
Sudah jam 5 sore ketika Irene keluar dari butik nya. Dia langsung pulang untuk menemui anak-anak nya. Teringat janji nya dengan Bagas, Irene sebenarnya malas sekali melakukan nya. Namun apa daya, dia harus tetap konsekuen dengan ucapan nya tersebut.
Sampai di rumah, Irene langsung mandi. Bermain dengan anak-anak sebentar, lalu istirahat beberapa menit. Menunggu waktu sebentar, sebelum jam 7 malam. Dia agak sedikit tenang karena suaminya nanti akan menyusulnya ke restoran.
"Bu, pak Bagas ada di depan, dia mencari Bu Irene".
"Apa,,, ini kan baru jam 6, mau apa dia, lagipula kan udah janjian di restoran".
"Katanya menjemput ibu, takut lupa".
"Dasar,,,,bocah itu memang nggak mau rugi sedikit pun".
Irene buru-buru turun ke bawah untuk menemui Bagas. Dia masih mengenakan long dress nya dan belum berias sama sekali.
"Pak Bagas, bukan nya kita sudah janjian, ketemu di restoran saja".
"Saya kebetulan lewat Bu Irene, dan lagi kantor sudah selesai urusan nya".
"Maksud saya sekalian menjemput Bu Irene saja".
"Saya belum siap pak, lagipula saya juga baru saja pulang dari butik".
"Pak Bagas pulang saja dulu, nanti kita ketemu di restoran".
"Saya bisa menunggu Bu Irene sampai siap".
"Saya takut ibu tidak akan datang".
Irene terlihat sangat kesal dengan kelakuan boss suaminya ini. Tapi dia masih bisa menahan diri supaya tidak marah di depan nya. Wajar kalau Bagas bersikap seperti itu.
"Baiklah pak Bagas, silahkan menunggu sebentar, saya akan bersiap-siap dulu".
"Santai saja Bu Irene, saya orang nya sabar kok".
Irene naik kembali ke lantai atas rumahnya. Di kamar, dia segera menelpon suaminya. Irene merasa tidak senang dengan sikap Bagas kali ini.
"Alex, aku tak mau tahu, kau harus cepat pulang sekarang".
"Kenapa Irene, apa kau sakit??".
"Bagas sudah menunggu ku di bawah, dia ingin segera berangkat ke restoran".
"Soal itu, kau ikut saja dengan nya , sebentar lagi aku menyusul mu".
"Jangan khawatir, pekerjaan ku sudah selesai".
"Aku tunggu kau di rumah, kita berangkat sama-sama".
"Aku sudah hampir sampai, kau berangkat saja duluan, mobilku ada di belakang nya".
"Jangan sampai Bagas curiga kalau kita sudah merencanakan semua ini".
"Baik lah....aku berangkat dengan Bagas sebentar lagi".
Irene mengganti pakaian nya dan berias seperti biasa. Dia memang sudah kelihatan cantik walau tanpa make up sekalipun. Irene mengambil tas nya dan bergegas menuruni tangga. Bagas masih menunggu di sofa.
"Sudah siap Bu Irene?".
"Anda kelihatan cantik sekali sore ini".
"Saya memang selalu seperti ini pak Bagas".
__ADS_1
"Mari kita berangkat, ke restoran yang Karin bukan?".
"Bukan Bu Irene, saya sudah mengganti tempatnya".
"Kenapa bisa begitu,, saya bahkan belum bilang pada Alex".
"Tenang saja Bu Irene, tempat ini jauh lebih indah daripada restoran yang kemarin itu".
"Mari.....kita segera berangkat".
Irene terlihat gelisah menaiki mobil Bagas. Berulang kali dia mengirim pesan kepada suaminya. Entah kemana kali ini pria ini akan membawa Irene. Irene cemas bukan main, sehingga tak mengetahui kalau Bram sudah mengikuti di belakang mereka sejak tadi.
"Ini sebenarnya mau kemana pak Bagas?".
"Ini arah puncak kan, bukan nya kita cuma mau makan malam saja?".
"Sebaiknya kau menurut saja, bukan nya malam ini kau milik ku".
"Jangan macam-macam pak Bagas, ini sudah keterlaluan".
"Bukan seperti ini kesepakatan nya".
"Hentikan mobilnya, atau aku akan loncat sekarang".
"Tenang saja Bu Irene, kita memang hanya akan makan malam".
"Sebentar lagi kita sampai, jangan khawatir begitu".
"Restoran nya sudah di depan".
Mobil Bagas menepi di depan sebuah restoran dengan nuansa alam. Di akui Irene, Susana nya memang sangat indah. Tetapi hatinya tetap saja di liput i kecemasan, mengingat sikap Bagas yang sempat berubah tadi. Irene bahkan tak tahu di daerah mana mereka berada saat ini.
"Mari Bu Irene, kita sudah sampai".
"Tempat ini sangat indah Bu Irene, dan saya ingin mengenang momen kebersamaan kita sekali ini".
"Saya rasa tidak harus seperti ini pak Bagas, kita bukan nya sedang kencan saat ini".
"Tempat ini lebih cocok kalau anda gunakan bersama pasangan anda nanti".
"Mari Bu Irene, ikuti saya".
Irene mengikuti langkah kaki Bagas memasuki restoran. Diakui nya, restoran ini memang indah. Mereka mendatangi meja khusus yang sudah di siapkan oleh Bagas.
Keduanya duduk dan menikmati sajian musik yang sudah mengalun mengiringi para pengunjung restoran. Restoran itu memang lumayan rame, tapi di dominasi oleh muda-mudi yang tengah memadu kasih.
Irene agak canggung untuk berbincang dengan Bagas, jadi dia lebih banyak diam. Bagas hanya terus memandangi wajahnya, membuat Irene jadi salah tingkah.
"Anda terlihat begitu cantik Bu Irene".
"Andai saja kita di takdirkan bertemu lebih awal".
"Maksud pak Bagas?".
"Saya akan membahagiakan anda seutuhnya".
"Saya sudah cukup bahagia dengan suami dan kedua anak saya pak".
"Lebih baik anda mencari pasangan yang seumuran dengan anda".
"Tapi kau yang ku inginkan Irene,, aku tak mau yang lain".
__ADS_1
"Aku sudah pelajari semua tentang mu dan Alex".
"Kalian menikah karena terpaksa".
"Cukup pak Bagas!!!".
"Anda tak berhak mencampuri urusan pribadi saya".
"Ku mohon Irene, pertimbangkan permintaan ku".
Bagas nekat memegangi tangan Irene. Di depan umum, Irene tak mungkin mempermalukan keduanya. Namun, tak di sangka Alex muncul dan langsung menjauhkan tangan Bagas dari atas tangan Irene.
"Apa yang harus di pertimbangkan pak Bagas?".
"Saya hanya mengijinkan anda makan malam dengan istri saya, bukan berbuat kurang ajar kepada nya".
"Jangan pernah lagi menyentuh istri saya, atau kau akan menyesal nanti".
"Ayo sayang, sudah waktunya kita pulang".
Alex menarik lembut tangan Irene dan membawa istrinya pergi dari restoran. Sementara Bagas hanya bisa terbengong menyaksikan semuanya.
"Sial.........sedikit lagi,,dan aku hampir mendapatkan Irene".
"Kau boleh menang kali ini Alex, tapi aku tak akan menyerah".
"Sebentar lagi,, aku pasti bisa mendapatkan Irene".
"Dia akan langsung meninggalkan mu saat itu juga".
"Kau tunggu saja!!".
Alex membawa Irene menaiki mobilnya. Mereka berdua meninggalkan restoran yang di pilih oleh Bagas tersebut.
"Akhirnya kau datang juga mas".
"Dia itu gila, aku sudah bilang pada mu kan?".
"Iya sayang, jangan khawatir.....aku yang akan membereskan urusan ini".
"Tapi,, dari mana kau bisa tahu kalau kami disini?".
"Aku sudah mengikuti mu sejak tadi".
"Hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberi pelajaran bagi Bagas".
"Mana mungkin aku biarkan istri ku makan malam dengan orang asing".
"Aku belum segila itu".
"Ah....syukurlah kalau suami ku masih waras".
"Irene,,, kau harus berterimakasih pada ku nanti".
"Kau yang membawa ku pada situasi ini bukan?".
"Untuk apa aku berterimakasih, ini sudah tugas mu".
"Kalau begitu,, aku akan menghukum mu nanti, karena kau terlihat sangat cantik di depan Bagas hari ini".
Irene tersenyum melihat kecemburuan di mata Alex. Nampak sekali kalau Alex sangat mencintai nya. Dia juga terlihat sangat marah pada Bagas tadi.
__ADS_1
...****************...