Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Perubahan Suasana Hati.


__ADS_3

Setelah keributan kecil yang terjadi di toko tadi, Alex segera menuju ke kantornya. Dia langsung menelpon Vera untuk datang ke kantornya.Sementara Irene dan Doni masih ada di toko.


"Alex pasti sangat marah kali ini".


"Dia sudah berharap kalau kau akan menerima nya".


"Aku tidak yakin dengan sifatnya,, dia itu temperamen dan susah di tebak".


"Aku masih ingat peristiwa itu kalau dia ada di dekat ku".


"Membayangkan hidup bersamanya,, aku tak yakin akan baik-baik saja".


"Kau tenang saja,,aku di samping mu, kalau dia macam-macam, kau bisa langsung menelpon ku".


"Terimakasih,, kau selalu ada untuk ku selama ini".


Mereka masih bercanda di toko. Tak hendak beranjak meninggalkan toko sepertinya. Tak berapa lama, telpon berdering dari ponsel Doni. Di seberang sana, suara merdu seorang wanita tengah berbincang dengan nya.


"Ayolah Doni,aku tak punya banyak teman di sini".


"Tolong temani aku sebentar saja,,,acara itu penting untuk karir ku nanti".


"Kau bisa minta Alex menemani mu kan??".


"Dia uring-uringan sejak tadi, entah kenapa".


"Ayolah Doni,,,ku mohon".


"Pergilah bersama ku sekali ini saja".


"Aku perlu melihat jadwalku dulu, nanti aku akan menelpon mu".


Doni mengakhiri pembicaraan nya dengan Vera. Dulu kalau ada tugas di luar kota seperti ini, dia pasti bersemangat. Tandanya dia dan Vera bisa menghabiskan waktu berdua saja.


Tapi sekarang, setelah ada Irene, Doni jadi ragu untuk meninggalkan Irene sendirian.


"Apa ada yang penting,, kau harus pergi??".


"Tidak,,hanya kantor Alex mengirim ku dan Vera tugas di Bandung".


"Kami akan mengadakan pameran di sana".


"Lalu, apa masalahnya??".


"Berangkatlah...itu kesempatan mu kan, jangan pedulikan aku".


"Aku bisa jaga diri kok!!".


Sejenak Doni ragu, tapi kemudian dia bersemangat karena sebentar lagi dia akan jadi kepala keluarga. Dia harus mencari nafkah untuk Irene dan anak-anak nya. Doni kemudian menelpon Vera dan menyetujui permintaan nya.


"Beres sekarang Alex,, Doni akan bersama ku di Bandung selama dua hari".


"Gunakan kesempatan itu untuk merebut hati Irene".


"Aku juga akan membujuk Doni agar dia kembali padaku".

__ADS_1


"Mumpung kalian pergi, aku akan meminta mama untuk menikah kan kami secepatnya".


"Setidaknya kami bisa menikah sederhana kan,, lalu resepsinya bisa nanti saja".


"Terserah,, lakukan apa yang ingin kau lakukan".


Tanpa di ketahui oleh Irene dan Doni, ternyata kakak beradik itu sudah merencanakan segalanya untuk memisahkan kedua nya. Dan


sepertinya rencana nya akan berjalan mulus kali ini.


"Kita jadi ke tempat Tamara kan Irene??".


"Atau kita pulang saja kalau kau sakit".


"Aku hanya mual sedikit, ini pasti akan segera membaik".


"Kau pulang saja,, nanti malam kau berangkat kan??".


"Aku hanya,,entahlah....mungkin ini bawaan ibu hamil".


"Ayo,, aku akan mengantar mu pulang".


"Jangan,,kau pergi saja,, sepertinya anak ini tidak mau ada di dekat mu".


"Atau mungkin parfum yang kau pakai??".


"Ya sudah....tapi kau bisa sendiri kan??".


"Iya,,jangan khawatir".


"Tak apa,,aku maklum pada ibu hamil".


"Untung kau cantik, jadi aku bisa memaklumi mu".


Usia kehamilan Irene memang baru 1 bulan, wajar jika dia sering merasa mual dan berperilaku aneh. Orang bilang Irene sedang nyidam. Tapi hal itu menjadi perbincangan di antara karyawan nya yang tak tahu kejadian yang menimpa Irene tersebut. Sampai saking penasaran nya mereka bahkan bertanya langsung pada Irene.


"Maaf Bu,,,sebaiknya ibu periksa ke dokter kalau sering mual begini".


"Bisa jadi ibu kena asam lambung,,bisa parah lo bu, kalau di biarkan saja".


"Iya bu,,lagian ibu kan tidak mungkin sedang hamil kan???".


"Secara ibu belum menikah".


"Semua yang kalian katakan benar,,tapi ini urusan pribadi saya bukan??".


"Jadi akan lebih baik kalau kalian bekerja saja".


"Permisi,,saya ada urusan di luar sebentar".


Kali ini Irene sudah tidak bisa menahan nya lagi. Dasar memang dirinya sedang sensitif, pertanyaan karyawan nya sukses membuat dirinya menangis.


Dan entah secara kebetulan atau memang dasar bawaan bayi, Irene menelpon ayah bayi tersebut untuk mencurahkan perasaan sedihnya.


"Pokoknya aku nggak mau tahu Alex, kau harus ke sini sekarang juga".

__ADS_1


"Ada apa Irene,,bukankah kau bersama Doni".


"Tidak,,,aku sendiri di taman kota, dan ini karena kau".


"Aku.......memangnya aku salah apa??".


"Cepat ke sini sekarang.!!!".


Suara tangis Irene dan nadanya yang meninggi sukses membuat Alex panik. Buru-buru dia tinggalkan kantor dan membawa mobil nya menuju taman kota.


Sesampainya di taman, dia melihat seorang gadis duduk sendirian dan menangis. Alex menghampirinya. Hati-hati dia menyapa Irene


agar tak mengagetkan nya.


"Irene,,,kau baik-baik saja kan??".


Irene lagi-lagi heran dengan tingkahnya sendiri. Bukan nya marah, dia malah memeluk Alex dengan erat. Dia menangis di bahunya. Seperti melepaskan beban di hatinya. Padahal beberapa waktu lalu dia sangat membencinya. Tingkah nya kali ini pun membuat Alex jadi heran. Dia hanya bisa diam dan mengelus pundak Irene yang masih menangis.


"Alex,, aku mau kita menikah sekarang".


"Mereka semua sudah tahu kalau aku hamil, aku malu Lex,,,aku malu sekali".


"Mereka siapa yang kau maksud??".


"Semuanya,, pokoknya kita menikah saja".


"Kau yakin??".


"Iya,, aku hanya tidak mau mereka mengatakan buruk pada anak ku nanti".


"Baiklah,,,besok pagi kita siapkan semuanya".


"Aku mau sekarang,, atau aku tidak akan pernah mau menikah dengan mu lagi".


"Ok,,,ok.....biarkan aku berpikir sebentar".


"Beri aku waktu, paling lambat sore ini kita menikah".


Irene merasa lega. Entah keputusan ini dari hatinya atau hanya menuruti emosi sesaat. Tapi melihat senyum mengembang di wajah calon istrinya, Alex tentu saja tidak bisa menolak. Tak butuh waktu lama bagi seorang Alex untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, walaupun itu dadakan.Dia segera menelpon semua orang yang bisa membantunya untuk mewujudkan keinginan Irene.


Pesta sederhana yang hanya di hadiri keluarga terdekat saja. Semua orang telah di hubungi, bahkan Vera dan Doni yang sedang menuju bandara. Rencana yang di buat oleh Vera dan Alex otomatis gagal karena Irene sendirilah yang meminta pernikahan nya di percepat. Mereka segera kembali dan membatalkan kepergian mereka ke Bandung.


Doni menelpon Irene untuk menanyakan kebenaran tentang pernikahan nya. Tapi entah kenapa hand phone nya tidak aktif. Dia menduga ada sesuatu yang menyebabkan Irene berubah pikiran dengan sangat cepat.


Sementara, kabar baik itu disambut keluarganya dengan penuh suka cita. Mereka segera bergegas menuju hotel yang telah di siapkan Alex sebagai tempat pernikahan.


"Ini sangat mendadak, jadi pernikahan kita hanya sederhana saja".


"Tapi aku janji dia saat resepsi nanti, aku akan wujudkan semua impian mu".


"Aku janji, setelah ini kau hanya akan bahagia dengan ku, tidak akan ada lagi air mata".


Alex masih berdiri di depan cermin dengan mengenakan jas pengantin. Janjinya pada Irene, akan ditepati nya semua. Satu persatu dia akan menciptakan kebahagiaan untuk gadis yang di cintai nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2