Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Di Teror.


__ADS_3

Setelah pertengkaran di jalan tadi, Alex mengarahkan mobil mereka menuju rumah.


Suasana sudah sepi dan lampu depan juga sudah di matikan. Irene masuk dan melihat ke kamar si kecil. Mereka tampak terlelap


di ranjang masing-masing dengan di temani dua pengasuhnya.


Tak berapa lama, Irene menyusul suaminya masuk ke kamar. Di lihatnya, Alex sudah berganti dengan kaos dan celana pendek.


Dia sudah berbaring di atas kasur.


Irene menghapus riasan kamarnya, lalu berganti pakaian. Mereka berdua berbincang di atas tempat tidur.


"Sayang,, kau sudah pikirkan nama untuk si kecil??".


"Aku sudah mengatur acara nya,, lusa kita akan mengadakan syukuran serta pemberian nama di rumah ini".


"Kau tenang saja,, sudah ada orang ku yang mengurus semuanya".


"Hanya tinggal mencari nama saja, tugas kita kali ini".


"Terserah kau saja Alex, aku tidak punya ide sama sekali".


"Baiklah,, bagaimana kalau Abiyasa dan Anindita,, nama yang bagus bukan??".


"Ya.....itu nama yang indah".


"Kau kenapa Irene, apa masih ada yang mengganggu pikiran mu??".


"Coba katakan padaku".


"Entah lah Alex, tiba-tiba aku merasa takut".


"Apa lagi yang kau takutkan,, kau hanya perlu bercerita padaku".


"Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk


pada keluarga kita".


"Kemarilah,, kau mungkin lelah".


"Jangan pikirkan hal yang bukan-bukan".


"Kita akan baik-baik saja, kau harus yakin akan hal itu".


Semalaman Alex tak melepaskan Irene dari pelukan nya. Seperti ada yang tengah mengganggu pikiran nya. Dia menghibur dan menemani istrinya sampai terlelap.


Tengah malam, Alex terbangun karena mendengar suara tangisan si kecil. Dia keluar dari kamar dan langsung menuju ke kamar bayi. Alex menggendong putrinya ke kamar agar dia tenang.


Tak ingin membangunkan Irene, semalaman Alex menggendong putrinya di pangkuan nya, sampai dia benar-benar tertidur lelap.


Pagi harinya, saat Irene terbangun, dia tersenyum melihat pemandangan di tempat tidurnya. Malaikat kecilnya tertidur di pelukan ayahnya. Tak berapa lama, Alex membuka matanya. Mendapati Irene sedang memandangi wajahnya.


"Selamat pagi sayang??".


"Kau manis sekali pagi ini".


"Jangan terlalu keras, nanti putri kita terbangun".


"Sejak kapan kau membawanya ke sini".


"Semalam dia menangis,, mungkin susternya kelelahan, jadi tak ada yang mendengarnya".


"Aku membawanya dan menggendongnya kemari".


Dari luar, pintu di ketuk dengan suara keras.


Buru-buru Irene membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Bu,, maaf sekali, tapi putri ibu hilang".


"Sewaktu saya bangun tadi, dia sudah tidak ada di tempat tidur".


"Maafkan saya Bu, saya tak mendengar sama sekali kalau ada yang masuk".


"Tak apa Nina, dia ada di dalam bersama papa nya".


"Aku akan mengambilnya, supaya kau bisa memandikan nya".


Irene masuk ke dalam dan menggendong putri kecilnya untuk di berikan kepada Nina.


Nina lantas membawanya ke kamar bayi agar bisa segera mandi.


Setelah Nina pergi, Irene kembali ke tempat tidur dan memeluk Alex dari belakang, sambil menciumi punggungnya.


"Kenapa kau tak membangunkan ku semalam??".


"Karena aku tak ingin mengganggu tidur mu".


"Dan kau ternyata sangat hebat papa".


"Aku mencintai mu".


Alex tak tahan mendengar rayuan dari istrinya. Dia berbalik dan langsung mencium bibir Irene yang sudah sangat membuatnya bergairah. Pagi yang indah dengan percintaan singkat di antara keduanya. Mereka terbaring lelah setelah "berolahraga" panas di pagi hari.


"Aku mandi dulu sebentar".


"Tunggu,,aku ikut sayang".


"Sepertinya ide bagus kalau kita mandi bersama".


"Alex,,,kau kan harus ke kantor??".


"Memangnya kenapa, mereka bisa menunggu kan??".


"Alex, bolehkan aku ke toko sebentar?".


"Sudah lama aku tidak melihat nya".


"Aku janji tak akan lama".


"Baiklah,,, biar sopir mengantar mu nanti".


"Dan jangan terlalu lama, kasihan si kecil nanti".


"Iya, aku janji akan langsung pulang".


Irene mengantar Alex sampai ke mobilnya.


Setelah suaminya berangkat, dia langsung


bersiap hendak berangkat ke toko. Sesaat kemudian, telepon rumah nya berbunyi. Irene segera menjawabnya.


"Selamat pagi nyonya Irene,, kau masih mengingatku bukan???".


"Sudah lama sekali sejak kau mempermalukan aku di sekolah waktu itu".


"Ini siapa, aku tak merasa mengenal mu".


"Tapi aku tahu pasti tentang mu nyonya Irene".


"Dan kedua anak kabar mu,, mereka sangat lucu".


"Tak sabar rasanya ingin menimang keduanya".


"Atau...mungkin menjatuhkan keduanya bersamaan dari lantai 5".

__ADS_1


"Pasti akan mendebarkan sekali nyonya".


"Dengar,,, jangan main-main dengan ku".


"Apalagi kalau itu menyangkut anak-anak ku".


"Kalau kau sedikit saja berani menyentuh mereka,, aku tak segan untuk membuat perhitungan dengan mu".


"Menarik sekali nyonya.....".


"Bagaimana kalau aku bilang putri mu memakai gaun berwarna ungu dan putra mu memakai setelan berwarna hijau".


"Apa kau masih tertarik untuk membuat perhitungan dengan ku??".


"Siapa kau sebenarnya,,,,di mana kau sekarang??".


"Tut...........".


Sambungan telepon langsung di matikan begitu saja. Irene mencoba menelpon kembali, tapi nomer tersebut sudah tidak aktif. Dia berjalan ke halaman rumah, tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sana.


Irene urung pergi ke toko. Dia langsung lari ke atas, ke kamar anak-anak nya.


"Apa kalian melihat sesuatu mencurigakan di sini".


"Maksud ibu apa, kami tak mengerti".


"Kamera kecil atau apa pun itu,, coba kalian cari sekarang".


Kedua baby sitter Irene di buat sibuk mencari kesana kemari. Mereka tak menemukan sedikit pun benda yang di maksud oleh majikan nya tersebut. Irene masih kelihatan panik karena ancaman ditelpon tadi.


"Dengar,,, jaga anak ku baik-baik".


"Jangan tinggalkan mereka sendirian".


"Kalian harus bergantian kalau mau keluar dari kamar".


"Apa kalian sudah mengerti sekarang??".


"Memangnya ada apa Bu,, kenapa harus seperti ini??".


"Baru saja ada seseorang yang mengancam lewat telepon".


"Dia ingin menculik anak ku".


Kedua pengasuh itu terkejut mendengar penjelasan dari Irene. Terutama Nita, pengasuh yang di sewa oleh Roger. Belum lama memang Roger menelpon dirinya. Ekspresi wajah Nita tampak berubah. Untung saja Irene dan Nina tak menyadari nya. Mungkin terlalu panik dengan ancaman dari Roger tersebut.


Detik itu juga, Irene memanggil petugas keamanan yang berjaga di rumahnya. Dia merasa perlu mengambil langkah pencegahan dan menutup akses penjahat itu mengetahui situasi rumahnya.


"Ibu memanggil saya??".


"Pak, tolong tambahkan cctv lagi di kamar si kembar".


"Serta perketat penjagaan di rumah ini".


"Bapak cari teman 1 lagi, khusus memantau cctv, terutama di kamar anak saya".


"Baik Bu, akan segera saya kerjakan".


"Tolong secepatnya ya pak!!".


"Siap Bu!!!".


Irene masih bingung dengan penelpon misterius yang meneror dirinya. Dia mengenali suara tersebut, mirip dengan suara Roger. Tapi, dia kan sedang menjadi buronan di Paris, bagaimana mungkin bisa menelpon kemari.Segera setelah Alex pulang, dia akan


memberitahukan hal ini padanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2