Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Perjuangan.


__ADS_3

Irene masih di rawat di rumah sakit. Selama itu, keluarga dan sahabatnya silih berganti menjenguk dan menghiburnya. Alex bahkan sudah beraktivitas di kantor seperti biasa. Waktu 3 bulan yang di lalui Irene di rumah sakit, di habiskan nya dengan perawat yang di sewa Alex untuk menjaganya.


Tak terasa usia kandungan Irene sudah menginjak 7 bulan. Pagi ini dia meminta perawat untuk membawanya berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Seperti biasa, Alex sedang bekerja di kantor. Sore hari, baru dia kembali ke rumah sakit untuk menjaga Irene.


"Suster kembali saja ke dalam, saya masih ingin di sini".


"Baik Bu,, nanti kalau ibu ingin kembali, hubungi ponsel saya".


"Baik suster, terima kasih".


Irene sebenarnya merasa bosan berada di dalam. Dia juga kasihan pada Alex karena tidak sempat beristirahat setiap harinya. Dia terus menemani Irene setiap malam.


Dia sendiri mempercayakan semua urusan kerjanya pada Doni. Walaupun tak jarang, dia datang ke rumah sakit untuk sekedar mengobrol dan menghibur Irene.


Seperti pagi ini, Doni mendatangi Irene di rumah sakit. Dia langsung menuju taman, setelah bertanya pada perawat. Dia menghampiri Irene dan duduk di depan nya.


"Bagaimana bumil kita pagi ini,,sudah lebih baik??".


"Jauh lebih baik, terima kasih".


"Kau harus lebih semangat, tinggal sebentar lagi, dan kalian akan berkumpul bersama".


"Tapi, aku takut Doni".


"Bagaimana kalau nanti aku tidak pernah bangun lagi".


"Kalau perjuangan ku harus berakhir di meja operasi".


"Kau harus optimis, kau sudah melangkah sejauh ini bukan??".


"Apa lagi yang kau takutkan??".


"Aku tahu, kau wanita hebat".


"Anak-anak mu pasti bangga, mempunyai ibu seperti mu".


Irene merasa terhibur mendengar kata-kata Doni. Dia jadi merasa bersemangat lagi, walaupun memang dia tidak bisa menutupi rasa sakit yang selalu muncul di perutnya.


"Kenapa Irene,, kau tampak kesakitan".


"Tolong panggilkan perawat,,perut ku sakit sekali".


"Ayo,,,,aku akan membawa mu ke dalam".


Doni mendorong kursi roda Irene masuk ke dalam rumah sakit. Dia segera memanggil perawat agar memeriksa Irene. Tak berapa lama, dokter datang untuk memeriksanya.


"Bu Irene, sepertinya kita tak bisa menundanya lagi".


"Bayi anda harus segera di keluarkan".


"Saya tak mau ambil resiko".


"Tolong segera hubungi suami Bu Irene".

__ADS_1


"Dua jam lagi kita segera mengoperasinya".


"Baik dokter!!".


Perawat segera keluar dari ruang pemeriksaan. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Alex.


"Bapak di minta ke rumah sakit sekarang".


"Dua jam lagi Bu Irene harus segera di operasi".


"Baik suster, saya segera ke sana".


Tanpa pikir panjang, Alex bergegas berangkat ke rumah sakit. Saat ini istri dan anak nya, jauh lebih penting di bandingkan pekerjaan nya.


Sesaat Alex tiba di rumah sakit, dia melihat Doni di depan ruang periksa. Pria itu juga terlihat cemas. Ada rasa cemburu di hati Alex, namun segera di tepisnya. Dia melangkah. masuk ke kamar periksa Irene.


"Sayang,, bertahan lah....aku tahu kau pasti bisa".


"Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan kedua anak kita".


"Aku takut Alex,, kalau sampai aku tidak sempat menemui mereka".


"Jangan bicara yang tidak-tidak,, semua orang di sini bersama mu".


Alex senantiasa memberikan semangat dan dukungan kepada istrinya. Pun ketika Irene di dorong masuk ruang operasi, tangan Alex tak pernah lepas menggenggam jemarinya.


Semua anggota keluarga sudah menunggu di rumah sakit. Mereka berkumpul di ruang operasi. Keluarga hanya bisa pasrah, dan berharap semua nya akan baik-baik saja. Baik Irene maupun bayi nya bisa selamat.


"Istri saya bagaimana kondisi nya dokter??".


"Semuanya selamat, baik ibu dan bayinya".


"Silahkan pak Alex, anda boleh masuk sekarang".


Alex tersenyum, begitu juga dengan keluarga yang lain. Dia segera masuk ke ruang operasi untuk melihat kedua anak kembarnya. Ternyata Irene melahirkan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Kebahagiaan Alex pun berlipat ganda ketika mengetahuinya.


Tak berapa lama, Irene di bawa ke ruang perawatan, sementara bayinya masih harus berada di dalam inkubator. Mereka terlahir prematur, jadi masih harus di pantau secara intensif.


"Alex,, apa kau bahagia sekarang??".


"Aku sudah memberi mu anak laki-laki dan perempuan".


"Tentu saja sayang,, terima kasih atas perjuangan mu selama ini".


"Sekarang kau sudah menjadi ibu".


"Aku bangga sekali pada mu".


Irene tak dapat berkata-kata, dia hanya bisa menangis haru. Mengingat perjuangan nya selama ini, demi melahirkan kedua buah hatinya.


Keluarganya bergantian masuk ke ruang perawatan dan memberi selamat kepada Irene. Tak terkecuali Doni. Irene sangat berterima kasih karena telah menolongnya di saat yang tepat.


Selang beberapa lama, Irene merasakan nyeri di perutnya. Alex segera memanggil dokter untuk memeriksa istrinya. Rupanya diagnosa dokter selama ini benar. Irene mengalami pendarahan hebat. Kondisi Irene bahkan terlihat sangat lemah.

__ADS_1


"Inilah yang selama ini saya khawatirkan pak Alex".


"Sekarang benar-benar terjadi".


"Bu Irene mengalami pendarahan, dan kami sedang berusaha menangani nya sekarang".


"Berdoa saja yang terbaik.untuk istri anda".


Alex mondar-mandir di depan ruang ICU. Andin di pindahkan ke ruangan tersebut untuk ditangani lebih lanjut. Terasa benar bagi Alex, cobaan bertubi-tubi menimpa dirinya dan Irene. Sebagai suami dan seorang ayah, di harus bisa kuat.


Sekarang istrinya terbaring lemah tak berdaya. Ingin rasanya Alex menggantikan posisinya dan merasakan kesakitan yang di alaminya. Namun nyatanya, Alex hanya bisa berdoa dan berharap keselamatan untuk istri tercintanya.


Dokter akhirnya keluar dari ruang ICU. Dia menemui Alex untuk memberitahu kondisi istrinya.


"Pak Alex, istri anda sedang kami tangani, untuk sementara, dia harus tetap di ruang ICU".


"Dokter,, jelaskan keadaan istri saya yang sebenarnya".


"Bu Irene baru saja menjalani transfusi darah, kami sudah berusaha menghentikan pendarahan nya".


"Tapi kami masih harus tetap memantaunya secara intensif".


"Semoga Bu Irene lekas membaik".


"Komplikasi pasca persalinan memang kerap terjadi pak".


"Apa lagi Bu Irene sudah kami peringatkan sebelumnya".


"Kita hanya bisa menunggu sekarang, semoga beliau lekas membaik".


"Terima kasih banyak dokter".


"Silahkan Lo pak Alex, anda boleh menemaninya di dalam".


"Baik dokter".


Dokter Budi berlalu meninggalkan ruang ICU.


Beliau sangat telaten merawat Irene. Orang nya juga ramah dan baik hati. Alex merasa beruntung di kelilingi orang-orang baik, yang selalu menolong dirinya dan Irene.


Alex kemudian masuk ke ruangan tempat Irene di rawat. Mukanya tampak pucat. Transfusi darah nya masih berlangsung. Tapi Irene seperti sedang tak sadarkan diri. Matanya terus terpejam tanpa reaksi.


"Kenapa istri saya seperti ini suster??".


" Itu karena kadar Hb dalam tubuh Bu Irene rendah sekali pak, di tambah dia kehilangan banyak darah".


"Semoga setelah transfusi ini, Bu Irene segera sadar".


"Bu Irene wanita yang hebat, saya yakin dia pasti segera sembuh".


"Terima kasih banyak suster".


...****************...

__ADS_1


__ADS_2