Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Episode 12. Perkenalan Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Sore ini sepulang kerja, Arda ingin sekali menikmati makanan di kafe depan kantornya. Perutnya sudah mulai meronta-ronta ingin diisi karena lapar, sepanjang hari ini Arda memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia diberikan tugas oleh Bintang untuk meninjau perusahaan cabang guna memeriksa hasil yang telah dicapai oleh perusahaan cabang sekaligus mengevaluasinya. Begitu sibuknya dengan pekerjaan membuat Arda tidak sempat untuk makan siang, sehingga pada akhirnya diapun tak kuat menahan lapar.


Sesampai di kafe kemudian Arda memesan roti bakar keju dan es mocca float. Tampak seorang pramusaji cantik mendatanginya sambil membawakan makanan dan minuman pesanannya. “Permisi Tuan, ini makanan dan minuman pesanan anda, satu roti bakar keju dan satu es mocca float. Silahkan menikmati sajian kami Tuan,” ucap pramusaji itu dengan ramah sambil meletakkan pesanan Arda di atas meja. Tak berapa lama Arda pun segera menyantap roti bakar kejunya dengan lahap.


Disaat Arda sedang asik makan tiba-tiba pandangannya lurus ke arah sosok perempuan cantik yang duduk di meja dekat dinding. Tampak perempuan itu sedang menangis sesenggukan dan air matanya keluar dengan deras sekali. Makanan dan minuman yang ada di meja depannya belum dia jamah sama sekali, dia tetap menangis sepertinya dia sedang sedih. Arda tak tega melihatnya, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati sosok perempuan itu. Arda pun duduk di kursi depan perempuan itu.


“Pakai ini, bersihkan air matamu !” ucap Arda pada perempuan itu sambil memberikan sapu tangannya.


“Te … Terima kasih “ jawab perempuan itu yang dia sendiri tidak mengetahui sejak kapan Arda berada di kursi depan dia duduk. Perempuan itu pun mengusap air matanya dengan sapu tangan dari Arda.


“Apakah kau masih ingin menangis ? tanya Arda.


“Tidak,” jawab perempuan itu singkat.


“Baiklah, sekarang kamu makan makanan yang sudah kamu pesan ini. Lihatlah, kasihan dia karena kamu tinggal menangis.” tutur Arda dengan lembut dan memperlihatkan senyum manisnya.


“Iya, ini aku makan,” kata perempuan itu.


Arda menemani perempuan yang baru dikenalnya itu yang sedang makan namun tampak kesedihan di wajahnya, sesekali dia mengusap air matanya dengan tissu.


“Tampaknya kamu sedang ada masalah yang sangat berat, hingga kamu menangis tiada henti. Tenangkan dulu hatimu, kalau kamu butuh teman untuk bercerita maka aku siap mendengarkan, supaya beban pikiran kamu bisa lebih ringan,” ucap Arda dengan pandangan penuh perhatian.


“Aku merasa kecewa dengan tunanganku, dia telah berkhianat padaku. Ternyata diam-diam dia berselingkuh di belakangku. Hiks, hiks …. Huuuuu … padahal kami sudah merencanakan untuk menikah awal tahun depan. Huuu … Huuuu ….“ perempuan itu pun bercerita pada Arda dan tangisannya kembali meledak.


Arda meraih tubuh perempuan itu dan kepala perempuan itu disandarkan di bahu Arda sambil terus menangis hingga tak terasa kemeja Arda menjadi basah terkena air matanya. “Sudahlah, kamu tak perlu menangis lagi. Dengan kejadian ini kamu telah ditunjukkan oleh Allah bahwa laki-laki itu memang tidak baik untukmu. Tetaplah semangat, masa depanmu masih panjang. Dan masih banyak kok laki-laki lain yang lebih baik dari tunanganmu itu, yang lebih bertanggung jawab pada perempuan,” Arda mencoba menghiburnya supaya tidak sedih lagi.


Perempuan itu pun menganggukan kepalanya dan tangisannya mulai reda, hatinya juga mulai tenang setelah dihibur oleh Arda.


“Sudah ya, berhentilah menangis. Kalau kamu menangis terus, bisa-bisa bajuku akan semakin basah karena air matamu,” kata Arda sambil terkekeh.


Perempuan itu baru menyadari jika sedari tadi dia menangis di bahu Arda sehingga baju Arda menjadi basah karena air matanya, “Maaf, maaf … baju kamu jadi basah karena aku.”


“Sudah tidak apa-apa, kebetulan aku bawa baju ganti kok. Oh iya, dari tadi aku suda mendengarkan ceritamu panjang dan lebar, tapi kita belum berkenalan. Hehehe … Kenalkan, namaku Arda,” ucap Arda memperkenalkan dirinya.


Perempuan itu jadi tersipu malu karena mereka sudah banyak ngobrol namun belum kenal nama masing-masing. Dia pun mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya, “Kenalkan, namaku Dina.”

__ADS_1


“Kamu sendirian aja ?” tanya Arda. “Iya, aku sendiri. Tadi aku pulang kerja dan saat di jalan aku melihat mobil tunanganku sedang parkir di salah satu butik. Lalu aku hampiri dia, ternyata dia menggandeng perempuan lain menuju butik itu. Dan dia bilang kalau dia sudah tidak cinta aku lagi, dia akan menikah dengan perempuan itu Ar … Hatiku langsung terasa sesak mendengarkan pengakuannya,” tutur Dina pada Arda namun dia sudah tidak terlalu bersedih lagi.


“Kamu pulang naik apa?” tanya Arda lagi.


“Aku naik ojek online” jawab Dina.


“Yuk, aku antar kau pulang. Aku juga akan segera pulang setelah ini, “ ajak Arda pada Dina dan disambut dengan anggukan kepala oleh Dina.


“Tapi tidak merepotkanmu kan? Nanti kalau pacarmu marah bagaimana Ar, melihat kamu mengantarku pulang ?” tanya Dina.


“Jangan khawatir Din, aku belum punya pacar. Jadi tidak akan ada yang marah padaku jika aku mengantarmu,” jawab Arda sambil tersenyum pada Dina.


Kemudian mereka berdua segera naik mobil Arda dan meluncur ke jalan raya. Sesekali Arda melirik ke arah Dina, gadis itu masih terlihat sedih dan pandangannya menerawang entah kemana.


Tak terasa Arda mengarahkan mobilnya masuk gang tempat kos Dina sesuai petunjuk dari Dina tadi. Arda sudah menghentikan mobilnya tepat di depan kos, namun Dina tidak menyadarinya karena dia masih nampak melamun. “Din, Dina … sudah sampai di kos kamu,” ucap Arda membangunkan lamunan Dina membuat Dina menjadi gugup karena malu, “Oh, iya … Terima kasih banyak ya Ar sudah mengantarkan aku pulang,” ucap Dina pada Arda.


“Iya, tidak apa-apa kok Din. Oh ya, apa aku boleh minta nomor ponselmu?” tanya Arda. “Boleh, “ jawab Dina sambil mengetik nomor ponselnya dan disimpan di ponsel milik Arda.


“Oke Din, aku akan langsung pulang saja, cepatlah masuk dan istirahatlah,” kata Arda. Dina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kosannya dan melambaikan tangan pada Arda yang melajukan mobilnya menuju jalan raya.


“Mbak Dina kenapa, apa yang telah terjadi, mengapa mbak Dina menangis ?” tanya Bulan penasaran kepada sepupunya itu. Kemudian Dina memeluk erat pada Bulan dan menangis lagi dengan keras di pelukan Bulan. Setelah tangisnya Dina mereda, Bulan memberikan segelas air putih pada Dina. “Ini minum dulu mbak biar tenang, setelah mbak Dina tenang ceritalah masalah mbak saat ini,” ucap Bulan pada Dina.


Setelah Dina sudah merasa tenang, akhirnya dia bercerita tentang masalahnya saat ini, dia telah diputus oleh tunangannya sendiri yaitu Taufik, karena Taufik telah berselingkuh dengan perempuan lain.


“Astaghfirullah …” Bulan terkejut mendengar cerita Dina tentang masalah yang dihadapinya saat ini. “Mbak Din yang sabar ya mbak, Insya Allah nanti mbak Dina akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari mas Taufik untuk mbak Dina. Anggap saja mas Taufik bukan jodoh mbak Dina. Sekarang mbak Dina jangan sedih lagi ya, aku akan selalu menemani mbak Dina kemana saja,” ucap Bulan sambil memeluk erat sepupunya. Bulan pun merasa marah pada Taufik yang telah membuat sepupunya sakit hati, apalagi awal tahun depan mereka sudah merencanakan untuk menikah.


“Terima kasih ya dek, hanya kamu yang mbak miliki di kota ini,” Dina terus memeluk Bulan dan berusaha untuk menunjukkan senyumnya pada Bulan.


“Nah, kalau mbak Dina tersenyum begitu jadi kelihatan lagi deh cantiknya, “ goda Bulan pada Dina membuat Dina menjadi tersipu malu.


“Mbak mau sholat Isya’ dulu ya, setelah itu mbak mau langsung tidur,” kata Dina.


“Iya mbak, tapi mbak Dina sudah makan malam belum? Tadi aku bikin sop ayam di dapur,” ucap Bulan. “Sudah dek, mbak tadi sudah makan kok,” jawab Dina sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar


Bulan memperhatikan sepupunya itu dengan perasaan sedih, ‘Pasti mbak Dina saat ini pedih sekali hatinya, Ya Allah berikan kebahagiaan pada Mbak Dina,’ ucap Bulan dalam hati kemudian dia beranjak masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


***


 


Pagi ini Dina dan Bulan berangkat kerja bersama-sama naik bis, Bulan merasa kasihan pada sepupunya itu dan tidak tega jika dia berangkat sendirian naik bis, jadi dia berinisiatif untuk menemani naik bis.


Setelah bis sampai di halte dekat kantor Mahardhika Grup, Bulan pun turun lebih dahulu. Sedangkan Dina masih melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerjanya, mereka berpisah dan saling melambaikan tangan.


Drrrttt … Drrrtt … drrrtt …


Ponsel Dina bergetar dan ada pesan masuk, Dina segera melihat siapa yang tela mengirim pesan, ternyata ada nomor baru.


“Pagi …” kata pesan tersebut.


“Pagi juga, siapa ya ini ?” Dina mengirim balik balasan pesan itu.


“Hai, aku Arda … masih ingat ?” jawab pesan itu yang ternyata diketahui pesan dari Arda.


“Oh, iya … maaf aku kan belum catat nomor kamu kemarin,” balas Dina.


“Bagaimana kabarmu ari ini ?” tanya Arda pada Dina.


“Alhamdulillah lebih baik sekarang Ar” kata Dina dalam pesannya.


“Syukurlah kalau begitu, apakah kamu kerja hari ini?” tanya Arda.


“Iya, aku kerja hari ini. Makasih ya sudah menghubungi aku pagi ini,” jawab Dina.


“Baiklah, selamat beraktivitas ya.” ucap Arda. “Oke, kamu juga Ar,” balas Dina.


Kemudian Dina menutup ponselnya dan tampak senyumnya menghiasi wajahnya pagi ini. Mulai saat ini dia akan berusaha melupakan Taufik dalam kehidupannya dan dia akan melangkah menuju masa depannya dengan lebih semangat.


Sesampai di dekat tempat kerjanya, Dina pun turun dari bis. Sambil berjalan menuju tempat kerjanya, Dina sempat berpikir jika dia sepertinya pernah bertemu dengan Arda sebelumnya tapi dia lupa kapan dan dimana dia pernah bertemu dengan Arda.


######################

__ADS_1


Happy reading ... :-)


__ADS_2