
Irene terbangun dari tidurnya. Di lihatnya jam di pergelangan tangan nya. Sudah pukul 7 malam. Mereka berdua ketiduran di ruang kerja Irene. Kedua nya kelelahan, bercinta sepanjang sore tadi.
Buru-buru Irene memakai pakaian nya dan bergegas membangunkan Alex yang masih tertidur lelap.
"Alex,,,cepat bangun...ini sudah malam, kita harus segera pulang!!".
"Alex.....ayo bangun,,,buka mata mu".
"Kau ini kenapa sayang,,tingkah mu seperti remaja saja".
"Kita ini sudah menikah,,dan kau sedang bersama suami mu sekarang".
"Tenanglah,,,jangan terlalu panik".
"Orang tua mu tak akan mungkin menghukum mu, walau kita bermalam di sini".
"Bukan begitu Alex,, bagaimana dengan anak-anak,,,apa kau tak merindukan mereka".
"Nina sudah menjaganya dengan baik bukan?!".
"Mereka baik-baik saja di rumah".
"Bersantai lah sejenak,,,lupakan semuanya, hanya pikirkan tentang kita berdua".
"Kemari lah....aku masih ingin memeluk mu sebentar lagi".
Irene kembali mendekati ranjang dan menyambut pelukan Alex. Ada benar nya juga yang di lakukan oleh suaminya ini. Irene tak ingat lagi kapan terakhir kali dirinya bisa bersantai. Banyak masalah yang ada di benaknya. Dan kali ini, Alex memberinya kesempatan untuk berbagi cerita. Hanya berdua saja, dengan begitu, mungkin bisa sedikit melepaskan beban yang selama ini ada di hatinya.
Irene menangis dalam pelukan Alex. Rasanya nyaman sekali, setelah berbagai hal yang terjadi di dalam hidupnya. Kali ini dia mantap menyandarkan seluruh beban hidupnya kepada lelaki yang di cintai nya. Apapun yang akan terjadi nanti, mereka akan menghadapinya bersama.
"Maaf kan aku Irene, kalau selama ini belum bisa menjadi lelaki yang sempurna untuk mu".
"Tapi, aku bisa pastikan kalau aku akan selalu berada di sisi mu".
"Aku tahu Alex,,tanpa perlu kau katakan, aku sudah mengerti semuanya".
"Tolong,,kali ini tetaplah selalu di sampingku sesuai janji mu".
"Pasti sayang,,kau jangan khawatir".
Dering ponsel milik Irene membuyarkan momen romantis Irene dan Alex. Irene menatap mata suaminya sebagai isyarat untuk mengangkat ponsel. Seketika Alex melepaskan pelukan nya, dan menyuruh Irene menjawab panggilan di ponsel.
"Ini dari pak Bagas, sayang!!".
"Untuk apa dia menelpon mu??".
"Tadi pagi bukan nya kau sudah menyampaikan izin untuk ku??".
"Iya,,,tunggu sebentar, biar ku lihat apa yang di ingin kan oleh nya".
"Pak Bagas,,ada yang bisa saya bantu??".
"Kau kemana saja Irene,, aku sudah menunggu mu di restoran".
"Kau sudah janji akan makan malam dengan ku bukan??".
__ADS_1
"Atau kau sengaja berlagak lupa??".
"Tentang hal itu,, saya tidak lupa pak Bagas".
"Tapi, saat ini Alex masih membutuhkan perawatan dari saya".
"Mohon di maklumi,, kalau untuk saat ini saya belum bisa datang".
"Nanti saya akan menghubungi anda kembali".
"Terimakasih sebelumnya pak Bagas".
Irene menutup sambungan ponselnya. Rupanya atasan suaminya itu serius dengan ucapan nya. Dia bahkan sudah berada di restoran untuk makan malam dengan Irene.
"Kenapa raut wajah mu berubah seperti itu??".
"Itu tadi pak Bagas,, dia menagih janji makan malam, karena menggantikan tugas mu seharian tadi".
"Berani sekali pemuda itu mengusik milikku".
"Padahal di luar sana banyak gadis-gadis cantik yang belum bersuami".
"Nampaknya kali ini saingan ku bertambah satu".
"Aku harus hati-hati dan mengawasi anak muda itu".
"Kau terlalu berlebihan Alex".
"Mungkin dia hanya ingin di traktir oleh mu".
"Jangan salah sayang, justru ibu muda seperti mu ini kerap kali menjadi sasaran pemuda ingusan, seperti Bagas contoh nya".
"Sudah lah Alex...pakai baju mu, kita pulang sekarang".
Alex segera bangkit dari ranjang dan memakai bajunya. Irene menunggu dengan sabar di sofa ruang kerjanya. Saat mereka berdua keluar, ruangan butik sudah terlihat sepi. Hanya ada satpam yang berjaga di luar.
Satpam itu terkejut saat melihat Irene dan Alex keluar. Dia mengira kalau butik sudah tutup sejak tadi. Tahu ada kedua boss nya, tentu satpam tersebut bisa melayani mereka makan atau pun minum.
"Kami pulang dulu pak,, tolong jaga butik ini".
"Jangan sampai ada pencuri yang masuk".
"Maaf pak, saya tidak tahu kalau pak Alex dan Bu Irene libur sampai malam".
"Saya malah sudah mengunci semua pintunya tadi".
"Tak apa,, kami sudah selesai sekarang".
"Lanjutkan kerja mu, ini untuk beli kopi supaya tidak ngantuk".
"Kami permisi pulang dulu pak".
"Terima kasih banyak pak Alex".
"Hati-hati di jalan".
__ADS_1
Alex segera menggandeng tangan Irene me- masuki mobil. Sementara itu, satpam yang bertugas memandang pasangan tersebut dengan perasaan takjub. Kedua atasan nya tersebut sangat baik kepadanya. Tak sekali dua kali Alex memberi nya uang tips untuk dirinya. Tentu saja satpam tersebut sangat beruntung bisa bekerja di butik milik Irene dan Alex.
Selang satu jam perjalanan, Alex dan Irene sudah sampai di rumah. Suasana sudah sepi, padahal baru jam 9 malam.
"Tumben sepi sekali,, apa anak-anak sudah tidur??".
"Mungkin saja sayang, sebaiknya kita masuk dulu".
Alex dan Irene masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Mia masih menonton televisi.
Dia segera berdiri saat melihat majikan nya pulang.
"Anak-anak sudah tidur, Mia??".
"Iya Bu,,,mereka kelelahan bermain dengan teman bapak sore tadi".
"Teman ku siapa,, kenapa tak ada yang bilang kalau mereka main kemari".
"Namanya mas Bagas pak, dia menunggu bapak di sini tadi".
"Katanya ingin menjenguk bapak yang sedang sakit".
"Celaka.......anak itu rupanya sempat kemari juga".
"Apa ku bilang mas,, anak itu tak bisa di anggap remeh".
"Kau bilang apa padanya Mia?".
"Saya bilang, bapak dan ibu sedang cek up ke rumah sakit".
"Bagus,,, aku suka kalau kau pintar seperti ini".
"Ini bonus dari ku, kau bisa pakai belanja besok".
"Istirahat lah.....kau pasti capek kan Mia".
"Baik Bu Irene, terima kasih banyak untuk bonus malam ini".
Irene mengangguk dan tersenyum pada Mia.
Alex merangkul tubuh istrinya, dan mengajaknya masuk ke kamar. Mereka masih harus mandi dan membersihkan diri.
"Aku capek sekali hari ini mas".
"Aku tahu sayang,,, hari ini kau hebat sekali".
"Lain kali kita ulangi lagi kegiatan seperti tadi".
"Kau setuju kan Irene??".
"Akan ku pikirkan,,,sekarang kau pikirkan saja cara menghadapi Bagas besok pagi".
Irene menutup pintu kamar mandi, sementara Alex masih rebahan di atas ranjang. Pikiran nya memang tertuju pada Bagas. Tapi bukan urusan pekerjaan yang di takutkan nya. Dia justru cemas melihat perhatian Bagas pada keluarganya.
Sudah banyak hal yang di lalui nya untuk bisa mendapatkan Irene. Termasuk menyingkirkan Doni dari sisi Irene selamanya. Kalau sekarang dia harus bersaing dengan Bagas, itu bukan masalah baginya.
__ADS_1
...****************...