Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Kebaikan Hati Alex


__ADS_3

Irene masih memandangi tumpukan uang yang baru saja di berikan oleh Laura. Gadis itu menceritakan segalanya. Betapa Alex selalu mengurus keluarga Irene dengan baik.


Dan itu semua tanpa sepengetahuan dirinya.


Ah....Irene bahkan tak tahu mesti berkata apa.


Ketika Alex masuk ke kamarnya pun, Irene di buat salah tingkah dengan ketenangan sikap Alex di depan nya


"Kau kenapa, memandang ku seperti itu??".


"Apa aku melakukan kesalahan??".


"Tidak,,,sama sekali tidak Alex".


"Entah bagaimana aku bisa berterimakasih pada mu".


"Berterimakasih untuk apa,,kau tak perlu melakukan nya Irene".


"Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini".


"Cuma, baru segini kemampuan ku untuk menyediakan tempat yang layak bagi keluarga kecil kita".


"Alex,,,ini sudah sangat istimewa bagiku".


"Dan bukan hal ini yang ingin ku bicarakan dengan mu".


"Lantas,,apa lagi yang ingin kau katakan".


"Ini,,,kau lihat kan ini apa??".


"Tentu saja,,semua orang juga tahu kalau itu uang".


"Ini milikmu Alex,,,Laura yang memberikan nya".


"Aku tak merasa menitipkan uang pada Laura".


"Kau pasti salah sangka".


"Memang tidak,,,aku.......!!".


Belum sempat Irene bicara, air matanya sudah tumpah membanjiri kelopak matanya. Alex yang terkejut melihat perubahan sikap istrinya, segera mendekati dan memeluknya dengan erat.


"Terimakasih, selama ini sudah mengurus keluarga ku dengan baik".


"Orang tua ku dan Laura sudah menceritakan semuanya".


"Ah...itu tak seberapa dibandingkan dengan sikap jahat ku kepada mu".


"Sudah lah...jangan bicarakan itu lagi".


"Kau tak boleh bersedih lagi mulai sekarang".


"Aku ingin kau selalu bahagia".


Entah kenapa, di pelukan Alex, air mata Irene semakin deras mengalir. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari suaminya yang coba di sembunyikan dari nya. Dirinya masih belum banyak mengenal tentang Alex. Sehingga terkadang memandang sebelah mata kepada suaminya itu.


Keduanya masih berpelukan ketika ibu memanggilnya untuk membawa Irene ke depan. Ibu tersenyum memandang kemesraan keduanya. Dia merasa lega, karena Irene sudah bisa menerima Alex.

__ADS_1


"Ayo...Irene, Alex semuanya sudah menunggu kalian di depan".


"Iya Bu, sebentar lagi kami ke sana".


Ibu Wijaya turun lebih dahulu. Sementara Alex membopong Irene menuruni tangga. Mereka kelihatan sangat mesra. Dari bawah, Doni dan Vera menyaksikan keduanya dengan perasaan sedikit cemburu. Maklum, mereka masih mengira kalau pernikahan kedua pasangan itu hanya sandiwara.


Acara syukuran rumah berlangsung dengan lancar. Semua orang mendoakan kesembuhan Irene. Hanya saja mereka menyayangkan karena bayi Irene belum bisa di bawa pulang.


Baik nyonya Renata dan suaminya, serta keluarga Wijaya tidak bersedia untuk menginap. Mereka langsung pulang ke rumah nya masing-masing. Tinggal Irene dan Alex di rumah besar itu berdua.


"Aku merindukan anak-anak kita Alex".


"Seharusnya mereka ada di sini bersama kita".


"Aku tahu Irene, tapi tampaknya kita harus sedikit bersabar".


"Akan lebih baik kalau kita membawa keduanya ketika sudah benar-benar sehat".


"Lagi pula, ini baik bagi kita, karena masih punya kesempatan untuk berdua saja".


"Ya,, kau benar!!".


Keduanya masih duduk di sofa. Sementara Doni terlihat berada di klub malam. Dia melihat Roger ada di tempat yang sama. Doni menghampiri pria itu dan mengajak nya bergabung di mejanya.


Tak berapa lama, keduanya sudah terlihat akrab. Mereka ngobrol sembari minum-minum.


"Doni,, aku sungguh tak menduga, rupanya kau bukan orang polos seperti yang ku kira".


"Tidak,,Roger....aku hanya sedang kesal,, jadi lebih baik aku mencari hiburan".


"Masalah ku ada pada wanita itu".


"Jadi ini tentang cinta,,katakan...wanita mana yang kau maksud??".


"Dia milik ku,, tapi Alex merebutnya dari ku".


"Yang kau maksud Irene??".


Roger memandang wajah Doni yang sudah setengah mabuk, dengan rasa kaget. Sama seperti dirinya, rupanya Doni juga punya masalah dengan Irene. Bedanya, Roger membencinya, sedangkan Doni sangat mencintai nya. Entah apa yang ada di diri wanita itu, hingga semua orang mengagumi dirinya. Roger berusaha menggali keterangan dari Doni karena pria itu sedang mabuk. Kesempatan baginya dengan memanfaatkan situasi.


"Dia janji untuk menikah dengan ku setelah melahirkan".


"Tapi tampaknya Alex lebih licik".


"Dia mengikat Irene dengan memberinya kemewahan".


"Berarti memang wanita itu tidak baik,, tinggalkan dia kawan".


"Demi materi, dia mengkhianati mu".


"Kau tahu,,Irene bukan wanita seperti itu".


"Sebelum menikah dengan Alex,,bisnis nya sudah jauh berkembang".


"Irene terbiasa melakukan semuanya sendiri".


"Lalu, kenapa kalian tidak menikah saja??".

__ADS_1


"Kenapa dia harus menikah dengan Alex??".


"Kau pasti belum tahu ceritanya!!!".


Roger semakin penasaran. Sebentar lagi, dia akan mendapat informasi tentang wanita yang selama ini di bencinya. Tapi rupanya Doni bukan orang yang terbiasa minum. Kepalanya sudah rebah di atas meja dengan omongan yang ngelantur.


"Aku harus berpikir keras, agar bisa menghancurkan wanita itu".


"Rupanya, semua orang menyayangi dirinya"


"Tapi aku yakin, dia pasti punya kelemahan".


"Dan itu bisa ku gunakan untuk menyerang dirinya sewaktu-waktu".


"Tentu saja di tambah dengan merebut aset perusahaan nya".


Bermacam rencana sudah tersusun rapi di kepala Roger. Satu-persatu hampir di wujudkan olehnya. Butik Irene sudah di kuasai hampir 80 persen. Hanya butuh satu tanda tangan, dan kepemilikan nya berganti menjadi punya Roger.


Selama beberapa bulan Irene absen dari butik, Roger sibuk melaksanakan rencana jahatnya itu. Dia sudah memindahkan sebagian aset butik atas namanya. Karya-karya desain milik Irene pun di copy dan di buat di rumah mode miliknya. Bahkan dia sudah beberapa kali menggelar fashion show hasil karya Irene tersebut.


Semua orang tidak ada yang curiga sama sekali. Roger benar-benar berniat menghancurkan bisnis Irene. Bahkan kali ini dia akan mengajak Doni bekerjasama. Mengingat Doni sudah kecewa berat dengan wanita yang di bencinya itu.


Pagi hari di rumah baru Alex dan Irene, pasangan suami istri itu sudah siap beraktivitas. Tapi, kali ini Irene ingin mengunjungi kedua buah hatinya di rumah sakit..Sementara Alex sudah mulai berangkat ke kantor.


"Sayang,, coba kau lihat ini,, teman ku dari Amerika mengirim pesan".


"Mereka memesan gaun yang baru saja di pamerkan di rumah mode Carlos".


"Katanya fashion show tadi malam sungguh sukses, mereka menyukai karya-karya mu".


"Tunggu,, aku masih belum paham".


"Seingat ku, aku tak bekerja sama dengan rumah mode tersebut".


"Lalu, bagaimana mungkin rancangan mu bisa sampai ke sana".


"Dan di jual dengan harga tinggi".


"Ini pasti ada kesalahan,, nanti biar aku telepon Doni".


"Sekarang, kita berangkat dulu, takut kau terlambat".


Keduanya memasuki mobil dan berangkat menuju ke rumah sakit. Alex hanya mengantar sampai di depan, sementara Irene langsung masuk ke ruang bayi. Dia harus menyusui keduanya anaknya terlebih dahulu".


"Suster,, kira-kira bayi saya masih lama di sini, atau mereka sudah bisa pulang".


"Beratnya sudah naik Bu, tapi nanti kami konsultasikan dulu dengan dokter anak".


"Yang terpenting, ASI nya harus setiap hari Bu".


"Mereka tumbuh dengan cepat".


"Dan tidak ada keluhan sama sekali".


Irene lega mendengar keterangan dari perawat. Dia berharap bisa segera membawa kedua buah hatinya. Alangkah menyenangkan kalau bisa berkumpul sama-sama di rumah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2