Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Acara Sukses.


__ADS_3

Acara pesta masih berlangsung. Tamara dan Roger masih terlihat bercakap-cakap. Raut wajahnya tampak senang, karena kesuksesan butik mereka di hari pertama launching nya.


Sementara Doni masih tampak sibuk ke sana kemari memastikan acara berlangsung dengan lancar.


Irene sendiri berdiri di sudut ruangan, mengamati satu persatu tamu undangan yang menghadiri acaranya. Dia tampak bahagia, melihat kesuksesan nya di depan mata. Semua usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil hari ini. Hanya tinggal bekerja lebih keras lagi, supaya bisa membuka rumah mode di luar negeri nanti.


Dari kejauhan, Alex melihat Irene berdiri sendirian.Doni mendekatinya dan membawakan kursi untuk duduk. Mereka berbicara tentang acara yang tengah berlangsung. Sementara itu, Alex melangkah mendekati Irene.


"Bagaimana acara malam ini menurut mu Alex".


"Hmmm....sempurna,, kau memang selalu bisa diandalkan Doni".


"Tak heran kalau Irene memilihmu untuk menjadi orang andalan nya".


"Aku hanya mengerjakan semaksimal mungkin, tentang hasilnya,, semua terserah Tuhan".


"Tapi Don, aku masih membutuhkan mu di kantor".


"Apa kau tak ada niat untuk kembali??".


"Aku kasihan pada Irene,, lagi pula sebentar lagi dia akan melahirkan,,, jadi mungkin dia membutuhkan ku saat itu".


"Kau benar sekali Doni,, aku lebih membutuhkan dirimu di banding kan Alex".


"Kau bisa menangani perusahaan sendiri, bukan??".


"Aku sudah percaya pada Doni".


"Ya,,,baiklah....aku mengalah".


"Biarkan Doni bekerja padamu,, aku akan mencari staf yang lain".


Obrolan mereka terhenti karena bagian penjualan kewalahan menangani pemesanan


gaun. Doni turun tangan untuk membantu mereka dan meninggalkan Irene bersama Alex.


"Irene,, aku punya sesuatu untuk mu,, terimalah".


"Apa ini Alex,, sepertinya aku tidak sedang berulang tahun".


"Buka lah,, itu hadiah kecil dari ku, untuk istri cantik yang sudah bersedia memaafkan aku".


Irene membuka kotak kecil yang di sodorkan Alex. Sebuah cincin berlian yang sangat indah. Irene terharu menerima pemberian Alex tersebut.


"Ini indah sekali Alex,, kau yakin ini untuk ku??".


"Tentu saja,, aku memesan khusus untuk mu".


"Kuharap kau menyukai nya".


"Tentu saja Alex, ini indah sekali".


"Kau mau memakaikan nya untuk ku??".

__ADS_1


Irene menyodorkan kotak cincin yang terbuka kepada Alex. Dia kemudian mengambilnya dan menyematkan cincin di jemari Irene. Irene tersenyum menerimanya. Dari sudut ruangan, diam- diam Doni memperhatikan keduanya.


"Terimakasih banyak Alex,, aku yakin ini pasti mahal".


"Kau pantas mendapatkan nya Irene,, kau jauh lebih berharga di banding berlian ini".


"Aku bahkan berterimakasih,, kau akhirnya mau memaafkan ku".


"Seterusnya, aku hanya akan mencintai mu".


"Membahagiakan mu dan anak-anak kita nanti".


"Semoga kita bisa menjalani nya dengan baik Alex".


"Semoga, selamanya akan selalu seperti ini".


Alex kelihatan bahagia melihat senyum di wajah Andin. Langkahnya sudah tepat dengan memberikan cincin sebagai bukti pengikat cinta di antara mereka.Cinta yang baru saja bersemi. Cinta yang baru saja di mulai.


Sepanjang acara, Alex terus menemani di sisi Irene. Tanpa sadar kalau dari tadi Doni selalu memperhatikan mereka. Api.cemburu bahkan terlihat di matanya, saat Alex menyematkan cincin di jari Irene.


Tak berapa lama, kedua orang tua Alex dan Irene menghampiri untuk berpamitan. Mereka puas melihat pencapaian Irene, yang diam-diam sudah menjadi wanita karier yang sukses. Di tambah dia menjadi istri Alex yang seorang pengusaha ternama.


"Sayang,, mama dan papa pulang dulu,, ini sudah terlalu malam, tak cocok bagi kami yang sudah tua ini".


"Siapa bilang mama sudah tua,, mama masih kelihatan muda dan cantik".


"O, ya ..ma....aku punya kejutan untuk kalian".


"Irene hamil anak kembar,,, jadi siap-siap kedua nenek dan kakek ini mengasuh cucunya bergantian".


"Iya ma,,, tapi kelamin nya belum kelihatan".


"Mama bersyukur sekali,, sekali punya cucu langsung dapat dua".


"Kita nanti bisa gantian ya besan, buat gendong cucu kita".


"Iya mbak,, apa lagi aku yang cuma di rumah saja".


"Aku pasti senang sekali".


"Ya sudah kalau begitu sayang,, kau jangan terlalu malam".


"Kami pulang dulu,, dan kau Alex,, ajak Irene


pulang cepat, dia harus banyak istirahat".


"Iya ma".


Alex mengantar orang tua dan mertuanya sampai ke depan butik.Alex tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang bahagia, sehingga membuat penasaran nyonya Renata.


"Apa kau sudah berbaikan dengan Irene, Alex??".


"Nampaknya akhir-akhir ini kalian terlihat kompak".

__ADS_1


"Irene memberiku kesempatan ma".


"Kami akan mulai segalanya dari awal".


"Ini semua demi anak yang di kandung Irene".


"Mama senang sekali mendengarnya, selamat untuk mu nak".


"Ingat,, jaga Irene baik-baik,, bahagia kan dia, dia sudah banyak berkorban untuk mu".


"Pasti ma,, aku akan selalu ingat kata-kata mama".


"O,ya...ajak Irene ke rumah besok,, kita makan malam bersama".


"Baik ma, nanti ku sampaikan pada Irene".


Alex kembali ke dalam setelah mamanya pergi. Dia melihat istrinya itu sedang bercakap-cakap dengan beberapa pembeli yang merupakan karyawan Alex. Mereka sudah membeli baju sesuai instruksi atasan nya. Alex cuma berharap, semoga mereka tidak mengatakan yang sebenarnya pada Irene.


"Kita pulang sekarang,,kata mama kau tak boleh terlalu malam".


"Terimakasih sekali lagi Alex,, ternyata kau sangat baik".


"Apalagi kali ini Irene??".


"Kau merekomendasikan butik ini pada karyawan mu bukan??".


"Mereka senang sekali berbelanja di sini".


"Itu,, aku hanya ingin menunjukkan kalau istri ku itu seorang desainer yang handal".


"Sudah lah,,,ayo kita pulang".


Alex mengulurkan tangan nya kepada Irene, yang di sambut dengan genggaman yang erat. Mereka kemudian melangkah ke luar dari butik. Sejenak Irene berhenti saat Doni memanggil nya.


"Irene,,,kau sudah mau pulang sekarang??".


"Iya Doni,, kasihan istri ku, dia sudah lelah berdiri sejak tadi".


"Lalu rekap pesanan gaun dan baju nya, kau besok mulai berangkat kan??".


"Iya,,besok saja kita bahas, aku sudah mulai ke kantor besok pagi".


"Tapi ingat Irene,,kau sedang hamil, jadi kalau sudah capek, sebaiknya pulang saja".


"Aku mengerti Alex,,aku akan berhati-hati".


"Ya sudah Doni, kami pulang dulu".


Doni tersenyum melepas kepergian Irene. Dia memperhatikan kedua pasangan itu sejak tadi. Terlihat, Alex sangat perhatian kepada Irene. Dan Irene sudah tidak lagi tampak marah padanya. Mungkinkah Irene sudah mulai membuka hatinya untuk Alex. Kalau sampai itu terjadi, Doni tentu tak akan tinggal diam.


Alex membukakan pintu mobil nya untuk Irene dan membantunya naik. Perutnya yang sudah membesar, membuatnya agak kesulitan untuk bergerak. Hal itu tentu saja membuat Alex merasa sangat kasihan. Perjuangan istrinya itu sungguh mulia.


Teringat saat Irene hendak menggugurkan kandungan nya. Kalau saja saat itu dia menuruti emosinya, mungkin saat ini Alex akan sangat menyesalinya. Dirinya yang ceroboh, mencelakai Irene dan menghamilinya,,,dosa yang sangat besar sudah di lakukan nya. Untung saja sampai saat ini Irene masih mau memaafkan nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2