
Irene merasa sangat bersalah karena sudah membuat Alex sangat marah. Sikap nya kali ini memang sudah sangat keterlaluan. Dia cemburu tanpa alasan kepada teman-teman Alex. Akibatnya, keduanya bertengkar hebat.
Dan Alex meninggalkan Irene sendirian di apartemen.
Sudah hampir dua jam sejak Alex pergi. Dan dia tidak membawa handphone sama sekali. Irene mulai mencemaskan suaminya. Mengingat dia pergi dalam keadaan marah. Irene takut terjadi sesuatu padanya.
"Doni,, maaf aku mengganggu mu, apa kau melihat Alex??".
"Tidak,, memang nya kemana dia??".
"Dia keluar,, tapi ponselnya ada di rumah,, tolong kalau nanti ada yang melihat, segera kabari aku".
"Baik Irene,, aku mengerti".
Irene hanya bisa terdiam di tempat tidur. Pikiran nya menerawang jauh entah kemana.
Dia ingat kata-kata Alex untuk tetap berdiam diri di atas ranjang. Tapi tampak nya percuma saja, kalau pikiran nya kemana-mana.
Alex sendiri lebih memilih untuk menenangkan diri di kafe. Kalau dia masih di dalam rumah, mungkin kemarahan nya akan meledak-ledak. Dan itu sangat tidak baik untuk kandungan Irene.Walaupun dia keluar dengan marah, tapi nyatanya dia khawatir juga dengan Irene. Mengingat dirinya harus bed rest agar tidak terjadi pendarahan.
Alex kemudian berdiri dan membayar minuman nya. Dia bahkan lupa tidak membawa handphone. Makanya dia bergegas pulang ke rumah.
Di lobby apartemen, kebetulan di bertemu dengan Vera. Gadis itu hendak mengunjungi dirinya. Sudah lama Vera tidak melihat Alex.
Melihat Vera hendak naik lift, Alex memanggilnya.
"Vera,, kau mau kemana??".
"Kau disini rupanya,, tentu saja ke apartemen mu, kenapa....kau takut ketahuan oleh ku ya??".
"Apa maksud mu,, memang nya apa yang ku sembunyikan??".
"Istri mu tentu saja,, kau menikah dengan Irene kan akhirnya??".
"Vera,,tolong aku kali ini saja".
"Apa,,,kau seperti ketakutan begitu??".
"Ayo,,,ikut dengan ku sebentar saja".
Alex menarik tangan Vera ke sofa di sudut ruangan. Setelah dia duduk, Alex kemudian menjelaskan tentang keadaan Irene yang tidak memungkinkan untuk menerima tamu.
Alex menyuruh Vera kembali lain waktu dan meminta maaf padanya.
"Ok,,,baiklah Alex,,aku akan kembali lain waktu".
"Aku senang kalau akhirnya kau menemukan kebahagiaan mu".
__ADS_1
"Aku pergi dulu Alex".
Alex masih memandangi kepergian Vera. Dia merasa kasihan dengan teman masa kecilnya itu. Dari dulu mereka sudah bersahabat. Bahkan sampai saat ini pun, Vera mungkin menyimpan perasaan yang lain pada Alex. Tapi dia harus mengalah demi Irene yang sedang hamil, dan sensitif perasaan nya. Dia kembali, tanpa sempat bertemu atau sekedar ngobrol dengan Irene.
Rasanya sangat malas sekali, Alex melangkahkan kaki menuju ke kamar nya. Tapi sudah setengah hari dia meninggalkan ponselnya, Alex khawatir kalau ada pesan penting dari kantor yang dikirim lewat handphone nya tersebut.
Alex masuk ke kamar apartemen. Di dalam sepi, tak ada suara Irene sedikitpun. Dia lalu membuka pintu kamar, Irene masih terbaring di ranjang. Baguslah, dia menuruti perintah dokter untuk istirahat total.
Alex mengambil ponselnya, namun mata Irene masih saja terpejam. Dia kemudian menuju ke dapur untuk membuat minum.
Segelas kopi, dibawa Alex ke ruang kerjanya.
Sudah lama sejak Alex kembali, Irene belum tampak bangun juga. Dia menjadi khawatir. Tak biasanya Irene seperti ini. Alex menunggu beberapa saat, hingga akhirnya dia menurunkan ego nya demi melihat Irene.
"Irene,,,sayang.....bangun,, kau belum meminum obat mu bukan??".
Irene sama sekali tak bereaksi. Alex menyentuh dahinya yang terasa panas. Bibir dan wajahnya pucat pasi. Seketika, Alex menarik selimut dan hendak membangunkan istrinya tersebut. Namun, alangkah terkejutnya Alex, karena di atas sprei tampak bercak darah yang lumayan banyak.
Tanpa pikir panjang, Alex segera bergegas membawa Irene menuju ke rumah sakit. Di perjalanan, dia menyadari kebodohan nya yang meninggalkan Irene terlalu lama. Seharusnya saat bed rest, Alex lah yang harus
mengurus istrinya. Mungkin saja dari tadi Irene tidak sempat makan dan minum.
Sampai rumah sakit, dokter kandungan segera memeriksa Irene. Dalam layar monitor, tampak kedua bayinya masih aktif bergerak. Sedangkan Irene masih belum sadarkan diri.
"Istri saya sebenarnya kenapa dokter??".
"Tapi, kalau kondisi nya terus seperti ini,, akan berbahaya bagi ibunya sendiri".
"Kalau tak salah, saya menyuruh Bu Irene bed rest kan kemarin??".
"Kenapa bisa sampai pingsan??".
"Sebenarnya dokter, kami bertengkar hebat pagi ini".
"Saya tinggalkan istri saya sendirian di apartemen".
"Berarti, Bu Irene belum makan dan minum obat yang saya berikan??".
"Saya tidak tahu dokter".
"Itulah kesalahan bapak,, seharusnya anda bersikap bijaksana pak".
"Ibu hamil memang sangat sensitif,, apalagi dengan banyak keluhan seperti Bu Irene".
"Anda harus ekstra menjaganya, tentunya kalau anda masih menyayanginya".
"Saya sudah memberinya suntikan penguat kandungan,, sebentar lagi mungkin Bu Irene sadar".
__ADS_1
"Temani istri anda,, kasihan kondisinya seperti ini".
"Terlambat sedikit saja, anda sudah kehilangan semuanya".
"Mari pak,, saya permisi dulu".
Alex lemas mendengar penjelasan dari dokter. Dia baru menyadari kesalahan nya. Memang apa salah Irene kalau dia cemburu dengan teman-teman Alex, bukankah itu tandanya, Irene sudah mencintainya. Kenapa Alex malah membentak dan meninggalkan nya. Kalau sampai sesuatu terjadi pada Irene, Alex tak akan pernah memaafkan dirinya.
Samar-samar, Alex mendengar suara Irene memanggil nya lemah. Rupanya dia mulai sadar. Alex meneteskan air mata nya. Dia sangat bersyukur karena Irene masih tertolong.
"Alex,,,aku ada di mana??".
"Kau di rumah sakit sayang,,, syukurlah akhirnya kau bisa sadar, aku cemas sekali melihat keadaan mu".
"Kau tidak marah lagi padaku kan, Alex??".
"Sayang,, aku minta maaf, aku yang salah".
"Aku terlalu kasar padamu,, akibatnya kau jadi sepeti ini".
"Aku janji, ini tak akan terulang lagi".
"Aku akan menjaga mu dengan baik".
Irene tersenyum mendengar perkataan Alex. Dia sangat lega, karena ternyata dugaan nya salah. Alex bukan tidak lagi perduli padanya.
Dia malah sangat takut kehilangan Irene.
"Aku janji Alex, tidak akan bersikap seperti itu lagi padamu".
"Aku minta maaf sudah membuat mu marah".
"Sstt.....jangan bicara lagi,, kau harus banyak istirahat".
"Kau mengalami pendarahan sayang,,jadi untuk beberapa hari ini, kau harus menginap di sini".
"Berjuang lah sayang,,aku akan selalu menemani mu".
"Iya Alex,,aku akan berjuang demi anak kita".
"Tunggu di sini sebentar,, aku akan mencari makan untuk mu".
Irene mengangguk lemah. Alex kemudian berjalan ke luar dari kamar inap. Dia menuju kantin rumah sakit, untuk mencari makan baginya dan Irene.
Sementara itu, Vera sudah sampai di butik nyonya Renata. Dia menceritakan semua hal yang di bicarakan dengan Alex di lobby apartemen. Tentu saja nyonya Renata malah kelihatan senang mendengar penuturan Vera.
Itu berarti, hubungan mereka sudah membaik. Dan nampaknya, Irene sudah bisa menerima Alex dan mencintainya seutuhnya.
__ADS_1
...****************...