
"Kita berangkat sekarang saja, itu Doni sudah datang".
"Ayo Alex,,kau yang menyetir mobil putih itu".
"Biar Vera semobil dengan Doni saja".
Alex dan orang tuanya segera masuk mobil, sementara Vera satu mobil dengan Doni. Di dalam mobil keduanya saling melempar senyuman.
"Kau kelihatan lebih dewasa semenjak menjadi model".
"Kau juga, jauh lebih tampan dan percaya diri sekarang".
"Apa kabar mu hari ini??".
"Baik, walaupun kau tak menjemput ku di bandara".
"Aku ada urusan kantor,,maklum aku kan hanya karyawan di perusahaan Alex".
"Sarkasme mu masih belum berubah rupanya".
"Padahal ku lihat kau sudah tampak percaya diri tadi".
"Aku hanya sadar diri, kalau aku belum jadi apa pun".
"Sebaliknya, kau jauh melesat meninggalkan ku".
"Hentikan pembahasan ini Don,,kita tak pernah selesai kalau seperti ini terus".
"Belum lagi kalau kau mengungkit perpisahan kita".
"Aku malas mendengar nya".
Doni terdiam. Rupanya, Vera masih sama seperti dulu. Pemarah dan temperamental.
Hanya penampilan nya saja yang kelihatan dewasa. Tapi sifat dan karakternya masih sama, sangat jauh berbeda dari Irene.
Inilah yang ingin Doni lihat dari Vera. Walaupun jujur di hatinya masih ada sedikit rasa untuk Vera. Namun ketika memikirkan sifat dan kebaikan hati Irene, Vera sama sekali bukan tandingan nya.
Tak terasa, perjalanan mereka sudah sampai di rumah Irene. Lucu sekali kalau dipikir, karena justru Doni datang untuk mendukung Alex. Entah kenapa dia seperti tidak rela melihat Irene bersanding dengan atasan nya tersebut.
Alex dan orang tuanya sudah memarkir mobilnya dan memasuki rumah Irene. Sementara Vera dan Doni menyusul di belakang nya. Mereka di sambut baik oleh keluarga Irene.
"Bapak dan ibu Wijaya, perkenalkan ini suami saya dan ini anak pertama saya Vera".
"Mereka berdua langsung terbang dari luar negeri untuk acara ini".
"Terimakasih nyonya, atas kehormatan yang anda berikan".
"Mari silahkan duduk".
Vera duduk di sebelah Doni. Dia berbisik ke telinga lelaki tersebut.
"Sepeti apa wajah Irene, sehingga adikku sampai tergila-gila padanya".
"Kau akan melihatnya sebentar lagi".
"Tentunya dia pantas diperjuangkan".
__ADS_1
"O..ya,, kalau kau sudah memuji wanita, berarti dia memang gadis terbaik yang ada di bumi ini".
Vera terdiam ketika Irene keluar membawa minuman. Gadis sederhana, kamu sangat cantik. Inilah yang membuat adiknya mabuk kepayang. Apalagi kalau gadis nya cuek seperti Irene.
Irene memandang tajam ke arah Vera. Rupanya gadis seperti ini pilihan Doni. Cantik, feminim dan elegan. Pantas saja kalau dia rela menunggu sampai pujaan hatinya itu kembali.
"Irene, duduk lah...kami ingin dengar jawaban mu, atas lamaran Alex".
"Apakah kau menerima atau menolaknya".
"Katakan saja terus terang jawaban mu".
"Kami semua ingin mendengar nya".
Irene terdiam, lama..dia memandang Doni.
Kemudian dengan penuh keraguan dia akhirnya menjawab.
"Ayah,,posisi ku bukan untuk menjawab menerima atau menolak".
"Tapi kami harus memperbaiki keadaan dan menyelamatkan satu kehidupan".
"Dan, aku memutuskan untuk memperjuangkan, bagaimanapun dia telah menjadi bagian dari hidupku".
"Makanya aku harus bertanggung jawab sebagai ibu".
"Dan,ke depan nya, kuharap Alex juga berusaha menjadi seorang ayah".
"Kita sama-sama berjuang untuk saling melengkapi".
"Dan aku bersedia, menjalani hari-hari ku bersama calon ayah dari anakku".
Lain hal nya dengan Doni. Entah kenapa ekspektasi nya terlalu tinggi tadi. Dia berharap Irene menolak lamaran tersebut dan menerima dirinya. Nyatanya, Irene memilih Alex untuk menjadi pendamping hidup nya.
"Baiklah....karena Irene setuju, kita urus pernikahan nya segera".
"Dan untuk masalah ini, nanti aku dan Bu Wijaya akan membahas nya lebih lanjut".
"Kalian berdua, silahkan memilih gaun pengantin dan undangan".
"Atau konsep bagaimana yang kau inginkan Irene??".
"Baik nyonya, nanti Irene pikirkan".
Acara kemudian berlanjut dengan bincang-bincang santai. Orang tua bergabung dengan orang tua. Sementara Alex dan yang lain nya berada di teras rumah Irene.
"Alex,,pantas saja kau begitu mencintai Irene, ternyata dia memang pantas untuk di perjuangkan".
"Jangan terlalu memuji ku Vera, semua orang yang kita cintai harusnya memang pantas di perjuangkan".
"Kecuali kalau mereka memutuskan berhenti di tengah jalan".
Doni menatap mata Irene. Sepertinya kata-kata itu di tujukan padanya. Seketika Doni langsung saja menyahut.
"Bukan begitu Irene,,kadang orang buka memilih berhenti di tengah jalan".
"Tapi mereka hanya ingin yang terbaik untuk semuanya, walau mungkin di belakang, hatinya hancur".
__ADS_1
"Kalian ini bicara apa sih,,aku kurang paham".
"Mereka memang seperti itu kalau sudah bertemu".
"O,ya Vera....kau memutuskan untuk kembali untuk pernikahan kami kan??".
"Itu salah satunya,,,tapi ada hal lain yang menarik ku kembali".
"Irene, dia kesini untuk menemui Doni kembali".
"Kau lihat dari tadi mereka bersama kan?".
"Kakak ku memang seperti itu,,kemauan hatinya tak ada yang bisa menerka".
"Ketika sudah mencintai akan dia perjuangkan".
"Kau juga seperti itu juga kan Alex??".
"Kau bahkan tak perduli apapun, asal kemauan mu terpenuhi".
"Jangan mulai lagi Don, aku tak ingin kita bertengkar di sini".
"Sudah,,hentikan pembicaraan ini".
Alex dan Doni terdiam. Mereka saling menahan amarah. Sesaat nyonya Renata mengajak anak-anak nya pulang. Pembahasan pernikahan akan di lanjutkan lain waktu, karena sudah larut malam.
Irene mengantar kepergian keluarga Alex sampai di teras depan.Dia kemudian masuk ke dalam rumah. Irene seperti tidak bahagia
menerima keputusan orang tua nya. Hanya demi anak yang di kandungnya saja , maka dia menerima Alex menjadi suami nya.Irene kemudian masuk kamar dan merebahkan diri di tempat tidur nya.
Keesokan paginya, dia terbangun mendengar suara ribut di depan rumahnya. Para tetangga rupanya sedang bergosip tentang dirinya. Mereka seperti tidak suka karena Irene mendapatkan orang kaya. Mereka menduga hal yang macam-macam dengan Irene.
Irene keluar dari kamar dan menghampiri ibunya. Dia kasihan melihat wajah sedih dari orang tuanya tersebut. Irene segera menghampiri nya.
"Nggak usah di dengarkan Bu, mereka kan tidak tahu cerita yang sebenarnya".
"Tapi ibu nggak rela mereka menuduh mu seperti itu Irene".
"Biarkan saja,, Irene tak perduli mereka mau bicara apa tentang kita".
"Asal kita nggak menanggapi, mereka pasti akan diam".
"Memangnya kau mau kemana,, sudah rapi sepagi ini??".
"Irene ada urusan dengan Tamara bu, lagipula Irene juga harus ke toko kan??".
"Irene punya pekerjaan sendiri,, jadi tidak harus bergantung pada Alex seperti kata mereka".
"Tapi,, Alex memang harus bertanggung jawab padamu nak,, apalagi kau sedang hamil saat ini".
"Iya Bu,, Irene paham, Irene pergi dulu Bu".
"Hati-hati di jalan".
"Baik Bu".
Irene keluar dari rumah melewati ibu-ibu yang sedang bergosip. Dia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan nya. Untuk sementara Irene akan ke toko dulu. Di sana dia bisa beristirahat lebih tenang.
__ADS_1
...****************...