
Gadis berbaju biru yang didorong itu mengucapkan terima kasih namun tertahan ucapannya setelah melihat ke wajah Bintang, “Terima ka …. Hah? Kamu?!?”
“Pak Bintang … kok ada disini?” tanya Bulan pada Bintang.
“Hmm … a … a … aku ada urusan kerja disini. Kamu kok ada disini?” tanya Bintang sambil gugup.
“Oh, anu … itu … saya bersama sepupu, berkunjung ke rumah orang tuanya. Pak Bintang sendirian?” ucap Bulan.
“Apa pedulimu aku dengan siapa kesini?,” tanya Bintang dengan ketus.
Bulan sedang membeli batagor
“Jika bapak tidak mau menjawab juga tidak apa-apa, saya juga tidak meraa rugi kok.” Bulan berbicara sambil menaikkan bibirnya ke atas.
“Terima kasih pak, sudah bantu saya tadi,” ujar Bulan sambil menyodorkan tangannya akan bersalaman.
“Oke, anggap saja kau berhutang padaku,” ucap Bintang tanpa menyambut jabat tangan dari Bulan.
“Maksud bapak apa ya?” tanya Bulan tidak mengerti.
“Jika suatu saat aku butuh bantuanmu, kamu harus membantuku,” jawab Bintang sambil pergi meninggalkan Bulan.
“Yaa dia malah pergi begitu saja, minta imbalan juga, ah, biarkan saja lah aku tidak peduli sama dia. Masih saja sombong dan dingin,” gerutu Bulan sambil membawa batagor yang dibungkus dan pergi meninggalkan tempat Mang Didin menuu ke tempat Dina yang menunggu di parkiran motor.
Arda yang baru datang dari membeli rokok mendekati Bintang, “Lho, kok kamu ngga antri disana Bro ?” tanya Arda. Pada Bintang.
“Males ah, aku sudah tidak ingin lagi,” jawab Bintang sambil mencari-cari restoran terdekat.
“Ada apa sih, kenapa mukamu kusut begitu? “Arda bertanya heran pada sahabatnya.
“Tidak apa-apa, yuk kita cari makan di restoran saja !” jawab Bintang tanpa menceritakan yang baru saja dia temui di tempat batagor.
“Baiklah pak Direktur, apa sih yang tidak untuk Anda ?” ucap Arda sambil bercanda dengan membungkukkan badannya tepat di depan Bintang.
Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju restoran yang menyuguhkan menu makanan khas Sunda.
***
Malam hari sudah tiba, udara dingin sudah menyelimuti kota Bandung. Bulan memakai jaket saat duduk di teras rumah Pak Bambang sambil memainkan ponselnya. Dia sedang mendengarkan lagu dari ponselnya sambil makan batagor yang tadi dia beli di alun-alu kota Bandung.
“Dek, di luar dingin lho hawanya, masuk ke dalam saja sini !” teriak Dina dari dalam rumah.
“Nanti saja mbak Dina, aku ingin menikmati udara malam sebentar dulu,” jawab Bulan sambil mengunyah makanan.
Pak Bambang menuju teras sambil membawa segelas kopi diikuti langkah Dina di belakangnya. Mereka duduk di dekat Bulan sambil mengobrol apa saja tentang keluarga besar mereka. Sedangkan Bu Lilis masih menghadiri pengajian ibu-ibu majelis taklim di aula kelurahan.
Tak berapa lama tiba-tiba terdengar mobil berhenti di tepi jalan raya persis depan rumah Pak Bambang. Mobil itu sepertinya sedang mogok tidak bisa distarter.
Pak Bambang beranjak dari kursi dan pergi menuju ke depan rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan mobil tadi. Apa salanya Pak Bambang membantu pemilik mobil jika diperlukan nanti.
__ADS_1
“Ada masalah apa Nak dengan mobilnya ?” tanya Pak Bambang pada salah satu orang yang sedang berdiri di depan kap mesin mobilnya.
“Kurang tahu juga pak, mobil saya distarter tapi tidak mau nyala. Sedangkan peralatan mekanik ketinggalan tidak terbawa, mau ke bengkel tapi sudah malam pasti tidak ada yang buka,” ucap pemilik mobil dengan wajah cemas.
“ Oh begitu ya. Bapak sih punya beberapa peralatan mekanik dan bisa memperbaiki mobil, tapi kalau malam begini penglihatan bapak sudah agak kabur Nak. Tujuannya mau kemana?” Pak Bambang bertanya lagi pada pemilik mobil.
“Kami akan kembali ke Jakarta Pak,” jawab pemilik mobil.
“Wah, jauh juga ya. Kalau boleh bapak punya saran, bagaimana kalau malam ini kalian menginap dulu di rumah bapak, apalagi waktu sudah menunjukkan jam 10 malam Nak. Bapak percaya dari penampilan kalian ini orang-orang yang baik, besok pagi-pagi bapak akan bantu perbaiki mobil kalian. Bagaimana Nak ?” Pak Bambang mencoba memberikan solusi pada orang yang baru dikenalnya itu.
“Baiklah Pak, jika tidak merepotkan bapak dan keluarga, “ jawab salah satu dari mereka.
“O iya, kenalkan Nak. Saya Pak Bambang.”
“Nama saya Arda, dan ini teman saya namanya Bintang,” ucap Arda sambil mengulurkan tangannya berjabat tangan mengenalkan diri pada Pak Bambang, diikuti oleh Bintang.
“Nak Arda, Nak Bintang, ayo silahkan masuk ke dalam rumah bapak. Tapi maaf ya, di rumah bapak hanya ada dua kamar, kamar depan dipakai bapak dan istri, sedangkan kamar belakang dipakai anak bapak. Jadi kalian tidurnya di ruang tamu tidak apa-apa kan Nak ?” jelas pak Bambang pada Arda dan Bintang.
“Oh tidak masalah pak, mohon maaf kami jadi merepotkan pak Bambang dan keluarga, “ucap Arda.
“Tidak Nak, tidak merepotkan.” Pak Bambang menuju ke dalam rumah diikuti ole Arda dan Bintang.
“Bu, Bu … ada tamu, tolong buatkan minuman kopi dua gelas ya, “ kata pak Bambang pada istrinya yang sudah pulang dari pengajian. Sedangkan Dina dan Bulan sudah tidur di kamar.
“Ini kopinya, silahkan diminum Nak,” ucap Bu Lilis sambil meletakkan dua gelas kopi ke atas meja.
“Terima kasih bu, wah, jadi merepotkan,” kata Arda dengan memperlihatkan senyumnya.
“Ya sudah nak Arda dan Nak Bintang, silakan istirahat ya malam ini. Bapak dan ibu mau pamit tidur juga,” ucap Pak Bambang sambil memberikan dua bantal pada mereka.
Arda dan Bintang pun akhirnya merebahkan badannya di atas permadani depan TV di ruang tamu, tak berapa lama mereka pun terlelap.
Keesokan harinya, pukul 6 pagi Bulan dan Dina akan ikut Bu Lilis ke pasar untuk belanja sayur dan oleh-oleh untuk dibawa Bulan dan Dina kembali ke Jakarta nanti sore. Jarak pasar dari rumah tidak jauh, jadi mereka cukup berjalan kaki saja lewat pintu belakang yang menghubungkan ke jalan menuju pasar.
Bintang dan Arda baru bangun dari tidurnya, lalu mereka menuju halaman depan rumah. Pak Bambang tampak sedang memperbaiki mobil Arda yang semalam mogok. Arda mendekatinya untuk melihat kondisi mobilnya, sedangkan Bintang duduk di kursi yang ada di teras rumah sambil membuka ponselnya. Ada tujuh panggilan terlihat di ponselnya dari mamanya.
Bintang kemudian menelpon mamanya, mungkin mamanya khawatir karena Bintang belum pulang ke rumah.
“Hallo Ma, ada apa Ma ?” tanya Bintang pada mamanya melalui ponselnya.
“Bin, kamu dimana sayang ? kenapa belum pulang juga ?” mamanya ganti bertanya pada Bintang.
“Semalam mobil Arda mogok Ma, sekarang aku dan Arda masih di Bandung. Nanti siang kami pulang kembali ke Jakarta. Mama jangan khawatir ya, aku baik-baik saja,” jawab Bintang menenangkan hati mamanya.
“Ya sudah, kamu hati-hati ya Bin,” kata Bu Ines.
“Iya, Ma,” jawab Bintang kemudian mematikan ponselnya.
Arda terlihat senang sekarang karena mobilnya sudah bisa menyala lagi setelah diperbaiki oleh pak Bambang.
“Alhamdulillah, sudah selesai Nak Arda,” ucap Pak Bambang sambil tersenyum pada Arda.
“Terima Kasih ya Pak atas bantuannya” kata Arda sambil bersorak senang.
__ADS_1
“Nak Arda dan Nak Bintang, pulangnya nanti siang saja ya. Karena istri saya sedang belanja ke pasar. Nak Arda dan Nak Bintang harus ikut makan bersama kami sebelum kalian pulang, “ kata pak Bambang kemudian menuju ke ruang dalam menyimpan peralatan mekaniknya.
Arda dan Bintang menganggukkan kepalanya pada pak Bambang.
Kemudian mereka berdua menuju ke dalam rumah untuk mengantri mandi, karena kamar mandi pak Bambang hanya ada satu.
Bu Lilis, Dina dan Bulan akhirnya datang dari pasar, mereka lewat pintu belakang langsung menuju dapur dan mulai untuk masak.
“Bude, belanjanya banyak sekali, seperti mau ada tamu datang saja,” kata Bulan pada bu Lilis sambil membantu mengupas bawang.
“Kan hari ini memang orangnya banyak di rumah, jadi Bude belanjanya juga banyak Lan,” jawab bu Lilis sambil mencuci daging ayam yang tadi dibelinya.
Bulan mendengarkan kata-kata bu Lilis baru saja sambil berpikir mungkin kalau empat orang itu bagi budenya sudah banyak karena biasanya yang di rumah ini hanya ada dua orang. Bulan memang belum tau jika Andra dan Bintang ada di rumah itu, sedangkan Dina terlihat sibuk memasak nasi.
Kurang lebih satu jam mereka menyelesaikan masakannya dan segera dihidangkan di atas meja makan. Tampak banyak menu makanan hari ini, ada ayam goreng, sayur asam, tempe goreng, tahu goreng, ikan kembung bumbu balado dan sambal terasi.
Pak Bambang membawa dua kursi lagi ke meja makan, karena di ruang makan memang hanya ada empat kursi yang tersedia.
Bulan tampak bingung mengapa pak Bambang menambah dua kursi lagi, “Pakde, dua kursi lagi untuk siapa? Bukannya kita ada empat orang,” tanya Bulan penasaran.
“Lho, Bulan belum tahu ya, semalam kita kedatangan tamu jadi sekarang kita ajak sarapan bersama,” ucap Pak Bambang menjelakan pada Bulan.
Kemudian Pak Bambang menuju ke ruang tamu memanggil Bintang dan Arda untuk sarapan. Bintang dan Arda mengikuti langkah pak Bambang menuju ke ruang makan.
“Nak Bintang, Nak Arda, ayo silahkan sarapan dulu. Maaf ya kalau hidangannya kurang berkenan buat kalian,” kata pak Bambang mengajak duduk Bintang dan Arda.
Setelah Bintang dan Arda duduk mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, ternyata ada dua gadis duduk di sebelah kursi bu Lilis.
“Oh iya, itu anak kami yang duduk di sebelah istri saya, namanya Dina. Sedangkan di sebelah Dina itu keponakan kami, namanya Bulan,” ucap Pak Bambang memperkenalkan Dina dan Bulan pada Bintang dan Arda.
Bintang dan Arda tampak terkejut saat pandangannya menuju ke arah Bulan,begitu juga dengan Bulan.
“Hah? Kamu ada disini ?” tanya Bintang pada Bulan sambil menunjukkan sorotan tajam karena terkejut.
“Bulan ya, apa benar kamu Bulan karyawan Mahardhika Grup ?” tanya Arda juga pada Bulan.
“Eh, lho, mengapa bapak-bapak bisa disini ?” tanya Bulan balik pada kedua atasannya itu.
Pak Bambang, Bu Lilis dan Dina yang sekarang jadi ikutan bingung karena ternyta Bulan kenal dengan kedua tamunya.
“ Bulan, kamu kenal dengan mereka ?” tanya Pak Bambang pada Bulan.
“Iya Pakde, mereka atasan Bulan di kantor,” jawab Bulan sambil menundukkan pandangannya.
‘Duh, kenapa mereka ada disini sih, apa hubungan pakde dengan mereka ya?’ tanya Bulan dalam hati masih dalam kebingungan.
“Wah, kami tidak menduga kalau kalian bekerja pada satu kantor. Ya sudah, ngobrolnya kita lanjutkan lagi nanti, sekarang kita makan dulu yuk, “ ucap bu Lilis sambil mengambilkan nasi dan lauk di atas piring suaminya.
Akhirnya mereka pun makan bersama dengan obrolan yang hangat dan diselingi candaan oleh Arda yang memang suka bercanda sehari-harinya.
Tanpa sepengetahuan yang lainnya, Bintang dan Bulan sering mencuri pandang meskipun saat kedua netra mereka saling bertatap keduanya mangalihkan pandangan ke arah lain, sedangkan Bulan menundukkan pandangannya dan wajahnya merona merah setiap dipandang oleh Bintang.
####################
__ADS_1
Semoga kalian suka dengan ceritaku ini ya teman-teman. Terima kasih author ucapkan bagi kalian yang sudah mampir membaca cerita ini.