Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 44


__ADS_3

Happy reading ✓


Bulan berjalan dengan langkah lebar, Sebelum nya ia bertanya terlebih dahulu pada anak Maba bernama Darren yang diketahui adalah teman langit. Gadis itu menanyakan keberadaan laki-laki itu. Dan untungnya Darren tahu lalu memberi tahukan pada bulan.


Acara ospek hari ini selesai, tinggal menunggu acara selanjutnya yang akan diselenggarakan. Bulan masih terus berjalan menyusuri tiap lorong universitas tersebut, langkahnya membawa keruang musik yang terlihat sepi. Setelah dirinya sudah masuk kedalam ruangan tersebut, benar saja ada langit disana yang duduk diata meja sembari memainkan alat musik.


Menyadari ada yang datang, langit langsung menoleh dan dirinya langsung berhenti memetik alunan gitar, lalu ia segera meletakkan alat musik itu pada tempatnya. Kemudian ia berdiri dengan bulan yang sudah berdiri menghadap nya.


Pemuda itu memasukan dua tangannya kedalam celana. Bibirnya mengatup dengan lidah nya yang bermain-main didalam rongga mulutnya sendiri menusuk pipinya, air wajahnya sudah tersenyum jahil. Senyuman yang bagi kebanyakan perempuan lain adalah senyum malaikat, namun tidak bagi bulan ia melihat senyuman itu bagai senyuman iblis.


"Batalin rencana Lo itu!!" Kata bulan tajam, langit menaikan satu alisnya, wajahnya masih tersenyum.


"Maksudnya?" Tanya langit sok bego, bulan merotasikan bola matanya jengah


"Gue menolak keras ajakan Lo masalah gelang itu" tukas bulan masih menatap langit tajam.


"Lo nggak denger apa kata panitia tadi, dilarang menolak kalau bukan dari persetujuan gue" ucap langit enteng


"Kenapa Lo harus milih gue hah, masih banyak yang lain Lo bisa pilih salah satu dari mereka kan!!" tandas bulan geram.


"Ya karena gue milih nya Lo gimana dong" jawab Langit lagi enteng. Hal itu membuat bulan semakin geram.


Pemuda itu berjalan perlahan maju mendekati bulan. Otomatis gadis itu memundurkan langkahnya sampai tubuhnya membentur tembok, itu artinya sudah tidak bisa lagi ia mundur untuk menghindari Langit.


"Kenapa? Lo takut jatuh cinta sama gue Makanya Lo nolak?" Ucap langit dengan pedenya, kini jarak wajah keduanya sangat dekat. Sampai-sampai baik bulan maupun langit bisa merasakan hembusan nafas hangat satu sama lain.


"Najis" desis bulan tajam, Langit terkekeh miring, kini kedua tangannya sudah mengunci tubuh gadis itu. Agar tidak bisa kabur.


Langit mendekatkan hidung mancungnya ke ceruk leher gadis itu. Seolah mengendus aroma dari parfum beraroma strawberry yang bulan pakai. Gadis itu menahan nafas saat dengan intens sapuan nafas hangat dari langit membuatnya meremang. Lalu selanjutnya laki-laki itu mendarat kan ciuman singkat pada leher jenjang milik bulan. Walaupun kilat namun terasa menyengat.


PLAAAKK " itu batasan buat Lo Langit angkasa biru!!" Desis bulan nampak marah. Lalu ia segera mendorong tubuh langit dan pergi dari hadapan laki-laki itu, Langit mengulum senyum memandangi bulan yang akan keluar dari tempat musik sembari memegangi satu pipinya.


***


Kini bulan berada didalam kamarnya, terasa lelah dengan aktivitas hari ini. Selepas makan malam dirinya memutuskan untuk masuk kembali kedalam kamarnya. Sesekali ia tercenung manakala mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya saat di kampus. Apa lagi ingatan nya membawa pada sosok Langit, laki-laki yang menurut bulan sangat menjengkelkan, baru kali ini ia menemukan tipe cowok seagresif itu. Dulu saat SMA setiap mengenal laki-laki tidak ada yang berani sebegitu intens padanya.

__ADS_1


Ya bisa saja hal itu tidak terjadi. Mengingat ada bintang yang seakan menjadi tameng penghalang dari semua laki-laki yang berniat mendekati atau hanya sekedar menggoda bulan. Bisa dipastikan jika ada yang seperti itu seseorang tersebut akan bonyok dipukul oleh bintang.


Ngomongin soal bintang, bulan jadi kepikiran sahabatnya itu. Akan tetapi ia langsung menggeleng kan kepala, seolah mengusir jauh bayang-bayang tentang bintang dikepalanya.


Ting! Satu notifikasi chat masuk ke ponselnya. Bulan mengernyit dengan nomor baru yang mengirimkan nya pesan. Gadis itu membuka apa isi chat tersebut


@081293746xxx


(Rencananya kapan nih mau gunakan tiket ngedate kita)


Tanpa perlu lama-lama berfikir, bulan langsung tahu berasal dari aman chat tersebut, ia juga heran dari mana tuh orang tahu nomernya.


@Bulan


(Jangan pernah berharap)


@081293746xxx


(Lo cantik tapi galak bikin gue tertantang)


Bulan merotasikan bola matanya jengah, ia memutuskan untuk melempar ponselnya kesembarang arah. Tidak membalas lagi chat terakhir yang dikirimkan Langit. Dirinya memilih untuk tidur saja.


Ting! Chat kembali masuk. Bulan masih acuh


Drrttt drrttt. Bulan merasa ponselnya bergetar. Itu artinya ada seseorang yang menghubungi nya. Dengan rasa malas ia duduk dan meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja. Ia kembali merotasikan bola matanya jengah. Lalu ia menggeser tombol hijau kemudian ia tempelkan benda pipih itu ke telinga nya.


"Apaan sih?" Tanya bulan ketus


"Kenapa nggak bales chat gue?"


"Males dan nggak penting"


Langit Terdengar terkekeh di seberang sana.


"Kalo nggak ada yang penting mau gue matiin" tukas bulan masih bernada ketus.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur" tanya langit yang menurut bulan sangat tidak penting.


"Gimana gue mau tidur kalau Lo masih telfon gue" jawab bulan kesal


"Hehehe iya juga yah, kalau gitu cepet tidur yah good night bulan mimpi indah" bulan tak menjawab, ia memutuskan langsung mengakhiri panggilan tersebut. Dan langsung bergulung kembali masuk kedalam selimut nya.


****


Setelah sebelum nya sudah diumumkan. Pada hari ini adalah puncak pelaksanaan kegiatan ospek, pihak panitia menyelenggarakan acara berkemah dilingkungan kampus serta akan diadakan acara api unggun. Tentunya diselingi dengan permainan-permainan seru.


Kini bulan berada didalam mobil menuju kampusnya, kali ini dirinya diantar oleh Reo karena papa dan Tante Yuni sedang berada diluar kota untuk urusan pekerjaan. Jadilah Dimas minta tolong pada Reo agar mau mengantarkan bulan ke kampus.


Setelah sudah sampai didepan gerbang universitas, gadis itu turun dengan satu tas ransel berisikan barang-barang pribadi yang sudah ia gendong, pasalnya malam ini dirinya akan menginap semalaman karena acara perkemahan itu.


"Makasih yah re udah mau nganterin" ucap bulan, Reo tersenyum dan mengusap kepala gadis itu, setelahnya laki-laki itu kembali masuk kedalam mobil dan langsung melesat pergi.


Bulan terperanjat kala seseorang mencekal pergelangan tangan nya, Dan ternyata Langit lah pelakunya, Bulan ingin menarik kembali tangan nya namun gagal dikarenakan cekalan tangan langit yang begitu kuat.


"Siapa cowok yang tadi nganter kamu" tanya langit dengan tatapan tajam, seakan menginterogasi bulan. Namun bukan itu fokus bulan kali ini. Ia merasa aneh saat langit memanggil nya dengan sebutan kamu bukan pakai Lo lagi.


"Aku bilang siapa cowok yang tadi?" Ucap langit mengulangi.


"Lo kenapa sih aneh banget apa urusannya sama Lo?" Jawab bulan enteng. Lalu kembali berusaha ingin melepaskan cekalan tangan nya.


"JAWAB BULAN" bulan terlonjak kaget saat langit membentaknya. Dengan tatapan langit yang begitu tajam, jujur membuat nyali bulan ciut


"Sodara gue kenapa??" jawab bulan akhirnya, senyum Langit langsung terbit setelah mendengar penjelasan dari gadis itu.


"Mulai besok-besok aku yang akan antar jemput kamu oke" ujar langit


"Nggak mau! Lo Kenapa sih jangan sok sopan deh manggil aku kamu segala. Nggak pantes" sergah bulan dengan wajah jutek, Langit mengulum senyum


"Kenapa? Takut baper yah" mendengar itu bulan merotasikan bola matanya jengah.


Bulan memilih pergi dari hadapan langit. Lama-lama berurusan dengan laki-laki itu membuat tensi darahnya naik.

__ADS_1


Bersambung. .


Jangan lupa klik suka dan tinggalkan komentar jika berkenan.


__ADS_2