
Tepuk tangan meriah ditujukan untuk Irene yang berjalan diatas panggung ditemani oleh para model dan Doni di sisinya. Dia menerima karangan bunga dari Tamara. Show nya kali ini berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Irene sukses menggelar fashion show rancangan karya nya sendiri.
"Mari kita sambut tepuk tangan yang meriah,,nona Irene Wijaya".
"Di usia nya yang belia, dia sukses menggelar peragaan busana hasil rancangan nya sendiri".
"Irene,,, selamat datang di dunia mode Indonesia".
Irene agak demam panggung, berdiri di depan banyak artis ternama, baru kali ini dia melakukan nya. Dia memegang erat lengan Doni. Namun ruangan serasa berputar. Kepala nya tiba-tiba terasa berat. Irene limbung, dia pingsan ditengah-tengah panggung. Untung saja Doni dengan sigap menangkapnya. Dia segera membawa Irene ke belakang panggung.
Doni membaringkan Irene di atas sofa ruang tunggu. Alex terlihat menyusulnya ke belakang panggung. Tamara memberi sedikit parfum di hidungnya. Alex duduk di depan wajah Irene.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, biar aku yang mengurusnya".
"Jangan berdebat Don, saat ini Irene butuh pertolongan".
Alih-alih menyadarkan Irene, keduanya malah berdebat yang tak masuk akal. Tamara sendiri sampai jengkel melihatnya. Dia lalu menyuruh mereka berdua meninggalkan tempat tersebut, sebelum perdebatan keduanya selesai. Mereka kemudian terdiam dan fokus pada keadaan Irene.
Tak berapa lama, jari-jari Irene bergerak. Bau alkohol yan menyengat dari parfum Tamara, membuatnya sedikit mual. Dia memegangi perut dan kepalanya yang sakit.
"Sayang,,,,,Irene ...kau tak apa-apa??".
"Apa perlu kami membawamu ke rumah sakit??".
"Tidak perlu Tamara, aku hanya...sedikit mual,,mungkin karena belum makan".
"Irene,,,ayo makanlah..aku akan menyuapi mu".
"Doni,,,tolong bilang padanya untuk pergi dari sini".
"Aku tak ingin melihat wajahnya lagi".
"Kau dengar kan Alex,,,pergi dari sini...!!!".
"Tapi,,,,,Irene ..aku mencemaskan mu!!".
"Jangan bersandiwara di hadapan ku dan Irene".
"Sudah cukup kau menyakitinya".
"Doni,,,tolong bawa aku pergi dari sini".
"Antar aku pulang,,sekarang ..!!".
Doni bergegas membantu Irene menuju ke mobil.Setelah berpamitan dengan Tamara,
Doni segera membawa Irene ke rumah sakit.
Ditengah jalan, Irene bahkan meminta berhenti karena terasa ingin muntah. Wajahnya sudah terlihat pucat pasi. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Sesampainya di rumah sakit, Irene langsung dibawa ke UGD. Dia segera ditangani oleh dokter jaga di rumah sakit. Setelah memeriksanya dengan teliti, dokter tersebut lantas memanggil Doni.
"Selamat pak, sebentar lagi istri anda akan menjadi seorang ibu".
"Tolong dijaga supaya beliau tidak kelelahan dan stres".
"Dan vitamin ini harus diminum rutin,serta makan teratur setiap hari".
"Kalau masih ada keluhan lagi,,tolong laporkan pada perawat kami".
__ADS_1
"Malam ini, sebaiknya istri anda menginap disini".
"Iya dokter, terimakasih".
Doni dan Irene saling pandang dengan wajah terkejut. Mereka masih belum percaya dengan keterangan dari dokter. Wajah Irene langsung pucat seketika. Dia tak tahu harus bilang apa. Dia hanya bisa menangis, merasakan penderitaan yang bertubi-tubi.
Doni mendekati Irene di ranjangnya. Dia mencoba menghiburnya. Kabar ini datang di saat karir Irene sedang menanjak.
"Selamat,,, kau akan jadi seorang ibu".
"Aku tak percaya Don,,, aku belum siap untuk ini".
"Kau tak boleh seperti itu Irene,, anak ini tidak bersalah, dia berhak untuk disayangi dan dicintai".
Doni mencoba menenangkan Irene yang sedang menangis dan memukul-mukul perutnya.Bagaimanapun dia sangat terpukul dengan kenyataan bahwa dirinya hamil. Dia menolak kehadiran anak tersebut. Dan Irene masih sangat shock. Jiwanya kembali terguncang.
Doni memegangi tangan Irene dan memeluknya. Dia ingin memberinya kekuatan dan menemaninya melewati semua ini.Bagaimanapun juga, semua sudah terjadi.
"Tenang Irene,,, kau harus sabar....!!!".
"Aku tak mau anak ini, aku tak ingin hamil".
"Aku tak mau ada jejak laki-laki itu di dalam diriku".
"Aku tak ingin melahirkan anak ini".
"Ssttt....jaga bicaramu,, jangan sampai kau nanti menyesal".
"Kau boleh membenci Alex, tapi tidak anak ini".
"Dia tidak bersalah Irene.....".
"Aku sudah bilang kan,, aku akan menemanimu".
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu disisi mu".
"Menikahlah dengan ku,,, kita besarkan anak ini bersama-sama".
"Aku janji akan jadi ayah yang baik untuknya".
"Tidak bisa Doni, akulah ayah dari anak itu,,jadi Irene akan menikah dengan ku".
Keduanya terkejut dengan kehadiran Alex yang tiba-tiba di kamar inap rumah sakit. Irene membuang muka, tak mau melihat wajah Alex. Sementara Doni segera menghampiri Alex, menahan nya untuk tidak menemui Irene.
"Mau apa kau kemari???".
"Tentu saja mengetahui keadaan Irene, lagipula dia sedang mengandung anakku sekarang".
"Jadi kau sudah punya nyali untuk menemuinya sekarang?".
"Tapi sayang nya, Irene tak ingin menemui mu".
"Lepaskan aku Don,, kau tak berhak menahan ku seperti ini".
"Aku ingin berbicara dengan Irene".
"Sudah kubilang,,,Irene tak ingin diganggu".
"Biarkan aku masuk ...!!".
__ADS_1
Doni dan Alex masih saja berdebat di depan pintu kamar inap. Keduanya hampir terlibat baku hantam. Seketika Irene berbicara di hadapan keduanya.
"Biarkan dia masuk Don, aku ingin tahu apa yang dia inginkan".
"Kau yakin Irene???".
"Ya,,, aku tak apa-apa, kau boleh tinggalkan kami berdua".
"Aku ingin mendengar penjelasan darinya".
Doni kemudian melepaskan Alex dan berlalu keluar dari kamar inap. Dia memberi kesempatan kepada Irene dan Alex untuk berbicara empat mata.
"Irene,,, aku minta maaf atas semua salahku".
"Mari kita perbaiki ini, menikahlah denganku".
"Anak itu berhak merasakan kasih sayang kedua orang tua nya".
"Jangan timpakan kesalahan padanya, aku yang salah, hukum aku, asal jangan kau korbankan anak kita".
"Ini keputusan ku Alex, aku tidak mau mengandung anak ini".
"Aku ingin bebas dan mengejar karir ku".
"Bukan melahirkan anak hasil perkosaan".
"Aku benar-benar tidak ingin memilikinya".
"Jangan begitu Irene,, anak ini tidak berdosa".
"Dia berhak dilahirkan ke dunia ini".
"Aku yang akan merawatnya kalau kau tidak bersedia".
"Mari kita menikah dulu, lahir kan anak ini untuk ku, setelah itu, jika nanti kau masih ingin mengejar karir mu, kita bisa bercerai".
"Kau boleh mengajukan syarat apapun, akan aku penuhi".
"Aku sadar, aku yang telah berdosa,, maka jika masih diberi kesempatan, aku akan menebus dosa-dosa ku"
"Sama halnya dengan mu, Doni pun berniat untuk menikahi ku".
"Dia tak perduli, walaupun aku telah ternoda oleh mu".
"Selama ini dia yang telah merawat ku".
"Aku sudah mencari mu, tapi Doni tak pernah mau mengatakan keberadaan mu".
"Karena aku yang memintanya, aku tak mau terluka lagi".
"Kau begitu menyakiti ku".
"Kalau begitu,, ijinkan aku menghapus luka di hatimu".
"Kalau bisa, aku akan menghilangkan noda hitam dalam kehidupan mu".
"Irene Wijaya,,, kumohon.....menikahlah dengan ku !!!".
...****************...
__ADS_1