Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 27


__ADS_3

Happy reading ✓


Setelah selesai bersiap-siap mereka pun memutuskan untuk berangkat saat itu juga. Ibu tadi tidak hanya sendirian ia juga mengajak anak perempuan nya yang seumuran dengan bulan Bernama Syifa.


Tak menunggu lama kendaraan roda empat yang mereka tumpangi kini perlahan mulai berjalan menjauhi kawasan komplek perumahan tersebut.


***


Setelah menempuh perjalanan panjang mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan ibukota. Tampak macet dengan hal itu sudah tidak asing lagi bagi bulan yang memang kenyang dengan kondisi seperti itu.


Kening bulan mendadak mengkerut kala ibu dari Syifa mengarah kan mobil itu kejalan yang sudah sangat bulan hafal. Pasalnya tiap hari jalan itulah yang sering ia lewati.


"Ini jalan nya bener lewat sini Bu?" Tanya bulan memastikan


"Iya neng bener waktu itu saya diajak memang lewat sini arahnya" ujar si ibu itu menegaskan. Sementara itu Reo langsung menatap bulan tanda tanya.


"Kenapa lan?" Tanya Reo akhirnya


"Ini seperti arah mau kerumah papa saya" ucap bulan berbisik pada Reo.


Bulan tercenung kala ibu Syifa mengarah kan mobil itu untuk masuk kedalam komplek perumahan yang cukup elit. Sontak hal itu membuat jantung bulan entah kenapa menjadi berdebar tidak karuan. Ia terus memastikan hatinya jika yang sedang ia pikirkan saat ini salah.


"Nah itu rumah yang berpagar hitam rumahnya. Tapi kayaknya sedang lagi ada acara" beritahu ibu nya Syifa. Menunjuk rumah berpagar hitam yang saat ini terlihat ramai.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat tubuh bulan seketika menegang. Kini jantung nya berdebar sangat kencang ia sangat takut dengan segala pikiran-pikiran yang sedari tadi menggelayuti nya. Sampai-sampai bulan tidak sadar jika mobil tersebut sudah berhenti tepat didepan rumah berpagar hitam. Yang tak lain dan tak bukan adalah rumah Dimas yaitu papa nya sendiri.


"Bulan" suara Reo menyadarkan bulan. Pemuda itu mengguncang tubuh gadis itu. Bulan menatap Reo menelan saliva nya. Tentu saja Reo makin bertanya-tanya


"Neng ini loh rumah suami baru nya Yuni" ucap ibu Syifa. Tubuh bulan makin menegang perlahan Reo membantu gadis itu agar segera turun dari mobil tersebut.


Bulan berjalan gontai saat mulai memasuki halaman rumah besar itu. Ya malam itu rumah Dimas nampak ramai bulan sendiri tidak tahu sedang ada acara apa dirumah orang tuanya. Sampai tiba-tiba saja


"Ya ampun non bulan" tiba-tiba saja seorang laki-laki menghampiri bulan sembari menyebutkan namanya. Laki-laki berpakaian satpam itu adalah pak Umar dialah satpam pribadi yang bekerja dikediaman Dimas.


Tentu saja orang-orang yang tadi langsung mengarahkan pandangannya kearah bulan. Seakan meminta penjelasan kenapa satpam dari rumah itu mengenal nya.


"Non bulan kemana saja bapak selama ini khawatir nyariin" ucap pak Umar lagi. Bulan tidak menjawab dirinya masih sibuk berkutat dengan segala Pikirannya. Sampai-sampai Reo mencoba mencolek tubuh bulan bermaksud agar mengembalikan lagi kesadaran nya.


"Masuk aja non" usul pak Umar. Bulan pun hanya tersenyum simpul. Lalu berjalan kembali ingin masuk lebih dalam lagi.


Dari kejauhan bulan melihat sahabatnya yakni Niko dan Ares ada juga Anita yang bergabung diantara tamu-tamu yang datang.


"Ibu lihat itu bibi Yuni" tunjuk Syifa. Bulan pun mengikuti arah hari telunjuk dari gadis itu. Dan benar saja memang tak jauh darinya ada Yuni yang nampak cantik dengan dandanan nya. Syifa pun memilih lari berniat menghampiri Yuni.


"Neng kamu kenal sama pemilik rumah ini?" Tanya ibunya Syifa menatap bulan yang masih berdiri tegang.


Gadis itu nampak tak bisa menjawab. Reo bisa merasakan jika saat ini bulan sudah bergetar. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba saja bulan menjadi seperti ini pemuda itu terus bertanya-tanya dengan pikirannya sendiri. Namun ia belum ingin menanyakan langsung pada bulan dengan semua ini.

__ADS_1


"Yun" ibu Syifa tiba-tiba saja berteriak memanggil Yuni yang nampak sedang berpelukan dengan Syifa. Otomatis wanita itu langsung menoleh kearah orang yang memanggil namanya.


Sama halnya dengan bulan. Yuni pun nampak kaget kala melihat bulan juga ada ditengah-tengah mereka. Wanita itu langsung meneriaki nama suaminya agar keluar. Dengan langkah lebar wanita itu langsung berjalan ingin menghampiri bulan dan juga ibu Syifa.


Kini bulan dan juga Yuni sudah saling berhadapan langkah selanjutnya wanita itu langsung memeluk tubuh bulan dengan sangat erat. Tak lama nampaklah Dimas yang juga sudah keluar dan terkejut melihat adanya bulan tak jauh darinya. Lelaki paruh baya itu langsung berjalan untuk mendekati putrinya.


"Bulan anakku Dimas langsung mendekap tubuh putrinya. Sementara itu bulan hanya diam mematung.


Lantas berikutnya keluar juga bunda Alda dan juga suaminya disusul dengan bintang dan juga Kanaya. Mereka semua berdandan layaknya seseorang yang sedang berpesta. Mereka semua menghampiri bulan yang sedang dipeluk oleh Dimas.


Disisi lain Reo masih mengamati situasi yang sedang terjadi. Perlahan ia mulai mengerti dengan semua ini dirinya mengerti kenapa bulan bisa setegang ini dan ia pun sudah mengerti jawabannya.


"Bulan sayang" Alda langsung berhambur memeluk tubuh bulan yang memang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


"Kamu dari mana nak?" Tanya Alda kembali nampak bulir air asin sudah menetes di pipinya. Bulan tetap diam dalam pelukan Alda namun atensi nya kini mengarah pada sosok laki-laki yang juga sedang menatap nya.


"Kamu dari mana saja bulan papa sangat mengkhawatirkan kamu. Kami semua sangat cemas" ucap Dimas tersenyum senang karena anak gadisnya sudah kembali.


"Permisi bapak ibu apa acaranya bisa dimulai sekarang" tiba-tiba saja seorang berpakaian rapi bertanya pada Dimas dan juga Yuni.


"Iya silakan dimulai saja" jawab Dimas tersenyum. Akhirnya Dimas meminta agar mereka semua masuk kembali pada tempatbyang sudah disediakan. Namun tidak dengan bulan dan bintang yang masih bersitatap satu sama lain seakan sedang mengutarakan perasaan nya masing-masing.


Sampai Kanaya mencoba menyadarkan bintang dan meminta nya agar kembali masuk ketempat semula. Pemuda itu menuruti meninggalkan bulan dan juga Reo yang tetap setia berada disampingnya. Pemuda itu mengusap pundak bulan memberikan senyum semangat dan mengarahkan agar ikut masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Bersambung. .


__ADS_2