
Bulan dan Bintang sudah ditunggu oleh keluarga besar mereka untuk makan siang di restoran hotel. Mereka berdua baru saja selesai mandi dan berganti pakaian kemudian keluar kamar menuju restoran.
"Nah ini dia yang ditunggu-tunggu dari tadi, sepertinya mereka berdua sibuk terus di dalam kamar. Hahaha.... " goda pak Surya pada anak dan menantunya itu.
"Biarkan saja mas Surya, namanya juga sedang hangat-hangatnya !" Pak Dharma tidak mau kalah menggoda anak dan menantunya, membuat semua yang ada di meja makan tertawa penuh canda.
Bulan dan Bintang sudah mengambil nasi dan lauk, kini mereka telah makan sambil tersenyum mendengar obrolan para orang tua.
"Bintang ini saking sibuknya sampai-sampai dia jatuh dari kasur !" Bu Ines menambah bahan candaan membuat yang hadir saling memandang satu sama lain dan tertawa bersama.
Bintang yang dijadikan bahan candaan langsung memerah wajahnya karena malu, Bulan hanya bisa menahan tertawanya sambil mengingat kejadian yang baru mereka alami di kamar.
"Mama ... kenapa diceritakan sih, membuat aku malu saja deh ... " ucap Bintang sambil memandang wajah Bu Ines minta penjelasan. Bu Ines pura-pura tidak melihat Bintang yang sedang memandangnya.
Bella, Bima dan Mentari ikut tertawa mendengar cerita bahwa Bintang jatuh dari kasur.
"Hahaha ... kakak sebesar ini bisa jatuh dari kasur?" ucap Bella memandang kakaknya.
"Ih, anak kecil ikut-ikutan saja!" Kata Bintang sambil menatap tajam kearah Bella dan dibalas oleh Bella dengan menjulurkan lidahnya mengejek Bintang.
Bulan yang mendengar mertuanya dari tadi menggoda Bintang jadi merasa tidak enak dengan suaminya.
"Ma, Pa, Bintang tadi jatuh juga karena aku yang salah, tidak sengaja mendorong dia," Bulan memberikan penjelasan.
"Iya sayang, kami hanya ingin bercanda saja supaya tidak tegang suasananya. Oh ya, setelah ini kami akan pulang ke rumah, kalian mau pulang atau akan tetap disini?" tanya Bu Ines pada Bulan dan Bintang.
"Kalau aku sih terserah Bintang saja Ma," ucap Bulan sambil melirik ke arah suaminya.
"Sebenarnya kami juga masih lelah dan masuk kerja pun masih dua hari lagi. Sebaiknya kami ikut pulang saja, istirahat di rumah lebih enak. Aku juga ingin merasakan masakan istriku," kata Bintang pada mamanya.
"Baiklah kalau begitu setelah ini bersiap-siaplah, kita pulang sama-sama. kalian berdua naik mobil dengan papa dan mama saja, nanti keluarga pak Dharma bisa naik mobil satu lagi diantar Pak Sahril." Pak Surya memberikan arahan pada semuanya.
Setelah acara makan siang selesai, Bulan dan Bintang segera ke kamar lagi untuk mengemasi pakaiannya dalam koper dan kembali pulang ke kediaman pak Surya.
***
Kini keluarga Bulan dan keluarga Bintang sudah berkumpul lagi di kediaman pak Surya. Mereka masih diliputi rasa syukur bahagia setelah mengadakan acara pernikahan Bulan dan Bintang.
Tampak Bulan, Bu Ines dan Bu Annisa berkumpul di ruang tengah mengobrol bersama, lebih banyak memberikan nasihat pada Bulan yang sekarang memiliki status baru yaitu sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Bulan, mulai sekarang kamu harus mengikuti apa kata suami kamu. Jangan keras kepala seperti dulu lagi. Lakukan kewajibanmu sebagai seorang istri dengan baik. Jika suami kamu meminta haknya, maka layanilah dengan baik dan jangan membantah. Apa kamu bisa mengerti Nduk ?" Bu Annisa memberikan nasihat pada anak sulungnya ini.
"Iya Bu, Bulan mengerti dan akan selalu mengingat nasihat ibu," ucap Bulan meyakinkan ibunya.
"Bagus kalau kamu sudah mengerti Nduk. Selama kamu masih tinggal di rumah mertuamu ini, jangan sekali-kali membuat hal-hal yang memalukan. Kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga kita," lanjut Bu Annisa dalam nasihatnya.
"Inggih Bu, insya Allah akan Bulan jalankan perintah ibu," jawab Bulan dengan memeluk ibunya.
"Mbakyu Ines, saya titip anak perempuan saya ini ya. Dia ini termasuk anak yang keras kepala kalau sudah mempunyai keinginan, sama seperti ayahnya, hehehe ... " kata Bu Annisa pada Bu Ines yang duduk di dekat Bulan.
"Iya mbak, walaupun Bulan ini menantu kami tapi sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Jadi jangan khawatir, kami akan selalu menjaga dia," ucap Bu Ines meyakinkan Bu Annisa sambil mengusap punggung Bulan memberikan rasa nyaman.
"Alhamdulillah, terima kasih mbakyu Ines. Kalau Bulan ngeyel, nanti dijewer saja telinganya!" kata Bu Annisa disambut tertawa oleh Bu Ines.
"Ibu ini ada-ada saja, memangnya aku anak kecil?" ucap Bulan sambil tersenyum dan memeluk erat ibunya.
Ditempat berbeda nampak pak Surya, pak Dharma dan Bintang sedang mengobrol bersama di gazebo halaman belakang dekat kolam renang.
"Nak Bintang, mulai saat ini Bulan sudah bukan menjadi tanggung jawab bapak lagi, tapi sudah menjadi tanggung jawab Nak Bintang. Jadi bapak sangat berharap Nak Bintang bisa menjaga dan membimbingnya dengan baik. Bulan itu anak yang baik namun kadang muncul keras kepalanya, sama seperti saya, hehehe ..." kata pak Dharma pada menantunya itu.
"Iya pak, insya Allah saya akan selalu menjaga dan melindunginya, saya juga akan membimbingnya dengan baik bila dia melakukan kesalahan," ucap Bintang meyakinkan ayah mertuanya.
"Terima kasih ya Nak Bintang," kata pak Dharma sambil memeluk punggung Bintang.
"Mas Surya, saya titip anak perempuan saya. Dia anak yang rajin, semoga tidak mengecewakan keluarga besar Mas Surya disini," ucap pak Dharma pada besannya.
"Iya Mas, Bulan itu sudah seperti anak kami sendiri kok, jadi Mas Dharma tenang saja. Kami akan selalu menjaga dia Mas," kata pak Surya sambil menepuk-nepuk bahu pak Dharma dan memperlihatkan senyum ramahnya.
"Oh iya Pak, Saya sudah mengutus anak buah saya ke Surabaya. Saya dan papa akan merenovasi rumah bapak di Surabaya, kemudian di dekat rumah akan kami bangun depot untuk bapak berjualan Bakso. Jadi bapak tidak perlu berjualan hingga berjalan ke depan kecamatan, dan ibu juga bisa membantu bapak berjualan nantinya," ucap Bintang mengenai rencana dia dan papanya membantu keluarga pak Dharma.
"Alhamdulillah, Masya Allah terima kasih banyak Nak Bintang," pak Dharma segera memeluk erat tubuh menantunya itu.
"Kita ini kan sudah menjadi keluarga besar Mas, jadi saling membantu lah. Dan untuk biaya sekolah Bima dan Mentari tidak perlu dipikirkan lagi, semua saya yang akan membiayai hingga mereka lulus kuliah," ucap pak Surya.
Pak Dharma setelah mendengar kata-kata dari pak Surya, langsung bersujud syukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang sudah Allah berikan pada keluarganya melalui bantuan keluarga pak Surya.
"Terima kasih banyak Mas Surya, saya tidak mampu membalas semua kebaikan keluarga Mas Surya, hanya Allah yang akan membalas kebaikan hati Mas Surya dan keluarga, Aamiin," ucap Pak Dharma memeluk erat pak Surya sambil tak kuasa menahan air mata bahagia.
"Aamiin ," jawab Bintang dan pak Surya bersama-sama.
__ADS_1
Bulan kini berada di dapur membantu memasak makanan untuk makan malam. Bulan nampak cekatan saat memasak, dia saat ini akan membuat sup ayam jamur, perkedel kentang dan udang goreng tepung.
Selama Bulan memasak di dapur, dia tidak menyadari jika Bima mengikutinya. Saat Bulan selesai menggoreng perkedel dan meniriskan hasil gorengannya, pasti sudah berkurang satu. Bulan mencari ke arah bawah siapa tahu ada yang terjatuh ke lantai dapur, namun tidak ada. Para asisten rumah tangga dilarang membantu memasak oleh Bulan, supaya semua orang benar-benar merasakan masakan buatannya.
Tiba-tiba dari arah belakang Bima berbicara pada Bulan, "Mbak, mencari apa sih sampai ke lantai?" tanya Bima.
"Ini lho dek, gorengan mbak selalu berkurang satu. Mbak cari ke bawah tapi tidak ada, kemana ya?" ucap Bulan sambil tangannya mengiris bawang.
"Oh ada kok tadi," kata Bima.
"Kamu tahu dek, dimana?" tanya Bulan
"Nih, di perut aku," jawab Bima terkekeh sambil lari keluar dapur.
"Adeeeekkk ..... !!" teriak Bulan memanggil Bima sambil pandangannya mencari keberadaan Bima.
"Kalau begitu nanti kamu tidak dapat jatah perkedel kentang lagi !" ucap Bulan sambil menatap tajam ke arah Bima yang sedang berdiri di dekat ibunya.
"Ini ada apa sih, berisik sekali kalian berdua?" tanya Bu Annisa pada kedua anaknya.
"Itu Bu, Bima mengambil beberapa perkedel yang sudah matang," jawab Bulan dengan hati kesal.
"Ngadu saja terus ke ibu, week ..." ucap Bima sambil menjulurkan lidahnya mengejek Bulan.
"Sudah, sudah ah, Bima jangan ganggu mbakmu yang sedang masak, nanti semakin lama matangnya. Apa kamu tidak lapar?" tanya Bu Annisa pada Bima sambil mengetuk kepala Bima dengan jari.
"Hehehe ... iya Bu. Mbak, maaf ya," ucap Bima sambil tersenyum pada Bulan yang masih sibuk memasak. Kini Bima yang jadi kesal karena dia bicara tidak didengarkan oleh kakaknya.
"Mbak ... maaf ya," Bima mulai merajuk pada Bulan.
"Iya," jawab Bulan singkat.
"Terima kasih mbakku yang cantik" Bima memeluk kakaknya dan beralih tempat menuju para anak gadis berkumpul melihat penampilan Bintang Korea bernyanyi melalui laptop.
Bulan diganggu Bima saat sedang memasak di dapur
#############
__ADS_1
Bagaimana teman-teman, kalian suka keceriaan Bulan dengan keluarganya? Tekan lagi like nya ya, berikan komentarmu, tambah lagi vote nya, rate bintang 5 nya dan jadikan sebagai favorit kalian 🤗😘
Selamat membaca 😍😍😍😍😍