Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Menata Hati.


__ADS_3

"Doni,,,sebaiknya kau pergi,,kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah".


"Semua nya sudah terlanjur terjadi, Tante pastikan Alex akan menerima hukuman nya".


Kondisi Alex sudah babak belur dihajar habis-habisan oleh Doni. Dia kemudian meninggalkan rumah Alex dan kembali ke rumah sakit untuk menemui Irene.


"Suster,,istri saya sudah bangun??".


"Belum pak, beliau masih tidur sejak bapak pergi tadi".


"Apa itu normal,,,seharusnya dia sudah bangun kan??".


"Itu mungkin karena obatnya pak,, sehingga istri bapak bisa istirahat maksimal".


"Terimakasih suster, saya masuk dulu".


"Silahkan pak".


Doni masuk dan duduk di samping Irene. Dia memegang tangan nya erat. Memberinya dukungan dan kekuatan, bahkan disaat terpuruk nya sekarang ini. Irene membuka mata, menyadari kehadiran Doni di samping nya.


"Maaf,,,aku membangunkan mu ya....??".


"Tidak,,,,aku tidur terlalu lama".


"Kau harus banyak istirahat,,aku akan menjemput orang tua mu kalau kau mau".


"Jangan,,,,,,aku tak ingin mereka melihat keadaan ku seperti ini".


"Kalau kau ada urusan,, pergilah, aku tak ingin menyusahkan mu".


"Maaf pak,,, ini obat untuk istri anda, tolong nanti diminum setelah makan ya pak".


"Baik suster, terimakasih!!".


"Kau lihat kan,,,, mana mungkin aku meninggalkan mu, sementara mereka mengira aku suamimu".


"Mereka pasti tahu, kalau aku telah di....".


"Sssttt.....jangan katakan itu lagi,, aku tak mau


kau bersedih".


"Tapi Don,, aku.....".


"Aku sudah tahu semuanya,,, disini tak ada satupun yang tahu, tentang peristiwa yang menimpa mu".


"Selama ada aku, kau tenang saja...".


"Semua nya akan baik-baik saja".


"Dan untuk si brengsek itu, aku sudah memberinya pelajaran".


"Apa yang kau lakukan padanya??".


"Hukuman,,,sesuai dengan perbuatan nya padamu".


"Aku jamin....setelah ini, dia akan membusuk di penjara".


Irene menerawang jauh. Ingatan nya kembali ke peristiwa pagi itu. Segalanya hancur bagi Irene. Dia tidak punya masa depan lagi. Tak terasa, air mata kembali jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Doni menatap wajah Irene yang berlinang air mata. Doni paham sekali dengan keadaan dirinya saat ini. Tak mudah bagi Irene harus menanggung beban seberat ini. Dia sudah kehilangan kehormatan nya, justru disaat karirnya sedang cemerlang. Entah hatinya terbuat dari apa, bisa memendam rasa sakit ini sendirian.


Sore hari, dokter jaga visit ke ruangan Irene. Dia datang bersama seorang perawat.


"Pak Doni, istri anda sudah boleh pulang,, silahkan diurus administrasi nya".


"Sama....jangan lupa ya pak, hubungan seksual nya puasa dulu, maksimal 3 hari, supaya istrinya benar-benar pulih".


"Baik dokter".


Irene terdiam mendengar kata-kata dokter.


Dia mencerna perkataan dokter kepadanya.


"Istri,,, jadi mereka mengira Doni adalah suamiku".


"Dan mereka pikir kami, pengantin baru yang kelelahan karena keterusan berhubungan badan".


"Tuhan....pantas saja Doni mengerti semuanya".


"Kita pulang sekarang Irene??".


"Suster,, tolong istri saya mengganti baju, saya tunggu di luar".


"Bapak kan suaminya,, istrinya ditolong dong,, jangan mau enaknya saja".


Irene tertunduk malu mendengar perkataan dari perawat. Doni segera mengambil pakaian ganti yang sudah diletakkan di meja. Doni mendekati Irene dan menyerahkan pakaian nya.


"Gantilah bajumu,, kau bisa sendiri kan??".


"Aku tunggu di luar".


Dia menghampiri Doni yang masih menunggu di luar.


"Sekarang, kau mau kemana, pulang atau..??".


"Antar aku ke toko saja, sementara aku akan tinggal disana sampai aku pulih".


"Jangan.....aku tak mau kau sendirian".


"Kau ke apartemenku saja,,paling tidak, aku bisa menjaga mu".


"Kalau sendirian, aku takut kau berbuat macam-macam lagi".


Sepulangnya Irene, nyonya Renata menjenguknya ke rumah sakit. Perawat menerangkan kalau Irene baru saja pulang.


Nyonya Renata langsung menghubungi ponsel Doni.


"Telepon dari Tante Renata,,kau mau menerimanya??".


"Tidak,,,jangan katakan apapun pada mereka".


"Aku tak ingin menemuinya lagi".


"Baiklah....kau tenang saja".


Doni mematikan ponselnya. Sama seperti Irene yang sedang tak ingin diganggu, Doni pun akan melakukan hal yang sama.


Sudah satu Minggu sejak kejadian pemerkosaan itu, Irene menghilang. Lebih tepatnya bersembunyi. Dia ingin memulihkan fisik dan mentalnya, setelah Alex menyerangnya habis-habisan. Kepada keluarganya Irene mengatakan sedang kerja di luar kota. Setiap hari, Irene menelpon mereka, sehingga keluarganya tidak satu pun yang curiga.

__ADS_1


Dalam persembunyian nya, Irene menulis novel dan membuat desain baju. Hal itu dia lakukan untuk mengalihkan perhatian nya agar tidak terus- menerus larut dalam kesedihan.


Akan halnya Alex, luka-lukanya akibat pukulan Doni, sudah berangsur-angsur membaik. Dia sudah berusaha mencari keberadaan Irene. Dia bahkan menyewa seorang detektif untuk melacak keberadaan Irene. Atas permintaan Irene, Doni urung melaporkan Alex ke kantor polisi.Iren tak ingin dirinya ter ekspos oleh media.


"Kalian belum juga mendapat berita mengenai gadis itu??".


"Belum tuan,,gadis itu bagai hilang ditelan bumi".


"Aku tak perduli....bagaimanapun caranya, temukan gadis itu segera!!!".


"Baik tuan".


Alex sudah kembali ke kantor atas permintaan dari ibunya. Dia langsung menuju meja Doni untuk mengetahui keberadaan Irene.


"Tolong Don,,,katakan padaku dimana Irene??".


"Aku tidak tahu, walaupun tahu, tak mungkin aku memberitahukan nya padamu".


"Aku yakin, kau pasti tahu,, aku hanya ingin menebus kesalahan ku padanya".


"Sebaiknya kau jauhi Irene, atau aku tak tahu sampai mana batas kesabaran ku".


Alex terlihat putus asa. Dia sudah tidak tahu lagi harus mencari Irene kemana. Semua jalan sepertinya sudah tertutup, Irene benar-benar menutup akses dirinya dari dunia luar.


Hari ini Irene mencoba menghidupkan ponselnya. Dia harus kembali beraktivitas seperti dulu. Lagipula, tubuh dan pikiran nya sudah berangsur-angsur pulih. Dilihatnya layar ponsel nya. Banyak sekali panggilan dan chat memenuhi beranda. Irene mulai membaca satu persatu, pesan yang masuk ke ponselnya.


Irene melihat banyak sekali chat masuk dari Alex. Panggilan tak terjawab, sudah tak terhitung jumlahnya. Irene hanya membacanya saja. Setelah itu dia meletakkan


ponselnya kembali.


"Irene...aku pulang!!".


"Lihat...apa yang ku bawa untukmu,,aku yakin kau pasti menyukainya".


Irene tersenyum lebar menyambut kedatangan Doni. Apalagi dia membawa es krim kesukaan nya. Irene langsung memakan habis es krim tersebut sampai tak bersisa.


"Hal inilah nanti yang akan ku rindukan, saat nanti aku pergi dari rumahmu".


"Kenapa seperti itu??".


"Kau sungguh baik Doni, dan aku sudah meras sehat, jadi sebaiknya aku kembali ke rumah".


"Sudah lama sekali, aku merepotkan mu".


"Aku rasa, aku harus kembali pulang ke rumah".


"Lagipula, aku sudah pulih sekarang,,,saatnya kembali bekerja...!!".


"Kau serius, akan pergi dari sini??".


"Padahal, aku sudah terbiasa ada yang menunggu ku pulang".


"Irene.......jangan pergi...!!!".


"Menikahlah denganku!!".


Doni memegang kedua tangan Irene sambil berlutut. Dia menyampaikan lamaran nya secara spontan, sore itu juga Doni mengungkap kan perasaan nya pada Irene


...****************...

__ADS_1


__ADS_2