Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Kebohongan Alex.


__ADS_3

Hari ini tak seperti biasanya, Irene pulang sendiri dari kantor. Alex memberitahu kalau dia harus lembur. Ada acara di kantor yang tidak bisa di tinggalkan. Walaupun sebenar


nya Irene sangat membutuhkan kehadiran nya, namun di bisa memakluminya.


"Mbak,, apa ruangan bayi nya sudah di bersihkan??".


"Sudah Bu, tadi ada yang datang menata ruangan bayi Bu, katanya bapak yang menyuruh".


"Ya sudah,, biar nanti saya periksa".


"Ibu mau makan malam sekarang, biar saya siapkan".


"Nanti saja mbak, tunggu bapak pulang".


"Baik Bu".


Sebenarnya bukan tanpa alasan kalau Irene ingin di temani oleh suaminya. Dirinya baru saja mengalami kerugian yang besar, di saat kondisi badan pasca persalinan masih belum pulih benar. Tapi, Irene memang tak punya pilihan lain.


Di kantor sendiri, Alex tengah gelisah. Ancaman Nona tempo hari memaksanya harus berbohong pada istrinya. Dia tak mau mengambil resiko membiarkan Nona ke rumah, sementara kondisi Irene masih belum seratus persen pulih. Terpaksa Alex menuruti keinginan Nona makan malam di restoran.


Alex bersiap berangkat, karena Nona sudah memesan tempat di restoran favoritnya. Kali ini dia terpaksa mengalah kepada wanita yang menjadi teman SMA nya itu.


Selang beberapa menit, Alex sudah masuk ke dalam restoran. Nona menyambut Alex dengan senyum sumringah. Dia hendak mencium pipi nya, tapi isyarat tangan Alex membuat nya urung melakukan nya.


"Aku hanya ingin menemani mu makan saja".


"Kita selesaikan secepatnya, supaya aku bisa segera pulang".


"Ini tidak adil Alex,, aku juga ingin ngobrol dengan mu bukan?".


"Dengar Nona, saat ini istri ku jauh lebih membutuhkan ku dari pada diri mu".


"Jadi, demi menjaga perasaan nya, aku bersedia bertemu dengan mu, agar kau tak mengganggu nya di rumah".


Nona menahan kekesalan nya. Dia marah karena Alex yang sekarang lebih memprioritaskan istrinya. Tidak seperti dulu, bebas keluar bersama siapa pun sesuka hati.


Sepanjang acara makan, Alex lebih banyak diam. Nona terus saja merajuk dan bermanja pada Alex. Namun Alex selalu menghindar. Sebisa mungkin dia hindari kontak fisik dengan Nona.


Sudah hampir jam 8 malam, namun Alex belum juga pulang. Irene ragu-ragu untuk menghubungi dirinya. Takut kalau Alex ternyata masih bekerja. Alhasil, Irene menunggu Alex dengan berbaring di sofa depan.


Alex menyelesaikan makan malamnya dan beranjak, hendak pergi dari restoran.


"Aku harus pulang sekarang, atau Irene akan cemas".


"Santai lah sedikit Alex, ini baru jam 8".


"Biasanya kita pulang larut malam bukan??".


"Apa kau tidak tertarik untuk pergi minum bersama ku??".


"Cukup,,,aku pergi..!!!".


"Lain kali jangan menyusahkan ku lagi".


Alex melangkah keluar restoran dengan marah. Sementara seorang wanita diam-diam mengikuti dari belakang. Sedari tadi, wanita itu sudah memperhatikan tingkah laku Alex.


Ketika sampai di parkiran, dia memanggil namanya dan langsung menamparnya.


"Plak...!!!".


Alex kaget melihat wanita yang ada di depan nya. Tangan nya reflek mengusap pipinya yang nampak merah.

__ADS_1


"Keterlaluan kau Alex,,, rupanya kau masih belum berubah juga".


"Vera,, sedang apa kau di sini??".


"Siapa wanita yang bersama mu tadi, coba jelaskan pada ku".


"Dia.......dia teman ku,, kami satu sekolah dulu".


"Sudah lah,, tak mungkin dia bersikap seperti itu kalau kalian cuma berteman".


"Apa Irene tahu soal ini??".


"Vera, ku mohon...aku sengaja tidak memberitahukan hal ini pada Irene".


"Oh.....begitu rupanya".


"Kau sungguh keterlaluan!!".


"Luka jahitan di perut istri mu pun belum lagi kering".


"Tapi kau sudah meninggalkan dia demi pergi dengan wanita lain".


"Kau salah sangka Vera,, bukan seperti itu maksud ku".


"Nanti saja aku jelaskan,, aku harus pulang sekarang".


"Irene pasti cemas menungguku".


"Alex..........aku belum selesai, Alex....tunggu!!".


Sebelum Vera berhasil mengejarnya, Alex sudah melajukan mobilnya menuju ke jalanan. Dia ingin segera menemui Irene.


Tak dihiraukan nya kemarahan Vera kepada


Alex memacu kencang mobil sport nya. Hingga cuma dalam waktu beberapa menit, di sudah tiba di rumahnya.


Buru-buru Alex masuk ke dalam rumah.


Setibanya di ruang tamu, di dapatinya istrinya sedang tertidur pulas. Makan malam masih utuh terhidang di meja. Itu berarti istrinya belum makan malam.


Alex berjalan ke kamar asisten rumah tangganya. Dia masih menyetrika di ruang tengah.


"Mbak,, ibu tadi sudah makan belum ?".


"Belum pak,, katanya menunggu bapak pulang, baru mau makan sama-sama".


"Kamar anak-anak sudah beres??".


"Sudah pak,, sudah rapi dan cakep".


"Baiklah,, saya mandi dulu mbak".


"Iya pak".


Alex meletakkan tas kerjanya dan langsung masuk kamar. Dia bergegas mandi dan ganti baju. Setelah itu, dia keluar untuk membangunkan istrinya.


"Sayang,, bangun.....aku sudah pulang".


"Em....kapan kau datang,, aku tak dengar kau masuk".


"Tidur mu nyenyak sekali,, makanya aku sekalian mandi dulu".

__ADS_1


"Ini,,, kau pasti belum makan bukan,,, biar aku suapi".


"Lain kali, jangan tunggu aku kalau mau makan".


"Kau kan harus menyusui, jadi makanlah yang banyak, supaya ASI mu lancar nanti".


Alex menyuapi Irene dengan telaten, sambil bercerita kesana kemari.Dia berusaha menghibur hati istrinya yang tengah bersedih karena ulah Roger kemarin.


Dalan hati Irene merasa bersyukur karena sifat Alex sudah benar-benar berubah. Dia jadi lebih perhatian dan lebih mencintai dirinya.


"Aku besok akan menemani mu menjemput bayi kita".


"Berarti kau tidak ke kantor".


"Aku lebih memilih putra putri ku dulu daripada urusan kantor".


"Lagipula Doni sudah mulai masuk".


"Dia bisa di andalkan untuk mengurus kantor".


"Iya,,kau benar,,ada Doni yang siap menggantikan mu".


"Bagaimana reaksinya tadi pagi??".


"Dia kelihatan terpukul".


"Dia menganggap kalau masalah ini adalah salah dirinya".


"Walaupun aku sudah memberinya pengertian".


"Kalian tenang saja, polisi sudah berhasil melacak Roger".


"Dia ada di Paris sekarang".


"Pihak kepolisian sedang mengupayakan penangkapan dirinya".


"Semoga dalam waktu dekat ini, uang mu sudah bisa kembali".


"Aku sudah tak memikirkan hal itu Alex".


"Sekarang, prioritas ku untuk anak-anak dulu".


"Aku ingin mendampingi tumbuh kembang mereka".


"Biar kau saja yang cari uang untuk kamu, papa".


Alex mencubit pipi Irene. Panggilan manja tersebut membuat hatinya berdesir. Ada hikmahnya juga kejadian Roger kemarin.


Irene jadi melupakan kontrak nikahnya, dan lebih memilih merawat buah hati mereka.


"Ayo,, sudah waktunya istirahat".


"Tunggu,,ada banyak panggilan dari Vera".


"Ada perlu apa dia dengan ku?".


"Apa terjadi sesuatu pada mama??".


"Lupakan saja, mungkin Vera cuma iseng menelpon mu".


"Kita istirahat saja, lagipula ini sudah malam".

__ADS_1


Alex mengambil ponsel Irene dan mematikan nya. Dia sangat gugup kalau sampai Vera menceritakan semuanya kepada Irene. Baru saja mereka ingin memulai hubungan baru, Alex tak ingin ada orang yang hendak menghancurkan nya.


...****************...


__ADS_2