Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Episode 20. Lima Puluh Juta


__ADS_3

Malam ini Bulan merasa badannya sangat lelah, karena dari siang hari dia dan Bintang menghubungi WO untuk konsep pernikahannya lalu lanjut ke butik untuk fiting baju pernikahan dan terakhir foto pre wedding. Namun dibalik rasa lelahnya itu dia merasa bahagia sekali karena sebentar lagi dia akan menikah, apalagi yang bakal menjadi suaminya nanti adalah atasannya sendiri. Bulan seperti bermimpi tentang apa yang sudah ia terima dan lalui dalam hidupnya saat ini. Bulan semakin banyak bersyukur pada Allah atas karunia yang sudah dia terima hingga kini.


Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam tapi sepupuya belum pulang, mungkin masih jalan-jalan dulu dengan Arda, begitu yang dipikirkan Bulan. Mata Bulan tidak bisa diajak bersahabat, mengantuk sekali dan akhirnya Bulan pun terlelap dalam tidurnya.


Pukul 5 pagi Bulan mulai membuka matanya setelah tidurnya yang lelap semalam. Dilihatnya ponselnya sudah ada 5 panggilan dari Bintang, 2 panggilan dari Dina dan 3 pesan dari Bintang. Begitu lelap dia tidur hingga tidak mendengar bunyi dari ponselnya.


Dibukanya pesan dari Bintang, “Sudah tidur ?”, “Kok pesanku tidak kamu balas ?”, “Selamat malam, semoga mimpi indah.”


Bulan beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi kemudian Bulan menjalankan sholat subuh. Dina masih nampak tidur dengan nyenyak, entah jam berapa dia semalam pulangnya.


Setelah selesai sholat subuh, Bulan membangunkan Dina sebelum dia ke dapur menyiapkan sarapan.


Dina menuju ke dapur setelah dia selesai mandi dan sholat subuh, Dina melihat Bulan sedang masak nasi goreng dan telur dadar.


“Pagi dek,” sapa Dina pada Bulan.


“Hai, pagi mbak Dina. Sudah bangun rupanya, kita sarapan yuk !” ucap Bulan mengajak Dina sarapan.


“Semalam mbak Dina pulang jam berapa, aku tidak tahu. Maaf ya mbak, semalam aku sudah tidur jadi tidak mendengar ada telpon masuk.” kata Bulan sambil menikmati nasi goreng buatannya.


“Iya dek, tidak apa-apa. Pasti kamu capek ya menyiapkan acara pernikahan kalian. Semalam aku sampai disini jam 10 diantar oleh kak Arda,” ucap Dina.


“Ciee ciee … makin romantis saja nih kalian berdua. Jadi nggak sabar nunggu kabar baik dari kalian,” kata Bulan menggoda Dina yang mulai tersipu malu.


“Kamu dulu saja dek,” kata Dina. “Jangan lama-lama ya mbak peresmiannya,” ujar Bulan.


“Insya Allah dek, jika Allah mengijinkan.”


“Aamiin,” seru Bulan, kemudian mereka berdua masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


“Mbak dina berangkat kerja naik apa, soalnya aku dijemput oleh Bintang sebentar lagi,” tanya Bulan.


“Mbak juga dijemput kak Arda, tenang saja dek,” jawab Dina.


“Wah, sekarang kita diantar jemput oleh pasangan kita masing-masing ya mbak, bisa mengurangi pengeluaran untuk ongkos transportasi, hehehe … “ Bulan tertawa sambil membayangkan mereka berdua dengan pasangan mereka masing-masing.


Tak berapa lama terdengar suara klakson mobil dari luar, Bulan dan Dina saling berebut jalan untuk keluar lebih dulu sambil tidak  bisa menahan tawa.


Setelah sampai di teras kos, nampak ada dua mobil sedang parkir. Ternyata Bintang dan Arda datang bersamaan dan mereka sedang asik mengobrol di dekat pintu mobil Bintang. Bulan dan Dina mendekati kedua pria dewasa itu setelah mengunci pintu kos.


“Lho, kalian kok bisa bersamaan sih datangnya ?” tanya Bulan pada Bintang dan Arda.

__ADS_1


“Iya nih, kebetulan saja. Kamu sudah siap? Yuk kita berangkat,” kata Bintang.


Akhirnya Bulan dan Bintang berangkat lebih dahulu, menyusul dibelakangnya mobil Arda dan Dina. Semenjak Arda dan Dina berpacaran, tiap pagi Arda selalu menjemput Dina dan mengantarkan ke kantor Dina lebih dahulu, setelah itu Arda menuju kantor tempat kerjanya.


“Bin, tadi kamu sudah sarapan belum ?” tanya Bulan pada Bintang di dalam mobil.


“Belum, memangnya kenapa ?” tanya Bintang balik sambil pandangannya fokus ke jalan raya karena sedang menyetir.


“Aku bawakan bekal nasi goreng buat kamu. Kamu harus mencoba nasi goreng buatanku sendiri,” ucap Bulan sambil promosi nasi gorengnya pada Bulan.


“Baiklah, nanti aku akan mencicipi nasi gorengmu. Tapi tidak ada racunnya kan ?” kata Bintang mencoba menggoda Bulan.


“Ya nggak dong Bin, aku tidak sejahat itu padamu,” jawab Bulan sambil menggerutu.


“Iya, iya … aku percaya kamu kok. Begitu saja sudah ngambek,” kata Bintang sambil mengusap kepala Bulan.


“Kamu sih menyebalkan sekali,” ucap Bulan. “Tapi masih cakep kan ?” tanya Bintang.


“Iya, cakep kalau dilihat dari lobang sedotan,” Kata Bulan sambil melihat ke arah jendela.


“Hahaha … tapi kamu cinta kan ?” goda Bintang lagi.


“Iiihh … kamu cerewet sekali sih Bintang …. “ Bulan memukul bahu Bintang dan wajahnya berubah semu merah karena malu.


“Hahahaha …. kamu itu lucu sekali sih,” kata Bintang sambil memegang punggung tangan Bulan dan melirik ke arah Bulan yang sedang menunduk menahan rasa malu.


Mobil Bintang telah memasuki area gedung kantornya. Dia segera turun dari mobil dan disusul oleh Bulan masuk ke dalam gedung.


***


“Bulan, kamu sudah selesai belum ?” tanya Bintang melalui pesan yang dikirim pada Bulan.


“Sebentar lagi Bin, ini aku sedang merapikan kertas-kertas file dulu ya,” jawab Bulan melalui pesan di ponselnya.


Seperti biasa Bintang selalu menunggu Bulan menyelesaikan pekerjaannya, begitu pula sebaliknya jika mereka berdua akan kembali pulang setelah pekerjaan selesai. Seperti sore ini, Bintang menghampiri Bulan di ruangannya sebelum mereka pulang. Di ruang sekretariatan masih terlihat juga Arda sedang mengemasi barang-barangnya dan merapikan mejanya.


“Kamu belum pulang juga Bro ?” tanya Bintang pada Arda.


“Belum, sebentar lagi nih. Kalian mau kemana sepertinya terburu-buru,” tanya Arda balik ke Bintang.


“Mau cari udara dulu,” jawab Bintang.

__ADS_1


“Oke, aku pesan udara juga ya seember buat besok!” kata Arda sambil tertawa ke arah Bintang, yang direspon dengan lemparan spidol ke arah Arda.


“Aku sudah selesai, yuk pulang Bin !” ucap Bulan.


Mereka berdua keluar ruangan dan masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Mobil Bintang sudah siap di depan lobby kemudian Bulan dan Bintang segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke jalan raya.


“Bin, kita mau kemana, kok arahnya kesini ?” tanya Bulan yang melihat Bintang mengarahkan mobilnya bukan ke arah jalan pulang.


“Kita mampir ke mall dulu,” jawab Bintang.


“Mau beli apa lagi Bin, malam sudah semakin gelap tuh,” kata Bulan sambil menunjuk ke arah langit. Namun Bintang tidak menjawab pertanyaan Bulan, dia membelokkan mobil ke area parkir mall yang sudah terkenal di Jakarta.


Bintang menggandeng tangan Bulan berjalan ke dalam mall. Akhirnya sampailah mereka di toko perhiasan, Bintang mengajak Bulan untuk masuk ke dalam toko itu dan menyuruh Bulan untuk memilih cincin pernikahan.


“Ada yang bisa saya bantu Pak ?” tanya pelayan toko pada Bintang.


“Saya ingin lihat contoh cincin pernikahan keluaran terbaru,” perintah Bintang, kemudian pelayan itu mengeluarkan beberapa cincin pernikahan keluaran terbaru.


“Bulan, kamu pilih mana yang kamu suka !” perintah Bintang.


“Kok beli cincin lagi sih Bin, bukannya kita sudah ada nih,” kata Bulan sambil memperlihatkan cincin yang ada di jarinya.


“Itu kan cincin tunangan sayang …. apakah kamu tidak mau memakai cincin pernikahan ?” tanya Bintang sambil mengusap kepala Bulan.


“Oh… hehehe “Bulan hanya tertawa pelan sambil menutup wajahnya yang merona merah menahan malu karena Bintang tadi memanggilnya dengan kata sayang.


“Yang ini bagus Bin, sederhana dan nampak elegan,” kata Bulan sambil menunjuk salah satu cincin.


“Mbak, kami pilih yang ini,” kata Bintang.


“Baik pak, diukur dulu dengan jarinya ya Pak, Bu,” ucap pelayan toko itu. Ternyata ukurannya memang cocok dengan jari Bulan dan Bintang.


Bintang mengeluarkan kartu kredit untuk membayar cincin itu pada pelayan toko, kemudian struk pembelian diserahkan pada Bintang. Sebelum Bintang mengambil struk itu, tangan Bulan dengan cepat segera mengambil struk dari tangan pelayan tadi.


Bulan segera melihat harga cincin yang baru saja mereka beli, dan mata Bulan langsung terbelalak karena terkejut setelah melihat harga yang tertera di struk tersebut. “Hah, lima puluh juta ?!”


 


#################


Tuh kan, Bulan saja terkejut apalagi diriku? hehehe....

__ADS_1


__ADS_2