
Pagi ini Bintang harus melakukan sidak dan evaluasi anak perusahaan Mahardhika Grup yang berada di cabang.
“Adryana, tolong panggilkan Bulan dari divisi marketing !” perintah Bintang pada sekretarisnya melalui mesin interkom. “Baik pak,” jawab Adryana dari ruangannya melalui interkom.
Tidak berapa lama kemudian Bulan masuk ke dalam ruangan Bintang dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Silahkan masuk !” perintah Bintang dari dalam ruangan.
“Permisi pak, apakah bapak memanggil saya ?” tanya Bulan di hadapan Bintang.
“Silahkan duduk !” Bintang mempersilahkan Bulan untuk duduk di kursi depan meja kerjanya. “Hari ini saya akan melakukan sidak dan evaluasi di kantor cabang, oleh karena itu saya minta kamu ikut saya saat ini,” ucap Bintang sambil memandang ke arah Bulan dengan pandangan tajam.
“Mmm … maaf pak, mengapa saya yang mendampingi bapak untuk ke kantor cabang? Bukannya sudah ada pak Arda atau Kak Adryana yang lebih berhak untuk mendampingi kunjungan kerja?” jawab Bulan keheranan sambil menundukkan pandangannya agar tidak terlihat oleh Bintang jika dia merasa malu dipandang oleh Bintang.
“Arda dan Adryana sedang ada pekerjaan yang lain. Jadi aku minta tolong ke kamu dampingi aku,” ucap Bintang.
“ Tapi pak …”, kata Bulan dengan cepat.
“Jangan membantah! Ini adalah perintahku !” kata Bintang dengan tegas.
“Baik pak, saya akan bersiap-siap,” jawab Bulan sambil menundukkan kepalanya takut jika Bintang semakin marah padanya, karena dia tidak mau jika dipecat oleh Bintang. “Bagus, 5 menit lagi tunggu aku di lobby!” perintah Bintang. Bulan menganggukkan kepalanya dan pamit keluar ruangan menuju ruangannya untuk bersiap-siap dan menunggu Bintang di lobby.
Setelah Bintang dan Bulan bertemu di lobby, kemudian mereka menuju ke mobil kantor yang sudah ditunggu pula oleh sopir kantor dan mobilpun berjalan menuju kantor cabang yang akan didatangi oleh mereka
Selama Bintang melakukan.kunjungan kerjanya dan mengevaluasi hasil kerja kantor cabang, Bulan bertugas mencatat apa yang sudah menjadi isi pembicaraan antara Bintang dengan pimpinan kantor cabang. Tak jarang pula Bintang meminta Bulan untuk mengambilkan minuman yang sudah disediakan untuknya.
“Bulan, ambilkan aku secangkir kopi dan snack di meja itu !” perintah Bintang sambil berbisik pada Bulan.
“ Ini pak kopinya, “ ucap Bulan sambil menyerahkan secangkir kopi pada Bintang.
‘Ih, manja sekali sih orang ini, tinggal ambil saja pakai menyuruh orang lain’ gumam Bulan dalam hati merasa jengkel dengan atasannya itu.
“Senyum kamu mana?!” bisik Bintang lagi pada Bulan, membuat Bulan terkejut dan seketika itu pula Bulan memperlihatkan senyumnya yang manis. ‘Duh ada-ada saja sih, iiihhh …’ Bulan menggerutu dalam hati sambil masih memperlihatkan senyumnya ke arah Bintang.
Setelah evaluasi terhadap kantor cabang selesai, Bintang pun pamit meninggalkan lokasi diiringi oleh Bulan yang berjalan di sampingnya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor pusat.
Dalam perjalanan tiba-tiba perut Bulan berbunyi dan terdengar oleh Bintang. “Kamu lapar?” tanya Bintang sambil mengarahkan pandangannya pada Bulan yang duduk di sampingnya.
“Oh, ti… tidak Pak, mungkin perut bapak yang lapar,” jawab Bulan gugup.
__ADS_1
“Jangan bohong!” ucap Bintang. Kemudian Bintang menyuruh sopirnya untuk berhenti di restoran depan.
“Ayo turun, kita makan siang dulu !” perintah Bintang pada Bulan. Kemudian Bulan mengikuti langkah Bintang masuk ke dalam restoran untuk makan siang.
Restoran ini cukup mewah untuk ukuran Bulan, tidak lama kemudian hidangan yang mereka pesan sudah tiba dan mereka pun makan siang berdua.
“Ada yang ingin kubicarakan padamu,” kata Bintang pada Bulan setelah menghabiskan makanannya.
“Tentang apa itu pak, apakah saya telah melakukan kesalahan?” tanya Bulan dengan penuh rasa ingin tahu
“Bukan. Aku ingin kamu membantuku dan ini penting sekali,” jawab Bintang. Bulan semakin menunjukkan rasa penasarannya dengan memandang ke arah Bintang.
“Minggu ini aku akan mengajakmu menemui kedua orang tuaku. Aku akan mengenalkan dirimu sebagai calon istriku pada mereka, dan kamu harus mau melakukannya karena ini adalah perintah atasanmu,” kata Bintang dengan tegas.
Sejenak Bulan terdiam tidak mengerti maksud dari atasannya itu. “Tapi pak, saya kan bukan kekasih bapak,” ucap Bulan dengan nada sedikit ditinggikan.
“Kamu harus bisa bersandiwara di depan kedua orang tuaku, dan kamu harus mau melakukannya. Hari Minggu aku akan menjemputmu di kos dan bersiaplah untuk bertemu orang tuaku, jangan membantah !” kata Bintang. Bulan hanya bisa menuruti kemauan atasannya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan kembali mengikuti langkah Bintang menuju mobil setelah mereka selesai makan.
Selama perjalanan menuju kantor pusat, Bulan hanya diam saja karena masih memikirkan kata-kata Bintang, apalagi yang akan direncanakan oleh atasannya itu pada dirinya. Apakah nantinya orang tua Bintang akan mau menerima keberadaan dirinya di keluarga mereka? Karena menurutnya Bintang adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja, sedangkan dirinya hanyalah orang kecil yang orang tuanya hanyalah sebagai pedagang kecil dan asisten rumah tangga saja. Begitu banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran Bulan saat ini. Sekilas Bintang melirik ke arah Bulan yang sedang melamun, namun Bintang juga tidak keluar sepatah kata pun.
***
“Baik, terima kasih,” jawab Bintang dan dia duduk di teras kos.
Setelah itu Bulan sudah siap dan keluar menemui Bintang, “Maaf menunggu lama,” kata Bulan berdiri di hadapan Bintang, membuat Bintang terkejut dengan kecantikan Bulan saat ini. Bulan memakai baju warna pink motif bunga dengan paduan kerudung warna coklat muda, riasan di wajahnya pun sangat sederhana namun tetap memancarkan aura kecantikannya.
Penampilan Bulan saat ini
Penampilan Bintang saat menjemput Bulan, menggunakan sweater motif kotak-kotak
“Kau sudah siap? Ayo kita berangkat !” ucap Bintang memecahkan keheningan di antara mereka. Kemudian mereka berpamitan pada Dina dan pergi menuju rumah Bintang.
Sesampai di rumah kediaman Surya Mahardhika, kedatangan Bulan telah disambut oleh Pak Surya, Bu Ines dan juga Bella.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum,” Bulan mengucapkan salam dengan tersenyum kepada keluarga Surya, dan dijawab oleh mereka. ‘Wa’alaikumsalam”.
“Ma, Pa, kenalkan ini Bulan, calon istri Bintang,” ucap Bintang mengenalkan Bulan pada kedua orang tuanya. Bulan hanya menundukkan kepalanya karena menahan malu. Mereka secara bergantian bersalaman dengan Bulan. Saat ini Bulan merasa deg-degan karena baru kali ini dia bertemu langsung oleh pemilik Mahardhika Grup dan harus berpura-pura sebagai calon istri Bintang.
“Bulan, kamu cantik sekali. Hai Bin, kenapa sih kamu tidak pernah bercerita pada mama dan papa kalau punya calon istri yang cantik seperti Bulan,” tanya bu Ines pada Bintang. “Mama ini, kalau diberi tahu lebih dahulu itu namanya bukan kejutan,” jawab Bintang sambil melirik ke arah Bulan yang masih tersipu malu.
“Terima kasih tante dan Om atas sambutan baiknya pada saya,” ucap Bulan dengan ramah pada orang tua Bintang. “Bulan, kamu ini kan calon istri Bintang, jadi kamu juga sebentar lagi menjadi anak kami. Jadi jangan memanggil tante dan om ya sayang, tapi kamu harus memanggil kami dengan sebutan mama dan papa, seperti Bintang memanggil kami,” kata bu Ines sambil memeluk Bulan dan senang sekali dengan kehadiran Bulan.
“Baiklah tan … eh, Mama,” sahut Bulan dan disambut tertawa oleh keluarga Surya. “Nanti lama-lama kamu akan terbiasa,” kata Pak Surya pada Bulan.
“Kak Bintang, curang deh, dari tadi aku tidak dikenalkan pada calon kakak ipar,” seloroh Bella pada Bintang sambil memajukan mulutnya ke depan.
“Kenalan saja sendiri, kamu kan sudah besar,” jawab Bintang.
“Hai kak Bulan, kenalkan namaku Bella, aku sekarang kelas 3 SMA” kata Bella mengenalkan dirinya pada Bulan.
Bulan menyambut perkenalan Bella dengan tersenyum, “Oh ya? Wah, sama seperti adik kak Bulan sudah kelas 3 SMA,” kata Bulan. “Tapi adik kak Bulan itu laki-laki namanya Bimantara, sedangkan yang paling kecil masih kelas 3 SMP namanya Mentari,” cerita Bulan pada Bella.
“Ya sudah, ceritanya disambung lagi nanti. Sekarang kita makan malam dulu yuk. Bintang, ajak Bulan makan dulu bersama kita !” ajak bu Ines pada Bulan.
Mereka pun menikmati makan malam bersama. Bulan merasa malu bisa berkumpul dengan keluarga Bintang dan timbul perasaan minder dalam dirinya. Bintang yang melihat Bulan diam terpaku berinisiatif mengambilkan nasi dan lauk untuk Bulan, membuat Bulan menjadi salah tingkah dengan perlakuan Bintang. “Mmm, biar saya ambil sendiri pak,” kata Bulan pada Bintang.”
“Ssstt, jangan panggil Pak, ingat kini kau sedang berperan sebagai calon istriku !” jawab Bintang. “Cepatlah kau makan ! Atau kamu mau aku suapi?” ucap Bintang sambil terkekeh. Bulan pun langsung mengambil nasi dengan sendoknya dan mengarahkan ke dalam mulutnya.
“Ayo Bulan, nambah lagi sayurnya, jangan malu-malu,” perintah Pak surya.
“Terima kasih Pa, Bulan sudah kenyang,” jawab Bulan dengan ramah.
Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga dan mengobrol banyak. Bulan juga menceritakan tentang keadaan orang tua dan adik-adiknya yang sekarang masih tinggal di kota Surabaya. Mereka pun mendengarkan cerita Bulan dengan seksama, begtu pula dengan Bintang yang memang selama ini tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Bulan. Dia kenal Bulan hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Pak Surya pun akhirnya mengetahui jika sebenarnya Bulan juga bekerja di perusahaan yang ia pimpin.
Tak terasa hari sudah gelap, Bulan berpamitan pada keluarga Pak Surya dan berterima kasih telah disambut dengan hangat. Bintang berpamitan pada orang tuanya untuk mengantar Bulan pulang.
“Seringlah main kesini ya Bulan,” ucap Bu Ines. “Bin, kalau kamu pulang kerja tidak terlalu malam, bawa Bulan main ke rumah ya sayang,” Bulan dan Bintang menganggukkan kepala bersama-sama dan melambaikan tangan pada Bu Ines dan Pak Surya. “Assalamu’alaikum,” ucap Bulan pada keluarga Surya, dan dijawab oleh mereka. Kemudian mobil Bintang keluar dari rumah yang megah itu menuju ke kos Bulan.
###################
Hai readers, apakah kalian suka cerita ini? beri like, vote dan komentar kalian ya....
__ADS_1
Happy reading, semoga indah hari kalian :-)