
Irene masih berada di rumah sakit, ketika Alex sudah tiba di kantornya. Seorang wanita cantik menyambutnya saat memasuki ruang kerja. Rupanya Nona mengunjungi dirinya hari itu. Dia memberikan kejutan untuk Alex.
"Nona,, sepagi ini...ada perlu apa?".
"Tidak ada,, aku hanya merindukan mu".
"Beberapa waktu lalu, kau jarang ke kantor bukan??".
"Istri ku baru saja melahirkan, tentu saja aku harus mendampingi nya".
"O,,ya...selamat kalau begitu,, kau pasti bahagia bisa menjadi seorang ayah".
"Tentu saja,, itu kebanggan setiap laki-laki bukan".
"Dan istri mu,, apa dia baik-baik saja?"
"Ya,, dia sehat..dan sedang di rumah sakit bersama anak-anak".
"Alex,, lupakan keluarga mu sejenak".
"Aku rindu menghabiskan waktu bersama mu".
"Sudah lama kan kita tidak keluar bersama??".
"Aku tidak bisa,, banyak kerjaan yang harus ku selesaikan".
"Kemarin, sudah lama aku libur, jadi banyak proyek ku yang tertunda".
Nona tidak menghiraukan omongan Alex sama sekali. Dia malah menghampirinya dan berdiri di belakang kursi kerja Alex.Tangan nya memijit bahu Alex dengan lembut, sambil sesekali mengusap lehernya mesra.
"Kau butuh istirahat,, jangan hanya memikirkan pekerjaan".
"Tolong Nona,, ini di kantor".
"Tak enak kalau karyawan ku ada yang melihat nanti".
"Mereka sudah mengenal ku bukan??".
"Aku sudah sering datang ke kantor ini".
Nona semakin agresif menempel pada Alex. Dia bahkan berani duduk di pangkuan lelaki muda tersebut. Alex sudah berusaha menghindar, namun Nona tetap tak mau mengerti.
"Ku mohon Nona, jangan bersikap seperti ini".
"Ini tempat untuk bekerja, bukan untuk melakukan hal yang lain".
"Kalau kau masih seperti ini, aku akan panggil satpam".
"Ok,,,baiklah Alex....aku tidak akan menyentuh mu".
"Tapi, kau harus janji untuk menemani ku malam ini".
"Aku akan menunggu di tempat biasa".
"Atau kalau tidak,,aku akan menemui mu di apartemen".
Nona dengan kesal segera meninggalkan kantor Alex. Rencananya menggoda Alex berakhir dengan gagal total. Sepertinya Alex tidak seperti dulu lagi. Dia sekarang sulit sekali untuk di rayu.
Walaupun kepalanya terasa berat, Doni tetap berangkat ke butik. Semalam dia diantar pulang oleh Roger. Dirinya sudah tidak kuat berjalan akibat terlalu mabuk di bar.
__ADS_1
Ingin rasanya libur sehari saja. Tapi Irene sudah janji dengan nya untuk memeriksa laporan keuangan dan penjualan di butik selama dia di rumah sakit.
"Apa Bu Irene sudah tiba di ruangan nya??".
"Belum pak Doni, saya tidak melihatnya masuk".
"Bagus,,, kalau begitu kau bawakan semua laporan yang aku serahkan kemarin".
"Tapi, laporan nya di bawa pak Roger untuk diperiksa pak".
"Memangnya kenapa Roger harus memeriksa,, itu kan tugas ku dan Irene??".
"Saya kurang tahu pak".
"Baiklah kalau begitu, biar aku ke ruangan nya".
Doni bergegas menuju ruangan Roger. Dia mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam. Roger tersenyum lebar menyambut kedatangan Doni.
"Wo.....rupanya kau sudah masuk, setelah kekacauan semalam??".
"Kekacauan apa maksud mu??".
"Tadi malam kau mabuk berat bung,, !!".
"Segala hal kau bicarakan kepada ku".
"Untung...hanya aku yang ada di situ".
"Apa maksud mu,, aku bicara apa saja??".
"Semuanya,, termasuk dengan kisah asmara mu bersama ibu direktur kita".
"Kau sangat memujanya,, aku tahu dari nada bicara mu".
"Lupakan hal itu Roger,, urusan pribadi tak boleh di bahas di sini".
"Aku ingin mengambil semua laporan yang kau pinjam dari Hani".
"Harusnya hanya aku dan Irene yang bisa membacanya bukan??".
"Itu,,,, aku memerlukan nya untuk laporan ke atasan ku".
"Ini,, aku sudah selesai,, dan lupakan hal ini".
"Anggap aku tak pernah meminjamnya".
"Aku juga akan melupakan ocehan mu semalam".
Doni hanya terdiam dan segera keluar dari ruangan Roger. Matanya menangkap tingkah laku Roger yang ganjil. Tapi Doni masih belum bisa menerka, hanya dia berpikir untuk mulai mengawasi Roger dari sekarang.
Tepat ketika Doni keluar, Irene masuk ke dalam butik. Langkahnya masih pelan, dan raut wajahnya kelihatan masih pucat. Buru-buru Doni memegang tangan Irene dan membantunya.
"Seharusnya jangan kau paksakan kalau belum bisa berangkat".
"Aku sudah lebih baik Doni".
"Lagipula aku bosan di rumah sendirian".
"O..ya,,ikutlah ke ruangan ku,, aku ingin tunjukkan sesuatu padamu".
__ADS_1
Doni dan Irene masuk ke ruangan dan menutup pintunya. Dia kemudian duduk di hadapan Irene.
"Kau lihat ini tayangan ini dulu sampai selesai".
Doni meraih laptop Irene dan melihat tayangan fashion show di layar monitornya.
Tampak sederet busana koleksi Irene untuk tahun depan, sudah di pamerkan di pagelaran fashion show luar negeri.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi??".
"Bukan kah kita sedang menyiapkan proyek ini??".
"Itulah,,, kita punya musuh dalam selimut".
"Dia menjual karya ku diam-diam dari belakang".
"Kalau seperti ini, kita rugi besar bukan??".
"Aku kehilangan karya yang ku buat selama bertahun-tahun".
"Lalu,, apa langkah mu selanjutnya Irene??".
"Alex sudah menghubungi rumah mode Carlos, dan mengatur pertemuan untuk ku".
"Kebetulan mereka setuju karena memandang nama besar ayah Alex".
"Secepatnya kita akan segera tahu, siapa yang bermain di belakang ku".
"Mana laporan mu,, biar aku periksa dulu".
"Ini,, kebetulan aku baru mengambilnya".
"Ya sudah,, tinggalkan di sana, biar aku sendiri yang memeriksa".
"O...ya, Doni....masalah ini jangan sampai keluar, sebelum aku dan Alex selesaikan penyelidikan nya".
"Aku ingin tahu, siapa yang sudah tega menjual hasil karya ku".
"Baik Irene,, aku mengerti".
Doni sungguh malu kepada Irene. Nyatanya dia kecolongan dan tak mengetahui kalau karya-karya Irene sudah di jiplak. Padahal Doni berpikir kalau selama ini dia sudah mengurus butik dengan baik. Nyatanya Irene malah mengetahui hal tersebut dari Alex.
Dalam hati, Doni sangat jengkel. Berapa ratus juta kerugian yang harus di tanggung oleh Irene.Padahal dia sudah menantikan fashion show keduanya kali ini. Tapi kini, dengan terpaksa baju-baju yang sudah di produksi, tidak bisa lagi dijual.
Dengan teliti Irene memeriksa laporan. Banyak hal yang janggal terkait dengan nilai penjualan yang tidak sesuai jumlahnya.
Irene masih menekuni laporan nya, ketika telepon dari Alex berdering. Dia buru-buru menjawab nya.
"Sayang, kau sudah sampai di butik??".
"Ya,, kenapa Alex, ada yang penting?".
"Tuan Carlos akan menemui kita malam ini".
"Dia juga bersedia mengembalikan semua keuntungan penjualan, asal kau bisa tunjukkan karya aslinya".
"Dan....aku sudah tahu, siapa orang yang berada di balik ini semua".
Irene tentu saja sangat gembira. Tuan Carlos menyambut baik keluhan yang di sampai kan oleh pihak Alex. Dan baik nya lagi, pelakunya akan di tuntut secara hukum, kecuali Irene bersedia untuk tidak meneruskan kasus ini.
__ADS_1
Saat ini pun, Irene sudah tahu orangnya. Dia yang selama ini di anggap baik oleh Irene dan Alex. Nyatanya, dia justru ingin menghancurkan bisnis yang di dalamnya ada peran serta dirinya. Entah apa yang ada di kepalanya. Tak mungkin kalau hanya urusan materi semata.
...****************...