
Dalam perjalanan pulang, Irene lebih banyak diam. Selain jiwanya masih terguncang, tubuhnya pun masih terasa sakit akibat kejadian tadi. Wajahnya masih sembab oleh air mata yang tak henti nya mengalir ke pipinya. Namun, hebatnya Irene, dia tak pernah menunjukkan kelemahan nya tersebut kepada Alex sama sekali. Dia bukan tipe orang yang mengemis belas kasihan dari orang lain.
Alex mencuri pandang ke arah Irene. Wajah cantiknya tertutup oleh air mata. Walaupun terlihat sendu, tapi Irene tetap menawan.Dia tidak kelihatan marah sama sekali. Wajahnya hanya datar tak berekspresi. Ada rasa sakit di hati Alex melihat Irene. Perbuatan nya kali ini sungguh sudah menghancurkan hai gadis tersebut.Alex semula hanya ingin menggertak nya, tapi pengaruh alkohol dan rasa cemburu sudah menguasai dirinya. Hingga akhirnya perbuatan terlarang itu dilakukan nya.
"Mungkin sekarang, untuk meminta maaf padamu pun, aku merasa sangat tidak pantas".
"Kalau mungkin, maafkan aku Irene penjarakan aku, atau kau boleh lakukan apapun padaku".
Irene sama sekali tidak menjawab perkataan Alex. Dia lebih memilih diam, dan menata hatinya, daripada harus berurusan dengan manusia macam Alex ini.
Mobil yang mereka tumpangi sudah hampir sampai di depan toko Frozen food milik Irene.
Dia kemudian berbicara kepada Alex tanpa menatap ke arahnya sama sekali.
"Turunkan aku disini".
"Tapi, ini bukan rumah mu, kau mau kemana??".
"Berhenti sekarang, atau aku loncat dari mobil
ini".
"Ya,,,baiklah....aku berhenti".
"Pergilah.....setelah ini jangan pernah menggangguku lagi,, aku sudah muak melihat wajahmu!!!".
Irene turun dari mobil dan berjalan ke arah toko. Alex hendak mengikutinya tapi kata-kata
Irene tadi membuatnya urung melakukan nya.
Nisa masuk kedalam toko. Dia langsung naik ke lantai atas dan mengunci pintu kamar nya. Dia segera pergi ke kamar mandi.Irene menghidupkan shower dan mulai membersihkan badannya. Dia menggosok seluruh tubuhnya berulang kali. Irene ingin menghapus jejak Alex di tubuhnya. Berkali-kali Irene melakukan nya,sampai tak sadar badan nya terluka. Dia juga menangis histeris dan menjerit kesetanan, seperti meluapkan perasaan nya.
Kedua karyawan yang mendengar suara Irene
menjadi panik. Mereka mencoba membuat pintu, tapi tak berhasil. Akhirnya mereka menelpon Doni, karena takut terjadi sesuatu pada Irene.
Doni langsung datang ke toko Irene. Dia kemudian berbicara kepada karyawan Irene.
"Sejak kapan bu Irene mengunci diri??".
"Sekitar jam 11 pak,, beliau datang sendiri dan langsung sepeti ini".
"Kalian ada kunci cadangan??".
"Sebentar pak, saya carikan".
Kedua karyawan Irene langsung sibuk mencari kunci cadangan kamar. Semua tempat digeledah,sampai akhirnya kunci tersebut ditemukan di laci meja kasir. Doni segera naik ke atas untuk membuka kamar Irene.
"Kalian urus toko saja, nanti kalau ada apa-apa, aku akan memanggil kalian".
"Baik pak".
Bergegas Doni membuka pintu kamar Irene. Dia kemudian berteriak memanggil namanya.
Sampai Doni mendapatinya sedang menangis di bawah shower dengan tubuh membiru nyaris pingsan. Doni segera mengambil selimut lalu bergegas membawa Irene ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Irene dimasukkan ke ruang UGD. Suster segera mengganti baju Irene yang basah, lalu kemudian dokter memeriksanya.
Doni menunggu di luar dengan raut wajah cemas luar biasa. Tak biasanya Irene bersikap seperti ini. Doni bahkan tak sampai hati melihat keadaan nya.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruang UGD dengan senyum merekah. Suster yang disampingnya pun salah tingkah melihat Doni dari atas ke bawah.
"Bagaimana keadaan nya dokter??".
"Kalian ini pengantin baru ya,,, kira-kira dong mas,,, beri waktu istrinya untuk istirahat".
"Jangan sampai tiap saat berhubungan hingga kelelahan seperti ini".
"Maksud dokter,,, saya belum paham,,".
"Biar perawat yang menjelaskan!!".
"Ini sebenarnya kenapa sus,, kenapa kalian malah senyum-senyum??".
"Mas ini, bernafsu sekali rupanya dengan istrinya, sekujur tubuh istri anda sampai penuh dengan tanda merah".
"Untuk organ vitalnya, agak sedikit bengkak, jadi untuk dua hari ini puasa dulu ya mas, kasihan istrinya".
"Saya maklum, namanya pengantin baru pasti begitu,, sebentar lagi Anda boleh masuk".
Doni masih belum bisa mencerna kata-kata dokter dan perawat tadi. Dia bingung dengan keadaan Irene.
"Pengantin baru,, apa maksudnya??".
"Tanda merah, bengkak,, jangan-jangan......".
"Ah.....tidak mungkin,, apa ini penyebabnya?".
"Irene pasti habis di ......".
Doni akhirnya paham dengan kejadian yang menimpa Irene. Dia pasti habis diperkosa oleh seseorang. Itulah makanya dia histeris.
"Baik suster, terima kasih".
Doni masih menahan amarahnya. Dia tak ingin Irene semakin tertekan. Namun Doni juga tak kuasa memandang wajah Irene yang seperti ini.
"Hei,,, kau semakin kelihatan cantik setelah 3 jam berendam".
"Kenapa kau tak biarkan aku mati saja??".
"Kenapa kau justru menolongku".
"Aku kotor Doni,, aku tak pantas hidup lagi".
"Sstt......diam lah.....kau harus banyak beristirahat sekarang".
"Tidurlah,,, aku akan menemanimu di sini".
Irene yang semula ketakutan untuk dipegang, dan menolak kehadiran Doni, jadi luluh karena perlakuan lembut Doni padanya.Doni memeluk Irene dan mengusap rambutnya sampai dia tertidur. Doni bahkan tak melepaskan genggaman tangan Irene sedikitpun. Doni menemaninya sampai dia benar-benar terlelap.
Rupanya Irene tidak benar-benar terlelap, di tengah tidurnya dia tiba-tiba mengigau.Doni
terkejut dan mendengarkan dengan seksama.
"Jangan Alex,,lepaskan aku,,kumohon!!".
"Jangan sakiti aku Alex!!".
Mendengar ucapan dari Irene, seketika Doni tak bisa menahan diri. Hati-hati dia melepaskan genggaman Irene, kemudian keluar menemui perawat.
__ADS_1
"Suster,,tolong jaga istri saya sebentar".
"Saya ada urusan penting".
"Jangan ada yang boleh menjenguknya sampai saya kembali".
"Baik pak".
Doni langsung keluar dari rumah sakit. Dia menelpon nyonya Renata untuk menanyakan keberadaan Alex. Doni beralasan kalau ada urusan kerjaan. Nyonya Renata memberitahu kalau Alex ada di rumah.
Doni segera bergegas menuju rumah Alex.
Dia turun dari mobil dengan wajah memerah.
Doni masuk ke dalam rumah, dan melihat Alex sedang menonton televisi. Doni langsung menghampirinya dan menyeretnya ke luar. Dia lalu memukulinya hingga babak belur. Seluruh wajahnya nyaris dikenali akibat banyaknya darah yang keluar dari mulutnya.
"Ini balasan untuk bajingan macam kau!!!".
"Harusnya aku membunuhmu,,,tapi tidak,,,kau harus membusuk dipenjara".
"Hentikan Doni,,,Alex bisa mati kalau begini".
"Apa yang kau lakukan ini".
"Ini belum seberapa Tante, dibanding perbuatan nya yang memalukan!!!".
"Asal Tante tahu,,dia baru saja memperkosa Irene".
"Dia sampai masuk rumah sakit karena ulah bajingan ini".
"Irene masuk rumah sakit,,,antar Tante ke sana Don".
"Jadi, Tante sudah tahu kelakuan bejatnya itu??".
"Kamu tenang saja,, biar Tante bereskan semuanya".
"O...jadi benar,,,,kalian orang kaya,, menganggap remeh hal ini??".
"Asal kalian tahu,,, gadis baik-baik, yang telah kau perlakukan tidak senonoh itu,, dia mencoba bunuh diri".
"Dimana hati nurani kalian??".
"Alex,,, sebaiknya kau menghilang dari pandanganku".
"Aku takut tidak bisa menahan diri dan membunuhmu kalau kau masih di hadapan ku".
"Katakan,,, di rumah sakit mana Irene sekarang".
"Aku ingin menemuinya".
"Aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku".
"Kau jangan khawatir,,, aku pasti menikahinya".
Sekali lagi Doni menyeret Alex dan memukulinya habis-habisan. Nyonya Renata mencoba melerai perkelahian mereka. Kalau tidak, mungkin saat ini, Doni sudah berhasil
menghabisi Alex.
...****************...
__ADS_1