Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Menikah.


__ADS_3

Irene sudah selesai di rias dengan kebaya berwarna putih lengkap dengan kerudung dan aksesorisnya. Di aula hotel, semua keluarga serta penghulu dan para saksi sudah menunggunya. Alex akan mengucapkan ijab qabul pernikahan dirinya dan Irene.


Laura dan Vera membawa Irene ke aula. Semua tamu undangan menatap kecantikan nya. Tak terkecuali Doni, yang sedari tadi terlihat gelisah di kursinya. Alex sendiri memandang takjub kepada calon istrinya. Wajahnya sangat mempesona. Tak salah dia memilih Irene untuk jadi pendampingnya.


Setelah semua duduk, penghulu memulai acara. Alex mengucapkan ijab qabul dengan satu tarikan nafas. Semua yang hadir bernafas lega. Akhirnya Alex dan Irene menjadi sepasang suami istri.Alex tersenyum pada Irene. Dia akhirnya menjadi suaminya juga sekarang.


Acara di lanjutkan dengan makan malam sederhana sebagai bentuk kebersamaan kedua keluarga. Mereka masing-masing menempati meja yang telah disediakan oleh pihak hotel. Sementara meja Alex dan Irene berada di depan, terpisah dengan yang lain nya.


"Apa kau bahagia sekarang??".


"Tidak,, hanya saja aku lega karena mereka tak bisa menghina ku lagi sekarang".


"Lalu apa yang bisa kulakukan agar kau bahagia?".


"Tidak ada,, jangan lakukan apa pun saat ini".


"Ini sudah cukup".


"Alex,,aku tak mau makanan ini, perutku terasa mual".


"Aku ke toilet sebentar".


"Aku akan mengantar mu ".


Irene berjalan tergesa, diikuti Alex yang berwajah cemas. Dia mengikuti Irene masuk ke dalam toilet. Keringat dingin bercucuran di dahi Irene. Di wastafel, dia mengeluarkan semua makan siang nya. Alex memijat tengkuknya hati-hati. Dia sangat kasihan melihat keadaan Irene.


"Tolong,,pergi dari sini...biarkan aku sendiri".


"Tidak Irene, kau istri ku sekarang, biarkan aku yang mengurus mu".


"Ayo kemari, sini biar ku bersihkan".


"Pergilah,,,aku malu kau melihat ku seperti ini".


Alex tak memperdulikan ucapan Irene. Dia sibuk membuat wanita itu nyaman, walaupun Alex tahu pasti keadaan nya tidak baik-baik saja. Dia mengusap keringat yang menetes di kening Irene. Dia juga mengeluarkan parfum nya untuk di hirup Irene supaya lebih nyaman.


Benar saja, aroma parfum yang di pakai Alex, seketika menaikkan mood nya. Dia merasa jauh lebih baik dan segar. Mereka keluar bersama dari kamar mandi. Sementara Doni sudah menunggu di depan toilet.


"Kenapa Irene??".


"Dia hanya mual, mungkin karena kandungan nya".


"Kau kembali saja, aku bisa mengatasinya".

__ADS_1


"Kau yakin baik-baik saja Irene?".


"Iya Doni, aku tak apa".


Doni melangkah kembali ke ruang aula. Alex menggandeng Irene hendak kembali ke meja, ketika tiba-tiba Irene berhenti.


"Alex,, aku tak ingin kembali ke pesta".


"Kepala ku pusing sekali".


"Boleh aku istirahat saja sekarang??".


"Tentu,, ayo...aku antar kau ke kamar".


Alex membawa Irene ke kamar hotel tempat mereka berdua menginap. Dia membaringkan nya di tempat tidur. Setelah itu dia menelpon Vera dan mama nya untuk menjelaskan kondisi Irene. Sesaat mereka khawatir, namun Alex meyakinkan kalau mereka baik-baik saja.


Acara kemudian dilanjutkan oleh Vera.


Di kamarnya, Irene gelisah tak bisa tidur. Semua posisi serba tak enak di rasakan nya.


Perutnya terasa sakit dan kram. Dia bahkan kembali mengeluarkan keringat dingin.


Alex yang khawatir segera mendekati Irene. Dia hendak memanggil dokter, namun Irene mencegahnya.Dia tak mau ada keributan lagi di kamarnya.


"Terserah saja,, tapi ini sakit sekali Alex".


"Baik,,tunggu sebentar".


Alex mendekati Irene. Dia kemudian menyentuh perutnya dan mengusap lembut.Alex berbicara kepada bayi yang ada di kandungan Irene.


"Sayang,, ini papa, kau jangan nakal ya nak".


"Kasihan mama jadi merasa sakit".


"Kau tenang saja sayang, papa dan mama akan selalu menyayangi mu".


"Tidurlah sayang...papa mencintai mu".


Perlahan-lahan rasa sakit di perut Irene menghilang. Bahkan usapan lembut di perutnya membuat Irene jadi nyaman. Dia akhirnya tertidur dengan tanpa sadar memeluk lengan Alex.


Alex menatap wajah Irene lekat. Dia mencium keningnya lembut dan mengusap kepalanya.


Saat ingin berdiri, lengan nya tertahan oleh pelukan tangan Irene. Karena tak ingin membangun kan nya, Alex ikut tertidur di samping Irene.

__ADS_1


Di aula hotel, pesta sudah selesai. Semua orang sudah kembali. Tinggal Doni yang masih berada di bar hotel. Sepertinya dia sudah hampir mabuk. Pikiran nya hanya tertuju kepada Irene saja. Sampai Vera membawanya naik ke kamar hotel nya karena dia sudah tak kuat lagi berjalan.


Tengah malam, Irene terbangun. Perutnya kelaparan minta di isi. Dia terkejut mendapati Alex tidur di sampingnya dengan lengan yang di peluk oleh nya. Kali ini, Irene tidak marah sama sekali. Dia justru merajuk padanya.


"Alex....bangun,,,ayo bangun.....!!".


"Kenapa Irene,,apa kau kesakitan lagi".


"Aku lapar Alex,,apa ada makanan yang bisa di makan??".


"Kau mau makan apa,,biar aku pesan untuk mu".


"Apa saja,,,asal kau sendiri yang membelinya".


"Apa harus seperti itu??".


"Ini sudah larut malam Irene".


"Baiklah,, kalau kau tak mau juga tak apa".


"Aku mau,,tunggu sebentar, aku pakai jaket dulu".


Alex turun ke bawah dan menuju ke jalan demi mencarikan makanan untuk Irene.


Dia berjalan sedikit jauh dari hotel dan hanya menemukan bakso saja. Alex membeli dua bungkus untuk nya dan Irene. Sampai di hotel, dia lalu menyiapkan nya agar segera di makan oleh Irene.


"Ayo bangun lah, aku hanya bisa dapat ini saja".


"Hmmm....sepertinya tidak buruk".


"Kita makan sama-sama ya?".


Irene mencicipi kuah bakso dan memakan nya satu biji saja. Setelahnya, dia menyerahkan sisanya untuk di makan Alex semua. Irene tidak jadi lapar, entah kenapa tiba-tiba perutnya jadi kenyang seketika.


Dalam kondisi biasa, Alex pasti marah di permainkan seperti ini. Tapi menghadapi Irene, dia seolah tidak berdaya. Dia hanya bisa menuruti perkataan istrinya tersebut. Terlebih lagi saat ini dia tengah ngidam. Jadi Alex harus ekstra sabar dalam menuruti kemauan nya.


Alex belum selesai makan, tapi Irene sudah kembali tertidur di ranjang. Hanya dengan melihatnya seperti ini, membuat Alex sangat bahagia. Akhirnya dia bisa menjadi suami wanita yang di cintai nya, walaupun harus di mulai dengan hal yang buruk.


Alex membereskan perlengkapan makan nya dan segera mengambil ponselnya. Dia diam-diam memotret Irene ketika sedang tidur.


Entah sejak kapan dia mulai jatuh cinta pada wanita ini. Yang pasti, apa yang sudah di dapatkan nya, mustahil dia lepaskan meski itu untuk Doni sekalipun.


Alex tertidur di sofa sambil memandangi wajah istrinya. Dia terlihat sangat bahagia. Sampai keesokan paginya, drama mual datang lagi memecah keheningan pagi di kamar hotel mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2