Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 59


__ADS_3

Happy reading ✓


Dimas Yuni dan juga Naya berdiri cemas didepan pintu UGD, harap-harap cemas menunggu kondisi bulan, lebih-lebih Dimas laki-laki itu tak henti-hentinya mondar mandir menggigit kepalan tangannya. Bertanya-tanya apa yang terjadi pada putrinya.


"Sudah mas sabar tenang percaya deh bulan akan baik-baik saja, dia kan anak yang kuat" ucap Yuni menenangkan.


Tak lama Keluar lah dokter Andi keluar dari ruangan UGD, langkahnya langsung dihadang oleh Dimas dokter Andi menatap Dimas dengan raut wajah tenang.


"gimana dok putri saya baik-baik saja kan?" Tanya Dimas wajahnya tegang.


"Tolong bapak ikut saya" pinta dokter Andi, Dimas mengangguk lantas dirinya langsung berjalan mengikuti


"Yun kamu hubungin Langit" titah Dimas pada Yuni, sebelum dirinya berlalu.


Sesampainya diruangan dokter Andi. Dimas dipersilahkan untuk duduk menghadap nya, dokter tersebut menghela nafas dalam-dalam sebelum membuka suara.


"Begini pak Dimas hasil pemeriksaan yang saya dapat, didalam tubuh bulan ditemukan zat beracun bernama sianida, dan untungnya zat itu masuk dalam jumlah kecil jadi masih bisa tertangani, dan untungnya bapak diama cepat membawanya untung penanganan, saya harap pak diama tidak perlu terlalu khawatir"


"Sianida?!!!!" Beo Langit yang entah dari kapan sudah berdiri dan mendengarkan percakapan antara dokter Andi dan Dimas.


"Langit kamu disini?" Tanya dimas, dirinya berdiri dan mendekati Langit yang terdiam karena rasa kagetnya, laki-laki itu setelah dihubungi oleh Yuni, masalah bulan dia langsung bergegas bersama kedua orangtuanya.


"Dokter tadi bilang apa? Ditemukan sianida?" Tanya Langit mengulangi, dokter Andi mengehela nafas lalu mengangguk.


Setelah mengucapkan terimakasih dan permisi langit dan dimas pamit dari ruangan dokter tersebut.


****

__ADS_1


Brankar yang ditempati bulan mulai didorong untuk dipindahkan kedalam ruang rawat inap, syukurnya gadis itu tidak mengalami hal yang serius. Langit tampak merenung ia berfikir keras bagaimana bisa ada zat sianida yang masuk dalam tubuh tunangan nya itu.


Para orang tua berada didalam ruangan inap bulan, gadis itu belum sadarkan diri sementara itu Langit masih berdiam diri diluar ruangan, sesekali ia melirik kearah kanaya ia merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu.


Langit memutuskan untuk pergi dari situ, ia harus melakukan sesuatu. Demi tuhan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberi perhitungan kalau memang benar ada yang sengaja membuat bulan celaka.


Langit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, saat ini tujuannya adalah kerumah bulan, mencari petunjuk kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan.


Tak membutuhkan waktu lama. Laki-laki itu langsung berjalan dengan langkah lebar memasuki rumah Dimas. Hal yang pertama dicari adalah makanan yang semula mereka makan, Langit bersyukur karena makanan itu masih ada diatas meja belum dirapihkan, mengingat mbok Imas yang masih dikampung.


Langit mulai memasukkan satu persatu sample makanan yang berada diatas meja. Terutama ia memisahkan makanan yang bekas bulan makan.


Lantas ia mengobrak-abrik tong sampah yang berada diarea dapur, Langit tidak mendapatkan apa-apa, langkahnya kini membawa ke tempat sampah yang berada diare luar rumah. Lelaki itu tak jijik mengobrak-abrik tempat sampah itu persis seperti pemulung.


Langit memicingkan mata kala melihat kemasan yang sudah tercampur dengan bekas makanan sampah. Ia meraih kemasan tersebut lalu ia meraihnya menggunakan sarung tangan dari plastik.


*****


Tak hanya itu Langit pun meminta pada seseorang agar memeriksa jejak sidik jari yang tertempel pada kemasan bekas sianida itu.


Setelah dirinya menunggu waktu yang cukup lama, keluar sudah semua hasil penelitian nya tak hanya itu orang suruhannya pun sudah memberi tahu tentang CCTV yang menyorot diarea jalan komplek rumah bulan.


"Halo bos CCTV berhasil diidentifikasi" lapor orang suruhan langit diseberang sana.


"Kirim ke ponsel saya sekarang" titah Langit, sebagai orang berharta tentu saja memudahkan apa saja yang akan dilakukan.


*******

__ADS_1


Didalam rumah sakit tak disangka bintang, Alda dan juga Erik pun turut datang ingin mengetahui kondisi dan keadaan bulan. Saat Naya melihat adanya bintang datang. Ia langsung bangkit entah kenapa hanya melihat bintang saja rasanya begitu teramat membahagiakan cinta memang gila.


Namun alih-alih merespon Naya bintang malah melewatinya begitu saja, sakit sekat dua perasaan yang kembali mencuat saat bintang memperlakukan nya seperti itu. Tak tahukah dia jika Naya benar-benar sudah mencintai nya lebih dari apapun.


"Dimas gimana sama bulan dia baik-baik saja kan?" Tanya Alda kini ketiganya sudah masuk kedalam ruangan bulan. Nampaknya gadis itu belum mau membuka mata.


"Belum da, mungkin sebentar lagi" jelasnya. Bintang menatap bulan yang tengah berbaring lemah.


*****


Kaki Langit berjalan dengan langkah lebar, nafasnya naik turun rahangnya mengatup kuat, sudah pasti jika saat ini lelaki itu tengah marah mata nya yang tajam seakan mampu mencabik-cabik seseorang yang menatapnya.


Langit berjalan melewati Naya yang sedang duduk menyendiri ia sempat diam berdiri sejenak tanpa menatapnya, lalu ia kembali melangkahkan lagi kakinya menuju kamar rawat inap tunangannya, akan tetapi hal yang sedang dilihatnya membuat dadanya berkobar, tanpa berlama-lama lagi Langit langsung mencengkram kerah baju bintang yang kini sedang duduk disamping ranjang bulan yang belum juga Sadarkan diri.


Buughhhh buuggghh bintang langsung terhuyung jatuh tersungkur setelah mendapatkan tinjuan kuat yang dilayangkan Langit ke pipinya.


"Gue udah bilang kemarin, itu terakhir kalinya Lo ketemu atau interaksi lagi sama bulan, dan sekarang gue harus liat sikap menjijikkan Lo menyentuh tangan tunangan gue, Lo pikir gue akan diam aja!!" Desis Langit bernada Tajam sorot matanya pun tak kalah tajam.


Bintang meludah merasakan cairan asin yang merembes disudut bibirnya, bibirnya robek akibat pukulan Langit, laki-laki itu berdiri tertatih selanjutnya terkekeh seakan mengejek langit yang tengah menatapnya tajam.


"Gue kenal bulan jauh sebelum Lo datang di hidupnya, kita itu saling mencintai bahkan gue bisa tau kalau rasa cinta bulan jauh lebih besar buat gue ketimbang lo, gue curiga Lo itu hanya pelarian bulan, gue sangat tahu sifat dan karakter bulan karena gue kenal dia dari dia kecil" ucap bintang dengan percaya dirinya, entah apa maksud laki-laki itu mengatakan hal demikian. Yang pastinya ucapan bintang mampu membuat kobaran amarah didada Langit makin membesar.


Dia kembali mencengkram kerah baju bintang, menatap nya tajam sangat tajam bagai belati yang siap menerjang lawan.


"Lo emang lebih dulu kenal bulan jauh sebelum gue datang dikehidupan nya, tapi yang harus Lo tahu. Gue berhasil menjaga perasaan dan hatinya gue senantiasa mengucuri bulan dengan rasa cinta yang begitu melimpah, dan terbukti kan bulan he is mine" langit berujar bangga. Membuat bintang yang balik mengatupkan rahangnya.


"Pergi Lo dari sini, peringatan gue yang kemarin masih berlaku, stop coba-coba deketin bulan" tanpa berlama-lama lagi bintang memilih pergi sembari memegangi rahangnya yang terasa sakit akibat ditinju oleh Langit.

__ADS_1


Langit Menghela nafas lalu membuang nya kasar melalui mulutnya, mendekati bulan dan duduk dibangku samping ranjang gadis itu yang belum juga membuka mata. Langit meraih satu tangan bulan menempelkan bibirnya pada punggung tangan tunangan nya, ditatapnya lekat-lekat wajah teduh itu. Tanpa melepaskan kecupan dipunggung tangan bulan.


Bersambung. .


__ADS_2