Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 40


__ADS_3

Happy reading ✓


Dikamar nya bulan terus berkutat dengan hati dan pikirannya. Memikirkan semua ucapan bintang dan Kanaya yang terus berputar bagai kaset rusak, sesekali ia akan memijat pangkal hidung nya merasa pusing dengan semua permasalahan yang ada.


Dirinya juga menyesal telah bertindak kasar pada saudarinya. Padahal jika diurai semua perkataan Kanaya benar adanya, tega kah dia terhadap Naya, menjalin hubungan atau mencintai pria yang sudah dimiliki oleh orang lain, demi tuhan bulan gusar dengan hal itu.


Disisi lain ia sangat mencintai bintang, namun disisi lain ia tidak mau dicap seperti Lania, lalu bulan harus bagaimana rumit sangat rumit, apakah ia harus egois menuruti rencana bintang yang mengajaknya tidur sampai hamil. Namun konsekuensinya harus siap melihat naya yang hancur


Ataukah ia harus melepaskan semua bayang-bayang bintang, dan membuang jauh-jauh rasa cinta nya pada laki-laki itu, bulan menghela nafas sepenuh dada dan membuang nya perlahan.


Dengan semua tekad yang bulat. Bulan meraih benda pipih sejuta umat miliknya, mengetikan sesuatu panjang dan lebar yang nanti akan ia kirimkan chat tersebut ke nomer bintang.


Setelah berhasil mengirimkan ketikan chat itu pada bintang. Bulan langsung mengeluarkan kartu nomernya lalu ia masuk kedalam kamar mandi dan melarutkan nya kedalam kloset.


Beres, bulan merasa ini adalah keputusan yang tepat tak apa ia akan membuang ego nya untuk kebaikan semua. Ia berfikir mungkin dirinya tidak ditakdirkan untuk bintang, memang terasa menyakitkan namun apa boleh buat.


****


Malam harinya keluarga Dimas sedang makan malam dengan anggota lengkap. Tak hanya itu Reo pun ada ditengah-tengah keluarga tersebut ikut makan malam bersama.


Bulan menikmati makanan itu dengan diam. Seakan sibuk dengan banyak hal yang sedang ia pikirkan. Sementara itu yang lain sibuk mengobrol apa saja tentang kerjaan Reo, dan juga tentang keberangkatan Naya dan bintang yang akan segera terbang ke Inggris sebentar lagi.


"Bulan sebenarnya papa sangat berharap kamu juga bisa mendapatkan beasiswa itu. Tapi sayangnya hanya Naya dan bintang yang mendapatkan nya" ujar Dimas, Yuni segera meremas satu lengan suaminya. Kode agar Dimas tidak melanjutkan lagi karena Yuni yang merasa tidak enak pada anak tirinya.


"Ekhem, ya maksud papa kamu keterima di UI saja itu sudah sangat membanggakan untuk papa" kata Dimas merasa kikuk. Bulan menatap sang papa malas. Reo hanya diam melirik bulan sekilas. Akan tetapi berbeda dengan Naya gadis itu diam-diam mengulum senyum.


"Papa harus kasih support aku terus yah. Kanaya udah nggak sabar ingin secepatnya ke Inggris sama bintang. Membanggakan orang tua, pulang lagi ke Indonesia dengan sukses, Naya nggak sabar pengen cepet-cepet resmiin hubungan Naya sama bintang kejenjang berikutnya "


Naya berujar dengan nada suara berintonasi tinggi dan bangga, bibirnya yang tak luput dari senyuman, Dimas dan Yuni pun balik tersenyum seakan mengiyakan ucapan putri cantik nya itu.


"Iya sayang itu sudah pasti, papa dan mama akan selalu support dengan apa yang kamu lakukan karena papa yakin semua yang kamu lakukan pasti membanggakan, kamu nggak usah khawatir papa dan orang tua bintang sepakat setelah study kalian selesai kami akan menikah kan kalian" ungkap Dimas masih dengan tersenyum sayang.

__ADS_1


Semua tersenyum, kecuali bulan dia menunduk meremas sendok yang berada ditangannya dengan kuat, Reo menyadari itu namun ia hanya bisa diam.


"Pa papa ngerasa nggak kalau kak Reo cocok banget kalau dijodohin sama bulan yah, aku tahu kak Reo orang baik" kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur keluar dari mulut Naya. Semua menoleh cepat kearah gadis itu. Termasuk bulan


"Kamu bisa aja Naya" kata Reo terkekeh canggung. Dimas dan Yuni melirik kearah Reo dan bulan bergantian. Tersenyum dan mengangguk-angguk


"Wah benar juga loh apa yang dibilang Naya" Yuni menimpali tersenyum tulus, Reo membalas senyuman itu dengan rasa yang masih canggung. Namun tidak dengan bulan yang sudah menatap Naya tajam rahangnya mengatup kuat. Hal itu malah dibalas senyuman oleh Kanaya


"Bulan merasa muak dengan saudarinya itu. Betapa lancang nya gadis itu berusaha ikut campur dengan urusan pribadinya. Sialan! Bulan membatin.


"Permisi tuan didepan ada den bintang" beritahu mbok Imas, semua menatapnya


"Suruh masuk aja mbok" titah dimas, art itu mengangguk.


Dan benar saja tak lama munculah bintang, berjalan menghampiri Anggota keluarga itu yang sedang makan malam. Mencoba ramah memberikan senyuman pada semuanya.


"Eh tang sini ikut makan juga" ajak Yuni


"Nggak usah Tante. Saya ada keperluan sebentar sama bulan" ucap lelaki itu, Naya langsung menatap tanda tanya pada sang tunangan. Sementara itu bulan menggigit bibir dalamnya. Ia sudah bisa menduga maksud kedatangan bintang kesini pasti dirinya ingin membahas kembali tentang chat yang tadi siang.


Setelah makan malam usai. Yuni dan Dimas pamit untuk masuk kedalam kamar pribadinya. Tinggallah ke empat remaja itu yang belum buka suara.


"Lo nggak pulang?!" Tanya bintang sengit ditujukan pada Reo


"Oke gue pulang lan, nay gue pulang yah" kata Reo bersiap akan pergi.


"Saya mohon kamu tetap disini Reo" pinta bulan, bintang menatap bulan tajam


"Ada apa yang? Kalau ada perlu ngomong aja" ujar bulan acuh. Bintang makin kesal dengan bulan yang bersikap seperti itu.


"Gue mau ngomong sama Lo berdua" pinta bintang final

__ADS_1


Bulan dan Naya berjalan menghampiri bintang. Seakan menyetujui dengan ajakan pemuda itu. Bintang menaikan satu alisnya kala disampingnya sudah ada Kanaya.


"Naya aku mau ngobrol cuma berdua sama bulan tolong kamu ngerti yah" pinta bintang pada sang tunangan.


"Tapi kata bunda apapun yang terjadi aku harus selalu ada disamping kamu bintang" kata Naya menjelaskan. Pemuda itu mendesah pelan. Ditatapnya Naya lekat-lekat


"Please nay kali ini aja bisa?!" Ucap bintang penuh dengan penekanan, Naya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Iya baiklah bintang" jawabnya masih tersenyum tulus. Bulan merotasikan bola matanya jengah.


***


Bintang dan bulan kini berdiri saling berhadapan didepan taman rumah Dimas. Pemuda itu kian menatap bulan datar. Gadis itu tidak sanggup membalas tatapan itu.


"Tatap gue" pinta bintang, bulan mengabaikan


"Tatap gue bulan!!" Bentak bintang akhirnya, dengan segera gadis itu menuruti.


"Ada apa lagi sih tang gue udah mantap sama keputusan gue. Kita selesai jangan ada hubungan apa-apa lagi diantara kita oke!" Ucap bulan akhirnya. Bintang terkekeh sinis mengangguk-angguk kan kepala.


"Gue tanya terakhir kalinya sama Lo bulan , apa Lo sadar dengan keputusan Lo itu hah" desis bintang. Dua tangannya mengguncang bahu bulan.


"Jawab bulan!" Bulan diam dirinya malah meneteskan airmata. Bintang menatap bulan dengan nafas naik turun.


"Lo diem apa artinya iya?" Dengan semua keberanian, gadis itu balik menatap bintang.


"Iya" final nya, bintang tertawa sumbang seakan kehilangan harapan. Gadis yang ia cintai dari awalnya bersahabat tanpa terasa tumbuhlah cinta dari hati kedua nya. Namun kini rasa cinta itu harus pupus. Dengan semua keputusan bulan yang mantap memilih tidak lagi melanjutkan hubungan nya dengan bintang. Baik menjadi sahabat ataupun menjadi orang yang saling mencintai.


"Bintang gue..." Belum juga bulan melanjutkan ucapannya. Reo berteriak memanggil keduanya.


"Bulan, bintang tolong!!" Teriak Reo panik saat dirinya mendapati Kanaya yang pingsan begitu saja. Otomatis kedua remaja itu langsung berlarian menghampiri Reo. Dan benar saja tubuh Naya sudah tergeletak dilantai teras.

__ADS_1


setidaknya itulah yang dilakukan Kanaya, melakukan apa saja supaya bulan dan bintang tidak bisa berlama-lama.


Bersambung. .


__ADS_2