
"Tante,,,kenapa malah senyum-senyum sendiri".
"Aku kesal sekali dengan perlakuan Alex tadi".
"Itu bukan seperti dirinya".
"Tante ingat kan,,,dia itu anak nakal yang tak suka di atur".
"Tapi hari ini,, aku melihat kalau serigala ini sudah berubah jadi domba yang manis".
"Hanya demi wanita bernama Irene".
"Dear,,,,kau harus tahu cerita yang sebenarnya".
"Irene bukan seperti yang kau tuduh kan".
"Dia gadis yang baik, sangat baik".
"Tante bersyukur dia akhirnya menerima Alex dan mencintai dirinya".
"Maksud tante,,Irene menikah dengan Alex tapi mencintai Doni".
"Aku jadi bingung coba jelaskan,,barangkali aku bisa paham".
"Pada mulanya memang seperti itu Vera,,,
Irene menikah dengan Alex karena terpaksa".
"Alex memperkosanya di butik ini, sampai akhirnya Irene hamil".
"What,,,,,Alex.......memperkosa Irene???".
"Kau tahu kan seperti apa anak itu".
"Irene yang malang...masa depan nya hancur karena putra tante".
"Seingat ku Alex sangat membencinya, tapi
kenapa hal itu bisa terjadi".
"Alex membenci hubungan nya dengan Doni".
"Itulah kenapa dia nekat melakukan nya".
"Semula Irene ingin mengurus bayi nya sendirian".
"Tapi karena Alex sudah bisa merubah sifatnya, maka Irene setuju untuk menikah dengan nya".
"Hanya demi status bayinya dan bukan demi cinta".
"Rupanya aku sudah ketinggalan jauh selama ini".
"Banyak sekali kejutan hari ini tante".
"Ya,,,begitulah Vera,, ku harap kau mengerti kalau sikap Alex sekarang sudah berbeda jauh dari dirinya yang dulu".
"Dan bukan itu saja,, kau sudah melihat berita tentang Irene kan??".
"Dia sukses menggelar fashion show dan menyamakan dirinya dengan para desainer ternama".
__ADS_1
"Dia juga baru saja membuka rumah mode, bekerjasama dengan rumah mode ternama dari Amerika".
"Wanita itu pekerja keras yang sukses".
"Dia punya beberapa toko yang menjual aneka makanan Frozen food".
"Serta penulis novel terkenal".
"Seperti itu,,,aku jadi tertarik untuk mengenalnya lebih jauh Tante".
"Alex sudah mendapatkan wanita yang tepat rupanya".
"Walaupun, aku masih belum rela kalau harus melepasnya".
Banyak yang di ceritakan nyonya Renata kepada Vera. Maklum saja, gadis itu hampir jadi menantunya. Bertahun-tahun, Vera selalu sabar menghadapi sikap Alex yang keras kepala. Tak di sangka, Alex akhirnya menikah dengan wanita pilihan nya.
Alex masuk ke ruang rawat inap. Dia melihat Irene menahan sakit di perutnya. Alex menghampiri nya dan mengusap lembut perut istrinya. Siapa tahu hal itu bisa mengurangi rasa sakit yang di alaminya.
"Tunggu di sini, biar aku panggil dokter".
"Jangan Alex,, aku tidak apa-apa".
"Bagaimana bisa, kau kesakitan seperti ini".
Alex berlari keluar dan memanggil dokter.
Dia tak tega melihat kondisi Irene. Nampak
sekali kalau istrinya kesakitan. Alex kembali bersama dokter kandungan yang menangani kehamilan Irene. Sejenak dia memeriksa layar monitor.
Dari wajah dokter, Alex tahu pasti kalau ada hal serius yang terjadi. Dokter meminta Alex untuk segera mengikutinya.
"Maaf pak, sepertinya kehamilan istri anda tidak bisa di teruskan".
"Maksud dokter,,,bayi kami ada masalah??".
"Bukan bayi anda pak, tapi Bu Irene yang bermasalah".
"Rahim Bu Irene mengalami sobekan, masih kecil, tapi bisa sangat berbahaya".
"Kalau diteruskan, nyawa Bu Irene bisa terancam".
"Karena Bu Irene akan mengalami pendarahan terus-menerus selama kehamilan nya mencapai usia 9 bulan".
"Tapi dokter, anak kami sudah 5 bulan".
"Kami tahu pak,,maka dari itu, keputusan ada di tangan kalian berdua".
"Tolong ambil keputusan secepatnya pak,,biar kami bisa lakukan tindakan".
"Apa, tidak ada cara lain dokter??".
"Ada pak,,kami bisa memberinya obat untuk menghentikan pendarahan nya, tapi itu juga bisa mengancam nyawa ibu Irene, kalau ternyata sobekan di rahimnya membuka kembali".
"Jadi, silahkan kalian berdua bicarakan ini baik-baik".
Alex keluar dari ruangan dokter dengan lemas. Dia tak bisa memutuskan untuk memilih antara Irene ataukah bayinya. Keputusan yang sangat sulit harus di ambilnya. Dan dia harus memberitahu Irene secepatnya.
Alex menemui Irene dengan perasaan sedih. Hatinya sangat hancur. Entah dari mana dia harus mulai berbicara. Alex seakan tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Ketika akhirnya Alex menjelaskan semuanya, air matanya sudah tak berhenti mengalir. Hati lelaki mana yang tak hancur kalau di hadapkan pada pilihan yang sulit. Memilih istri atau kedua buah hatinya.
Berbeda dengan Alex, Irene terlihat jauh lebih tegar. Pengalaman hidup yang di milikinya membuatnya jauh lebih bijak dalam mengambil keputusan. Walaupun dia juga menangis pada akhirnya, Namun kehidupan telah mengajarkan Irene banyak hal. Terutama untuk tidak lemah menghadapi semua cobaan hidup.
"Alex,, aku memilih mempertahan kan anak ini".
"Aku akan menanggung semua konsekuensi-nya, asalkan kedua anak ku baik-baik saja".
"Tapi sayang,, kau bisa kehilangan nyawamu".
"Memangnya kenapa,, semua orang pada akhirnya akan mati bukan??".
"Setidaknya aku akan berjuang untuk memberikan buah hati ku kehidupan".
"Tolong temani aku Alex,, kuatkan aku saat nanti tak bisa menahan kesakitan ini".
Alex mencium dahi Irene. Air matanya menetes membasahi wajah cantiknya. Istrinya yang begitu tegar, mampu berjuang demi kehidupan putranya. Alex tertunduk malu. Terbayang betapa selama ini selalu menghina dan merendahkan Irene. Nyatanya, demi putra Alex, Irene sanggup mengorbankan nyawanya.
"Bilang pada dokter, lakukan apa saja asalkan aku bisa meneruskan kehamilan ku ini".
"Aku ingin anak ku di lahir kan ".
"Baiklah sayang, kita berjuang bersama".
"Aku akan selalu menemani dan menjaga mu
sampai anak kita lahir nanti".
Alex memeluk Irene dengan erat. Mereka sudah memutuskan akan melalui ini bersama-sama. Keduanya yakin kalau ke depan nya , pasti akan baik-baik saja.
Alex segera memberikan keputusan nya kepada dokter. Irene lebih memilih untuk tetap mempertahankan buah hatinya. Dokter lalu menjelaskan tentang apa yang harus keduanya lakukan, serta konsekuensi yang harus di terima dengan keputusan yang sudah mereka ambil.
Orang tua Irene datang setelah Alex menelpon mereka. Di susul dengan nyonya Renata yang datang bersama dengan Vera.
Alex menjelaskan keadaan Irene kepada mereka semua. Bapak dan ibu Wijaya hanya bisa meneteskan air mata. Sementara Vera dan nyonya Renata tak sanggup berkata- kata.
"Anak itu,, entah terbuat dari apa hatinya".
"Mama sangat kagum dengan perjuangan Irene".
"Yang terpenting sekarang hanya membuat Irene bahagia ma".
"Dia sedang mengalami saat- saat sulit sekarang".
Mereka bergantian masuk ke ruangan Irene. Alex sudah berpesan untuk tidak membuat Irene bersedih. Sebisa mungkin,mereka menghibur Irene, agar kembali sehat. Vera mendapat giliran terakhir untuk menjenguk Irene. Sekarang, dia bisa membuktikan sendiri, betapa hati Irene sangat baik. Vera semakin salut pada istri Alex tersebut.
"Irene,, kau masih mengingat ku bukan??".
"Terakhir kita bertemu, kau masih bermusuhan dengan anak nakal itu".
"Sekarang, kalian malah sudah mau punya anak".
"Rupanya aku sudah tua,,sebentar lagi ada yang memanggilku bibi".
"Vera,,aku ingat...kau dulu menyukai Alex bukan??".
"Anak nakal itu,, mana mungkin aku menyukai nya".
Keduanya bercerita layaknya sahabat. Hal itu sejenak bisa melupakan kesakitan Irene. Dari jauh, Alex memperhatikan Irene. Syukurlah Vera bisa membuatnya ceria lagi.
__ADS_1
...****************...