
"Irene,,apa aku perlu memanggil dokter??".
"Kau muntah terus sejak tadi,,kondisi mu seperti ini, aku takut sekali".
"Jangan,, aku tak apa, biar aku berbaring sebentar untuk menghilangkan pusingnya".
"Kemarilah,,, berbaringlah di sini,, kalau boleh aku bisa mengelus perut mu supaya lebih enak".
Irene hanya memejamkan mata saja. Entah kenapa perutnya sepeti di aduk-aduk dari dalam. Semua makanan tak ada yang bisa di telan olehnya. Kepalanya juga terasa sangat berat sekali.
Alex mendekati Irene yang tengah berbaring. Dia berinisiatif untuk mengelus perut istrinya serta mengajak bicara bayi di dalam nya.
"Selamat pagi sayang, ini papa".
"Anak papa jangan nakal ya, kasihan mama jadi kesakitan".
"Kau harus jadi anak yang baik".
"Papa dan mama menyayangi mu, sayang".
Ajaib,, kata-kata Alex mampu membuat nyeri di perut Irene mereda. Semakin lama semakin menghilang. Apalagi sentuhan tangan Alex membuat pusing kepala Irene juga berangsur-angsur sembuh.
"Sudah Alex,, aku sudah baikan sekarang".
"Anak ini rupanya harus di beritahu dulu supaya tidak menyusahkan mu".
"Lain kali dia berjalan lagi, kau bilang saja pada ku".
"Ya,,, sepertinya memang dia mewarisi sifat ayahnya yang suka menyakiti orang".
Alex terdiam seketika. Rupanya, Irene masih belum bisa memaafkan dirinya. Walaupun sekarang mereka sudah menjadi suami istri.
"Pagi-pagi begini sepertinya enak kalau ada rujak es krim di depan ku".
"Alex,, bisakah aku minta tolong pada mu".
"Sepertinya ini juga keinginan anak mu kan?".
"Tapi kau yakin ingin makan rujak es krim?".
"Kau masih belum sarapan kan?".
"Ya sudah kalau kau tak mau, biar aku minta tolong Doni saja".
"Jangan,, aku akan mencarikan rujak eskrim untuk mu".
"Kau di sini saja,, sebentar lagi aku akan membawanya".
Alex segera melangkah ke luar kamar hotel. Dia menelpon stafnya untuk membawakan rujak es krim yang di minta Irene. Alex menunggu di lobby hotel sampai staf nya datang. Selesai menelpon dia tak sengaja melihat Doni masuk ke dalam hotel. Dia menghampiri bagian resepsionis. Alex bergegas mendatangi nya.
"Ada perlu apa kau kemari sepagi ini??".
"Aku ada janji dengan Irene".
"Dia harus menandatangani kontrak kerja nya dengan Tamara".
"Tapi, istriku sedang tidak enak badan".
"Dia kelelahan karena semalaman tidak tidur".
"Kau tahu kan, kami masih berbulan madu".
__ADS_1
"Seharusnya kalian memberi kami privasi".
"Aku yakin kau pasti hanya asal bicara".
"Irene tak mungkin mau menyentuh mu".
"Aku tahu, pernikahan kalian hanya di atas kertas saja".
"O, ya...kau mau bukti....aku akan menelpon nya".
"Dia sedang merindukan ku karena aku kelamaan ada di lobby".
Alex segera menekan nomor ponsel Irene. Belum sampai bicara, Irene sudah terlebih dahulu membuka mulutnya.
"Sebenarnya kau kemana saja Alex,, aku menunggu mu".
"Iya sayang,, sebentar lagi aku datang".
"Cepatlah,,,atau aku akan menangis".
"Iya,,,,aku datang Irene".
"See.....kau dengar sendiri kan??".
"Bagaimana dia menangis merindukan aku".
"Berhentilah bicara omong kosong Alex".
"Lelucon itu tak kan mempan pada ku".
"Lelucon katamu,,, dengar.....Irene adalah istri ku sekarang".
"Dia sedang mengandung darah daging ku saat ini".
"Menikahlah dengan Vera dan mulai lah hidup baru".
"Dan ku peringatkan padamu,, jauhi istriku,, atau aku tak segan-segan bertindak padamu".
"Kau mengerti kan Doni!!".
"Pergi dari sini, istri ku sedang tak ingin di ganggu".
Alex merebut berkas yang di bawa Doni dan mengusirnya dari hotel tempat mereka menginap. Sekarang baru Doni tahu, seperti apa Alex sebenarnya. Dia sengaja ingin memisahkan dirinya dengan Irene..Mungkin pernikahan ini pun salah satu cara liciknya menjebak Irene.
"Irene, ini rujak es krim milik mu".
"Aku berjalan jauh untuk bisa dapat ini".
"O, ya...aku juga ketemu Doni tadi, dia menitipkan ini padaku".
"Dia ada urusan dengan Vera, jadi tak bisa melanjutkan proyek kalian".
Irene menerima berkas kontrak kerjasama dirinya dengan Tamara. Berkasnya asli, tapi kenapa Doni menyerahkan nya pada Alex. Seharusnya dia sendiri yang memberikan bila ingin mengundurkan diri. Irene jadi kecewa. Mungkin benar sekarang Doni lebih fokus pada Vera saja di banding dirinya.
"Sini, biar aku yang simpan,, kau masih harus banyak istirahat kan?".
"Tidak, siang ini juga aku harus menemui Tamara".
"Kalau begitu, biar aku telepon Doni, dia partner kerja mu kan??".
"Jangan,,dia sedang bersama Vera kan?".
__ADS_1
"Tidak usah mengganggunya".
"E...apa kau bisa mengantar ku Alex,,aku takut di jalan nanti mual dan pusing lagi".
"Tentu saja,,aku akan mengantar mu,,sekarang habiskan rujak es krim ini dulu".
"Aku sudah kenyang,,kau saja yang makan".
"Tolonglah,,,kau tak mau anak kita nanti meludah terus kan??".
Alex lagi-lagi hanya bisa menuruti permintaan Irene. Ibu hamil memang juara dalam segala hal, termasuk mengerjai suaminya. Alex hanya bisa mengungkapkan kekesalan nya di dalam hati.
"Ini pasti balas dendam mu padaku kan Irene".
"Baiklah,,aku ikuti permainan mu".
"Yang terpenting, kau sudah jadi istri ku sekarang".
"Jangan harap aku akan menceraikan mu".
"Selamanya kalian berdua adalah milikku".
Alex menatap wajah Irene sambil terus memakan rujak es krim. Sesekali dia terlihat kepedasan, tapi tetap saja Alex meneruskan makan nya.
"Kau kenapa,, kesal pada ku??".
"Tidak begitu,, aku kesal pada rujak ini, kenapa bisa pedas seperti ini".
"Jadi kau menyesal makan rujak itu??".
"Tidak,,,tentu saja dengan senang hati ku habiskan, kata mu demi anak kita kan??".
Dalam hati Irene tertawa geli. Melihat muka Alex yang berkeringat sambil mulutnya kepedasan, lucu sekali. Kalau saja tidak gengsi, Irene sudah memotretnya. Tapi dia tetap sebisa mungkin menahan diri.
Alex tak kuat lagi. Mulutnya panas dan mukanya berkeringat. Dia segera memasukkan wajahnya ke dalam lemari es. Tidak sampai di situ, dia mengguyur tubuhnya berkali-kali dengan air.
"Alex,,kau tidak apa-apa kan??".
"Apa aku berangkat sendiri saja".
"Tunggu Irene,,,aku akan mengantar mu".
"Ayo,,aku sudah siap".
"Kau serius,,,ganti baju mu yang basah itu".
"Ya ampun,,aku lupa,,tunggu sebentar,,5 menit aku siap".
Irene menunggu Alex yang sedang berganti baju sambil membuka ponselnya. Di media sosialnya, Doni ternyata sedang berlibur di Bandung. Mungkin saja dia pergi bersama Vera. Irene menutup handphone nya ketika di lihatnya Alex sudah bersiap.
"Kau janji bertemu Tamara di kantor nya?".
"Tidak,, kita akan menemuinya di restoran".
"Dan, dia belum tahu kalau kita sudah menikah".
"Jadi, sampai hari resepsi, biarkan tetap seperti ini".
"Iya,, aku mengerti Irene".
Keduanya segera turun ke parkiran untuk mengambil mobil. Setelahnya mereka menuju ke restoran untuk bertemu dengan Tamara. Di perjalanan Irene masih berharap kalau Doni
__ADS_1
menghubunginya, tapi nyatanya dari tadi tidak ada kabar darinya juga.
...****************...