Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
chapter. 37


__ADS_3

Happy reading ✓


Bulir air bening terus mengalir menjalar di pipi mulus Kanaya. Gadis cantik itu menangis tanpa suara hanya ada lelehan air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.


Ia memutuskan menjauh dari hingar bingar keramaian pesta prom night yang belum usai. Merasakan sakit dan sesak begitu menyiksa, seusai melihat adegan antara bulan dan bintang yang begitu romantis.


"Nih ambil usap air mata kamu" sebuah tangan terulur menggenggam beberapa lembar tissue. Naya mendongak melihat siapa orang yang memberikan tissue tersebut. Ternyata Reo


Ia buru-buru mengusap air matanya menggunakan kelima jari jemarinya, mengabaikan seonggok tissue yang tadi Reo tawarkan. Gadis itu langsung berdiri menghadap Reo. Sedangkan Reo meremas tissue tadi yang tidak Naya terima menjadi sebuah bulatan mirip bola.


"Jangan terlalu diambil hati nggak baik untuk kesehatan kamu" titah Reo dengan ramah. Karena Reo sendiri tahu, sangat tidak diperkenankan jika Naya terlalu menerima tekanan pada hati dan pikirannya. Karena takut berdampak pada kesehatan nya.


"Terimakasih" ucap Kanaya tersenyum dengan sisa-sisa air mata yang masih ada. Setelahnya Reo pun pamit untuk kembali pada acara lagi.


Kanaya masih diam tak bergeming. Dari kejauhan tempatnya berdiri, melihat kearah kerumunan yang masih bersorak Sorai dengan aksi bulan dan bintang yang begitu membuat kagum. Menyaksikan itu Kanaya tersenyum getir


"Sorry bulan, ini terakhir kalinya kamu bisa seintens itu sama bintang. Karena setelah ini aku nggak akan ngebiarin itu terjadi lagi, bintang milik ku" gumam Naya seorang diri


*****


"Wow Daebak kalian keren banget, super romantis" pekik beberapa remaja perempuan yang nampak baper dengan pertunjukan didepannya.


"Serasi banget anjir kalian" suara-suara seruan dari peserta yang hadir menyuarakan kata-kata pujian. Namun ada juga yang berkomentar kontra dengan aksi mereka berdua.

__ADS_1


"Ih itu mereka ko kaya menikmati yah, mereka apa nggak mikirin Naya!!" Ucap beberapa dari mereka bisik-bisik sengit.


"Nggak cocok , bintang paling pas sama Kanaya doang!!" Seruan-seruan nyinyir bisa dengan jelas didengar oleh telinga bulan maupun bintang.


Sudah dipastikan orang-orang yang nyinyir itu adalah, orang yang memang dari awal sudah geram dengan bulan. Mereka belum bisa melupakan tentang insiden jatuhnya Kanaya yang diakibatkan oleh bulan.


Dari situlah sebagian siswa-siswi masih beranggapan, kalau bulan adalah sosok yang tidak pas untuk bintang, jauh lebih cocok dengan Kanaya cantik, pintar, baik paket komplit.


"Oke adik-adikku semuanya. Saya ucapkan terimakasih bagi kalian yang sudah berpartisipasi mengikuti permainan exchange partner. Nah sesuai perjanjian kita akan mengumumkan pemenang prom night malam ini"


Semua menyimak dengan seksama. Banyak yang berharap dirinya lah sebagai pemenang. Sorak Sorai kembali menggema seolah tidak sabar untuk segera diumumkan.


"Dan pemenangnya adalah....."


Disisi lain bulan dan bintang saling menatap satu Sama lain. Namun masih dengan raut wajah keki. Tidak ada senyum atau tawa selayaknya seorang pemenang. Keduanya digiring untuk maju keatas panggung untuk acara serah terima hadiah yang para MC dan dewan juri berikan.


Bulan dan bintang saling melempar senyum pada juri yang memberikan masing-masing bingkisan untuk bulan dan bintang terima. Bingkisan berisikan coklat, bunga, dan sepasang gelang couple yang terlihat aesthetic.


****


SATU MINGGU KEMUDIAN


Pagi ini keluarga Dimas sedang sarapan pagi, bulan dan Naya pun ada tak bisa dipungkiri ini kali pertama setelah sekian lama Keluarga itu bisa kembali menikmati sarapan bersama-sama, kalau sebelumnya banyak drama atau penolakan, namun tidak kali ini mereka bisa merasakan itu.

__ADS_1


"Jadi gimana bulan Kamu sudah ada wacana kampus mana yang akan kamu pilih?" Tanya Dimas disela-sela suapan makanan nya


"Udah pa, rencana aku pengen masuk UI aja" jawab bulan.


"Wah bagus itu semoga keterima yah nak" kata Yuni tersenyum tulus. Terlihat Naya masih diam. Tidak berekspresi apapun.


"Kamu yakin Naya mau ambil beasiswa itu?" Ki ini Dimas bertanya pada putri satunya lagi.


Bulan tidak menanggapi ia seolah tidak minat dengan obrolan antara papa dan saudarinya. Dirinya lebih memilih kembali menikmati makanan nya.


"Iya pa aku udah yakin mau ambil beasiswa itu. Karena bintang juga ambil beasiswa itu. Untung nya kita satu kampus jadi nggakpapa kan pa kan ada bintang" jelas Naya, gadis itu sengaja berbicara dengan suara keras berharap agar bulan dengar.


"Tapi Naya mama ko berat yah lepasin kamu kuliah jauh ke Inggris. Tapi nggakpapa deh mama coba akan ikhlas toh ada bintang ini kan yang akan jagain kamu, mama bisa lega" ucap Yuni berat hati


Dimas terkekeh "kamu tuh aneh Yun, Naya mau kuliah bukan mau perang ngapain ngerasa berat segala" ucap Dimas masih dengan kekehan nya.


Bulan mendadak berhenti mengunyah setelah dirinya mendengar kan apa yang baru saja terlontar dari mulut Kanaya. Dirinya nggak salah dengarkan, tadi Kanaya bilang dia dan bintang dapat beasiswa di universitas yang sama di inggris.


Sungguh rasanya sulit untuk dipercaya, sontak bulan merasa gusar ia menggigit bibir dalamnya kuat. Itu artinya ia dan bintang akan makin jauh. Ia sekilas melirik kearah Naya yang ternyata sudah menatapnya balik dengan tatapan datar.


Ini tidak bisa dibiarkan bulan harus menemui bintang. Kenapa dirinya tidak pernah cerita tentang hal ini. Dan kenapa bulan menerima tawaran itu apa dia tidak memikirkan dirinya. Ya bukan sadar dengan sikap dan pikirannya barusan, menggambarkan sekali dia orang yang egois lagi pula siapa dirinya yang akan melarang bintang. Ia sama sekali tidak ada hal untuk itu.


Namun tetap saja didalam hati kecil bulan. Ia ingin sekali melarang lelaki itu pergi. Bulan mendadak kehilangan nafsu makannya. Ia langsung memilih bergi dari meja makan dan naik keatas menuju kamarnya. Padahal nasi gorengnya masih sisa banyak diatas piring. Kanaya tersenyum tipis melihat menatap kepergian bulan.

__ADS_1


Bersambung. .


__ADS_2