Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Rasa Cinta Doni untuk Irene.


__ADS_3

"Tumben kau sudah rapi sepagi ini,, mau kemana kau??".


"Aku akan ke rumah Irene,, memangnya kenapa??".


"Alex,, sebentar lagi kau menjadi ayah,, sebaiknya kau pergi ke kantor".


"Kemarin seharian kau sudah bersamanya kan??".


"Iya nih,,, kerja sana,, jangan cuma pacaran terus".


"Aku juga kerja keras membangun bisnis ku di luar sana".


"Sebaiknya kau tak usah ikut bicara".


"Rupanya keras kepala mu masih ada,, kukira setelah mengenal Irene, kau bisa berubah, nyatanya sama saja".


"Jangan campuri urusan ku,, lebih baik kau cari Doni sana!!!".


"Sudah kalian,, hentikan....Alex sebaiknya kau segera berangkat".


"Ya ma".


"Dan kau Vera,, ikut mama, kita harus berbelanja untuk pernikahan Irene".


Keluarga Alex segera berangkat ke tujuan masing-masing. Sementara Irene masih menunggu bus di jalan. Ketika sepeda motor Doni melintas di depan nya. Dia berhenti dan menoleh pada Irene.


"Masih mau membonceng sepeda motor ku?".


"Atau kau menunggu calon suami mu".


"Hmm....aku masih suka naik sepeda motor, kalau kau tak keberatan".


"Naiklah,,,pegangan yang erat...jangan sampai kau jatuh".


Irene menuruti perkataan Doni. Dia segera naik ke boncengan nya dan berpegangan erat di pinggang nya.


"Irene,,apa sekarang kau bahagia??".


"Menurut mu,,kau bisa kan membaca raut wajah ku".


"Hmmm...menurutku,,,bumil ini butuh hiburan".


"Sudah lama aku tak melihatnya tertawa".


"Bagaimana kalau aku menculik ku seharian ini".


"Kurasa tidak akan ada yang merasa kehilangan ku".


Untuk pertama kalinya Irene tertawa lepas. Memang hanya Doni yang bisa menghiburnya. Dari kejauhan, tampak sepasang mata memperhatikan ke arah mereka. Dia seperti mengenali pasangan tersebut.


"Itu kan Irene dan Doni,,mau kemana mereka berdua".


"Sudah ku duga akan seperti ini".


"Tidak akan semudah itu bagi Doni melepaskan Irene".


"Rupanya dia berani bermain di belakang ku".


Alex kesal melihat kemesraan Irene dan Doni di atas sepeda motor. Bahkan Irene bisa tertawa lepas. Kelihatan dia sangat gembira.


"Aku akan mengantar mu ke toko sebentar".


"Setelah itu, baru kita jalan-jalan".


"Kau memang terbaik Don, selalu tahu apa yang aku mau".


"Kalau aku terbaik, kenapa kau menolak ku".


"Karena aku tak mau menentang keputusan ayah ku".


Doni menghentikan laju sepeda motor nya. Dia kemudian menoleh ke arah Irene dan berbicara sambil memegang tangan nya.


"Kau menutup mata untuk cinta yang ku berikan".

__ADS_1


"Padahal aku tahu isi hati mu".


Kau juga merasakan hal yang sama dengan yang ku rasakan bukan??".


"Jawab Irene,, kau sebetulnya juga mencintai ku kan??".


"Doni,,, hentikan...jangan bersikap seperti ini, mereka memandang kita".


"Aku tak perduli, biar mereka tahu perasaan ku, aku jatuh cinta padamu".


"Kumohon,,kita pergi sebelum orang-orang menjadikan kita tontonan".


"Tidak,, sebelum kau jawab perasaan ku tadi".


"Kau sudah tahu perasaan ku kan??".


"Aku ingin mendengar nya langsung dari mu".


"Iya,,,,aku juga merasakan hal yang sama padamu".


"Katakan Irene,, kau juga mencintai ku kan??".


Irene mengangguk. Dia malu melihat berpuluh pasang mata melihatnya di pinggir jalan. Dia segera mengajak Doni untuk kembali meneruskan perjalanan.


Sepanjang jalan, Doni memegang tangan Irene erat dan menempelkan di dadanya.


"Kau merasakan nya kan??".


"Inilah detak jantungku sekarang".


"Aku sangat bahagia karena kau menerima cintaku".


"Tapi, bagaimana dengan Vera dan Alex".


"Kita pikirkan itu nanti,, yang penting kau mau menerimaku, itu sudah cukup".


Doni dan Irene tiba di toko Frozen food miliknya. Mereka menyapa pegawai Irene terlebih dahulu.


"Wah....aku jadi tersanjung,,, rupanya kalian juga merindukan ku??".


"Hati-hati Irene, kau punya saingan di sini".


Kedua pegawai Irene tertawa. Mereka menyukai Doni karena sifatnya. Tidak seperti Alex yang menjaga jarak. Doni tak sungkan turun tangan langsung membantu, atau sekedar bercakap-cakap dengan pegawai Irene.


Seperti saat ini, dia membantu Irene naik ke tangga.Kehamilan nya masih muda, jadi Doni merasa perlu untuk menjaga nya. Hal itu. membuat kedua pegawai nya tersenyum melihat kemesraan keduanya.


"Biar aku saja yang periksa laporan nya".


"Kau sarapan dulu,, atau jagoan kecil ini akan menendang mu karena kelaparan".


"Terimakasih banyak Don".


"Untuk apa??".


"Semuanya,, kau menerima ku meski aku sudah tidak...".


"Sstttt......cukup,, jangan di teruskan".


"Aku tak mau anak kita mendengar keburukan orang tua nya".


"Cepat habiskan sarapan mu,, aku sudah menyelesaikan laporan penjualan".


"Apa perlu aku suapi??".


Irene tertunduk malu.Kemesraan di antara mereka tiba-tiba terpotong oleh kehadiran


Alex yang tiba-tiba. Dia nekat masuk dan langsung naik ke tangga.


"Rupanya di sini kalian berdua??".


"Apa pantas, wanita dan laki-laki berduaan di dalam kamar sementara kau sebentar lagi menikah??".


"Kendalikan diri mu Alex, ini toko, jangan buat keributan di sini".

__ADS_1


"Kalau begitu pergilah dari sini, kau tak berhak menemani Irene".


"Alex,, aku yang memutuskan apa yang harus ku lakukan di toko milikku".


"Lagi pula kami rekan kerja, jadi tidak masalah kami bekerja berdua".


"Kalau kau tidak ingin menikah dengan ku juga tak masalah".


"Aku tak mau di atur, hanya karena menjadi istri seseorang".


"Bukan begitu Irene, kau salah sangka".


"Maksud ku,, kau tahu kan, Doni itu kekasih Vera,,kalau dia melihatnya...kasihan kan??".


"Itu dulu Alex,, jauh sebelum Vera di kirim ke Paris".


"Aku ini lelaki bebas, jadi aku bisa bersama siapa pun yang ku suka".


"Alex,, aku juga butuh privasi".


"Meskipun kita akan menikah, bukan berarti harus selalu bersama kan?".


"Dan kau tahu, pernikahan kita untuk siapa?".


"Tolong, beri aku ruang,,,setelah kau menghancurkan ku, aku hanya ingin ketenangan".


"Pergilah...lagipula kau harus bekerja kan?".


"Irene,, maafkan aku,, aku tahu kau sangat tertekan dengan ini semua".


"Aku hanya tak ingin kehilangan mu".


"Aku takut kau akan goyah dan membatalkan pernikahan kita".


"Karena kurasa, ada seseorang yang senang melakukan nya".


"Tolong Alex,, kita sudah sama-sama dewasa bukan??".


"Kau tahu yang terjadi di antara kita sejak awal".


"Jangan menuntut ku lebih dari apa yang ku bisa".


"Aku belum memaafkan mu sepenuhnya".


"Apalagi cinta,, yang ku rasakan hanya trauma".


"Baiklah Irene,, aku mengerti".


"Aku akan memberi waktu sebanyak yang kau butuhkan".


"Tapi tolong,, biarkan aku menjadi ayah dari anakku".


"Tetaplah menikah dengan ku".


"Soal itu Irene yang akan memutuskan lagi Alex".


"Aku juga bersedia menjadi ayah anak Irene, atau pun menikahinya".


"Orang tua kita sudah mempersiapkan semuanya".


"Kau mau melihat mereka kecewa??".


"Atau begini saja,, biarkan aku dan Irene menikah".


"Kau boleh tetap menemuinya, atau pun bekerja dengan nya".


"Kita lihat nanti, kalau kau tetap tidak mencintai ku setelah anak itu lahir, kau boleh menikah dengan Doni".


"Beri aku waktu 9 bulan saja".


"Setelah itu, kalian bebas bersama".


Irene dan Doni setuju mendengar keputusan Alex. Hanya 9 bulan, bukan waktu yang lama bagi keduanya. Setelah itu Alex terbebas dari tanggung jawabnya dengan Irene. Dan anak itu jadi miliknya. Setelahnya, Irene bisa bercerai dari Alex dan menikah dengan Doni.

__ADS_1


__ADS_2