
Di dalam ruang kerja Bintang sedang sibuk memperhatikan perkembangan bursa saham di perusahaannya melalui laptop. Namun saat ini dia tampak kurang fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun kedua matanya menatap pada layar laptop, namun pikirannya tidak searah dengan matanya. Yang mengusik pikiran Bintang saat ini adalah sosok perempuan yang mampu membuatnya kagum meskipun sering ceroboh.
‘Duh, mengapa dalam otakku selalu ada dia? Gadis yang ceroboh …’ gumam Bintang dalam hatinya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Semenjak Bintang mengantar Bulan pulang semalam, Bintang sering terbayang wajah gadis itu meskipun dia sendiri tidak memintanya untuk hadir dalam otaknya. Sesekali Bintang melenguh panjang “huft … “ sambil memejamkan matanya membuat dirinya merasa aneh saat ini.
Arda tiba-tiba masuk ruangan Bintang tanpa mengetuk pintu lebih dahulu dan langsung duduk di kursi depan meja kerja Bintang.
Bintang yang saat itu sedang memejamkan matanya tidak mengetahui jika asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu sudah duduk di hadapannya.
“Hai Bos … Ada apa denganmu ?” tanya Arda pada Bintang hingga membuat bosnya itu terkejut dan membuka mata seketika.
“Sejak kapan kau ada disini !?” tanya Bintang dengan tatapan tajam mengarah pada Arda.
“Sejak jaman nenek moyang,” jawab Arda sekenanya.
Bolpoin yang sedang digenggam Bintang pun melayang ke arah wajah Arda, namun langsung ditangkap dengan cepat oleh Arda dengan tertawa terkekeh.
“Ada apa sih Bos, apa ada masalah dengan perusahaan kita ?” tanya Arda lagi pada Bintang yang sekarang tengah bersandar di kursi.
“Tidak ada masalah dengan perusahaan kita,” jawab Bintang ssambil memandang Arda.
“Lalu mengapa wajahmu begitu gusar seperti ada yang sedang kau pikirkan.”
“Ar, kalau divisi marketing ada pertemuan lagi dengan klien, pastikan aku bisa ikut dalam pertemuan itu ya,” ucap Bintang sambil memandang ke arah laptop lagi.
“Lho, bukannya sudah ada Pak Tomi yang selalu menangani tentang hal ini ?” kata Arda.
“Alihkan tugasnya mengerjakan hal lainnya,” perintah Bintang dengan nada yang tegas.
“Hah, mengapa bisa seperti itu, kan itu sudah tugas dia Bin,” sanggah Arda dengan sikap aneh bosnya itu.
“Sudahlah, turuti apa kataku !” suara Bintang mulai meninggi.
“Oke, siap!” jawab Arda. “Lalu kamu juga yang presentasi pada klien ?” tanya Arda selanjutnya.
“Bukan aku, tapi yang presentasi adalah Bulan” Tutur Bintang dengan memamerkan sekilas senyumnya meskipun terlihat samar.
“Baiklah kalau itu maumu, aku akan atur lagi jadwalnya,” ucap Arda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Kemudian Arda tampak tersenyum lebar ketika terlintas dalam pikirannya tentang keinginan Bintang tadi, dan akhirnya diapun tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha …. aku tahu sekarang alasanmu mengapa kamu ingin ikut menghadiri pertemuan itu. Supaya kamu bisa memandang wajah Bulan kan ?” kembali Arda tertawa sambil memandang wajah Bintang yang mulai berubah sedikit memerah.
“Sok tau kamu itu,” Ucap Bintang dengan wajah sedikit malu tapi dia bisa menutupinya.
“Hmm … Ternyata seorang Bintang Mahardhika Putra saat ini sedang terpesona dengan kecantikan karyawannya sendiri, Hahaha … “ Arda pun kini semakin menggoda Bintang.
“Terserah kamu mau bilang apa,” jawab Bintang sambil pura-pura memeriksa dokumen yang akan ditanda tangani olehnya, meskipun dalam hatinya membenarkan ucapan sahabatnya itu.
Bintang saat akan memimpin meeting seluruh pemegang saham di perusahaan Mahardhika Grup
Arda, asisten pribadi Bintang
__ADS_1
***
Saat istirahat makan siang, seperti biasa Bulan selalu berkumpul dengan dua sahabatnya yaitu Mega dan Nita. Mereka bertiga kali ini memesan makanan yang sama, yaitu nasi soto ayam dan minum teh botol dingin.
“Lan, hari sabtu kita main ke rumah Nita yuk. Dia sedang dilamar oleh pacarnya,” ajak Mega pada Bulan.
“Oh ya? Alhamdulillah, aku jadi senang mendengar kabar baik ini. Insya Allah aku ke rumahmu Nit,” ucap Bulan sambil tersenyum karena bahagia.
“Iya Lan, terima kasih kalau kamu mau datang ke acaraku. Tapi kalau kamu tidak bisa datang juga tidak apa-apa kok Lan,” kata Nita pada Bulan sambil minum teh botol yang tinggal sedikit.
“Insya Allah bisa,” Bulan pun meyakinkan sahabatnya itu bahwa dia akan hadir di acara lamaran itu.
“Kamu akan datang dengan siapa Lan ?” tanya Mega pada Bulan, karena sepengetahuan mereka Bulan belum punya pasangan, sedangkan Mega sendiri akan hadir bersama kekasihnya.
“Mungkin aku akan datang sendirian, karena mbak Dina ada acara di kantornya di hari yang sama,” tutur Bulan sambil memainkan bola matanya ke arah atas.
“Eh, Lan … bagaimana kalau kamu datang mengajak Pak Bintang saja ?” ucap Nita sambil terkekeh-kekeh
Bulan pun memandang Nita sambil melotot setelah mendengar perkataan sahabatnya itu.
Nita dan Mega pun tertawa bersama-sama melihat reaksi wajah Bulan saat mendengar kata Bintang.
“Aku rasa kalian berdua cocok kok sebagai pasangan,” kata Mega pada Bulan dan langsung didukung oleh Nita dengan mengacungkan dua jempolnya.
“Bicara apa sih kalian ini, jangan pernah bermimpi. Mana mungkin pria tampan kaya raya mau dengan aku yang jauh beda dengan kelasnya ?! Apalagi orangnya jutek banget kalau bicara, matanya menyeramkan membuat kulitku jadi merinding, hiiiii …” ucap Bulan sambil kedua tangannya memegang kepalanya dan digeleng-gelengkan.
Tanpa sepengetahuan dua sahabatnya, Bulan kembali terbayang wajah Bintang yang tampan itu saat mengantarnya pulang ke kosannya semalam, hingga Bulan tak menyadari jika dia tersenyum sendiri.
“Cie… ciee … yang sedang membayangkan wajah Sang Arjuna …” goda Nita dan Mega pada Bulan.
Wajah Bulan langsung merona merah menahan malu ketahuan oleh dua sahabatnya itu. “Siapa juga yang membayangkan wajahnya ?” elak Bulan sambil menyembunyikan rasa malunya.
“Ya sudah yuk, kita sudah selesai makan, sekarang kita sholat dhuhur dulu ke musholla !” ajak Mega pada dua sahabatnya.
“Ayo !” jawab Bulan dan Mega bersamaan.
Penampilan Bulan selalu sederhana namun tetap anggun dan modis
***
Flasback ON
Malam itu terasa hening di dalam mobil, Bintang mengarahkan pandangannya ke depan sambil menyetir, sedangkan Bulan yang duduk di sebelahnya memandang jalanan melalui kaca jendela. Namun dalam otak keduanya berkecamuk bingung mau bicara apa untuk menghilangkan keheningan.
__ADS_1
“Bolehkah …. “ ucap Bulan dan Bintang bersamaan tanpa disengaja.
“Oh, maaf, silahkan bapak dulu …” Bulan mempersilahkan pada Bintang untuk bicara lebih dahulu.
“Kamu saja dulu … “ jawab Bintang.
“Sebaiknya bapak dulu yang berbicara …” balas Bulan.
“Tidak, kamu saja, biar aku mendengarkan. Kamu mau bicara apa ?” tanya Bintang lagi pada Bulan.
Bulan jadi terdiam bingung dengan sikap atasannya itu.
“Kenapa kamu diam? Bicaralah !” perintah Bintang dengan tatapan masih fokus ke depan.
“Emm … Bolehkah saya bertanya?” ucap Bulan dengan hati-hati takut jika atasannya itu marah.
“Tanya apa?” jawab Bintang baik bertanya pada Bulan.
“Mengapa Bapak mau mengantarkan saya pulang ? Saya kan bisa naik angkutan umum atau naik ojek online ” tanya Bulan kembali dengan suara pelan.
Bintang menghentikan mobilnya secara tiba-tiba sehingga dahi Bulan terkena jendela sambil meringis menahan sakit.
“Auw … “ pekik Bulan pelan supaya tidak terdengar oleh telinga Bintang.
“Apa kamu tidak sadar sekarang sudah malam, apa kamu mau jika kamu naik angkutan umum atau ojek tiba-tiba ada yang berani berbuat jahat padamu hah ?! Kamu itu perempuan, bisa-bisa kamu jadi mangsa laki-laki jahat hidung belang di luar sana. Apa kamu mau seperti itu ? kalau kamu maunya begitu, baiklah kamu boleh turun !” ucap Bintang dengan sorotan mata yang tajam ke arah Bulan.
Bulan terkejut mendengar ucapan Bintang itu, padahal dia tidak berniat untuk membuat Bintang menjadi marah.
“Ma .. maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya sekedar bertanya pada bapak, itu saja” tutur Bulan sambil menundukkan kepalanya tanpa melihat wajah Bintang karena takut Bintang akan marah lagi.
“Makanya kamu harus dengarkan dan ikuti apa kataku !” jawab Bintang dengan ketus.
“Baik Pak. Sekarang apa yang ingin bapak bicarakan pada saya?” tanya Bulan dengan perasaan was-was.
“Ngga jadi, lupakan saja,” ucap Bintang sambil melanjutkan menyetir mobilnya menuju ke kosan Bulan.
Satu jam perjalanan telah berlalu akhirnya sampailah di depan kos Bulan, perjalanan kali ini memang lama karena tadi terjebak macet sehingga sampai di kosan sudah hampir pukul 9 malam.
Bulan keluar dari mobil Bintang dan mengucapkan terima kasih pada atasannya itu. “Terima kasih bapak sudah mengantarkan saya pulang, apakah bapak tidak ingin singgah lebih dulu ?”
“Tidak, sudah malam. Aku pulang sekarang, cepatlah masuk ke dalam rumah !” perintah Bintang.
“Baiklah, terima kasih sekali lagi. Assalamu’alaikum …” Bulan mengucapkan salam pada Bintang dan masuk ke dalam kosannya.
“Waalaikum salam, “ jawab Bintang singkat dan kembali melajukan mobilnya menuju jalan raya.
Flashback OFF.
###########################
Hai readers ... semoga harimu menyenangkan :-)
Komentar kalian aku tunggu ya, juga like dan vote untukku
__ADS_1