
Happy reading ✓
"Aawwwhh" pekik Kanaya setelah punggung nya terbentur pada tembok. Didepan nya sudah ada Langit yang menatap nya datar dan tajam.
"Sekarang pertanyaan nya Lo sendiri yang mau ngaku apa gue yang kasih tau mereka!!" Kata Langit, air wajahnya terlihat mengerikan, Naya sampai bergetar ditatap seperti itu
"Ma-maksud kamu apa Langit?" Tanya Naya berusaha tenang.
Langit tersenyum sinis, ia mengidarkan pandangannya sejenak kembali menatap Naya "Jangan berlaga polos Naya, gue tau perbuatan busuk Lo, sekarang Lo pilih gue yang kasih tau mereka apa Lo yang ngaku" tutur Langit
"Memang nya apa yang udah kamu tahu, aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan, permisi" kata Naya ia akan melangkah pergi, namun sebelum itu Langit berhasil mencekal pergelangan tangannya lalu kembali membenturkan punggung gadis itu ke tembok. Membuat Naya mengaduh kesakitan.
"Lo beneran nggak tau sama perbuatan Lo sendiri, oke berarti Lo pilih opsi biar gue yang akan buka kebusukan Lo" ancamnya, Naya mulai ketar ketir bagaiman ini. Dia membayangkan amarah dari kedua orangtuanya, dan juga orang-orang yang akan kecewa padanya.
"Nggak aku nggak mau, aku nggak ngelakuin apa-apa, kamu jangan fitnah Langit" elaknya, terlihat Naya yang sangat panik. Langit memejamkan mata sejenak mengidarkan pandangannya, lalu ia maju melotot tepat didepan wajah Naya, demi tuhan jika Naya seorang laki-laki sudah pasti Langit akan membuatnya babak belur.
"Jangan bikin kesabaran gue habis Naya" desis Langit marah, sungguh Naya ketakutan dibuatnya.
****
Kini bulan Sudah sadarkan diri, didalam ruangannya sudah ada beberapa temannya, yakni Niko, Ares, Anita, pretty serta Darren dan juga Bram. Mereka semua sengaja datang untuk menjenguk bulan.
Sedangkan bintang tidak ada diantara mereka, laki-laki itu hilang entah kemana saat terakhir kejadian bersitegang dengan Langit.
Dimas dan Yuni serta Alda dan Erik pun turut ikut masuk kedalam ruangan VVIP rawat inap yang ditempati bulan, dan tak lama masuklah Langit yang merangkul pundak Naya masuk kedalam ruangan tersebut. Hal itu membuat atensinya yang lain mengarah pada langit dan Naya bingung. Lebih-lebih lagi bulan menatap itu tak suka, ia tidak suka melihat langit yang berjalan sembari merangkul pundak Naya.
"Mohon maaf semuanya saya mau kasih kabar kalau Naya akan mengatakan sesuatu" ucap Langit, ia melepaskan rangkulannya lalu membiarkan Naya berdiri sendiri. Sedangkan Langit langsung berjalan menghampiri bulan yang tersenyum padanya.
"Kamu mau ngomong apa nay?" Tanya Yuni sang ibu. Naya mulai gugup dia bingung harus berkata dimulai dari mana. Semua orang sudah menatapnya menunggu apa yang akan Naya katakan.
Kanaya belum juga membuka suara. Ia masih diam tak bergeming sampai Langit berdehem sengaja menuntut agar Naya segera membuka mulutnya.
"Ada apa Naya kamu mau ngomong apa?" Kali ini Dimas yang bertanya.
Kanaya mulai menangis tubuhnya bergetar, "ma-maaf Bu a-aku aku udah kasih bubuk sianida ke makanan bulan waktu itu"
__ADS_1
"Apa..coba coba kamu ulang sekali lagi?" Tanya Yuni meminta pengulangan. Naya makin menangis tubuhnya makin bergetar. Ia ketakutan
"Maafin aku Bu Naya yang udah kasih bulan sianida" Naya mengakuinya dengan lantang. Tak ayal membuat yang ada Disitu kaget bukan main. Terkecuali Langit laki-laki itu tersenyum miring.
Sebagai seorang ibu Yuni yang paling terpukul mendengar pengakuan dari Putrinya ia tidak menyangka anak perempuan nya yang dikenal berhati lembut sampai hati melakukan hal sekeji itu. Yuni maju menghampiri Naya.
"Bu maafin Naya bu" PLAAAKK wajah Naya tertoleh kesamping merasakan perih dan panas dipipinya. Yuni menampar pipi putrinya dengan sangat kencang ia menatap Naya nyalang sesekali kepalanya menggeleng tak bisa diterima Mauk ke akal sehatnya.
"Kamu mau menjadi pembunuh Naya, kenapa kamu jadi seperti ini" Yuni berteriak meneriaki anaknya tepat didepannya.
Yuni kembali memukuli putrinya, sampai-sampai gadis itu jatuh tersungkur. Naya menangis, Yuni pun sama menangis dia Tangannya masih memukuli tubuh anak perempuan nya. Ia sangat malu kenapa anaknya yang ia kenal berhati baik berubah jadi seperti Monster pembunuh.
"Sudah Yun sudah" Dimas langsung meraih tubuh istrinya. Menenangkan agar tidak memukuli Naya. Disisi lain bulan menatap kejadian itu merasakan Dejavu. Dia masih ingat betul disaat dirinya yang tidak sengaja membuat Naya terjatuh dari lantai tiga saat SMA dulu. Dirinya pun diperlakukan hal yang sama, ditampar di injak serta dikucilkan.
"Biarin aja mas, buat apa aku punya anak yang mencoba jadi pembunuh nyesel aku udah melahirkan anak kaya kamu Naya, ini balasan kamu hah, dimana Naya ku yang dulu" bentak Yuni dengan deraian air mata, Naya kini mulai menatap ibunya lelehan air asin sudah membasahi kedua pipinya.
Selanjutnya Kanaya mulai terkekeh menampilkan senyuman smirk dengan tangan yang masih memegangi pipinya. Ia perlahan bangkit pandangan nya menyapu ke setiap penjuru dimana orang-orang sedang menatapnya.
"Hahaha ibu benar aku emang berniat jadi pembunuh, dan aku ingin banget kalo bulan mati, tapi sayang sianida yang aku kasih waktu itu belum juga membuat nya mati" tandas Naya terkekeh, semua yang ada disitu jelas shock tidak menyangka Naya akan jadi seperti ini.
Selanjutnya Naya berlari hendak menerjang untuk menikam kan pisau lipat yang sudah ia genggam kearah bulan yang terbaring.
Semua memekik kaget tak ada yang mampu mencegah Karena kejadiannya begitu cepat.
"Aarrgghhh" Langit memekik kala tangannya menggenggam pisau dari genggaman Naya yang akan ditusukkan kepada bulan.
Cairan merah mulai merembes dari luka tangan Langit yang masih menghalau pisau tersebut dengan tangannya. Yang lain langsung membantu mengamankan Kanaya, bulan sendiri ketakutan dengan sikap Naya yang tiba-tiba sangat mengerikan.
"Kanayaaa" Yuni makin histeris melihat Naya yang benar-benar sudah berubah jadi monster, Kanaya terus berontak ingin menerjang bulan kembali. Ia berteriak histeris bagai orang tidak waras.
"Mati kamu bulan mati hahaha aku akan bunuh kamu" tubuh Naya terus berontak. Padahal semua laki-laki yang ada disitu sudah mencengkram tubuhnya.
"Bawa keluar saja, sebaiknya kita bawa kerumah sakit jiwa" titah Dimas, Yuni awalnya keberatan dengan usul suaminya. Namun apa boleh buat, melihat keadaan Naya yang memang sudah sangat memprihatinkan. Akhirnya Dimas, Yuni , Erik , Niko dan Ares membawa Naya pergi kerumah sakit jiwa. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Naya mengamuk, berontak sungguh sangat membahayakan.
Disisi lain Alda langsung memanggil dokter untuk menangani luka Langit yang nampak banyak mengeluarkan darah. Tangan lelaki itu dipastikan robek akibat sayatan pisau. Bulan pun tak bisa berbuat banyak mengingat kondisinya juga yang masih lemas.
__ADS_1
*****
"Sakit yah" tanya bulan pada Langit yang kini sudah duduk disampingnya, tangan laki-laki itu nampak sudah dijahit dan dibalut dengan perban.
"Kaya gini doang nggak berasa" Jawabnya tersenyum, membelai kepala bulan menggunakan satu tangannya yang tidak terluka.
"Demi tuhan bulan. Kalau sampai kamu kenapa-napa akibat sianida itu. Udah aku pastikan Kanaya aku bunuh saat itu juga" geram langit.
"Huussshh jangan ngomong sembarangan". Jari telunjuk bulan menempel pada bibir lelaki itu. Langit malah membalasnya jahil ia masukan jari telunjuk bulan kedalam mulutnya mengulum dan digigit.
"Jorok ih" sengit bulan. Menarik lagi jari telunjuknya yang masuk kedalam mulut Langit. Laki-laki itu terkekeh dan memencet hidung tunangan dengan gemas.
"Lan nanti kalau kamu udah sembuh kita nikah aja yuk, aku pengen jagain kamu 24 jam" ucap Langit serius. Bulan mendesah arah pandangan nya menyapu plafon diatas nya.
"Mau yah" ajaknya lagi. Bulan kembali menatap Langit
"Lebih baik kita selesaikan kuliah kita dulu deh Lang" kini Langit yang mendesah lemas.
"Banyak ko kisah orang yang nikah sambil kuliah, dan mereka enjoy-enjoy aja no problem" jelasnya
"Mau yah! aku cuma pengen jagain kamu, dan nggak akan ada yang berubah kalau kita menikah. Semua akan berjalan seperti biasanya. Kamu bisa ngelakuin hal yang biasa kamu kerjain" Langit mencoba meyakinkan tunangannya lagi. Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang ajakan dari Langit.
"Aku nggak usah sembuh aja kali yah biar nggak nikah" ujar bulan mengulum senyum, ingin menggoda laki-laki itu.
"Heh ngomongnya, kalau gitu aku rubah rumah sakit ini jadi gedung pernikahan, biar dokter jadi penghulu nya" kata Langit mencubit bibir bulan pelan. Gadis itu terkekeh mendengar ancaman konyol Langit.
"Kita nikah yah" ajak Langit pantang menyerah. Bulan mengangguk kan kepala, Langit langsung tersenyum lebar. Betapa bahagianya dia saat ini.
Langit for Bulan
Bulan for Langit
hai Jangan lupa klik tanda jempol dan tinggalkan komentar.
Bersambung. .
__ADS_1