Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Luka Lama.


__ADS_3

Alex dan mama nya segera menjalankan rencana yang telah mereka susun. Pagi-pagi benar, nyonya Renata sudah di depan apartemen Doni. Dia akan meminta Doni untuk meninggalkan Irene, agar Alex bisa segera menikahinya. Nyonya Renata memencet bel pintu di apartemen Doni. Dia segera bergegas membukakan pintu.


"Tante,,,mari silahkan masuk,,ada yang bisa saya bantu??".


"Tante ingin bicara dengan mu sebentar".


"Baik tante, silahkan duduk....atau ingin minum sesuatu?".


"Tidak Doni, tante cuma sebentar di sini".


"Tante mohon kau tinggalkan Irene".


"Biarkan Alex menikah dengan nya".


"Kasihan bayi itu jika harus terpisah dari orang tuanya".


"Kau tentu paham kan, bagaimana posisi mereka berdua, tolong....jangan halangi Alex untuk bertanggung jawab kepada Irene".


"Kau sudah pernah merasakan menjadi anak yatim kan,,,jadi kau juga pasti ingin anak dari Irene dan Alex mengalami nya".


"Tante tahu kau masih sangat mencintai Vera".


"Tante janji akan membantu mu mendapatkan nya".


"Asal kau mau melepaskan Irene,


tante akan merestui hubungan kalian".


"Pikirkan baik-baik perkataan tante Don,,,tante permisi dulu".


Doni masih duduk di kursinya. Perkataan tante Renata membangkitkan kembali ingatan nya kepada Vera. Gadis cantik dan mandiri yang dulu sangat di cintai nya.


Entah sejak kapan Doni mulai bisa melupakan nya. Mungkin karena kehadiran Irene yang mewarnai hidupnya akhir-akhir ini.Karakter Irene yang hampir mirip dengan Vera, sanggup menggantikan tempatnya di hati Doni. Namun kali ini, nyonya Renata sudah membuka kembali luka lama yang sudah terkubur dalam-dalam di hatinya.


Bunyi dering ponsel mengagetkan lamunan nya tentang Vera. Sepeti apa dia sekarang. Setelah sekitar dua tahun, dia berangkat ke Paris dengan membawa serta luka di hatinya.


Nomer asing masuk ke ponsel Doni. Dia ragu untuk mengangkatnya. Namun kemudian dia segera menekan tombol jawab di ponselnya tersebut.


"Doni,,,,sebentar lagi aku terbang ke Indonesia".


"Apa kau bisa menjemput ku nanti???".


"Kebetulan aku ada kerjaan di sana, sudah lama kita tak bertemu".


"Aku kangen sekali pada mu".


"Doni.....halo......kau masih di situ kan??".


"Vera,,,apa ini kau".


"Tentu saja ini aku,,memang nya siapa lagi yang kau harap kan??".


"Atau jangan-jangan kau sudah ada orang lain yang menggantikan ku".


"Doni,, pesawat ku sudah hampir terbang, nanti aku hubungi lagi".


Vera mematikan ponsel nya. Dia bersiap terbang kembali ke Indonesia. Ini adalah permintaan dari seseorang yang begitu dia hormati. Sama seperti saat kepergian nya dulu, kali ini pun tanpa alasan dia meminta Vera untuk kembali ke Indonesia.


Betapa mudahnya perasaan manusia di jadikan mainan. Butuh waktu lama untuk saling jatuh cinta. Namun dalam waktu sekejap, kisah cintanya harus di kubur dalam-dalam. Dan setelahnya mereka tiba-tiba menyuruhnya merajut cinta kembali.

__ADS_1


Vera dan Doni dijadikan macam boneka. Harus menuruti kemauan dari majikan nya. Mereka pikir perasaan sejoli ini sudah mati. Jadi dengan seenak hatinya menyuruh melakoni sandiwara demi untuk memuaskan ego mereka sendiri.


"Beres ma,,,Vera sudah terbang ke Indonesia".


"Sebentar lagi, aku dan Irene bebas untuk menikah".


"Doni akan sangat sibuk menuruti keinginan Vera".


"Dia tak akan punya waktu untuk Irene".


"Dan aku,,,yang akan menggantikan posisinya".


"Kau memang jenius Alex,,,tidak sia-sia mama menyekolahkan mu di luar negeri".


"Tentu saja,, aku ini anak mama kan??".


"Tinggal suruh papa pulang ma,, kita harus mempersiapkan pernikahan dari sekarang".


"Aku jamin kali ini Irene tidak akan menolak lamaran ku".


Setelah mendapat telepon dari Vera, Doni benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Rencananya untuk mengunjungi Irene, urung dilakukan. Dia lebih memilih untuk berangkat ke kantor. Saat ini hati dan pikiran nya sedang tidak sejalan.


Sejak pagi, Irene sudah bersiap. Rencananya dia akan kembali beraktivitas seperti biasa.


Kondisi tubuhnya sudah semakin membaik.


"Kau mau kemana, sepagi ini sudah rapi".


"Bu, aku mau ke rumah teman sebentar ".


"Sejak di rumah sakit, malah badanku terasa lemas".


"Tapi nak,, kau baru saja pulang kan??".


"Ibu takut kau sakit lagi, dokter menyuruh mu istirahat kan??".


"Tenang saja Bu,, aku sudah baikan".


"Ibu tak perlu khawatir dengan kondisi ku".


Baru saja hendak melangkah kan kaki keluar dari rumah, Alex sudah menyambut di depan dengan mobil nya. Dia tersenyum melihat Irene sudah terlihat sehat.


"Alex,,,mau apa kau ke sini??".


"Tentu saja mengunjungi kalian berdua".


"Lihat,,aku sudah bawakan makanan yang di masak oleh mama ku".


"Katanya ini akan membuat mu cepat pulih".


"Tapi aku sedang buru-buru".


"Baiklah,,,kalau begitu aku akan mengantar mu".


"Jangan,,aku takut kau bosan nanti".


"Aku bisa sendiri, kau tenang saja".


"Lagipula ini bukan bagian dari pertanggung jawaban mu".

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu Irene".


"Kita akan segera menikah,, untuk itu harus menyesuaikan diri satu sama lain".


"Aku yakin tidak akan bosan dengan kegiatan mu".


"Ya....mungkin aku kurang sabar,, tapi aku akan merubah sikap ku".


"Tolong, beri aku kesempatan".


Irene berpikir sejenak. Mungkin benar perkataan Alex. Kalaupun dia mau menemani Irene, apa salahnya. Dengan begitu, Irene juga bisa melihat ketulusan sikap Alex padanya.


"Baiklah, tapi aku tak mau mendengar kau mengeluh".


"Segera tinggalkan aku begitu kau merasa berat untuk menemani ku".


"Aku akan jalan sendiri".


"Dan ku ingatkan,,ini bukan senang-senang,,kau pasti akan bosan".


"Baiklah Irene,,,mari kita lihat, seberapa pantas diri ku untuk menemani calon istri ku seharian ini".


"Bu,, tolong restu i calon menantu mu ini".


"Doakan aku lolos seleksi sebagai suami dari putri ibu yang sangat cantik ini".


"Alex,, ada-ada saja kau ini, sudah sana,, ibu titip Irene".


"Jangan biarkan dia kecapekan".


"Siap Bu..!!!".


Alex membantu Irene naik ke dalam mobilnya. Dia kelihatan senang sekali. Rencananya membawa Vera pulang terbukti ampuh untuk Doni. Buktinya, dia tidak mengunjungi Irene. Jadi Alex sudah tidak punya saingan lagi dalam mengambil hati Irene.


"Kita mau ke mana Irene??".


"Kita ke toko Frozen food di jalan Sudirman".


"Untuk apa kau ke sana,,aku bisa membawamu ke mall untuk berbelanja".


Irene langsung setengah melotot memandangi Alex. Baru tujuan pertama dan dia sudah protes. Untung Alex cepat tanggap.


"Maaf,,aku lupa...hanya sebagai sopir saja,,,jangan banyak bertanya Alex".


"Sesuai permintaan mu tuan putri,,kita ke jalan Sudirman".


Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke toko yang di maksud oleh Irene. Sesampainya di sana, Irene segera turun dan masuk ke dalam toko. Alex heran karena Irene masuk lewat pintu samping. Pikirnya mungkin pemilik toko ini teman dekat Irene. Alex lalu mengekor di belakang Irene.


"Bu Irene,,,senang sekali melihat ibu sudah sehat??".


"Terimakasih,, kalian sudah bekerja dengan baik selama aku di rumah sakit".


"Tunggu,,,Bu Irene.....kenapa kau memanggilnya seperti itu".


"Dan kalian siapa??".


Irene kembali melihat ke arah Alex. Dia kemudian melakukan gerakan tutup mulut di bibirnya. Dia hanya sebagai pengawal hari ini.


Jadi tugasnya hanya mendengarkan, bukan bertanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2