Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Perkenalan.


__ADS_3

Beberapa hari berlalu sejak drama penculikan di rumah Alex dan Irene. Suasana rumah sudah kembali seperti sedia kala. Hanya saja kali ini Irene tak mau meninggalkan kedua buah hatinya terlalu lama. Dia takut kejadian penculikan itu terulang lagi. Jadi Irene memilih di rumah untuk mengawasi sendiri kedua anaknya


"Malam nanti aku ada pesta sayang, kau ikut ya??".


"Mereka rekan bisnis ku, dan ini pesta untuk merayakan keberhasilan kerjasama perusahaan".


"Bersiaplah....aku akan menjemput mu pukul 7 malam nanti".


"Aku sudah menyiapkan gaun mu dan juga penata rias yang akan datang ke rumah".


"Jadi kau tak perlu repot-repot untuk pergi ke luar dan sebagainya".


"Tumben kau sebaik ini,,sepenting apa acara pesta nanti?".


"Sangat penting bagi kemajuan perusahaan ku".


"Investor ku ingin mundur dari jabatan dan di gantikan oleh putra nya, jadi malam ini sekaligus perkenalan kami".


"Aku di angkat jadi CEO baru sayang".


"Bisa kau bayang kan itu??".


"Aku ikut senang mendengarnya".


"Baiklah,,aku akan bersiap sebelum jam 7 malam".


"Aku berangkat dulu".


"Hati-hati di jalan Alex".


Begitu Alex pergi ke kantor, Irene segera menyiapkan semuanya. Dia mencatat semua hal yang perlu di lakukan oleh pengasuh putra mereka ketika Irene dan Alex pergi nanti. Irene bahkan menugaskan pelayan di rumahnya untuk ikut mengawasi dan membantu Nina mengasuh Abiyasa dan Anindita.


"Semua sudah paham dengan tugasnya masing-masing kan?".


"Iya Bu".


"Bagus,, kalau ada yang mencurigakan, segera hubungi ponsel saya sendiri".


"Jangan biarkan seorang pun masuk kecuali keluarga saya dan pak Alex".


"Baik Bu Irene, kami sudah paham".


Irene melangkah masuk ke kamarnya. Tak berapa lama ponsel Irene berbunyi. Rupanya Doni yang menelpon dirinya. Sudah lama sekali, dia tak berbicara dengan sahabatnya itu.


"Kau kemana saja, aku tak pernah melihat mu sekarang".


"Aku sedang mempersiapkan sesuatu untuk mu Irene".


"Maksud mu,, aku tak paham Don".


"Selama ini aku bekerja sama dengan para perancang busana terkenal".


"Mereka terkesan dengan karya-karya mu yang ku tawarkan".

__ADS_1


"Jadi, mereka ingin menggelar fashion show untuk hasil karya mu".


"Kalau kau bersedia, kita bisa memulainya minggu ini".


"Nanti aku hubungi lagi Roy, kalau saat ini aku sedang sibuk".


"Baiklah Irene, aku tunggu kabar dari mu".


Irene meletakkan ponselnya di meja. Doni rupanya bukan tipe orang yang gampang menyerah. Dengan cara apapun, dia berusaha untuk menyenangkan hati Irene. Termasuk menggelar fashion show dengan perancang mode ternama.


Siang itu, Irene ke supermarket di dekat rumahnya. Barang-barang kebutuhan di rumah sudah habis. Dan selalu dia sendiri yang berbelanja setiap bulan nya. Ketika hendak menyeberang jalan, sebuah mobil mewah hampir menabraknya, hingga dirinya terjatuh. Sopir mobil tersebut berhenti dan membantu Irene. Sementara majikan nya masih ada di dalam mobil.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja, apa ibu terluka".


"Nggak apa-apa pak, lain kali hati-hati kalau menyetir".


Irene hendak pergi dari samping mobil, ketika pemilik tersebut menunjukkan wajahnya di samping jendela dan melemparkan uang ke arah Irene.


"Hei nona, itu ganti rugi buat mu".


"Kau bisa beli makanan enak untuk perbaikan gizi mu".


Irene terdiam sambil menahan marah. Di pungut nya beberapa lembar ratusan ribu tersebut dan menghampiri pria muda di dalam mobil.


"Permisi tuan,,silahkan simpan uang anda kembali".


"Jangan mentang-mentang anda kaya dan bisa menghina saya sesuka hati anda".


"Tubuh saya sudah cukup sehat dan banyak gizi, jadi yang saya butuhkan hanya kesopanan anda".


"Gunakan uang mu untuk mempelajari hal itu".


"Dasar orang kaya sombong".


Irene berlalu pergi meninggalkan pria kaya yang sama sekali tak punya sopan santun. Baginya semua bisa di beli dengan uang. Bahkan kata maaf sekalipun.


Irene meneruskan berbelanja, sementara pria muda itu masih terlihat shock. Baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik dengan uang ataupun ketampanan nya. Biasanya mereka akan berlomba-lomba untuk bisa menatapnya. Tapi Irene lain,dia bahkan berani memakinya dan bahkan mengembalikan.uang yang diberinya.


"Pak, cari tahu wanita tadi".


"Sebelum jam 5 sore ini, laporan nya sudah harus ada di meja saya".


"Baik pak".


Kedua pria berbeda generasi itu saling terdiam. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor majikan nya.


Sampai di kantor, pria itu masih saja kepikiran dengan ulah Irene. Dia semakin penasaran dengan sosok nya. Tak sabar rasanya menunggu sekretarisnya mencari tahu tentang dirinya.


Sore harinya, Irene sudah siap berangkat ke pesta. Hanya tinggal menunggu Alex yang menjemput dirinya. Dia menunggu di kamar setelah di rias dan mengenakan gaun serta aksesoris pilihan Alex. Penampilan nya kali ini terlihat sangat berbeda.


Alex masuk rumah sudah dengan penampilan lengkap nya. Dia hanya pulang untuk menjemput Irene ke pesta.


"Mbak, tolong panggil Bu Irene, katakan kalau saya sudah datang".

__ADS_1


"Baik pak".


Alex duduk di ruang tamu sambil menelpon teman nya. Tak lama dia melihat Irene turun dari tangga. Penampilan istrinya yang sempurna, membuat ponsel di tangan nya hampir terlepas saking takjub nya.


"Bagaimana penampilan ku??".


"Kau,, cantik sekali Irene".


"Semua yang kau pilihkan, sesuai dengan ukuran ku, terima kasih Alex".


"Ya,, aku tahu itu,,kau terlihat sangat sempurna".


"Ayo, kita berangkat sekarang".


Alex menggandeng lengan Irene dan keduanya segera menaiki mobilnya. Hari yang di tunggu Alex selama ini. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dia diangkat menjadi CEO di perusahaan. Para dewan direksi sendiri yang menunjuk dirinya.


Keduanya bergandengan tangan memasuki tempat pesta. Alex mengenalkan istrinya pada rekan kerja dan koleganya. Semua yang hadir memuji kecantikan wajah Irene.


Tak berapa lama, ketua dewan direksi datang bersama dengan putranya, yang akan menggantikan posisi nya. Irene tak begitu memperhatikan, karena saat mereka lewat, dia sedang mematikan ponselnya yang berdering. Alex langsung menarik tangan istrinya ke tempat duduk ketua dewan.


"Pak Alex,, selamat atas kebaikan jabatan anda, semoga nantinya bisa bekerja sama dengan putra saya".


"Terima kasih pak, ini perkenalkan istri saya Irene".


"O,,ya..senang sekali berjumpa dengan anda nyonya".


"Dan saya juga akan kenalkan putra saya pak Alex,, tolong anda sekalian bimbing dia nanti di perusahaan".


"Bagas,,kemarilah ..perkenalkan ini pak Alex dan istrinya,,nantinya dia akan menjadi rekan kerja mu di perusahaan".


Bagas menoleh hendak berjabat tangan dengan Alex. Tapi dia sungguh terkejut melihat wanita yang tadi siang maki dirinya.


Bagas masih mencari identitas Irene, dan kini keduanya kembali di pertemukan.


"Kau kan.....ah.....lupakan,,saya Irene...istri pak Alex".


"Saya Bagas nyonya, senang sekali bisa bertemu anda lagi di sini".


"Apa maksudnya ini pak Bagas??".


"Sayang, kalian berdua sudah saling kenal??".


"Nanti aku ceritakan di rumah saja,,terlalu panjang kalau di bahas di sini".


"Pak Bagas,,sepertinya memang anda harus banyak belajar pada suami saya nanti".


"Saya yakin anda pasti bisa melakukan nya".


"Maaf pak Bagas, bukan maksud istri saya untuk...".


"Tak apa pak Alex,,istri anda benar".


"Saya masih butuh banyak belajar".

__ADS_1


Irene tersenyum penuh arti. Sedangkan Bagas semakin penasaran dengan sikap Irene. Tak sabar rasanya untuk segera mengetahui profil dirinya. Wanita yang sangat menarik.


...****************...


__ADS_2