
Setiap saat, Bagas selalu mengganggu Irene dengan mengirimkan pesan singkat padanya.
Kadang berisi pujian, namun tak jarang berupa rayuan dan kata- kata vulgar. Irene bahkan tak berani memberitahu Alex sama sekali. Irene tahu betul bagaimana sifat suaminya itu kalau sedang emosi. Makanya dia lebih memilih diam.
Malam ini, Bagas lagi-lagi mengirim pesan pada Irene. Alex masih lembur di kantor, makanya dia berani menggodanya.
"Malam ini kau pasti kesepian bukan??".
"Aku bisa menemani mu sampai suami mu pulang kalau kau mengijinkan".
"Hentikan pak Bagas, anda sudah tidak sopan kali ini".
"Suami saya atasan anda bukan??".
"Seharusnya anda juga menghormati saya sebagai istrinya".
"Dengar Irene, aku akan terus seperti ini, sampai kau bersedia menemui ku".
"Maaf pak Bagas, suami saya melarang keluar dengan laki-laki lain".
"Ya sudah,,kita saling mengirim pesan saja".
"Atau,,,aku boleh menghubungi mu bukan??".
"Aku merindukan suara mu yang seksi itu".
Irene mematikan ponselnya dan melempar
nya ke atas kasur, tepat di saat Alex membuka pintu kamar.
"Kenapa kau melempar ponsel mu sayang?".
"Kau sudah pulang rupanya,,,itu...dari tadi susah sinyal, bikin aku jadi jengkel".
"Sebentar, biar aku ambilkan kopi untuk mu".
"Aku mandi dulu kalau begitu".
Irene turun ke bawah, sementara Alex masuk ke kamar mandi. Tubuhnya yang lelah, seharian mengerjakan laporan di kantor, jadi segar karena air hangat yang di siapkan Irene.
Selesai mandi, Irene sudah menyiapkan pakaian nya. Tidak lupa secangkir kopi di meja kamarnya.
"Bagaimana hari mu dan anak-anak,, mereka tidak rewel kan?".
"Tidak,, hanya mereka merindukan ayahnya".
"Kau terlalu sibuk akhir-akhir ini, jadi melupakan kami".
"Bukan begitu sayang, aku harus mempelajari laporan yang sebelumnya".
"Badan ku sendiri sampai lelah seperti ini'.
"Mungkin kau butuh sedikit rileks".
"Biar aku memijat badan mu, aku yakin setelah ini kau pasti lebih baik".
Irene segera mengambil posisi untuk memijat suaminya. Tangan nya di letakkan di atas punggung Alex, dan mulai melakukan gerakan yang membuat Alex merasa nyaman.
"Ini enak sekali sayang".
__ADS_1
"Kau tidak pernah bilang kalau kau juga pandai memijit".
"Kau tak pernah tanya kan??".
"Aku pasti ketagihan nanti, kalau pijatan mu seenak ini".
"Sayang, kira-kira ada plus-plus nya nggak?".
"Alex,, ini masih sore, kau juga belum melihat anak-anak kan??".
"Habisnya kau yang menggodaku bukan?".
"Beri aku satu ciuman, baru aku bermain dengan si kembar".
Alex langsung berbalik dan menundukkan kepala Irene. Dia mencium bibirnya dengan rakus. Seakan tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Irene sampai kehabisan nafas, melayani ciuman panas dari Alex.
"Hentikan Alex,, cepat sana keluar, atau kita akan terus di kamar ini sepanjang malam".
"Aku ingin nya seperti itu, persiapkan diri mu".
"Malam ini kita akan menghabiskan waktu bersama".
"Dasar,,,,kau mesum Alex!!".
Irene melempar bantal ke arah Alex, tapi hanya mengenai pintu yang tertutup. Laki-laki itu tertawa melihat tingkah Irene. Handphone yang kembali berdering di atas kasur, mengagetkan Irene.
Panggilan masuk dari Bagas. Laki-laki itu tak pernah ada kapoknya. Walaupun Irene sudah berulang kali memintanya untuk tidak mengganggu, tetap saja dia tak mau menyerah. Irene mengambil ponselnya dan di letakkan di atas meja. Dia lalu menyusul Alex ke kamar si kembar.
"Sialan.....!!!".
"Kau berani menolak panggilan dari ku Irene".
"Kita lihat, apa yang bisa ku lakukan untuk mu".
Bagas bergegas mengambil kunci motor dan jaketnya. Dia keluar rumah dengan masih marah. Tujuan nya kali ini adalah rumah Alex dan Irene. Dia memacu sepeda motor nya dengan kecepatan tinggi. Hingga jarak rumah Irene hanya di tempuhnya selama setengah jam saja.
Bagas menekan bel pintu rumah Alex. Keduanya sedang asyik bermain dengan kedua anaknya.
"Nina, coba kau lihat ada siapa di luar".
"Baik Bu".
Nina bergegas turun ke lantai bawah. Dia membuka pintu. Seorang pemuda ganteng sedang tersenyum ke arah nya.
"Mbak, saya bisa bertemu pak Alex dan bu Irene?".
"Sebentar mas, saya panggilkan dulu".
"Mari silahkan masuk".
Bagas melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu mewah di kediaman Irene.
"Pantas saja kalau kau betah jadi istri Alex".
"Rupanya dia memberikan kemewahan kepada mu".
"Tapi tenang saja, kalau kau jadi istri ku Irene,, aku akan lebih memanjakan mu daripada suami mu".
Alex menuruni tangga lantai atas, untuk menemui Bagas. Nina sudah memberitahu kalau ada tamu untuk nya.
__ADS_1
"Pak Bagas, tumben anda kemari,, ada gap penting??".
"Panggil saja Bagas, ini kan di luar kantor Alex".
"Akan terlihat lebih akrab kalau kita saling memanggil nama".
"Silahkan duduk,, ada perlu apa kau datang kemari".
"Kebetulan saja aku sedang lewat sekitar sini,
jadi apa salahnya kalau aku mampir sebentar".
"Sungguh suatu kehormatan, kau mau mengunjungi rumah ku".
Ketika sedang asyik mengobrol, Irene tiba-tiba muncul dan menuruni tangga. Dia hanya mengenakan dress di atas lutut dengan belahan dada rendah. Rambutnya di naikkan ke atas, dengan polesan make up tipis. Terlihat sangat menggoda hati Bagas. Dia bahkan tak berkedip memandang wajah Irene.
"Sayang, pak Bagas mengunjungi kita".
"Tolong minta Nina buatkan kopi untuk kami berdua".
Irene memandangi wajah Bagas dengan setengah tak percaya. Pemuda itu nekat mendatangi dirinya, hanya karena Irene tak menjawab ponselnya. Dia mencoba menyembunyikan raut wajah cemasnya di hadapan Alex.
"Biar aku saja yang buat kan".
"Nina sedang bersama si kembar".
Irene segera melangkah menuju ke dapur. Matanya masih mengawasi gerak-gerik Bagas. Hingga mata mereka akhirnya saling beradu. Bagas tersenyum penuh arti. Sementara Irene buru-buru membuang muka.
"Silahkan di minum, ini kopinya".
"Ayo Bagas, cicipi kopi buatan istri ku, rasanya tak kalah dengan di kafe".
"Aku percaya, itu makanya kau tak pernah nongkrong di luar bukan?".
"Kau sudah punya istri cantik, dan pandai menyenangkan hati suami".
"Kau benar Bagas".
"Tunggu sebentar, ponsel ku berbunyi".
"Aku akan menjawabnya sebentar,, ini sangat penting".
Buru-buru Alex keluar ke ruang depan. Dia meninggalkan Bagas dan istrinya, berdua di ruang tamu". Bagas mendekati tempat duduk Irene dan langsung berbisik di telinga nya".
"Kau terlihat sangat menggairahkan".
"Aku ingin sekali bisa menyentuh diri mu".
"Tunggu Bagas, tolong jaga tingkah laku mu kalau kau di rumah ku".
"Aku akan tetap seperti ini kalau kau tak mau menerima telepon dari ku".
"Biarkan saja suami mu tahu kalau aku menyukai mu".
"Kalau dia menceraikan mu, itu jauh lebih bagus".
Irene menampar Bagas. Perkataan nya itu sudah sangat kelewatan menurut Irene. Pemuda itu sama sekali tak menghargai Alex dan dirinya. Apa lagi dia membuat ulah di rumah Irene.
...****************...
__ADS_1