
Happy reading ✓
Kini bulan dan bintang berada diluar gedung, menghadap aliran air buatan yang terdapat disebuah taman. Belum ada obrolan dari keduanya, terasa sangat canggung bagi mereka yang saling berdiri berdampingan.
"Selamat yah lan atas pertunangan Lo" ucap bintang mulai membuka suara.
"Thanks" jawab gadis itu tersenyum canggung.
"Lo Dateng kapan?" Basa basi gadis itu.
"Tadi siang" jawabnya, bulan mengangguk
"Sama Naya?" Tanyanya lagi, bintang mengangguk
"Gue nggak ngeliat Naya" selidik bulan. Karena biasanya dimana ada bintang disitu ada Kanaya.
"Please jangan ngomongin Naya bisa??" Ucap bintang memohon. Bulan menaikan satu alisnya.
"Kenapa itu kan tunangan Lo" katanya, bintang menunduk lalu mengehela nafas dan Membuang nya kasar dari mulutnya.
"Kayaknya gue menyerah sama hubungan gue dan Naya, gue nggak sanggup, gue pengen batalin pertunangan gue sama dia, gue nggak bahagia sama dia lan" jelas bintang lesu, bulan ternganga mendengar itu. Apa katanya nggak bahagia. Cih gadis itu terheran-heran dengan sikap laki-laki didepannya.
"Dan kayaknya gue nggak mau lanjutin kuliah di Oxford lagi, gue mau stay disini" bulan makin ternganga dengan penuturan yang dilontarkan bintang.
"Apa alasan Lo, apa nggak sayang?" Tanya bulan.
"Mulai sekarang gue mau memperjuangkan hati dan perasaan gue yang selama ini tertindas lan, gue mau raih apa yang gue suka dan apa yang gue inginkan" kata bintang serius mengarah pada bulan. Gadis itu bisa menangkap tatapan yang berbeda dengan tatapan biasanya.
"Ma-maksud Lo" tanya bulan
"Sesuatu yang gue inginkan akan gue perjuangkan kembali" jawab laki-laki itu terkesan ambigu ditelinga bulan.
"Sorry tang kayaknya obrolan kita sampai disini aja. Gue nggak enak sama tunangan gue, permisi " selanjutnya bulan pergi dari hadapan bintang. Laki-laki itu menatap punggung bulan yang berjalan semakin menjauh.
Tanpa mereka sadari sudah ada Kanaya yang memperhatikan selama mereka berinteraksi. Dua tangannya terkepal kuat dibawah sana. Matanya memerah hatinya terasa hancur, kala dirinya dengan jelas mendengar semua percakapan obrolan antara bulan dan bintang tadi.
Disisi lain bulan mengeluarkan ponselnya yang berada didalam tasnya. Mendial cepat nomor Langit.
"Kamu dimana" tanya bulan menempelkan benda pipih bergambar sebuah apel tergigit.
"Aku lagi sama teman-teman kamu niko, Ares. Kamu udah ngobrol nya?" Tanyanya
"Udah, aku kesana yah" jawab bulan. Selanjutnya ia menaruh lagi gawainya kedalam tas.
Benar saja bulan bisa melihat Langit yang sedang bercengkrama dengan sahabatnya. Iapun berjalan untuk menghampiri mereka.
"Hai semua" sapa bulan setelah dirinya bergabung.
"Hai lan" sapa balik para sahabatnya.
__ADS_1
"Lo udah ketemu bintang" tanya Ares pada bulan. Gadis itu membalas dengan mengangguk.
"Itu bintang. Woi sini tang" teriak Niko memberi kode agar laki-laki itu mau bergabung.
Nampaklah bintang dan Kanaya imut bergabung, bulan bisa melihat Naya dengan mata sembabnya. Entah kenapa apakah gadis itu habis menangis?!
"Nay Lo kenapa abis nangis? Tanya Anita menelisik memajukan wajahnya.
"Aah nggak nit nggakpapa ko, biasa tadi aku abis ngelihat film drama. Tentang seorang wanita yang tega berusaha hancurin hubungan saudarinya " ucap Kanaya tersenyum dan sesekali mengusap air matanya yang kembali akan menetes.
"Oh kirain apaan Lo Ampe nangis begitu. Ternyata cuma film" kata Anita yang merasa lega. Namun tidak dengan bulan ia langsung menatap Kanaya tajam. Dalam batinnya bertanya-tanya apa maksud dari ucapan saudari tirinya itu. Diam-diam langit mengamati gelagat bulan yang terlihat marah. Laki-laki itu langsung menggenggam kuat tangan tunangan nya.
"Eh nay Lo udah kenalan belum sama langit tunggangan nya bulan" beritahu Anita lagi. Naya langsung menatap langit dan mengulurkan tangannya
"Hai aku Kanaya saudari tirinya bulan. Kita satu ayah beda ibu" jelasnya, bulan merotasikan bola matanya jengah.
"Langit" balas laki-laki itu dan menjabat tangan Naya.
Disisi lain bintang terus mencuri pandang kearah bulan. Walaupun bulan sama sekali tidak pernah menatap kearah bintang. Namun langit tahu jika bintang diam-diam terus memperhatikan tunangan nya. Kali ini ia masih bersabar. Tapi setelah ini jika bintang macam-macam siap-siap saja ia akan berhadapan dengan seorang Langit angkasa biru.
*****
Suara MC yang memandu acara reuni Akbar tahun ini masih terus terdengar. Setelah mereka makan-makan, MC akan mengadakan sebuah permainan sambung kata.
Mereka akan dibagi tiap 10 anggota per kelompoknya. membuat lingkaran seperti cincin dengan tangan mereka yang saling bergandengan. Nanti jika ada suara aba-aba dari panitia. Peserta pertama akan mengeluarkan satu kata apa saja bebas dan random.
Setelah mendengarkan aba-aba dari dewan panitia. Kelompok itu mulai berputar mengatakan satu kata. Dan dimulai dari Anita berkata, JANGAN disambung dengan Ares PERNAH, Niko menyambung, KAMU disamping Niko menyambung, MEMPUNYAI disampingnya lagi menyambung NIAT, kali ini bintang yang menyambung UNTUK, setelah nya giliran Kanaya yang menyambung MEREBUT MILIK ORANG LAIN.
permainan terhenti kelompok itu di diskualifikasi lantaran Naya yang menyebutkan kata terlalu banyak. Karena aturannya hanya boleh mengucapkan satu kata saja. Jadi mau tidak mau kelompok mereka gugur.
"Aduh mohon maaf untuk kelompok B kalian harus didiskualifikasi karena melanggar peraturan. Oh iya tadi saya penasaran dengan kata-kata yang tadi disebutkan. Ternyata berbunyi. JANGAN PERNAH KAMU MEMPUNYAI NIAT UNTUK MEREBUT MILIK ORANG LAIN. Wah-wah kalimat yang sangat unik yah hehe" seloroh MC yang dengan lantang mengucapkan kalimat yang kelompok bulan rangkai. Padahal bulan sendiri belum sempat untuk menjawab. Akan tetapi Kanaya sudah menuntaskan nya dengan empat mata sekaligus.
Lagi-lagi Naya berhasil membuat dada bulan bergemuruh. Namun gadis itu mencoba tenang tidak ingin terpengaruh dengan semua bualan saudarinya, bulan sendiri tidak mengerti apa maksud Naya mengatakan kalimat yang terakhirnya saat permainan menyambung kata.
Setelah tim mereka gugur, Akhirnya mereka semua memutuskan untuk duduk sembari memperhatikan permainan yang masih berlanjut. Menyantap makanan atau sekedar minum.
"Buka mulutnya" titah Langit, bulan pun menurut ia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Langit. Mereka terlihat sangat romantis dengan pembawaan Langit yang memang sangat memprioritaskan tunangannya.
"Lang aku ketoilet dulu yah" ucapnya berbisik
"Mau aku Temenin" tawarnya
"Nggak perlu kamu disini aja" bulan bangkit dari duduknya.
"Aku anterin aja yah, sekalian!" Kata langit tersenyum jahil.
"Sekalian apa, kamu mau ketoilet juga" tanyanya, langit menggeleng lantas ia mendekatkan bibirnya pada telinga bulan.
"Sekalian kita ciuman ditoilet" ucapnya menggoda. Bulan langsung melotot ikut tersenyum sembari mencubit lengan Langit.
__ADS_1
"Resa ah" tandasnya, bulan langsung berjalan menuju toilet. Langit terkekeh.
Ditoilet bulan sedang mencuci tangannya dan merapikan sedikit penampilan nya didepan wastafel bercermin. Tak lama keluar lah Naya yang juga ternyata habis dari dalam toilet. Ikut berdiri menghadap wastafel samping persis bulan.
"Hai bulan apa kabar, aku kangen sama kamu nanti malam kamu pulang kerumah kan?" Tanya Naya basa basi
"Bukan urusan lo" jawab bulan ketus. Naya tersenyum mendengar ucapan bulan.
"Kamu nggak berubah dari dulu sampe sekarang masih galak sama aku" ujar Naya masih tersenyum.
"Oh iya maaf yah gara-gara aku tadi permainan kita gagal kalah, habis aku benar-benar lagi kesel dan marah sama cewek dia berusaha mau hancurin perempuan lainnya" bulan langsung menyelesaikan cuci Tangan nya dan berbalik menatap Naya tajam. Dua tangannya sudah ia silang didepan dada.
"Sejak kapan Lo pinter nyindir-nyindir nggak jelas, siapa yang Lo omongin itu!!" Tanya bulan tajam. Naya tersenyum menghadap bulan balik.
"Gimana rasanya kalau perempuan yang tersakiti itu akan membalasnya dengan cara merebut balik milik perempuan itu"
"Ngomong apa Lo Sialan" bulan meraih botol minum bekas milik orang yang tertinggal di wastafel. Membuka tutupnya lalu menyiramkan nya keatas kepala Naya. Sehingga membuat rambut serta baju gadis itu basah kuyup.
"Dengerin gue baik-baik, jaga ucapan Lo kalau Lo masih nyindir-nyindir gue dengan ucapan sampah Lo itu gue hancurin hidup Lo, dan satu lagi gue udah nggak berminat sama sekali rebut siapapun dari Lo, karena gue udah punya orang yang saat ini paling gue cintai lebih dari apapun ngerti lo" ucap bulan tajam. Membuat Naya tidak berkutik senyuman yang sedari tadi disunggingkan lenyap begitu saja.
Setelahnya ia langsung pergi meninggalkan Naya yang masih mematung, dengan penampilan kusutnya serta perasaan yang mungkin terasa tercabik-cabik.
Bulan terperanjat kala dirinya melihat ada Langit yang berdiri menyandarkan tubuh nya dinding toilet tak jauh dari bulan berdebat dengan Naya tadi. Lelaki itu tersenyum lalu menyeret tangan bulan untuk masuk kedalam sebuah toilet yang terlihat sepi.
"Lang kamu apa-apaan sih nggak enak kalau sampe ada yang tahu" mohon bulan ingin keluar dari dalam toilet tersebut.
"Aku suka sam kata-kata kamu pas kamu debat sama saudari tiri kamu" kata langit meraih tersenyum. Bulan merotasikan bola matanya
"Tukang nguping" bulan mendengus langit terkekeh, mengunci tubuh bulan agar tidak bisa lari Keluar.
"Langit" desis nya
''cium dulu" punyanya manja, bulan mendesah pelan
"Lang nanti aja dirumah" beritahu nya langit menggeleng. Membuat bulan mendesah kembali. Akhirnya ia maju dan mencium bibir tunangannya sekilas.
"Ciuman apa tuh begitu" protesnya
Langit meraih tengkuk bulan melu-mat bibirnya dengan bernafsu, bulan mengalungkan tangannya pada leher Lelaki itu, saling membalas ciuman bertukar Saliva serta berebut oksigen, mengingat ciuman mereka semakin lama bertambah hard.
tangan langit sudah meremas lembut payu-dara bulan menelusup masuk kedalam gaun yang bulan kenakan, memainkan puncak payudara tersebut. langit sudah terbiasa menjamah area dada bulan kala mereka berciuman. bulan pasrah dengan hal itu. namun jika Langit sudah lepas kendali ingin melakukan hal lebih bulan langsung menghentikan nya menyadarkan Langit.
"aaahhh" tanpa sadar bulan mendesah lolos begitu saja dari dari sela-sela ciuman mereka. merasakan nikmat saat langit yang begitu liar memainkan puncak squishi nya.
lelaki itupun menyudahi ciuman mereka masih dengan kening mereka yang tertempel, nafas kedua nya menderu. langit mengusap bibir bulan yang sudah basah menggunakan jempolnya.
"keluar yuk" ajak langit, bulan mengangguk dan merapikan lagi dandanannya yang sempat acak-acakan oleh ulah Langit. akhirnya keduanya berjalan kembali saling bergandengan bergabung dengan para sahabatnya yang masih duduk-duduk sambil berbincang-bincang tidak jelas.
bersambung. .
__ADS_1