Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 61


__ADS_3

Happy reading ✓


Yuni. Wanita paruh baya itu terlihat sembab ia meratapi putrinya yang kini menjadi pasien disalah satu rumah sakit jiwa, tak hanya itu bahkan Kanaya terpaksa harus di ikat kaki dan tangannya, hal itu dikarenakan tindakan Naya yang sangat membahayakan dirinya maupun orang lain. Gadis itu tak segan-segan untuk mencelakai orang yang dilihatnya.


Yuni setia berada didepan ruangan putrinya, sesekali ia akan memejamkan mata kala Naya yang akan menjerit histeris meminta agar jerat tali yang mengikatnya dilepaskan.


Akan tetapi Yuni tak bisa berbuat apa-apa, mengingat juga memang kondisi Kanaya yang tidak stabil. Ia hanya bisa menangis melihat anak kebanggaan nya yang sudah menjelma menjadi ODGJ orang dengan gangguan jiwa.


****


SATU MINGGU KEMUDIAN


Satu Minggu lalu Langit dan bulan kembali mengutarakan kepada masing-masing orang tuanya ingin melangsungkan pernikahan. Hal itu disambut sangat baik oleh Miranda dan juga Edwar karena kedua pasangan suami-istri itu memang dari dulu menyarankan agar menikah saja, tapi permintaan nya kala itu masih ditolak, dan saat ini lah hari itu tiba anak-anak mereka dengan sadar mengatakan ingin segera melangsungkan pernikahan itu.


Orang yang paling antusias adalah Miranda. Seperti biasa ia sudah rempong meminta bulan untuk menentukan jenis dan tema apa yang di inginkan saat pernikahan nanti. Jujur saja bulan sendiri tidak terlalu ingin ribet ia tipe perempuan yang tak suka banyak memilih untuk urusan hal-hal semacam itu.


Karena bulan sendiri tidak terlalu paham, menurutnya bukan bulan banget yang suka dengan pemilihan decoration atau apalah itu. Maka Dari itu bulan menyerahkan sepenuhnya pada calon mertuanya itu. Toh lagipula pihak Langit yang akan membayarnya.


Bulan mempercayakan semua urusannya pada Miranda. Siapa yang meragukan selera wanita itu sudah pasti Miranda akan memilih dengan seleranya, yang sudah pasti penuh kemewahan dan juga luxury kelas atas.


Disisi lain Dimas pun akhirnya mengikhlaskan untuk bulan membina rumah tangga. Awalnya Dimas merasa keinginan bulan yang akan menikah terlalu terburu-buru, tapi apa boleh dikata semua sudah kehendaknya. Yang harus ia lakukan hanyalah memberi doa dan support.


*


*


*


💖💖💖💖


"Gila lan Lo cantik banget sumpah, ini beneran Lo apa bidadari sih" kata pretty memuji.


"Bisa aja Lo pret, Lo berdua juga cantik banget" puji balik bulan pada pretty dan Anita.


Kedua sahabatnya itu diminta menjadi pengiring pengantin, Anita dan pretty baru saja masuk kedalam kamar hotel berbintang dimana tempat diselenggarakannya acara pernikahan bulan dan Langit.


"Pret nit sumpah gue gugup banget" keluh bulan sesekali akan mengigit bibirnya.

__ADS_1


"Gila tangan Lo dingin banget Lan" ujar Anita yang kini menggenggam telapak tangan bulan.


"Tenang lan lo harus tenang. Dengerin gue anggap aja digedung ini nggak ada siapapun. Hanya ada Lo dan langit aja oke"


"Huuuff" bulan menghembuskan nafas mencoba trik yang disarankan pretty. Kini mereka bertiga sudah selesai ber-make up. Tinggal menunggu aba-aba dari seseorang meminta nya untuk turun.


Karena saat ini Langit sedang berhadapan didepan penghulu. Mengucapkan sumpah suci janji pernikahan.


"Ko gue makin deg-degan yah" ucapnya lagi. Menggenggam kuat tangan pretty dan juga Anita. Menunggu seseorang kali ini menurut bulan adalah hal yang mampu menggetarkan otot dan sendi nya.


Benar saja Alda masuk kedalam kamar hotel dimana ada tiga wanita yang menunggu, Alda perlahan masuk kedalam kamar itu tersenyum lembut pada bulan.


"Kamu cantik banget sayang, bunda nggak nyangka bayi kecil ini kini sudah tumbuh besar dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Selamat yah sayang, sekarang suami kamu udah nungguin dibawah, ayo turun" bunda Alda berucap penuh ketulusan, rasanya bulan ingin sekali menitikkan air matanya. Namun sebisa mungkin ia tahan.


"Bun terimakasih aku pengen peluk bunda" keduanya pun akhirnya saling memeluk, bulan merasa suhu tubuhnya menghangat kala merasakan lembutnya pelukan bunda Alda, wanita yang paling ia sayang setelah almarhumah Dewi ibunya.


Bulan akhirnya tak kuasa menahan tangisnya, entah kenapa ia merasa sedih mendadak ingatan memorinya kembali ke masa lampau. Dimana Alda begitu menyayanginya


"Ssshh udah jangan nangis, nanti makeup mu luntur. Cepat keluar yah bunda duluan" ucapnya lalu Alda memilih pergi terlebih dahulu.



Membuat semua mata terpana. Apa lagi Langit yang tak mau berkedip kala memandangi bulan yang sudah sah menjadi istrinya saat ini.


"Inget Lo anggap disini nggak ada siapapun, hanya ada Lo dan Langit" bulan kembali fokus, sugesti dari pretty Nampaknya manjur terbukti dengan ia yang hanya menatap langit dibawah sana yang tengah menunggu dirinya. Bibir Langit senantiasa tersenyum merekah. Tak ada yang membahagiakan selain moments-moments seperti ini.


"Anjir cakep amat tuh bini Lo" bisik Darren Yang berdiri disamping Langit.


"Lo kalau udah nggak mau sama dia lagi kasih gue ya hihihi" canda Darren, sengaja menggoda sahabatnya.


"Gue bunuh Lo" sengit langit tanpa menoleh kearah sahabatnya. Darren langsung menjulurkan lidah kesal.


Disisi lain bulan pun tersenyum hangat atensinya tak berpaling pada siapapun hanya pada Langit semata.


" Liat tuh laki Lo Ampe ileran gitu ngeliatin nya" ujar pretty. Yang membantu bulan menuruni tiap undakan tangga.


Setelah sudah sampai bawah. Langit langsung berjalan mendekati bulan. Sementara pretty dan Anita langsung mundur membiarkan pengantin wanita dijemput oleh suaminya. Langit dan bulan berjalan menuju singgasana mereka, sebuah pelaminan yang amat teramat megah Miranda memang tidak kaleng-kaleng jika urusan kemewahan.

__ADS_1


****


Acara pernikahan antara Langit dan bulan begitu sangat meriah. Banyak tamu penting yang hadir , jika saat acara pertunangan bulan dan bintang dulu sudah meriah dan banyak dihadiri oleh tamu penting. Acara kali ini dua kali lipat lebih meriah Hedon. Bahkan tamu penting Oun semua turut hadir.


Begitu juga teman-teman kedua mempelai. Bahkan teman seangkatan nya dikampus diundang semua tak terkecuali. Senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir pasangan pengantin itu. Menyambut tamu yang akan mengucapkan selamat kepada mereka.


Kini giliran tiba teman-teman mereka yang naik keatas pelaminan. Mereka semua sengaja untuk naik belakangan. Membiarkan para tamu dulu dan setelah tamu selesai barulah mereka yang naik. Bermaksud agar mereka bisa leluasa.


Mereka semua satu persatu mengucap selamat untuk pasangan pengantin ini. Ada Niko, Ares, Darren, Bram, Anita , pretty, Audrey, serta Marko pacar Audrey. Diam-diam bulan memperhatikan sekeliling, ia mencari keberadaan bintang dan Reo yang belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Res Lo ngeliat reo nggak" tanya bulan, ia sebenarnya ingin menanyakan bintang, tapi ia tidak enak dengan suaminya takutnya salah paham. Makanya ia hanya menanyakan Reo.


Ares langsung mendekati bulan " terakhir gue liat Reo pas langit mau ijab qobul, nggak tau kenapa gue ngeliat reo ko kaya yang mencurigakan yah gerak geriknya, kaya mau rencanakan sesuatu " beritahu Ares, berbisik pada bulan. Sedangkan Langit tengah berbincang dengan Audrey dan juga Marko.


Bulan mencoba tidak mau ambil pusing dengan laporan dari Ares. Toh ia tahu betul siapa Reo.


*****


"Lang kaki aku sakit banget, pegel lima jam berdiri pake high heels" beritahu nya, kini mereka hanya berdua masih duduk dibangku pelaminan, sedangkan semua tamu sudah pulang begitu juga dengan teman-teman mereka.


"Coba mana aku Lihat!" Langit meraih kaki bulan menaruhnya dipangkuan pria itu. Benar saja kaki bulan terlihat merah kebiruan.


"Ya ampun sayang, kaki kamu sampe memar gini, lagian bandel sih udah tahu bikin sakit masih aja dipake, nanti aku bakar aja sepatu itu" kesal Langit, tangan nya memijat pelan kaki bulan yang bengkak.


"Ih jangan dibakar sayang tau harganya mahal" peringat perempuan itu.


"Aku nggak perduli. Sesuatu yang bikin kamu terluka akan aku musnahkan" tukasnya, bulan terkekeh mendengar nya. Suaminya ini memanglah tipe pria berlebihan.


"Nanti malam kamu siap kan" tanya Langit tiba-tiba. Glek bulan meneguk Saliva nya susah payah, ia paham betul kemana arah pertanyaan suaminya itu. Mendadak ia merasa gugup Jantung nya pun berdebar tidak karuan. Menyadari istrinya yang tengah menahan grogi, langit terkekeh meraih punggung tangan bulan dan mencium nya.


*****


"Kamu masuk duluan yah, mandi yang wangi nanti aku nyusul, aku mau ketemu sama kerabat dari pihak papi dulu, tadi papi minta aku buat nemuin" bulan pun mengangguk. Dirinya langsung masuk kedalam kamar yang memang masih berada di hotel tersebut. Kamar khusus pengantin. Dihias sedemikian rupa.


Baru saja bulan melangkah masuk dan akan bergegas mandi. Lampu kamarnya padam, suasana menjadi gelap gulita. " Aaakkhhh mmmpphh" bulan berontak kala mulutnya ada yang membekap. Lalu selanjutnya ia tak sadarkan diri jatuh terkulai.


Bersambung. .

__ADS_1


__ADS_2