Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Mulai Terbuka.


__ADS_3

"Ayo sayang, makanlah...".


"Kau harus banyak makan supaya cucu mama ini sehat".


"Ini sudah cukup nyonya,,tolong jangan paksa saya".


Irene masih dalam kondisi yang belum stabil. Dan emosinya kali ini benar-benar tidak tertahan kan. Mereka bersikap baik setelah mengetahui kehamilan Irene. Padahal selama ini, Doni lah yang sudah merawatnya. Irene benar- benar akan membuang bayi ini saja.


"Tante dan Alex tak usah repot-repot".


"Saya akan menggugurkan bayi ini, saya masih ingin berkarir, dan saya tidak butuh belas kasihan dari Alex".


"Tunggu sayang,, kau jangan seperti ini".


"Biar Alex dan mama yang merawatnya".


"Kalian hanya ingin bayi ini kan,, kemana saja kalian sewaktu aku mengahadapi trauma pasca perkosaan itu".


"Kalian egois,,,, pergi dari sini!!!!".


Irene kalap lagi. Emosi nya kembali meledak. Alex dan nyonya Renata terkejut melihatnya.


Doni langsung berlari dan memeluk Irene. Dia memegangi tangan nya yang memukul perutnya sendiri. Doni mendekapnya erat sampai perawat datang.


"Suster,,, suruh mereka pergi dari sini".


"Aku tak ingin mereka datang kemari".


"Tenang Irene, kendalikan dirimu".


"Kau aman sekarang".


Suster segera keluar dan menyuruh Alex dan nyonya Renata meninggalkan rumah sakit. Kondisi Irene masih labil. Hal itu akan berpengaruh kepada kehamilan nya.


"Minumlah,,,kau pasti haus setelah berteriak tadi".


"Sekarang sudah lebih lega bukan??".


"Doni,,, jangan lakukan ini,,, aku bisa jatuh cinta kalau kau selembut ini".


"Aku tak kan sanggup menahan diri ku".


"Maka jangan,,, menikah lah dengan ku,, aku jamin pasti akan membahagiakan mu".


"Tapi aku,,.......!!".


"Sstttt.......diam lah,, jangan katakan apa-apa lagi,,, cukup diam saja, santai lah di pelukan ku".


Irene akhirnya bisa tenang. Perasaan nya damai dan nyaman. Doni memang mengerti sekali bagaimana menangani Irene. Lain halnya dengan Alex. Dia hanya membuat Irene kembali mengingat trauma nya.


Setelah beberapa saat di pelukan Doni, Irene baru bisa tenang. Dia sudah menguasai dirinya kembali. Doni kemudian menyuruhnya untuk beristirahat. Dia tak mau Irene sampai drop lagi.


Irene akhirnya bisa tertidur walaupun harus dengan menggenggam tangan Doni. Dengan sabar Doni menemaninya di sisi ranjang. Dia memandangi wajah kuyu di depan nya. Sungguh cobaan yang dihadapinya tidaklah mudah. Dan Doni menjadi saksi betapa beratnya perjuangan nya keluar dari trauma perkosaan nya.


Di tempat parkir rumah sakit, Alex dan nyonya Renata masih menunggu. Mereka berharap Irene berubah pikiran dan mengijinkan Alex menemaninya.

__ADS_1


"Seharusnya kau yang ada di posisi Doni, kalau seperti ini terus, mungkin benar kalau Irene akan menikah dengan nya".


"Mama tahu sendiri kan,, Irene bahkan tak mau melihat wajahku".


"Dia sangat membenciku ma".


"Kau harus merebut hati Irene,,tinggalkan semua sifat jelek mu".


"Mama nggak mau tahu,,bagaimanapun caranya, Irene harus jadi menantu mama".


"Antar mama pulang,,dan segera kembali ke sini".


"Rawat Irene dengan baik,,seperti Doni melakukan nya".


Alex segera bergegas mengantar mamanya pulang. Dia harus kembali lagi ke rumah sakit.


Mamanya benar,,dia harus bisa mengambil hati Irene lagi. Kalau tidak, dia pasti kehilangan segalanya. Irene dan juga anak di dalam kandungan nya.


Setelah menurunkan ibunya, Alex kembali lagi ke rumah sakit. Kali ini dia membelikan makanan dan buah-buahan untuk Irene. Tak lupa dia membeli buket bunga yang indah untuknya.


Sampai di rumah sakit, Alex menuju kamar rawat Irene. Dia membawa bunga dengan penuh sukacita. Namun ketika membuka pintu kamar, di dapati nya Irene dan Doni sedang berpegangan tangan. Keduanya tertidur pulas. Alex merasa marah, namun dia mencoba menahan diri.


"Tenang Alex,,,,jangan perlihatkan emosi mu".


"Kau harus tampak tenang di hadapan Irene".


Alex mencolek bahu Doni untuk membangun kan nya. Ketika pegangan tangan nya terlepas, Irene juga ikut terbangun.


"Irene,,kau sudah bangun rupanya,,,aku bawakan bunga mawar untukmu".


"Doni,, kau juga mau coba,, aku yakin kau pasti juga belum makan".


"Terimakasih karena telah menjaga Irene selama ini".


"Ayo,,makanlah.....setelah itu kau istirahat saja,, biar aku gantian yang jaga Irene".


Doni dan Irene saling berpandangan. Sikap Alex jali ini jauh lebih lembut. Dia tidak kasar dan arogan seperti biasanya.Bahkan dia juga memperlakukan Doni dengan baik. Irene berpikir mungkin Alex tengah berusaha merubah sikapnya.


Doni menerima makanan yang diberikan Alex. Dia kemudian duduk di sisi ranjang.


"Terimakasih Alex,, aku akan memakan nya nanti".


"Makanlah dulu,, jangan sampai kau sakit".


"Kita berdua punya pasien kan??".


"Irene,, biar aku suapi..kau harus banyak makan,, agar kau cepat pulih".


"Aku ingin melihat Irene yang ceria seperti dulu".


Irene masih terdiam. Dia belum mampu berkata-kata. Alex terlihat manis kalau perilakunya seperti ini.


"Irene,,,ayolah....jangan diam saja".


"Atau aku boleh membantumu bangun??".

__ADS_1


"Doni.....bolehkah aku menolong Irene??".


"Silahkan.....lakukan apa yang kau mau".


Irene diam saja ketika tangan Alex terulur hendak membantunya bangun. Perlakuan nya yang lembut,, membuat Irene terhanyut. Setelah Irene berhasil duduk, Alex memandangi perutnya. Dia meneteskan air mata.


"Irene,,, bolehkah aku menyentuhnya???".


"Aku ingin merasakan kehadiran nya".


"Aku janji akan hati-hati,,,".


"Kumohon,,, biarkan aku menyentuh anakku".


Irene melempar pandangan pada Doni, seakan meminta persetujuan. Doni memberi isyarat setuju melalui matanya. Irene kemudian mengangguk dan mengijinkan Alex untuk menyentuh perutnya.


"Halo sayang,,, ini papa nak".


"Kamu baik-baik di dalam ya,, jangan menyusahkan mama".


"Papa akan selalu ada di sini untuk mu sayang".


"Bila waktunya nanti,,, kita pasti bertemu".


"Jagoan papa, jangan nakal ya di dalam perut mama".


Alex meneteskan air mata. Tak terasa jemari Irene ditetesi oleh air mata Alex. Irene terkejut dan menarik tangan nya.


"Maaf Irene,, aku terlalu bahagia karena kau mengijinkan ku menyentuh anak kita".


"Mulai sekarang,, apapun yang kau rasakan, katakan padaku".


"Aku akan selalu berada di sisimu".


"Kita hadapi ini bersama".


Nisa dan Alex terlarut dalam suasana haru, sehingga tak menyadari kalau Doni sudah tidak ada di kamar Irene. Entah sejak kapan Doni keluar dari kamar. Apa mungkin dia merasa tidak enak karena perlakuan Alex pada Irene.


"Alex,,, kau sudah selesai??".


"Irene,,, jangan menyuruhku pergi lagi".


"Aku harus tetap disini merawat mu,,".


"Biarkan aku bertanggung jawab atas semua dosa-dosa ku".


"Tidak Alex,, itu.....aku haus.....".


"Ok,,, aku ambilkan,,,kau diam saja disitu, jangan bergerak".


Sepanjang sore, Alex menemani Irene di kamarnya. Dia menyuapi dan bahkan membacakan cerita supaya Irene tertidur.


Doni bahkan belum kembali semenjak pergi tadi. Dalam hati Irene sudah sedikit luluh melihat kesungguhan Alex merawatnya.


Setelah memastikan Irene tidur, Alex lalu membereskan kamar mereka yang sedikit berantakan. Dia juga membenahi selimut Irene. Setelah itu dia menyusul Irene tertidur di samping ranjang rumah sakit.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2