Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Syukuran Di Rumah Alex.


__ADS_3

Sore hari saat Alex pulang dari kantor, pemasangan cctv tambahan yang di pesan oleh Irene, masih belum selesai di pasang.


Alex masuk dan segera memanggil Irene ke kamar.


"Ada apa ini sayang,,kenapa kau memasang cctv lagi??".


"Aku belum memberitahu mu Alex, duduk lah dulu".


"Lihat ini,,ada nomer berbeda yang menghubungi ku 5 kali hari ini".


"Dia tahu persis aktivitas ku dan anak- anak di rumah".


"Bahkan sampai baju anak kita, dia tahu warnanya".


"Hal sebesar ini, dan kau tidak memberitahu ku Irene??".


"Belum Alex, aku menunggu mu pulang, supaya kau tidak panik".


"Aku juga sudah menambah personel keamanan di rumah kita".


"Nomer telepon ini juga sudah di lacak, di wilayah mana".


"Malam ini kita akan segera dapat jawaban nya".


"Maaf kan aku karena belum sempat memberitahu mu".


"Aku sudah keburu panik dan bertindak sendiri".


"Ini menyangkut keselamatan anak-anak kita bukan?".


"Ya,,, kau benar Irene".


"Lalu kapan polisi akan ke sini??".


"Segera setelah dia mendapatkan kode wilayah nomer telepon yang di pakai peneror itu".


"Kau mandi saja dulu, aku akan ke kamar anak-anak sebentar".


Irene berjalan keluar meninggalkan Alex di kamarnya. Andin ingin memastikan keadaan anak-anaknya. Di dalam kamar bayi hanya ada Nina sendirian, mengurus Abiyasa. Sementara Anindita masih terlelap di boks bayinya.


"Nina, kau sendirian saja dari tadi??".


"Iya Bu,, Nita ijin ke swalayan beli pembalut, tapi dari tadi belum kembali juga".


"Di rumah kan ada pembalut, kenapa harus keluar,, lagipula kenapa tak bilang sama saya".


"Lain kali tolong kalau keluar, ijin saya dulu".


"Kita sedang ada masalah Lo ini".


"Seharian tadi ada yang meneror rumah".


"Saya nggak mau terjadi sesuatu dengan kedua anak saya".

__ADS_1


"Iya Bu, saya mengerti".


"Ya sudah....sini, biar Abi sama saya, kamu jaga Amin saja".


Nina menyerahkan bocah laki-laki tersebut ke gendongan ibunya. Dia lalu duduk di dekat boks bayi Anindita. Irene menggendong putranya ke ruang tamu, sambil menunggu Nita pulang.


Alex sudah selesai mandi dan langsung menyusul Irene ke ruang tamu. Mereka bermain dengan putranya, saat Nita tiba-tiba masuk. Irene langsung menegurnya.


"Nita,, dari mana kamu??".


"Dari swalayan Bu,, maaf tadi nggk ijin ibu, perut saya keburu sakit, jadi sekalian mau beli obat".


"Lain kali tolong ya Nita, kalau keluar ijin saya dulu".


"Apalagi situasinya sedang seperti ini".


"Iya Bu,,, sekali lagi saya minta maaf".


"Ya sudah,, cuci tangan sana, dan bawa Abi ke dalam".


"Baik Bu".


Irene menghampiri Alex yang masih bermain dengan putra kecilnya itu. Dia lalu duduk di sebelah nya.


"Apa persiapan acara besok malam sudah selesai??".


"Atau masih ada yang kurang, Alex??".


"Semuanya sudah beres, karyawan ku itu hebat semua".


"Sudah Irene, kau santai saja, jangan terlalu di pikirkan".


"Mungkin dia hanya orang iseng yang kurang kerjaan".


Telepon berdering lagi di ruang tamu. Seharian ini sudah 7 kali mereka menelpon rumah Irene. Alex berdiri dan menjawab telepon nya.


"Halo,, siapa di sana??".


"Tuan Alex,,rupanya anda sudah pulang dari kantor ya??".


"Bagus sekali,, jadi saya bisa berbincang sedikit dengan anda".


"Bagaimana kalau kita bicara tentang kedua anak anda yang lucu".


"Siapa kau sebenarnya, katakan...jangan jadi pengecut!!".


"Awas saja kalau kau sampai menyentuh kedua anak ku".


"Tenang tuan Alex,,, jangan terlalu emosi begitu".


"Nanti aku akan hubungi anda lagi tuan".


"Tunggu,,,jangan matikan telpon nya".

__ADS_1


Alex kesal sekali dengan kelakuan penjahat tersebut. Dia sampai membanting telepon rumahnya.


"Kau dengar sendiri kan sekarang???".


"Apa kau merasa mengenali suara orang tersebut?".


"Kau benar Irene,, sepertinya tak asing bagi ku".


"Apa itu suara,,,Roger......iya, penjahat yang melarikan uang mu bukan??".


"Aku juga berpikir begitu,, tapi belum punya bukti".


Dari luar rumah terdengar suara langkah kaki seseorang. Rupanya polisi datang membawa hasil penyelidikan nya. Dia hendak melaporkan temuan nya dengan Alex dan Irene.


"Pak Alex, kami sudah menemukan lokasi tempat penjahat itu menelpon".


" Dia di Indonesia pak,, dan lokasi nya berpindah-pindah menggunakan telepon umum".


"Langkah Bu Irene sudah benar dengan memperketat pengamanan".


"Kami juga sedang melakukan pengejaran, karena telepon umum yang di pakainya di daerah sekitar sini".


"Pak, kami mungkin mencurigai seseorang".


"Dia mantan rekan kerja istri saya".


"Laki-laki itu membawa kabur uang perusahaan, dan terakhir kali jadi DPO di negara Paris".


"Kalau begitu, bapak bisa memberitahu ciri-ciri orang tersebut?".


Alex dan Irene menjelaskan dengan detail segala hal yang berkaitan dengan Roger. Beliau berjanji akan segera mengusut tuntas kasus tersebut. Setelah mengumpulkan semua keterangan, polisi tersebut pamit untuk kembali ke kantor polisi.


Alex dan Irene sepakat kalau pelakunya memang Roger. Semua hal mengarah pada dirinya. Semoga saja dia hanya sekedar mengancam saja. Tak benar-benar akan mencelakai kedua bayi Irene.


Sejak polisi mendatangai rumah Irene tempo hari, penelpon itu berhenti menghubungi rumah Irene lagi. Tapi dia tetap menugaskan pegawai keamanan di rumahnya. Berjaga-jaga dengan kondisi yang tak terduga.


Pasalnya hari ini di rumah Irene sedang di adakan acara tasyakuran dan pemberian nama bagi kedua anaknya. Orang tua dan saudara sudah berkumpul di rumahnya sejak pagi. Tinggal menunggu tamu undangan yang sebagian sudah hadir.


Irene dan Alex terlihat serasi mengenakan kebaya berwarna biru muda senada dengan suami dan anak-anaknya. Mereka memang sengaja mengusung tema adat Jawa di acara kali ini. Alex dan Irene menyambut tamu dengan menggendong kedua anaknya.


Suasana mewah dan meriah tergambar dari


acara yang di gelar oleh pasangan muda ini.


Teman dan rekan kerja Alex dan Irene datang semua. Termasuk seorang pria yang datang dengan menyamar. Dia memakai wig dan kacamata hitam.


Pria itu seperti sedang mengamati rumah Alex dan Nisa. Dia duduk di kursi dekat pintu.


Tak berapa lama, Nita keluar menemui laki-laki tersebut. Entah apa yang di bicarakan keduanya. Yang jelas, tak satu pun orang yang memperhatikan mereka berdua.


Setelah berbincang cukup lama, laki-laki itu menyelinap.keluar lewat pagar samping. Sedang kan Nita segera masuk kembali ke dalam rumah.


Acara tasyakuran di rumah Irene, di pimpin oleh ustad yang mendoakan sekaligus memberikan tausiyah bagi para tamu undangan. Untunglah acara nya berlangsung lancar sampai akhir. Para tamu meninggalkan rumah Irene dengan wajah gembira. Tinggal keluarga yang masih berkumpul di dalam rumah.

__ADS_1


Dari banyak nya tamu undangan yang hadir, hanya Doni yang tidak tampak datang. Sejak kejadian dengan Roger waktu itu, dia seperti menjaga jarak dengan Irene. Doni juga sudah jarang menelpon Irene lagi. Entah bagaimana keadaan nya sekarang. Irene berniat mencari tahu, nanti setelah dia punya waktu untuk keluar rumah. Bagaimana pun dulu Doni sudah banyak membantu dirinya.


...****************...


__ADS_2