
Kali ini Tamara sudah menunggu di restoran dengan suaminya. Sementara Alex dan Irene berjalan beriringan menuju meja Tamara.
"Kalian datang bersama lagi, bukan nya Doni yang akan jadi manajer mu??".
"Doni sedang ada urusan, aku sendiri saja yang menangani ini".
"Bacalah dulu kontrak kerjanya,,kalau ada yang perlu di revisi, katakan padaku".
"Kau sakit Irene,,wajah mu pucat sekali, dan kau kelihatan lebih kurus sekarang".
"Aku kurang istirahat saja".
"Ayo duduklah Irene, biar suami ku pelajari dulu".
"Aku sudah pesan makanan untuk kalian,, aku harap kau suka".
"Alex,, kau masih setia menemani Irene rupanya".
"Mulai sekarang dia akan selalu bersama ku".
Tiba-tiba dari kejauhan, Doni tampak datang sendirian. Dia mendatangi meja Tamara.
"Maaf, aku terlambat, di jalan macet".
"Akhirnya,,,manajer mu datang juga Irene".
"Duduklah Doni, biar aku pesan minum untuk mu".
"Irene,,,kau sehat hari ini??".
"Seperti yang kau lihat,,aku baik-baik saja".
"Liburan mu menyenangkan tampaknya, raut wajah mu ceria sekali".
"Sayang sekali aku masih belum sempat berlibur sampai hari ini".
"Nanti saja saat kontrak ini sudah kalian tanda tangani".
Tamara mencium aroma kecemburuan Doni. Tampaknya hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja. Sedangkan Irene terkesan cuek dan tidak mau menyikapi permusuhan mereka.
"O,,ya...Irene,,aku dengar Vera Wang sedang ada di kota ini".
"Dia desainer terkenal dari Inggris".
"Aku ingin sekali bertemu dengan nya".
"Tamara,,,kau tinggal bilang saja pada Doni,,kebetulan mereka berdua berteman baik".
"Atau kau bisa minta Alex....".
"Ah...ya,, Irene benar,,Doni mengenal baik Vera".
"Benarkah.....??".
"Iya kan Doni, kau tentu bisa mempertemukan mereka berdua".
"Aku rasa ada yang lebih pantas daripada sekedar teman"
"Kalian jangan berlagak seolah tak mengenal Vera".
"Tamara, asal kau tahu, kapan pun kau ingin bertemu Vera, kau bisa hubungi Alex".
"O ya,, tolong Alex, aku ingin sekali bertemu dengan nya".
"Baiklah,, kita lihat nanti".
__ADS_1
Irene terdiam dan menatap Doni lekat. Matanya sayu dan sama sekali tak bersinar.
Ada luka yang tak terlihat, entah itu karena dia menikah dengan Alex atau karena Vera.
Irene berinisiatif mengambil handphone nya. Dia mulai berkirim pesan kepada Doni.
"Kau marah padaku??".
Doni mengambil ponselnya yang berbunyi. Dia melihat pesan singkat dari ponsel Irene. Sejenak Doni menatapnya dan kemudian membalas pesan nya.
"Apa aku masih punya hak untuk marah padamu??".
Irene membaca balasan pesan dari Doni dan kembali mengetikkan kata di ponselnya.
"Aku masih memberikan semua hak kepadamu saja, walaupun tampaknya kau lebih suka kembali ke masa lalu mu".
Doni mulai mengetik lagi.
"Setelah dari sini, aku tunggu kau di taman kota,, kita harus bicara serius kali ini".
"Baiklah,, tunggu aku".
Mereka mengakhiri pesan singkatnya setelah suami Tamara selesai membaca kontrak.
"Ok,, Irene....aku setuju, ayo kita tandatangani kerjasama kita ini".
"Ok, Tamara....semoga ke depan kerjasama kita berjalan sukses".
"Silahkan Doni, kau yang urus ini kan??".
"Ya,,, satu lagi Irene,, kau masih punya pekerjaan di toko mu".
"Iya,, aku mengerti".
Tamara dan suaminya sudah meninggalkan restoran. Sementara Alex dan Irene masih di sana. Doni sudah lebih dulu pergi setelah membawa berkas-berkas kerjasama Irene dan Tamara.
"Biar aku mengantar mu".
"Tidak,, ini urusan wanita,, aku ingin bertemu dengan teman ku".
"Aku malu kalau kau ikut bersama kami di sana".
"Kembalilah ke hotel,, aku akan menyusul mu nanti".
"Kau yakin bisa sendiri??".
"Tentu saja,, kau jangan khawatir".
Alex meninggalkan Irene di restoran. Dia segera membawa mobilnya kembali ke hotel.
Alex percaya Andin akan menemui teman wanitanya, karena Doni juga sudah pergi dari tadi.Dia tak menaruh curiga sedikit pun kepada mereka berdua.
Andin beranjak dari restoran dan segera menuju ke taman kota. Jarak kedua tempat itu berdekatan, jadi Irene hanya perlu berjalan kaki saja ke sana. Doni sudah duduk di taman menunggu Irene dari tadi.
"Maaf menunggu lama".
"Apa Alex sudah pergi??".
"Ya,, aku menyuruhnya kembali ke hotel".
"Kenapa wajahmu seperti itu,, kau memang benar, marah pada ku??".
"Harusnya aku yang protes pada mu karena kalian berlibur berdua".
"Aku tidak suka kau pergi bersama Vera".
__ADS_1
"Makanya aku harus melakukan ini, menikah dengan Alex".
"Aku ingin memastikan apa kau akan kembali atau tetap pergi bersamanya".
Doni meraih tangan Irene yang masih berdiri. Dia kemudian memeluknya dengan erat.
"Diam lah......lima menit saja, biarkan aku memelukmu seperti ini".
"Aku tak tahan membayangkan apa yang kalian berdua lakukan di kamar hotel".
"Aku benar-benar di buat gila oleh pikiran ku sendiri".
Lima menit, dan Irene hanya mematung dalam dekapan Doni. Dia tak hendak berkata-kata, hanya ingin menikmati momen kebersamaan mereka berdua. Doni menyembunyikan wajahnya dalam rambut wangi Irene dan sesekali memainkan ujungnya. Betapa dia ingin waktu berhenti saat itu juga. Sehingga hanya ada mereka berdua saja.
Doni melepaskan pelukan nya pada Irene. Dia kemudian menggenggam erat tangan Irene.
"Kau tahu,, aku bisa gila kalau seperti ini".
"Alex menutup semua akses untuk ku bertemu dengan mu".
"Aku tidak bisa melakukan apa pun".
"Lalu kau pikir aku akan melakukan apa bersama Alex??".
"Kami memang harus menikah kan??".
"Tapi dia selalu mengurus mu, dan itu yang aku tidak suka".
"Aku ingin hanya aku yang kau butuhkan dan bukan orang lain".
"Aku mengerti Doni,, bersabarlah.....9bulan itu waktu yang sebentar".
"Setelah anak ini lahir, kita akan segera bersama".
"Baiklah,,, aku akan menunggu, tapi kau jangan tergoda rayuan Alex".
"Kurasa, aku bukan wanita yang seperti itu".
"Ayo,, aku akan mengajak mu jalan-jalan".
"Mumpung kau bisa keluar".
"Kau siap kalau aku minta macam-macam nanti".
"Tentu saja, apa yang kau minta pasti aku turuti"
"Bahagianya.......aku merasa di cintai kalau seperti ini".
Siang itu Doni dan Irene menghabiskan waktu seharian mengelilingi mall. Anehnya, dia tak merasakan pusing atau mual. Dia bahagia karena sepanjang jalan, Doni menggenggam tangan nya erat.
Mereka juga menonton film di bioskop. Hari itu Doni sengaja menyenangkan hati Irene. Raut wajah bahagia terpancar dari keduanya.
Irene sangat menikmati kebersamaan nya dengan Doni. Seakan di hatinya sama sekali tak ada beban.
Hari sudah menjelang malam. Sengaja Doni mengantar Irene kembali ke hotel dengan taxi. Dia tak mau Alex sampai tahu kepergian mereka berdua.
"Aku turun di sini saja".
"Nanti aku hubungi kalau sudah sampai di kamar hotel".
"Hati-hati,, kalau terjadi sesuatu, langsung telepon aku".
"Baik boss!!".
Irene berjalan menuju hotel. Dia masuk dan langsung naik ke lantai lima, tempat kamarnya berada. Irene masih tersenyum ceria karena bisa menghabiskan waktu bersama Doni.
__ADS_1
...****************...