Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Usaha milik Irene.


__ADS_3

Tekad Irene sudah bulat. Dia akan menutup mata dari orang seperti Alex. Kesabaran nya sudah habis kali ini. Dia berjanji pada diri nya sendiri untuk bangkit dan menjadi wanita yang tidak bisa di remehkan oleh siapa pun.


Nisa berangkat seperti biasa. Sudah dua hari ini dia bekerja untuk nyonya Renata. Dia tengah mengerjakan busana pengantin yang di pesan oleh seorang artis terkenal. Irene memasang detil aksesoris dan payet.


"Rupanya kau mahir dalam hal apapun ya??".


"Bukannya kemarin di perusahaan Alex, kau sebagai staf administrasi??".


"Iya tante,,saya juga suka mendesain baju dan membuat padu padan gaya sendiri".


"Bagus itu,,, jadi sesuai dengan passion mu".


"Orang seperti saya harus fleksibel tante".


"Kami hanya orang biasa, kalau tidak bekerja keras, dari mana kami bisa hidup".


"Tante sangat suka dengan gadis seperti mu, punya prinsip dan tekad yang kuat".


"Dan hasil pekerjaan mu juga rapi,, tante yakin


pasti konsumen tante akan menyukainya".


"Saya senang kalau mereka puas".


"Irene,, omong-omong, adik mu sudah membaik???".


"Dia sudah keluar dari rumah sakit, tinggal pemulihan saja".


"Semua berkat tante yang membantu adik saya".


"Syukurlah,, tante senang mendengar nya".


Tak berapa lama, Sofi datang ke butik dengan marah-marah. Dia mengadukan kelakuan Alex kepada ibunya.


"Dia benar-benar membuatku jengkel tante?".


"Aku di tinggal sendirian di plaza".


"Katanya, bosan kalau harus menemani ku".


"Kau sudah tahu dari dulu kan, bagaimana sifat Alex".


"Dia sungguh menyebalkan,,, lihat saja, aku tak akan mengangkat telpon nya nanti".


Irene yang mendengar keluhan Sofi, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Anak manja itu berulah lagi. Dia sama sekali tidak menghargai wanita. Andai saja ada seseorang yang bisa memberi nya pelajaran


agar dia tahu attitude.


"Lalu, dimana Alex sekarang ??".


"Entahlah tante,,aku malas membahas nya".


"Ya sudah,, nanti tante akan mengajak mu shopping untuk menggantikan ke kecewaan mu tadi".


"Terimakasih tante,, kau memang sangat baik".


"Irene,, kau ikut juga bersama kami ya??".


"Maaf tante, tapi aku sudah ada janji dengan Doni sore ini".


"Kami akan keluar bersama".


"Sayang sekali ya,, baiklah selamat bersenang-senang".


Irene terpaksa berbohong kepada tante Renata. Dia tak mau Alex kembali mencibir nya dan menghina kemiskinan nya.


Akhirnya, Irene mengirim pesan kepada Doni untuk menjemput nya di butik sepulang dari kantor nanti.


"Tumben kau meminta tolong,, ada angin apa??".


"Kalau kau tak menjemput ku, tante Renata pasti memaksaku untuk ikut dengan nya".

__ADS_1


"Kumohon, bantulah aku kali ini".


"Ok,,, tapi kau harus mentraktirku kali ini".


"Apapun yang kau inginkan,, aku bersedia".


"Ok deal....aku jemput jam 4 sore nanti".


Irene lega. Satu masalah sudah teratasi.


Dia tak perlu memberi alasan kepada nyonya Renata. Itu yang terbaik untuk dirinya, mengingat kata-kata Alex yang menganggap nya bukan manusia.


Sore hari, Doni menepati janji nya. Dia menjemput Irene di butik nyonya Renata. Bersamaan dengan kedatangan Doni, Alex


juga menjemput ibunya.


"Kenapa kau kemari???".


"Aku ada kencan dengan Irene sore ini".


"Bagus,,, jadi dia sudah memilih level nya sendiri".


"Kalian memang cocok menjadi pasangan rakyat jelata".


"Alex,, omongan macam apa seperti itu, macam tak berpendidikan".


"Aku bicara yang sebenarnya ma".


"Sudah,,, kita pulang,, akan jadi panjang kalau kau masih disini".


"Kenapa lagi dengan tuan muda manja itu??".


"Dia mengatakan kita ini sebagai pasangan rakyat jelata".


"Benar-benar anak ini,,, kalau bukan anak nyonya Renata, sudah ku tutup mulutnya dengan sambal".


"Sabar,,, aku sudah menghadapinya selama ini, jadi aku sudah kebal".


"Ok,,, kita kemana??".


"Terserah kau saja,, aku yang mentraktir mu kali ini".


"Ok,, kita ke mall saja, sekalian ngadem".


Irene dan Doni segera berangkat ke mall Rembulan. Mereka mencari restoran cepat saji dan memesan makanan di sana. Keduanya terlihat sangat akrab dan serasi sebagai pasangan.


Kebetulan, Sofi dan nyonya Renata juga datang ke mall yang sama. Mereka melihat kemesraan Irene dan Doni. Sofi memotretnya dan iseng mengirimkannya pada Alex. Foto itu diberinya capture "Sweet love". Alex menatap foto keduanya.


Entah kenapa tiba-tiba emosinya naik. Dia seolah tidak rela kalau melihat Irene bahagia.


"Lihat saja kalian,,,aku akan membuat kalian berpisah".


"Enak saja.....gadis kampung itu mendapatkan pasangan".


Alex kemudian menyusun siasat untuk memisahkan Doni dan Irene. Dia akan berpura-pura mendekati nya. Setelah dia jatuh cinta nanti, baru Irene akan di permalukan.


Rencana yang sempurna.


"Gadis kampung itu akan merasakan malu yang akan di bawa seumur hidup nya".


"Bahkan untuk bertemu orang pun, dia tak lagi berani".


"Kau belum tahu siapa Alex sesungguh nya".


Doni dan Irene berjalan berdampingan. Selesai makan, Doni akan mengantar Irene pulang. Mereka menuruni tangga berjalan untuk menuju parkiran.


"Aku tak menyangka kalau ternyata perlu juga sesekali hang out keluar".


"Jelas,,apalagi untuk pekerja keras macam kamu ini".


"Aku jadi lebih fresh sekarang".

__ADS_1


"Aku senang kau menikmati nya,,, ayo aku antar kau pulang".


"Ini belum waktunya pulang,aku harus ke toko ku sebentar".


"Kau sudah punya toko sekarang??".


"Iya,,kecil-kecil an, ada dua karyawan yang berjaga".


"Biasanya sepulang kerja aku ke sana dulu, mengecek buku penjualan hari ini".


"Hebat sekali,,,apa lagi yang tak ku ketahui tentang dirimu??".


"Aku belum setinggi itu, hanya mengisi waktu


kosong saja, lumayan hasil nya".


"Ini sih sudah bukan sampingan lagi, kelas kakap".


"Lalu kenapa kau masih kerja di tempat nyonya Renata?".


"Aku tak enak, karena beliau menolak uang pinjaman kemarin ku kembalikan".


"Luar biasa,,mulia sekali hatimu".


"Berhentilah memujiku Don,,aku tidak sebaik itu".


"Kau memang baik, dan aku semakin kagum padamu".


"Sudah,,,,ayo kita pulang".


Semakin lama mengenal Irene, Doni semakin kagum padanya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam semakin merasa jatuh cinta. Namun Doni masih takut untuk menyatakan perasaan nya. Dia tak ingin Irene justru menjauh darinya.


Sesampainya di toko frozen food miliknya, Irene turun dari sepeda motor milik Doni.


Inilah yang Irene sukai darinya, tetap sederhana meskipun dia orang kaya.


"Kau mau masuk dulu??".


"Apa boleh??".


"Tentu saja,, ayo......silahkan, buat dirimu nyaman".


"Ok,,, aku lihat produknya, nanti kalau aku suka, sekalian saja berbelanja".


Toko milik Irene memang kecil, tapi di dalamnya lengkap dengan dagangan. Freezer diatur sedemikian rupa, sehingga ruangan itu terlihat lebar. Dia juga melayani penjualan online dan sangat laris.


Bisnis yang dirintisnya dari iseng saja, sekarang sudah menghasilkan banyak uang.


Dua pegawai yang dipilihnya juga cekatan melayani orderan. Irene memang pebisnis sejati.


"Aku berencana menambah gerai ku di beberapa tempat".


"Tapi sekarang masih mencari lokasi yang strategis".


"Aku kabari nanti, seumpama aku punya pandangan tempat seperti yang kau inginkan".


"Terimakasih Don, itu akan sangat membantu".


"Baiklah Irene,, aku pulang dulu".


"Kalau kau butuh bantuan ku, jangan sungkan".


"Iya,, aku pasti menghubungi mu".


"Kau tidak jadi belanja??".


"Lain kali saja,,, nunggu traktiran dari mu".


Irene dan Doni tertawa bersama. Irene mengantar sampai motornya menghilang di tikungan. Dia kemudian masuk dan mengerjakan tugas pembukuan nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2