Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 47


__ADS_3

Happy reading ✓


Sore itu bulan dan Reo sedang duduk-duduk santai didepan teras rumah bulan, seperti biasanya sepulang bekerja Reo menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah Dimas, apa lagi sekarang saat Dimas dan Yuni sedang tidak ada dirumah, jadilah Reo sering datang untuk sekedar menemani gadis itu.


"Pak Dimas hari ini kan pulang?" Tanya Reo


"Iya lagi dijalan ko, Kenapa kamu mau pulang?" Tanya balik bulan


"Nanti saja pulang nya nungguin pak Dimas" jawabnya, bulan tak bersuara lagi dirinya hanya mengangguk bentuk jawaban.


Tak lama ada sebuah mobil sport berwarna hitam masuk dan parkir dipekarangan rumah, bulan dan juga Reo mengernyit tanda tanya dengan kedatangan mobil tersebut, lalu turun lah seseorang dari dalam mobil itu pak Umar satpam yang bekerja dirumah itu, berlari kecil menghampiri bulan disusul dengan langit yang juga berjalan santai menghampiri bulan.


"Maaf non itu tadi katanya temennya non bulan" beritahu pak Umar, setelahnya satpam itu pun balik lagi menuju pos penjagaan.


"Selamat sore" ucap Langit tersenyum manis. Bulan membalas dengan senyum canggung.


Kini Langit bergeser menatap seseorang yang berdiri disamping bulan, ia langsung teringat dengan Reo bulan sempat menjelaskan kalau dia adalah saudaranya.


"Kamu ngapain kesini, dari mana kamu tau alamat rumah aku" tanya bulan menyelidik.


"Itu mah gampang" jawab langit santai


"Mendingan kamu pulang deh, papa aku bentar lagi Dateng" usir bulan, wajah nya mulai panik mengingat Dimas yang sedang dalam perjalanan pulang.


"Oh bagus dong jadi aku bisa kenalan sama orang tua kamu" jawab langit. Bulan mendesah pelan.


"Papa aku galak, nggak suka ngelihat anaknya disamper cowok" jelas bulan asal, ia berharap langit akan gentar setelah dirinya mengatakan hal tersebut dan memilih untuk pergi. Namun ternyata tidak laki-laki itu malah menaikan satu alisnya.


"Segalak apa sih?! Nggak gigit kan" jawab langit lagi. Bulan sudah cukup geram, ia tak habis pikir ada saja jawaban yang dikatakan oleh langit. Ah sial


Sadar dengan situasi saat ini Reo pun memutuskan untuk pulang saja ke apartemen nya, toh Dimas pun sedang dalam perjalanan pulang.


"Lan aku pulang yah, salam buat pak Dimas " ujar Reo langsung melenggang pergi, awalnya gadis itu ingin mencegahnya pergi namun Reo berjalan begitu cepat.


Langit langsung duduk ditempat yang tadi Reo duduki, ia langsung menepuk bangku disebelah nya menyuruh bulan ikut duduk seperti dirinya, lagi-lagi bulan mendesah pelan dan segera ia mendarat kan bokongnya pada bangku tersebut.


"Kamu mau ngapain sih kesini?" Tanya bulan mengulangi, lalu setelahnya langit mengeluarkan dua tiket voucher hadiah yang diberikan pihak kampus kala dirinya memenangkan permainan.


"Kenapa sekarang sih aku lagi males" jawab bulan tanpa melihat kearah Langit.


"Eits nggak bisa begitu dong, semua kendali ada ditangan aku. Hanya Aku yang bisa nentuin kapan dan jam berapa nya. Bulan berdecak kesal, langit tersenyum miring.


"Percuma aku nggak bakal dibolehin sama papa aku" tandas bulan, langit menanggapi nya hanya mengangguk angguk


Tak lama mobil Dimas terlihat memasuki area pekarangan. Melihat itu bulan panik ia menggigit bibirnya grogi, gadis itu takut jika papa nya akan marah karena ada laki-laki yang datang menemui nya, karena selama ini belum pernah bulan membawa ataupun didatengin seorang laki-laki, biasanya hanya bintang lah satu-satunya laki-laki yang bertandang kerumah nya.


"Aduh Langit udah sana kamu pulang aja" sergah bulan ketakutan. Langit menautkan Kedua alisnya melihat gelagat dari bulan.


"Itu papa kamu?" Bukannya menuruti kemauan bulan. Lelaki itu malah sengaja Bertanya-tanya yang nggak penting menurut bulan.

__ADS_1


"Hai pa" ucap bulan saat Dimas sudah berada didepannya. Laki-laki paruh baya itu langsung tersenyum dan membelai lembut kepala putrinya. Yuni pun tersenyum


"Ini siapa bulan?" Tanya Dimas, saat arah matanya tertuju pada Langit.


"Halo om nama aku Langit, saya satu kampus dengan bulan" jelas Langit, dirinya langsung maju dan menyalami tangan Dimas dan Yuni bergantian.


"Oh gitu ya ya, nak langit silakan duduk biar saya suruh mbok Imas bikinin minuman"


"Nggak perlu om, saya kesini cuma mau izin ngajak bulan ngerjain tugas dari Kaka panitia yang kemarin Ospek" terang nya


"Oh begitu ya sudah tunggu apa lagi, bulan kamu ko nggak siap-siap" tanyanya


"Tapi pa!" Kata bulan merasa berat


"Kamu itu gimana sih lan, ada tugas ko pake acara tapi-tapian udah sana masuk siap-siap" titah Dimas, Yuni masih tersenyum dan merangkul bulan masuk kedalam rumah


Sementara Dimas malah ikut duduk dibangku yang tadi bulan duduki. Kedua laki-laki itu memilih mengobrol.


******


Kendaraan mewah milik Langit baru saja tiba diarea parkiran restoran bintang lima sesuai apa yang dihadiahkan dari kampus. Langit dan bulan berjalan berdampingan menuju masuk kedalam restoran tersebut.


"Kamu cantik banget sih " ucap langit entah sudah yang ke seberapa kalinya, pemuda itu mengatakan hal yang sama.


"Mau berapa kali lagi kamu mau ngomong kaya gitu terus" rutuk bulan kesal. Tanpa ingin menatap Langit, lelaki itu hanya terkekeh


"Atas nama xxxxx" beritahu Langit


"Oh mari silakan saya antar" pinta pelayanan tadi. Bulan dan langit mengikutinya dari belakang.


Nuansa restoran bergaya klasik itu tampak sangat elegant, dengan alunan musik yang mengalun lembut seakan Menambah kesan romantis. Langit terus menyungging kan senyum. Rasanya ia sangat bahagia dengan semua ini, andai saja bukan karena bulan sudah dijamin laki-laki itu tidak akan Sudi menjawab tebak-tebakan saat ospek waktu itu. Walaupun dari awal ia tahu jawabannya


Langit dengan perlahan menggunakan ibu jarinya, mengusap pinggiran mulut bulan yang nampak jelemotan terkena makanan, hal itu membuat gerakan mulut bulan yang sedang mengunyah mendadak terhenti. Ia menatap langit lekat, debaran jantungnya mulai tidak santai.


Selanjutnya lelaki itu meraih satu tangan bulan dan mengecup mesra punggung tangan gadis itu. Bulan menggigit bibir dalamnya, perasaan dag Dig dug kembali menyerang hatinya,


Bulan merasa langit sangat berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang selama ini ia temui, menurut nya langit sangat mahir membuat partner nya merasa hangat dan nyaman, bahkan ia mengakui bintang saja tidak pernah memperlakukan nya sampai seperti ini. Ia merasa sangat berkesan dengan segala kegigihan nya dan perlakuan lelaki itu.


Masih dengan menggenggam tangan gadis itu. Langit kembali bertanya yang ketiga kalinya " mau yah jadi pacar aku?" Ucapnya lagi Terdengar sangat lembut bagaikan sapuan angin.


Bulan terdiam sejenak, seakan sedang mengumpulkan kekuatan dan keyakinan untuk jawaban yang akan ia beri.


"I-iya udah" jawab bulan akhirnya


Langit terperangah senyum lebar langsung tercetak jelas dibibir nya.


"Iya apa?" Tanyanya jahil


"Iya itu" jawab bulan

__ADS_1


"Itu apa"


"Langit " desisnya mulai kesal. Langit langsung terkekeh dan kembali menempelkan bibirnya pada punggung tangan bulan yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Tapi aku boleh minta sesuatu nggak" tanya bulan serius.


"Apapun asal itu bukan disuruh menjauh dari kamu" ujarnya, bulan merotasikan bola matanya


"Aku mau hubungan kita nggak usah Go publik dulu!" Pintanya, langit menautkan alisnya bingung.


"Kenapa emangnya?" Tanya Langit dengan wajah murung, dirinya sudah melepaskan tangan gadis itu.


"Lang dengerin dulu, maksud aku kita tahan dulu sampai situasi memungkinkan, soalnya kita juga kan masih tergolong mahasiswa baru, jadi aku takut hubungan kita bikin kita nggak fokus" jelas bulan. Ia meraih tangan langit untuk digenggam. Langit Menghela nafas panjang lalu membuang nya kasar.


"Denger bulan baik kita go publik maupun backstreet itu nggak akan pernah mempengaruhi apa-apa, aku yakin kamu tetap fokus dan aku pun sama" jelasnya,


"Udah deh Lang please Kali ini aja kamu mau nurutin kemauan aku cuma saat diarea kampus aja ko" pinta bulan dengan mimik wajah melas, langit menghembuskan nafasnya.


"Ya udah oke, tapi inget kamu jangan macem-macem apa lagi kalau ada cowok yang gangguin kamu atau coba-coba deketin kamu, aku patahin langsung lehernya " ancam laki-laki itu.


"Ih ngeri banget sih" bulan mengulum senyum.


"Aku nggak main-main bulan"


"Iya iya" jawab gadis itu.


********


Mobil sport langit sudah berhenti didepan gerbang rumah bulan. Ternyata sudah ada Dimas yang menunggu nya pulang, gadis itu mengerutkan kening saat menyadari langit yang juga ingin ikutan turun.


"Kamu mau kemana?" Tanya bulan mencekal lengan pemuda itu. Otomatis langit menoleh


"Turun lah. Tuh ada papa kamu mau sekalian pamit" jelasnya, tanpa menunggu persetujuan bulan. Langit pun sudah keluar dari mobilnya. Disusul oleh bulan yang berjalan dibelakang laki-laki itu.


"Eh om Dimas belum tidur?" Tanya langit basa-basi


"Eh iya nih belum. Yuk langit masuk dulu yah" ajak Dimas ramah. Bulan takut kalau sampai papa nya akan menginterogasi langit.


"Langit kamu bukannya tadi bilang mau langsung pulang yah" ucap bulan, langit dan juga dimas langsung menoleh kebelakang secara berbarengan. Lalu selanjutnya Dimas menatap Langit.


"Memang nya nak langit nggak mau mampir dulu? Tanya dimas


"Mau ko om" jawabnya


"Kamu gimana sih lan. Orang Langit mau mampir dulu" kata Dimas Tersenyum dan menggelengkan kepalanya


Akhirnya Dimas dan langit berjalan berdampingan terlebih dahulu. Sementara itu bulan langsung mendengus kesal. Ia merutuki langit yang sangat keras kepala.


Bersambung. .

__ADS_1


__ADS_2