Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 49


__ADS_3

Happy reading ✓


Bulan dan Langit sudah menentukan menu yang ia mau, selanjutnya pegawai yang mencatat pesanan nya izin pamit dengan senyum ramah, tak lama makanan Mereka pun sudah disajikan diatas meja. Keduanya menikmati makanan itu penuh selera.


"Aaa" pinta langit menyodorkan satu sendok makanan kedepan mulut bulan, gadis itu menurut ia membuka mulutnya menerima suapan dari langit. Iapun akhirnya melakukan hal yang sama memberikan suapan ke mulut Langit.


Namun tak diduga ditengah-tengah mereka yang sedang makan Ternyata ada ada tiga orang yang menghampiri mejanya, bulan kaget kala atensinya melihat ada Niko, Ares dan juga Anita.


"Widih apa kabar Lo lan kebetulan banget yah kita ketemu disini" ucap Niko sumringah merasa bahagia bertemu sahabatnya. Akhirnya kegiatan makan bulan dan langit harus terganggu dengan kedatangan tiga Sahabatnya itu. Mereka ikut duduk dimeja yang sama.


"Ekhem siapa nih lan" tanya Niko mengarah pada cowok yang duduk bersebelahan dengan bulan, bulan meringis dan akhirnya.


"Kenalin gue Langit pacarnya bulan dan satu kampus juga" ucap langit memperkenalkan diri dengan embel-embel memberitahu bahwasanya dia pacar bulan.


"Oh hai juga gue Niko sahabat bulan waktu SMA"


"Hai juga gue Ares sahabat bulan"


"Gue Anita teman bulan juga waktu SMA"


Mereka saling berkenalan dengan baik. Saling bertanya-tanya banyak hal satu sama lain, dari masalah keluarga, kuliah dan juga saling tanya tujuan mereka datang ketempat itu.


"Res, nit Lo berdua nggak ngerasa risih kemana-mana diikutin sama laler jomblo" kata bulan semuanya.


"Bukan risih lagi lan, gue merasa manusia paling terbebani di dunia karena setiap hari harus melihat orang paling nggak berguna di dunia ini " tandas Ares sekenanya.


"Hahahaha " yang lain terbahak kecuali Niko yang langsung mengerucutkan bibirnya.


"Kampret Lo" sergah Niko yang langsung melemparkan botol lada kearah Ares.


"Oh iya lan bintang sering hubungin Lo Nggak? kemarin bintang ngabarin gue katanya dia kangen banget sama Lo titip salam buat Lo" ucap Ares dengan santainya, ia seakan lupa sedang sama siapa bulan saat ini.


"Awww kenapa sih yang" tanya Ares pada Anita Lantaran kaki nya yang diinjak Olehnya, lantas gadis itu berbisik pada sang pacar


"Kamu kalo ngomong suka nggak disaring, ada langit takut salah paham, dodol ih" kata Anita menjelaskan. Ares langsung tersadar otomatis dia meringis merasa tidak enak.


Bulan langsung melirik kearah langit. Ia bisa melihat kalau raut wajah langit yang sudah berubah masam,


"Lan kalau gitu kita bertiga cabut dulu ya. Dah bulan dah Langit" ketiganya langsung pergi begitu saja. Bulan ingin sekali rasanya memberi perhitungan dengan sahabat nya itu. Bisa-bisa nya dia menyebut nama bintang didepan langit. Yah walaupun kenyataannya antara bulan dan bintang tidak ada hubungan apa-apa tapi bulan merasa bersalah pada Langit.


"Pulang yuk" ajak lelaki itu masih dengan wajah masam nya.


"Lang kamu marah?" Tanya bulan memelas.


"Engga" lantas laki-laki itu langsung menuju kasir untuk membayar makanan mereka.

__ADS_1


Kali ini langit tidak menggandeng tangan bulan, hal itu membuat gadis itu semakin gusar ia yakin sekali langit sedang marah.


Saat ini Keduanya sudah berada didalam mobil. Namun posisinya belum berjalan masih diam diarea parkir,


"Lang please jawab kamu marah" tanyanya lagi


"Enggak!! sekarang aku antar pulang yah" kata langit enggan menatap bulan.


"Ko pulang sih" kata bulan keberatan. Langit menatap gadis itu


"Ya pulang lah mau kemana lagi" tanya langit , jelas saja bulan nggak mau pulang Lantaran ia merasa permasalahan dengan sang pacar belum kelar.


"Ya kemana aja yang penting jangan pulang" pintanya lagi. Langit menghembuskan nafasnya


" Ya udah kita kerumah aku" jawabnya


"Apa kerumah kamu!!" Kata bulan kaget


" Iya kenapa aku aja udah kenal sama orang tua kamu" ucap Langit ia mulai melajukan mobilnya menuju kerumahnya.


"Tapi lang aku nggak siap" rengek nya


"Udah jangan bawel" bulan memilih diam. Jujur saat ini ia merasa gugup bagaimana tidak ia akan bertandang kerumah langit dengan pakaian yang terlalu santai. Hanya mengenakan T shirt sama celana jeans panjang sobek bagian lututnya.


"Emang nya kamu kira orang tua aku juri ajang pencarian fashion yang suka mengomentari pakaian orang" jawab langit masih menampilkan wajah masam nya. Bulan mendengus lalu kembali dengan rasa gugupnya.


****


Mobil langit berhenti tepat digerbang yang sangat besar, pintu gerbang bercat black gold itu terbuka dengan sendirinya seakan mempersilahkan langit masuk kedalam.


"Turun" titah langit dengan wajah yang makin kusut. Bulan menurut gadis itu turun dari dalam mobil langit. Bulan langsung terperangah kala melihat bangunan rumah Langit yang begitu megah dan mewah, lebih tepatnya mirip mansion dengan dikelilingi banyak kondominium kecil, gadis itu hanya mampu berkedip pelan speechless dengan apa yang ia lihat saat ini benar-benar diluar ekspektasi nya.


"Kamu ngapain bengong aja disitu, mau jadi patung selamat datang" ujar langit dirinya berjalan terlebih dahulu. Bulan langsung ikut berjalan dibelakangnya.


"Mami aku pulang" ucap langit berteriak saat memanggil ibunya. Bulan kaget lalu ia mencubit lengan lelaki itu. "Aaww" ringis langit menyentuh lengannya yang tadi dicubit


"Jangan teriak ini bukan di hutan" tegur bulan, langit kembali lagi dengan mode masam nya. Bulan kembali merasa tidak enak


"Oh anak mami udah pulang" terlihat lah seorang wanita sangat cantik keluar dari salah satu ruangan. Dandanan nya yang begitu elegan Serta Borjuis


Wanita itu langsung menelisik bulan. Lalu tak lama senyum dari bibirnya langsung merekah "kamu pasti bulan yah" tebaknya, tentu bulan kaget dengan tebakan wanita itu.


"Iya Tante, ko Tante tahu sih hehe?" Jawab bulan tersenyum canggung.


"Pasti tau dong, oh jadi ini yang membuat anak mami tiap hari galau, tau nggak bulan setiap hari nih yah yang dibahas sama langit itu pasti kamu, sampe mami pusing Dengerin nya" jelas wanita itu terkekeh

__ADS_1


"Mamii" rengek Langit merasa ibunya sedang membuka aibnya, ia langsung merobohkan tubuhnya ke atas sofa yang super empuk.


"Saya Miranda mami nya Langit" wanita itu memperkenalkan dirinya. Bulan pun akhirnya meraih tangan Miranda dan menyalaminya . Setelahnya wanita itu langsung membawa bulan untuk masuk keruangan lain, karena Miranda ingin berbincang-bincang hanya berdua dengan gadis itu.


Lagi-lagi bulan terperangah kala melihat interior didalam mansion keluarga langit, begitu sangat mewah dan super megah dengan pajangan guci antik berukuran besar, dan juga kristal yang berderet memenuhi banyak ruangan.


Ternyata bayangan bulan mengenai Miranda salah besar. Ia kira orang tua langit tipe orang tua yang sombong dan angkuh namun hal itu terbantahkan dengan kenyataan nya yang memperlihatkan betapa sosok Miranda adalah orang yang sangat humble, dan ramah ia seakan tidak perduli dengan status bulan yang berbeda dengan nya.


Walaupun bulan tergolong orang mampu. Yah boleh dibilang tidak masuk kategori orang miskin, namun tetap saja jika dibanding dengan keluarga Langit, keluarga bulan tidak ada apa-apanya,


"Bulan, kayaknya langit lagi ngambek deh coba aja kamu bujukin dia. Sekarang tuh anak ada dikamar nya pasti, Tante pusing kalo dia lagi moody begitu " titah Miranda tersenyum.


"Pelayan tolong antar bulan naik kelantai atas yah kekamar Langit" Miranda memerintah salah satu pelayan untuk menunjukan bulan dimana kamar langit.


Pelayan itu terus menuntun bulan dan menaiki lift, lift itu naik menuju lantai 3. "Itu non kamar nya den Langit " beritahu pelayanan tersebut. Bulan mengangguk dan tersenyum.


Bulan Menghela nafas sepenuh dada dan membuang nya perlahan. Lalu satu tangannya membuka handle pintu dan nampaklah langit yang duduk dipinggir ranjang sembari memasang wajah masam nya.


"Lang" panggil bulan berjalan menghampiri langit, lelaki itu menoleh sekilas lalu kembali


Membuang muka. Bulan mendesah pelan selanjutnya ia mengusap lembut kepala langit, lelaki itu masih tak bergeming


"Lang aku minta maaf, kamu marah sama aku" tanyanya, Langit masih diam


"Langit jangan diem ih" rengek nya, namun langit masih saja diam persis orang gagu


"Ck ya udahlah kalau kamu gini terus. Mendingan aku pulang!" Sewot bulan ia langsung berbalik arah ingin pergi. Namun dengan cepat langit mencekal tangannya.


"Ko jadi kamu yang marah sih" kata langit kesal.


"Ya abis aku nya Jadi bingung kalau kamu diem kaya gitu" jelasnya.


"Siapa Bintang?!!!" Tanya Langit akhirnya, bulan langsung menelan Saliva nya sendiri.


"Jawab bulan siapa Bintang?" Tanyanya lagi


"Dia sahabat aku, sama kaya Niko dan Ares" bulan menjelaskan,


"Hanya sahabat?" Todong nya lagi.


"Iya lang, cuma sahabat biasa"


"Denger bulan, lebih baik kamu jelasin sejelas-jelas nya sama aku. Sebelum aku cari tahu sendiri siapa laki-laki yang bernama bintang itu" ancam Langit, bulan mendesah frustasi. Ia bingung apakah harus menceritakan semua pada langit ataukah tidak perlu.


Bersambung. .

__ADS_1


__ADS_2