Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Cemburu.


__ADS_3

"Kau mau pergi ke mana sayang,,,bukan nya kau baru saja menggoda ku??".


"Ayo tanggung jawab sekarang,, jangan langsung pergi begitu".


"O...jadi kau hanya pura-pura tidur tadi,, kau mau mengerjai ku??".


"Mana bisa begitu,, kau kan yang mulai mencium ku".


"Jadi,,, kemarilah.....cium aku sekali lagi, baru kau boleh pergi".


"Aku sudah terlambat Alex,, lagian aku masih belum mandi".


"Cium aku, dan sebagai hadiahnya, aku akan mandi dengan mu".


"Aku tak mau,, kau mandi saja sendiri nanti".


Irene sudah berlari ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Alex hanya tersenyum dan memandang tingkah lucu istrinya dari ranjang. Dia tersenyum bahagia. Teringat malam romantis yang di lalui mereka berdua semalam.


Alex masih bermalas-malasan. Dia enggan berangkat ke kantor sepertinya. Alex lebih suka menghabiskan waktu seharian di rumah bersama Irene.


"Alex,,aku lupa membawa handuk,, tolong ambilkan..!!".


"Tunggu sebentar sayang".


Alex beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri pintu kamar mandi. Dia mengulurkan handuk ke tangan Irene, sambil mendorongnya masuk ke kamar mandi.


Irene meronta hendak keluar. Namun tangan Alex menahan nya. Dia mendorong tubuh istrinya tepat di bawah shower. Alex melakukan nya sekali lagi. Percintaan singkat


dibawah kucuran air shower. Acara mandi Irene jadi dua kali lebih lama gara-gara Alex.


Keduanya keluar dari kamar mandi bersamaan. Masing-masing mengeringkan rambutnya dengan handuk. Irene segera memakai pakaian nya. Dia sudah sangat terlambat untuk datang ke butik pagi ini.


"Kau masih belum berpakaian,, bukan nya kau harus ke kantor??".


"Siapa bilang,, hari ini aku libur,, jadi aku akan mengantar mu ke butik".


"Sejak kapan kau bisa libur sesuka hati mu seperti itu??".


"Tidak,, ini memang giliran ku libur sayang".


"Atau, kau memang ingin bertemu Doni berdua saja??".


"Baiklah,,,ayo kita berangkat sekarang".


"Sepertinya sudah ada aroma cemburu di sini, jadi lebih baik kau ikut dengan ku".


"Kalau tidak,, bisa jadi panjang urusan nya nanti".


"Tentu saja, di luar sana aku sangat tahu kalau masih ada yang mengharapkan mu".


Irene sama sekali tidak mengacuhkan omongan Alex. Dia mengambil semua barang-barang nya dan hendak melangkah keluar pintu,, saat tiba-tiba Alex memeluknya dari belakang.


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan sayang".


"Aku ingin seseorang di luar sana tidak lagi berharap padamu".


"Lagi pula kau hanya milikku dan seterusnya akan tetap jadi milikku".


"Apa kau mengerti apa yang ku ucap kan Irene??"

__ADS_1


Irene terdiam seketika dan mendengarkan kata-kata suaminya. Sejenak dia terpaku, kemudian berbalik dan meraih bibir Alex untuk di cium nya.


"Apa ini masih kurang cukup sayang???".


"Atau kita masih harus menunda lagi untuk berangkat ke butik".


"Apapun yang kau mau".


"Cinta, sayang,,aku akan memanggil mu sesuai keinginan mu".


"Sekarang lebih baik kita berangkat".


"Ini sudah sangat terlambat".


Dugaan Irene ternyata benar. Baru saja mereka meninggalkan apartemen, Doni sudah menelpon ponselnya. Irene segera menjawab panggilan dari Doni.


"Irene,, apa kau jadi ke butik hari ini??".


"Apa aku perlu menjemput mu sekarang,, Alex sudah berangkat ke kantor kan??".


"Aku sudah di jalan Doni,, setengah jam lagi aku sampai".


"Tunggu aku di butik saja, Alex bersama ku ".


"Ok,, Irene....hati-hati di jalan".


"Rupanya pria itu sudah tak sabar untuk bertemu dengan mu".


"Mungkin dia ingin membahas masalah kerjaan".


"O,,ya...bagaimana kalau ternyata dia merindukan mu".


"Alex,, jangan seperti itu, Doni rekan kerjaku sekarang, kami setiap hari bertemu, jadi buang jauh-jauh rasa curiga di hati mu".


Irene hanya tersenyum menanggapi ucapan Alex. Mereka melanjutkan perjalanan ke kantor. Sampai di sana, rupanya Doni sudah menunggunya. Irene bergegas masuk ke dalam butik dengan di temani Alex di belakangnya.


"Ini laporan penjualan kita malam kemarin".


"Masih ada yang belum di kirimkan barang nya, karena kita sudah kehabisan stok".


"Lalu, kau sudah menawarinya model yang lain, yang seharga pesanan nya".


"Atau dia mau menunggu ketika nanti bajunya sudah jadi".


"Mereka bersedia kita berikan desain baru yang hampir sama".


"Jadi, tidak ada masalah kan??".


"Siapa bilang tidak ada masalah,, lihatlah pesanan desain untuk mu".


"Deskripsi bajunya ada di sana,, dan kau di kejar dead line".


"Tenang saja Roger,, istri ku pasti mengerjakan semuanya".


"Tapi, mengingat dia sedang hamil,, kalian tak bisa memaksanya terlalu keras".


"Aku tak mau istri ku kelelahan".


"Desain baju ku belum seluruhnya di eksekusi".

__ADS_1


"Kalian tinggal memilih bahan nya saja dan segera membuatnya".


"Sementara aku akan mengerjakan ini dulu".


"Aku usahakan secepatnya".


"Memang harus seperti itu, walaupun kau owner di sini, kau juga harus bersikap profesional".


"Jangan jadikan kehamilan mu sebagai alasan untuk bermalas-malasan.


Alex terlihat ingin mendebat Roger, tapi Irene menarik tangan nya. Dia tak ingin ada keributan di hari pertamanya bekerja. Apalagi Roger adalah rekan bisnis dari Tamara. Irene merasa tak enak jika harus berkonflik dengan nya. Setelah dia pergi ke ruangan nya, barulah Doni mulai berbicara.


"Aku tak suka dengan orang itu,, lagaknya seperti boss, suka mengatur".


"Iya,, aku juga, harusnya kau tadi membiarkan ku menegurnya Irene".


"Sudah lah,,,biar nanti Tamara saja yang mengurusnya".


"Aku harus fokus kerja sekarang".


"Doni, tolong minta bagian produksi menyiapkan bahan yang sudah ku tulis di masing-masing desain".


"Untuk desain yang baru, aku akan membuatnya satu-persatu".


"Kira-kira butuh waktu berapa lama Irene,, biar aku konfirmasi dulu ke konsumen".


"Sekitar dua minggu, itu paling cepat".


"Kalau detail bajunya rumit, mungkin bisa satu bulan".


"Ok,, aku segera kembali".


Alex mendekati meja kerja Irene. Dia kemudian menyentuh perut istrinya. Alex lalu mengusapnya lembut.


"Apa yang bisa aku bantu untuk mu sayang??".


"Jangan menggodaku, aku sedang bekerja".


"Tolong kau periksa ponsel ku, pegawai toko ku mengirim laporan penjualan di 3 cabang".


"Aku tidak akan sempat,,, kalau tak keberatan kau bisa memeriksanya".


"Tentu saja, hari ini aku bebas".


"Apa susahnya cuma memeriksa laporan penjualan".


"Untuk istri cantik ku ini, apa pun pasti ku lakukan".


Alex segera mengambil ponsel Irene dan mencium pipi istrinya. Bersamaan dengan itu, Doni datang dan memergoki keduanya. Dia kelihatan sangat terkejut, karena Irene diam saja. Seingatnya, mereka menikah hanya karena anak yang di kandung Irene.


Tapi, akhir-akhir ini keduanya sering menunjukkan kemesraan mereka. Doni sedang berpikir kalau Irene dan Alex mungkin sudah berbaikan.


Sejenak Alex jadi salah tingkah melihat Doni. Dia kemudian kembali duduk dan terlihat sibuk memeriksa laporan di ponsel Irene.


"Apa aku melewatkan sesuatu,,belakangan ini kalian terlihat akur".


"Kami memang harus seperti itu kan,,,membiasakan diri saat anak kami lahir nanti".


"Begitu,,bagus lah....aku ikut senang melihatnya".

__ADS_1


Irene merasa ada nada kecewa dalam ucapan Doni. Sepertinya dia bisa membaca kemesraan antara Alex dan Irene. Yang jelas, Irene masih belum ingin jujur kepada Doni. Takut dia nanti akan kecewa kalau tahu yang sebenarnya.


...****************...


__ADS_2