Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Irene luluh.


__ADS_3

"Kau terlihat cantik sekali memakai kalung ini Irene".


"Terima kasih banyak,, aku sama sekali tak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini".


"Ini belum seberapa, tengoklah di belakang mu sekarang".


"Ada kejutan untuk mu".


Irene berbalik ke belakang. Dilihatnya kedua orang tua dan adiknya hadir di restoran dengan membawa kue ulang tahun. Tak ketinggalan kedua mertuanya juga datang membawakan hadiah spesial di hari jadi Irene tersebut.


Tidak berhenti di situ,, teman dan karyawan Irene juga turut diundang oleh Alex, termasuk juga Doni. Pesta kejutan kali ini sungguh lengkap di rasakan oleh Irene. Kebahagiaan yang dirasakan nya sampai membuatnya meneteskan air mata.


"Aku hanya membawa orang-orang terdekatmu saja,, kalau pun masih ada yang belum hadir, aku minta maaf padamu Irene".


"Tidak Alex,, ini sudah lebih dari cukup".


"Aku berterima kasih padamu".


"Aku tak menyangka ulang tahun ku kali ini akan semeriah ini".


Irene sungguh sangat terharu. Kedua pipi cantiknya sudah basah oleh air mata. Alex berani kan diri mengusap air mata di wajah cantik Irene.


"Untuk kali ini, jangan menangis lagi".


"Aku mau sekarang dan seterusnya bisa membahagiakan mu".


"Lupakan masa lalu ku yang kelam".


"Tolong,, beri kesempatan padaku untuk menebus semua kesalahan ku".


"Sudah cukup Alex,, jangan bicara lagi,, atau aku akan kembali menangis".


Keduanya menyambut kedatangan keluarga dan sahabat Irene. Lagu ulang tahun yang mereka nyanyikan sudah selesai. Ayah dan ibu menyuruh Irene meniup lilin di atasnya.


"Berdoalah dulu sayang,, dan ucapkan permintaan mu".


"Semoga Tuhan memberi umur panjang dan kebahagiaan yang berlimpah".


Irene memejamkan mata, kemudian meniup lilin. Tepuk tangan meriah mengiringi pemotongan kue ulang tahun. Potongan pertama dia berikan pada Alan, selanjutnya orang tua dan mertuanya lalu yang terakhir, Laura adiknya.


Pesta kejutan yang di gagas Alex malam ini sukses besar. Irene bahkan lebih terbuka pada Alex. Dia tidak terlihat membencinya lagi. Keduanya melebur di tengah-tengah kebahagiaan keluarga.


Saat acara masih berlangsung, Doni menarik Irene menjauh dari mejanya. Dai telah menyiapkan kado istimewa untuk wanita yang di cintai nya tersebut. Doni memberikan nya langsung kepada Irene.


"Selamat ulang tahun Irene,, terimalah hadiah dariku".


"Mungkin tidak semewah pemberian yang lain,, tapi ini cukup berharga dan istimewa bagiku".


"Doni,, jangan terlalu sungkan,, aku tak mengharapkan semua ini".


"Terima kasih banyak atas hadiah dari mu ini".

__ADS_1


Di tengah bincang-bincang mereka, Alex menghampiri keduanya. Dia sengaja berdiri di sebelah Irene dan menunjukkan kemesraan pada Doni.


"Rupanya kau ada di sini,, jangan suka menghilang tiba-tiba Irene".


"Aku takut ada orang lain yang sengaja ingin


mengambil mu dari ku".


"Maaf Alex, aku bukan bermaksud menculik Irene,, hanya saja aku hanya ingin memberinya hadiah".


"Lagipula, dia masih berhak kemanapun sesuka hatinya kan??".


"Kita berdua tahu bagaimana sifat Irene yang tidak suka di atur".


"Sudah,, hentikan..jangan rusak kebahagiaan malam ini dengan pertengkaran tak jelas kalian".


"Tolong hargai aku, dan mari kita bergembira saja malam ini".


"Lupakan masalah yang lain dulu".


"Yang penting sekarang, kebersamaan".


Irene lantas meninggalkan kedua pria yang sering berseteru tersebut, untuk bergabung dengan keluarganya. Sudah lama sekali sejak Irene menikah, dia belum mengunjungi mereka. Momen kali ini adalah pengobat rindu bagi Irene dan keluarganya.


"Kalian bagaimana kabarnya sekarang??".


"Maaf Bu,, aku belum sempat datang ke rumah".


"Lagi pula ibu bahagia melihat Alex memperlakukan mu,, tampaknya dia sangat mencintai mu".


"Raut wajah mu tidak mungkin bohong".


"Ibu benar,,Alex sudah banyak berubah sekarang".


"Dia sangat baik dan perhatian".


"Apalagi menyangkut kehamilan ku,,dia berubah jadi suami siaga".


"Syukurlah nak,,,ada hikmah di balik setiap kejadian".


"Tinggal kita bersabar menerimanya".


Kemeriahan pesta ulang tahun Irene malam ini semakin lengkap dengan hadirnya Tamara dan teman-teman nya. Karena sudah larut malam,, Alex mengajak Irene untuk pulang. Tidak baik bagi ibu hamil kalau tidur terlalu malam. Sementara yang lain masih asyik berpesta ria. Keluarga dan mertua Irene pun sudah pulang dari tadi. Jadi, hanya Irene dan Alex yang pulang berdua saja malam ini.


"Maaf Irene,, kita terpaksa pulang duluan".


"Kau sudah nampak lelah,, aku takut kalau kandungan mu bermasalah nanti".


"Terimakasih Alex,, aku memang agak sedikit lelah".


"Untung saja kau langsung mengajak ku pulang".

__ADS_1


"Terimakasih,, atas malam ini,, seumur hidup, aku tak akan melupakan nya".


"Aku senang bisa membuatmu tertawa lagi,, ceria seperti dulu".


"Omong-omong,, apa yang di berikan Doni kepadamu, kau sudah membukanya??".


"Belum,, apa kau mau melakukan nya".


"Ini,, silahkan kau buka saja,, supaya tahu apa isinya".


"Tidak, aku tidak punya hak untuk melakukan hal itu".


"Simpanlah,, buka nanti kalau sudah sampai di rumah".


Keduanya terdiam sepanjang perjalanan restoran ke apartemen. Tak terasa mereka sudah sampai ke basemen. Irene turun dan menunggu Alex memarkir mobilnya. Keduanya berjalan beriringan ke apartemen.


Sampai di dalam, Irene mengganti pakaian. pestanya dan membersihkan dirinya. Setelah itu, dia keluar kamar. Di lihatnya Alex berbaring tidak nyaman di sofa. Irene lantas menghampirinya dan duduk di sebelah Alex.


"Alex,, mulai malam ini, tidurlah di kamar".


"Aku tahu kau merasa tak nyaman di sini kan??".


"Tak apa Irene, jangan mencemaskan ku,, istirahatlah,, ini sudah larut malam".


"Tapi Alex,, anak mu ini ingin sekali disentuh oleh ayahnya sebelum dia tidur".


"Kau bisa melakukan nya kan??".


"Tapi,, apa benar kau tidak keberatan??".


"Aku takut kau tak nyaman nanti".


"Bukan aku yang memintanya, tapi putramu yang menginginkan,, kau mau memenuhi permintaan nya bukan??".


Alex mengangguk dan mengikuti Irene menuju kamar tidurnya. Irene mengijinkan Alex berbaring di sampingnya. Alex mengusap lembut perut Irene dan mengajak bayinya berbicara. Tanpa sadar, air mata Alex jatuh tepat di atas telapak tangan Irene. Dai pun jadi sedikit terkejut, melihat rasa haru di wajah suaminya itu.


"Maaf Irene,, aku sangat bahagia, jadi tak terasa kalau air mata ini menetes".


"Tidak apa Alex, lanjutkan saja,, tampaknya anak kita menyukai suara ayahnya".


"Aku yakin saat dia lahir nanti, dia pasti akan sangat menyayangi mu di bandingkan dengan ku".


"Kau ibunya,, anak ini akan menyayangi kedua orang tuanya".


"Aku janji,, dia akan menjadi anak yang sangat bahagia".


"Kita akan selalu menjaganya bersama".


Alex asyik bercerita sehingga tidak memperhatikan kalau ternyata Irene sudah terlelap. Dia kemudian menarik selimut dan berbaring di samping Irene. Alex tersenyum karena perlahan-lahan Irene akhirnya bersedia menerima dirinya. Alex pun akhirnya ikut terlelap dengan nyaman di samping istrinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2