
Happy reading ✓
Move-on dan move-on itu lah satu kata yang bulan terus gaungkan didalam hatinya, seolah ia menjadikan kata tersebut seperti mantra yang membuatnya tegar, "huuff" bulan menghembuskan nafas panjang. Dirinya menguatkan diri agar segera terbebas dari bayang-bayang yang membuatnya sesak.
Tidak mungkin kan ia harus terus menerus terjebak dengan perasaan yang tidak jelas, lebih baik ia harus menata lagi masa depannya.
Kini bulan dikamar nya sedang menyiapkan beberapa atribut yang akan ia kenakan untuk menjalankan orientasi studi dan pengenalan kampus atau biasa disingkat Ospek,
Mengenai universitas yang bulan pilih gadis itu memilih UI, bukan hanya dirinya saja yang berminat pada universitas tersebut. Niko, Anita dan juga Ares pun awalnya berminat masuk di kampus tersebut.
Namun sayang ketiga temannya itu tak ada satupun yang diterima. Hanya bulan yang beruntung lolos masuk, sebenarnya hal itu membuat semangat bulan sedikit down. Ia berharap jika satu kampus dengan teman-teman nya setidaknya ia berasa tidak terlalu asing dengan lingkungan baru.
****
Pagi harinya bulan sudah siap dengan dandanan yang sudah ditentukan oleh pihak panitia Ospek. Yakni memakai pakaian berwarna hitam putih, topi petani dan juga tas goni tak lupa papan nama yang ia kalungkan pada lehernya.
"Semangat yah nak papa doain ospek nya berjalan lancar" ucap Dimas memberi semangat. Bulan hanya tersenyum menanggapi nya
"Bulan kamu sarapan dulu yah nak" pinta Yuni, sembari menuangkan makanan diatas piring.
Tak banyak membantah, gadis itu langsung memundurkan kursi makan dan iapun langsung mendaratkan bokongnya ikut duduk bersama papa dan Tante Yuni. Yah memang sejauh ini bulan belum mau memanggil Yuni dengan sebutan mama. Ia lebih nyaman memanggil dengan sebutan Tante Yuni, untungnya Yuni tidak mempermasalahkan hal itu.
****
"Kamu hati-hati yah lan sekali lagi semangat" ujar sang papa, melongok melalui jendela mobil yang terbuka. Dari luar mobil bulan membalas ucapan papa hanya dengan senyum dan mengacungkan satu jempol. Setelahnya mobil Dimas perlahan pergi meninggalkan bulan yang sudah berdiri didepan gerbang bangunan gedung universitas.
Suasana pagi itu sungguh sangat ramai dimana banyak Maba yang berpenampilan sama seperti dirinya, gadis itu pun perlahan jalan memasuki area kampus. Lalu tiba-tiba bruugghh!!!
"Awww" suara ringisan Terdengar dari kedua gadis yang kini sama-sama tersungkur jatuh.
"Aduh maaf-maaf gue nggak sengaja" ucap salah satu gadis yang tadi menyeruduk bulan. Ia pun langsung berdiri dan membantu bulan yang nampak masih meringis.
"Kaki Lo rem nya blong yah! Orang Segede gini main seruduk aja" omel bulan kesal, tangan nya sembari mengibaskan pakaian nya yang sedikit kotor.
__ADS_1
"Sumpah gue nggak sengaja maaf yah" ujar gadis itu lagi. Cengengesan menampilkan sederet gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Kenalin gue pretty Lusiana anak Maba juga" gadis Bernama pretty itu memperkenalkan diri. Satu tangan nya terulur dihadapan bulan. Sebenarnya bulan malas meladeni perkenalan itu, apa lagi dengan sikap pretty yang sok ramah tapi ya sudahlah.
"Udah tau, tuh" jawab bulan menunjuk kalung papan nama yang pretty kenakan menggunakan dagunya.
"Hihihi iya gue lupa, Lo pasti bulan yah? Nama yang cantik sama kaya gue" kata pretty dengan pedenya, bulan merotasikan bola matanya
"Bareng yuk" ajak pretty. Dirinya langsung menggapit lengan bulan agar segera berjalan lebih masuk lagi.
***
Semua mahasiswi dan mahasiswa baru digiring untuk berkumpul disebuah lapangan terbuka. Disana sudah ada beberapa panitia ospek yang akan berbagi tugas mengarahkan para Maba sesuai prosedur.
Bulan berjalan menuju toilet setelah sebelumnya sudah diizinkan oleh salah satu panitia, Ia mengernyit dan mencoba memastikan apa yang sedang ia lihat itu nyata, terlihat seorang laki-laki yang bulan pastikan anak Maba juga, sedang asik memanjat dinding kampus yang tak jauh dari toilet.
Gadis itu bisa menyimpulkan jika pemuda itu ingin membolos atau melarikan diri dari acara ospek tersebut. "Woi mau kemana Lo turun nggak" sergah bulan berniat menggagalkan aksi pemuda itu.
Pemuda tadi langsung menoleh kearah sumber suara. Merasa aksi nya sudah kepergok ia pun memutuskan untuk turun dan menghampiri bulan,
"Iya gue mau bolos" jawabnya enteng
"Kenapa bolos?"
"Bosen aja" jawabnya lagi.
"Orang model kaya situ ko bisa sih keterima dikampus ini!" Sarkas bulan tersenyum miring.
Pemuda tadi balik tersenyum lalu menunduk menjilat bibir bawahnya sekilas dan balik menatap bulan lagi, dua tangan nya sudah ia kantongi kedalam saku celananya
"Karena gue pinter, Bu lan" ucap pemuda itu, menekankan penyebutan nama bulan. Tentu saja laki-laki itu tau nama bulan. Pasti dari papan nama yang tergantung didepan dada gadis itu.
"Oh iya berhubung gue udah tau nama Lo jadi kenalin, nama gue Langit angkasa biru" pemuda itu mengulurkan satu tangan nya
__ADS_1
"Nggak nanya" jawab bulan, dirinya langsung melenggang pergi begitu saja mengabaikan uluran tangan Langit. Ia kembali berjalan untuk masuk ketoilet.
Langit terlihat mengulum senyum, ia kembali memasukkan lagi satu tangan yang tadi terulur kedalam celaannya. Lalu perlahan ia memutar tubuhnya untuk menatap punggung bulan yang berjalan semakin menjauh.
"Menarik" gumam nya pelan sembari tersenyum.
****
Setengah rangkaian ospek sudah berjalan, kini giliran yang banyak ditunggu-tunggu oleh para Maba yakni melakukan permainan tebak-tebak berhadiah.
"Oke adik-adikku semuanya mohon disimak dengan seksama apa yang akan kami beritahukan tentang acara selanjutnya"
Semua Maba tak ayal langsung terdiam, sangat antusias menunggu permainan apa yang akan dilakukan. Ada yang berbisik-bisik seolah menebak-nebak.
"Jadi gini adik-adik kami akan membuat sebuah permainan yang sangat seru, kalian semua boleh menebak apapun dan kalau tebakan tepat tentu ada hadiah yang sudah menanti" jelas para panitia. Hal itu membuat para Maba sangat bersemangat.
Tak lama ada satu panitia yang membawa sebuah baki ditutup oleh tutup panci bulat. Baki tersebut diletakkan keatas meja supaya para anak Maba bisa lebih mudah melihatnya.
"Permainan nya simple, kalian semua hanya perlu menebak apa isi didalam tutup panci ini, tentu nanti saya akan memberikan clue nya kalau tau jawabannya segera unjuk tangan"
Lagi-lagi para anak Maba saling berbisik satu sama lain. Begitu juga dengan pretty yang kini sudah berdiri bersebelahan dengan bulan, ia begitu sangat antusias dengan permainan tersebut.
"Bisa nebak nggak yah gue" kata pretty
"Panitia nyebutin clue aja belum" jawab bulan.
" Hehehe iya juga yah"
"Dengar-dengar Semua, jika ada yang berhasil menebak apa isi didalam tutup ini. Hadiah yang akan didapatkan adalah sebuah gelang seperti ini" panitia tersebut menunjukkan sebuah gelang berwarna hitam putih berlambangkan universitas.
"Jadi si pemenang tebak-tebak berhadiah akan diberikan gelang. Dan untuk si pemenang gelang itu harus dipakaikan ke salah satu para Maba yang berada disini terserah mau pilih siapapun. Dengan catatan si penerima gelang dilarang untuk menolak. Karena setelah nya si pemberi gelang dan penerima gelang akan mendapatkan dua tiket makan gratis disalah satu restoran bintang lima.
Semua anak Maba memekik girang. Tentu saja dengan embel-embel hadiah yang baru saja diberitahukan, hampir semua Maba sangat tergiur dengan hadiah tersebut.
__ADS_1
Bersambung. .
Note. setelah selesai membaca biasakan klik suka. dan kalau mau komentar silakan