena orang itu memberi saya uang".


"Bangun Nita, jangan seperti ini".


"Duduklah di sofa dan ceritakan semuanya".


Nita menceritakan semua yang di lakukan nya kepada Alex dan Irene. Perihal Roger yang menyuruhnya melaporkan keadaan rumah Irene, serta niatnya menculik bayi Irene.


"Saya terpaksa Bu, demi pengobatan ibu saya".


"Beliau harus di operasi secepatnya, dan saya tidak punya uang sama sekali".


"Laki-laki itu yang mengatur semuanya, supaya saya bisa bekerja disini Bu".


"Tolong ampuni semua kesalahan saya, agar saya tenang di penjara".


Alex kemudian mengintrogasi Nita tentang alamat Roger dan latar belakangnya.Ternyata memang dia tak banyak mengenal sosok pria tersebut. Dia hanya sangat butuh uang dan mendapatkan nya dengan cara yang salah.


Alex dan Irene akhirnya bersedia memaafkan Nita, walaupun memang dirinya harus di tahan di kantor polisi untuk perbuatan nya tersebut. Tapi setidaknya, Alex dan Irene tidak akan mengajukan tuntutan kepada Nita.


Suasana di rumah kedua pasangan tersebut kembali tenang dan harmonis. Meski Roger masih belum bisa di temukan oleh polisi. Irene lebih banyak di rumah mengawasi kedua anaknya. Untuk sementara dia masih belum memikirkan pekerjaan nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2