Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Episode 21. Kecelakaan


__ADS_3

Malam itu setelah Bulan dan Bintang membeli cincin pernikahan mereka, kemudian segera pulang. Di dalam mobil Bulan masih tercengang dengan harga cincin yang baru dibelinya itu, baru kali ini dia melihat cincin semahal itu dan sebentar lagi dia akan memakainya bersama Bintang.


"Hai, melamun saja sih dari tadi. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bintang sambil menyetir mobilnya.


"Bintang, apa tidak salah itu dengan harga cincin yang baru saja kau beli? Lima puluh juta kan mahal sekali Bin. Kalau aku uang sebanyak itu buat renovasi rumah ayah dan ibu di Surabaya," ucap Bulan masih dengan rasa tidak percaya.


"Harga segitu sudah wajar Lan, cincin tadi termasuk koleksi terbaru. Jadi aku pilih cincin itu untuk hari spesial kita, supaya kamu selalu mengingat aku karena aku sayang sama kamu," kata Bintang meyakinkan Bulan.


"Untuk perbaikan rumah ayah dan ibu di Surabaya, pasti aku prioritas kan juga. Nanti setelah kita menikah, aku akan mengurusnya," ujar Bintang sambil memegang erat jemari tangan Bulan.


"Bin, aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Yang jelas aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada mu, mengapa kamu begitu baik padaku dan keluarga aku," Bulan berbicara sampai dia tidak menyadari keluar cairan bening dari ujung matanya.


"Aku juga berterima kasih pada kamu karena telah bersedia untuk menjadi istriku serta ibu dari anak-anakku," dikecupnya tangan Bulan oleh Bintang.


Akhirnya mobil Bintang telah sampai di depan kos Bulan, setelah membuka seat belt kemudian tangan Bulan meraih tangan Bintang dan ditempelkannya punggung tangan Bintang ke hidungnya dan membuat Bintang sedikit terkejut.


"Eh, kok salim ?" tanya Bintang.


"Buat latihan biar nanti nggak canggung lagi kalau sudah menikah," jawab Bulan sambil tersenyum.


"Hahaha ... bisa saja kamu ini. Ya sudah sekarang cepatlah masuk ke dalam rumah, istirahatlah jangan sampai tidur larut malam," ucap Bintang dan mereka saling melambaikan tangan. Bintang segera mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Malam ini Bulan ingin segera tidur karena badannya terasa lelah sekali, namun sebelum tidur dia sempatkan untuk mengirim pesan pada Bintang untuk mengucapkan selamat tidur.


Keesokan harinya Bulan sudah siap menunggu Bintang menjemputnya di depan kos. Saat menunggu kedatangan Bintang tiba-tiba ponselnya berdering dan ada telpon dari Bintang.


"Hallo Bin ... ," kata Bulan membuka percakapan.


"Bulan, pagi ini aku harus ke Tangerang karena ada klien yang ingin bertemu dengan aku untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan kita. Aku pergi bersama Arda, jadi pagi ini kamu berangkat kerja bersama Dina saja ya," Ucap Bintang.


"Baiklah, aku akan berangkat bersama mbak Dina kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan ya Bin," kata Bulan dan mengakhiri percakapan mereka.


Dari dalam rumah, Dina sudah siap berangkat kerja dan dia mengeluarkan motornya.


"Mbak Din, kok bawa motor?" tanya Bulan setelah melihat Dina mengeluarkan motornya dari dalam kosan.


"Iya Lan, biar kita cepat sampai ke kantor dan nggak capek nunggu bis," jawab Dina.


"Kalau begitu biar aku yang bonceng mbak," kata Bulan.


"Kamu punya SIM dek?" tanya Dina.


"Punya dong mbak, dulu aku kuliah di Surabaya juga naik motor milik ayah," jawab Bulan sambil menunjukkan kartu SIMnya pada Dina.


"Baiklah, tapi hati-hati ya Lan jangan ngebut, mbak takut kalau terlalu kencang jalannya," kata Dina.


"Siaaappp mbakku sayang," Bulan segera menyalakan motor dan Dina segera duduk di belakang Bulan.


Bulan menyetir motornya tidak terlalu kencang, masih dengan kecepatan standard yaitu 40 km/jam. Rupanya dia cukup mahir mengendarai motor dan Dina tidak lupa memegang pinggang Bulan.



Sesampai di pertigaan jalan raya dekat kantor Bulan, tiba-tiba ada mobil melintas dengan kecepatan tinggi memotong jalan di depan motor yang dikendarai oleh Bulan dan Dina. Bulan tidak sempat mengerem motor membuat dia kehilangan keseimbangan dan akhirnya dia bersama motornya terserempet bagian belakang mobil tadi dan motor nya sempat terseret sejauh tiga meter.

__ADS_1


Braaakk ...


Tubuh Bulan dan Dina seketika terpental ke jalan. Mereka berdua pingsan, tubuh Bulan banyak terdapat luka lecet namun tidak terlalu parah. Sedangkan tubuh Dina mengeluarkan darah di sekitar mulutnya akibat benturan keras wajahnya dengan badan jalan.


Orang-orang yang sedang melintas di sekitar langsung berkerumun membantu Bulan dan Dina. Tidak jauh dari lokasi nampak Nita sedang melintas untuk tujuan ke kantor, kemudian dia penasaran melihat kerumunan di pinggir jalan.


"Ada apa pak?" tanya Nita pada salah satu orang yang berada di lokasi.


"Ada kecelakaan tabrak lari Neng," jawab orang itu.


Nita akhirnya mendekat untuk melihat siapa korban tabrakan itu. Setelah Nita melihat yang menjadi korban adalah sahabatnya sendiri, dia langsung berteriak histeris.


"Ya Allah, Bulan .... !! Hiks, hiks, mengapa kamu mengalami hal seperti ini ?!" Nita menangisi kondisi Bulan dan dia terlihat panik.


"Pak, tolong panggilkan ambulans cepat, kita harus bawa mereka secepatnya ke rumah sakit !" teriak Nita pada orang di sekitar.


Akhirnya ambulans yang ditunggu pun telah tiba, tubuh Bulan dan Dina segera diangkat oleh petugas medis ke dalam ambulans dan dibawa ke rumah sakit. Nita ikut mendampingi mereka beserta salah satu saksi mata yang melihat kejadian itu.


Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Nita tidak berhenti berdoa untuk keselamatan sahabatnya itu. Kemudian dia menelpon kantor untuk disampaikan pada Bintang atas kejadian yang menimpa Bulan.


Sesampai di rumah sakit, Bulan dan Dina segera masuk ruang UGD untuk observasi sebelum dipindahkan ke ruang perawatan. Lumayan lama dokter melakukan pemeriksaan terhadap Bulan dan Dina, namun Nita tetap menunggu mereka hingga Bintang datang.


Kurang lebih satu jam berlalu, Bulan dan Dina masih di dalam ruang UGD. Kemudian tampaklah Bintang dan Arda berlari menuju ruang UGD dan menemui Nita yang sedang duduk di bangku bersama salah satu saksi mata.


"Nita, coba jelaskan apa sebenarnya yang terjadi !?" tanya Bintang dengan suara keras menatap Nita.


Kemudian Nita menjelaskan apa yang telah terjadi pada Bulan dan Nita saat kecelakaan tadi.


Bintang dan Arda sama-sama terlihat gusar, mengusap wajah mereka dengan kasar. Lalu Nita mengenalkan saksi mata yang melihat kejadian yang menimpa Bulan dan Dina. Bintang segera menginterogasi orang itu dengan berbagai pertanyaan dan dijawab dengan lancar oleh saksi mata tadi.


Tak berapa lama dokter yang menangani Bulan dan Dina keluar dari ruangan.


"Keluarga dari nona Bulan dan nona Dina ada?" tanya dokter Chandra, dokter yang menangani Bulan dan Dina.


"Saya dok, bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanya Bintang dengan cemas.


"Luka yang ada pada tubuh nona Bulan tidak perlu dikhawatirkan, luka lecetnya sudah diobati hanya saja banyak terdapat luka lebam pada kakinya akibat benturan keras," kata dokter memberikan penjelasan.


"Bagaimana dengan kondisi Dina dok?" tanya Arda penuh cemas terhadap kondisi kekasihnya itu.


"Nona Dina banyak kehilangan darah akibat pendarahan pada mulutnya, saat ini nona Dina sedang dilakukan transfusi darah. Keduanya sudah sadar dari pingsannya dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan," ujar dokter Chandra yang kemudian dia masuk lagi ke dalam ruang UGD.


Bintang sudah menghubungi kedua orangtuanya dan sebentar lagi sampai di rumah sakit. Nita berpamitan pada Bintang dan Arda untuk kembali ke kantor. Bintang dan Arda mengucapkan terima kasih pada Nita dan pak Nawir, saksi mata yang melihat kejadian tersebut atas bantuan mereka membawa Bulan dan Dina ke rumah sakit.


Saat ini Bulan dan Dina sudah masuk ke ruang perawatan VIP, ruang mereka berdua bersebelahan. Bintang menemani Bulan di dalam ruangan, dia duduk di bangku sebelah bed yang ditempati oleh Bulan. Bintang menggenggam erat tangan Bulan yang sedang lelap tidur karena pengaruh obat dari dokter.


"Bulan, maafkan aku ya karena membiarkan kamu pergi ke kantor tanpa aku. Aku menyesal Bulan, maafkan aku ..." Bintang berbicara pada Bulan meskipun Bulan masih terlelap.


Pak Surya dan Bu Ines akhirnya datang dan masuk ke ruangan Bulan. Mereka terlihat sedih melihat kondisi calon menantunya itu.


"Bin, bagaimana kondisi Bulan sekarang?" tanya Bu Ines pada anaknya.


"Hanya luka lecet dan kakinya penuh dengan luka lebam akibat benturan keras Ma," jawab Bintang lesu dan pandangannya tidak beralih dari wajah Bulan.

__ADS_1


"Kalau saja tadi aku mengantarkan Bulan ke kantor, mungkin dia tidak akan mengalami kecelakaan ini Ma, " ucap Bintang sambil memegang erat jemari Bulan.


"Kamu tidak perlu menyesalinya Bin, namanya juga musibah kita juga tidak akan tahu kapan musibah itu akan menimpa kita. Bersabarlah, Bulan segera sembuh," kata Bu Ines menenangkan hati anak lelakinya ini.


" Apa kau sudah lapor ke polisi Bin?" tanya pak Surya pada Bintang.


"Belum Pa, tapi anak buah Arda sudah mencari informasi tentang pemilik mobil yang menabrak Bulan tadi," jawab Bintang.


"Dimana Arda sekarang?" tanya Bu Ines.


"Dia sedang menunggu Dina di ruang sebelah Ma. Kasihan Dina, dia kehilangan banyak darah sehingga harus transfusi darah," cerita Bintang.


Kemudian pak Surya dan Bu Ines menjenguk Dina di ruang sebelah, dan tidak lupa mereka juga menghibur hati Arda yang sangat sedih saat ini. Bagi mereka, Arda sudah seperti anaknya sendiri dan hubungan mereka juga begitu dekat.


Di ruang Bulan, saat Bintang akan menuju ke toilet, tiba-tiba terdengar ada yang memanggilnya.


"Bin ... kamu dimana?"


Bintang segera membalikkan badannya dan melihat Bulan terbangun dari tidurnya.


"Aduh, kenapa kakiku sakit sekali ?" ucap Bulan sambil meringis menahan sakit.


"Bulan, kamu sudah bangun rupanya. Pelan-pelan saja ya kakinya kalau bergerak, karena masih terluka," kata Bintang sambil merapikan selimut Bulan.


"Mbak Dina bagaimana, dimana dia sekarang?" Bulan teringat kalau tadi pagi dia bersama Dina pergi ke kantor dan mereka ditabrak oleh mobil, setelah itu Bulan sudah tidak ingat apa-apa lagi.


"Dina sedang dirawat juga, tapi dia kehilangan banyak darah. Kondisinya mulai membaik, kamu tidak perlu khawatir lagi ya, sekarang istirahatlah," ucap Bintang pada Bulan.


"Aku jadi merasa bersalah pada mbak Dina, karena aku telah lalai saat mengendarai motor," kata Bulan sambil terisak.


Bu Ines dan suaminya kembali masuk ke dalam ruangan Bulan. "Kamu sudah bangun sayang," ucap Bu Ines sambil mengusap kepala Bulan.


"Mama dan papa ada di sini juga ?" tanya Bulan.


"Iya sayang, tadi mama dan papa sudah bertemu dengan dokter yang menangani kamu, jika besok kamu sudah bisa menggerakkan kakimu pelan-pelan dua hari lagi kamu sudah boleh pulang," kata Bu Ines tersenyum.


"Alhamdulillah," ucap Bulan dan Bintang bersama-sama.


"Bulan, kalau nanti kamu sudah boleh pulang, sebaiknya kamu pulang ke rumah kami sampai lukamu sembuh," kata pak Surya.


"Tapi pa, nanti Bulan jadi merepotkan mama dan papa," ucap Bulan pada calon mertuanya.


"Jangan berpikir seperti itu Bulan, mama dan papa sayang sekali sama kamu," kata Bu Ines.


"Bulan, ini adalah perintah papa. Kamu tidak boleh membantahnya, tinggallah dulu bersama kami sampai Dina sembuh dan boleh pulang oleh dokter," Bintang turut memohon pada Bulan agar mau menuruti keinginan kedua orangtuanya.


Bulan pun mengangguk tanda setuju, "Baiklah, Bulan akan ikut kalian." Bintang menggenggam erat tangan Bulan dan diciumnya jemari lentik itu.


Di ruang sebelah, Arda setia mendampingi Dina yang sedang tidur diatas bed rumah sakit. Di tangan Dina nampak tertancap jarum infus untuk mengalirkan darah dari kantong darah menuju tubuhnya. Dina masih tertidur pulas karena pengaruh obat dari dokter sambil tangan yang satu lagi memegang erat tangan Arda seakan-akan tidak ingin ditinggal oleh Arda.


#############


Bagaimana nasib Bulan yang sedang sakit, apalagi hari pernikahannya sudah semakin dekat.

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, vote, dan rate ya. Dan jadikan cerita Bulan dan Bintang ini sebagai cerita favorit kalian.


Happy reading all ... 😘😘😘😘😘


__ADS_2