
Bagas memegangi pipi nya bekas tamparan dari Irene. Bukan nya marah, dia justru tersenyum. Bahkan tangan Irene berhasil di tangkapnya. Bagas menarik tangan Irene ke arahnya dan langsung mencium nya.
"Lepaskan,, kau sudah sangat keterlaluan!".
"Terus saja kau marah, dan lihat diri mu di depan cermin".
"Kau terlihat sangat seksi, sayang!!!".
Bagas melepaskan tangan Irene, karena Alex sudah selesai menelpon. Dia juga mengubah posisi duduknya seperti di awal tadi.
"Maaf Bagas, ini dari rekan bisnis ku di luar negeri".
"Dia ingin kita ikut tender bulan depan".
"Aku berharap, perusahaan kita bisa memang".
"Oh, ya...kau mau ikut makan malam sekalian".
"Masakan Irene enak sekali, kau pasti ketagihan".
"Tentu saja Alex, kebetulan aku memang belum makan".
"Sayang,, tolong kau siapkan makan malam untuk kamu".
Raut wajah Irene masih menunjukkan kekesalan. Ingin sekali dirinya melihat Bagas segera keluar dari rumahnya. Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin, Alex sangat menghormati rekan kerjanya tersebut. Terlebih ayahnya orang yang berpengaruh di perusahaan.
Irene memanggil Alex karena makan malam sudah siap. Mereka berjalan menuju ruang makan. Sesekali Alex melempar candaan yang langsung di sambut gelak tawa oleh Bagas.
Irene masih di dapur menyiapkan hidangan penutup, ketika tiba-tiba Bagas berdiri di belakang nya.
"Selain cantik, rupanya kau pintar masak juga".
Irene terkejut dan hendak bergeser ke samping, menghindari tubuh Bagas. Namun, pemuda itu mengunci tubuhnya dengan kedua tangan nya. Nafasnya dekat menyapu telinga Irene. Darahnya berdesir seketika. Irene memberontak dan berusaha melepaskan diri.
"Tolong tinggalkan tempat ini".
"Kalau suami ku melihat mu seperti ini, dia bisa sangat marah".
"Aku tak perduli dengan suami mu".
"Biarkan saja dia melihat".
Melihat kenekatan sikap Bagas, Irene buru-buru keluar dari dapur dan menyusul Alex ke ruang makan.
"Sayang, kau lihat Bagas di kamar mandi kan?".
"Sudah lama anak itu di sana, tapi tak kunjung kembali".
"Apa dia sakit perut, gara-gara makanan kita".
"Entahlah,, kalau memang begitu, biar tahu rasa dia".
"Huss,,, jangan begitu, tak baik kalau dia nanti mendengarnya".
Tiba-tiba saja Bagas masuk dan bergabung kembali dengan Alex di meja makan.
"Maaf lama, aku tersesat di dapur".
"Rumah ini sungguh besar dan nyaman".
"Beruntung sekali istri mu mempunyai suami seperti mu Alex".
__ADS_1
"Aku lihat kau bisa memenuhi semua keinginan nya".
"Maaf pak Bagas, saya tak pernah memanfaatkan suami saya".
"Kalau dia memberikan kemewahan pada istrinya, itu karena Alex sangat mencintai ku".
"Dan aku sangat bersyukur akan hal itu".
"Sayang, mungkin pak Bagas tak tahu kalau kau juga punya bisnis sampingan".
"Maklum, dia baru saja pulang dari luar negeri".
"Ini,,,sungguh menarik, jadi istri anda juga berbisnis??".
"Dia seorang desainer".
"Namun belum aktif kembali karena masih ada bayi kami yang membutuhkan dia".
"Sudah Alex, jangan ceritakan tentang aku".
"Pak Bagas akan bosan nanti".
"Kalian makan saja dulu, aku akan lihat si kecil".
"Bu Irene,, sebaiknya anda makan dengan kami disini".
"Iya sayang, makanlah dulu,, biar Nina yang mengurus si kembar".
Irene terpaksa menuruti keinginan suaminya untuk menemani mereka makan siang. Dia harus rela melihat Bagas yang selalu menatap dirinya.
Rasanya malam berlalu begitu lambat. Mana si Bagas tidak kunjung pulang, membuat Irene jadi sewot. Entah dia tipikal makhluk dari planet mana, sama sekali tidak punya sopan santun.
Sejak penggelapan uang yang di lakukan oleh Roger, Doni tidak berani lagi bertemu dengan Irene. Dia merasa kalau dirinya lah yang menyebabkan Roger melakukan perbuatan tersebut. Makanya, sebelum Roger berhasil ditemukan dan di tangkap, Doni belum akan menemui Irene.
Doni di lobby apartemen bersama 2 orang polisi yang menyamar. Mereka sedang meminta kunci kepada resepsionis hotel tempat Roger bersembunyi. Setelah mendapatkan informasi dan kunci pintu kamar hotel, ketiganya langsung bergerak ke kamar Roger.
Polisi menekan bel kamar Roger. Dia berpura-pura sebagai room boy. Saat itu Doni bersembunyi di lorong hotel, agar Roger tidak curiga". Roger membuka pintu kamar hotel.
Di lihatnya pegawai hotel sedang mengantarkan minuman.
"Maaf pak, kami dari pihak hotel ingin mengantar minuman".
"Saya tidak memesan apa pun".
"Ini memang gratis dari hotel pak".
"Bawa pergi dari sini, aku tidak mau menerimanya".
Roger berbalik dan hendak masuk ke kamarnya ketika polisi tersebut menangkap kedua tangan nya dan rekan nya menodongkan pistol ke tubuhnya.
"Maaf pak Roger, anda di tangkap".
"Silahkan nanti beri kesaksian di kantor".
Setelah Roger berhasil di amankan, Doni keluar dari lorong dan menghampirinya.
"Kau pikir kau bisa sembunyi dan bersenang-senang, menghabiskan uang Irene selamanya?".
"Kali ini kau tamat Roger,, sudah cukup kau merugikan kami".
"Saatnya kau membayar semuanya di penjara".
__ADS_1
"Bawa dia sekarang juga pak".
"Aku akan menghubungi Irene sebentar".
Kedua polisi tersebut langsung menggelandang Roger turun dan memasukkan nya ke dalam mobil. Sementara itu, Doni masih berusaha menghubungi Irene.
Irene masih di meja makan saat ponselnya berbunyi. Dia meminta ijin pada Alex untuk menjawab telepon dari Doni tersebut.
"Doni menelpon,, apa aku boleh mengangkatnya?".
"Jawab saja Irene, barangkali ada yang penting".
"Doni, ada apa kau menelpon ku malam-malam begini??".
"Aku sudah berhasil menangkap Roger".
"Malam ini juga dia akan dibawa ke kantor polisi".
"Kalau kau bisa, usahakan datang kesini, untuk mengajukan tuntutan kembali".
"Benarkah,,, aku senang sekali mendengarnya".
"Tunggu,, aku akan segera ke sana".
"Alex, kita harus ke kantor polisi sekarang juga".
"Doni sudah berhasil menangkap Roger".
"Mereka menunggu kedatangan kita untuk menandatangani berkas tuntutan".
"Baiklah,, kita segera kesana sekarang".
"Maaf pak Bagas, kami harus buru-buru".
"Aku dan Irene harus segera ke kantor polisi".
"Aku bisa mengantar kalian,, ayo kita cepat pergi".
Alex dan Irene tidak bisa menolak tawaran Bagas. Mereka terpaksa pergi kekantor polisi dengan nya. Di jalan, Bagas bahkan menawarkan kuasa hukumnya untuk Irene, walaupun dia belum tahu masalahnya.
Tiba di kantor polisi, Doni sudah menunggu kedatangan Irene. Begitu melihatnya, Doni bergegas menghampiri wanita yang sudah lama tak di lihatnya. Kerinduan tampak sekali di pelupuk matanya.
"Kau lihat,, janji ku sudah ku tepati sekarang".
"Dia bisa mendekam di penjara untuk waktu yang lama".
"Kejahatan nya sungguh besar terhadap mu".
"Terimakasih banyak Don, tapi kau tak perlu harus seperti ini".
"Lihatlah diri mu sendiri, tampak kurus dan tidak terawat".
"Penjahat itu memang licik, butuh waktu lama, hingga akhirnya bisa menangkapnya".
"Aku boleh menemuinya bukan??".
"Silahkan Bu, tapi tolong jaga jarak dari jeruji besi".
Irene masuk ke ruang tahanan. Dia melihat Roger duduk di lantai. Sangat tidak sesuai dengan karakternya. Wajahnya nampaknya menyimpan emosi yang besar.
...****************...
__ADS_1