Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Episode 18. Teman Lama


__ADS_3

“Bulan …??!” kata orang yang hampir ditabrak Bulan tadi.


Bulan mendadak menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah suara yang memanggilnya.


“Ka .. kamu ?!” Bulan terkejut saat dia melihat orang yang memanggilnya dan hampir dia tabrak.


“Kamu Bulan kan ?” tanya orang itu untuk meyakinkan lagi. “Iya, betul. Kamu siapa ya ?” tanya Bulan balik.


“Kamu lupa padaku? Aku Okto, kita berteman saat masih di SMP. Sudah ingat ?” kata orang tersebut.


“Masya Allah, iya aku baru ingat sekarang. Tapi kok kamu bisa disini sih To, bagaimana kabarmu ?” tanya Bulan senang sekali bisa bertemu dengan teman lamanya saat masih duduk di bangku SMP.


“Alhamdulillah kabarku baik Lan, iya aku sekarang sedang magang di perusahaan ini di bagian produksi.” jawab Okto dengan penuh semangat.


“Oh ya? Wah kebetulan sekali ya, aku juga kerja di sini tapi divisi marketing. Kapan-kapan kita ngobrol lagi yang banyak ya tentang teman-teman kita dulu. Maaf ya aku mau lanjut ke ruanganku dulu,” kata Bulan sambil berpamitan pada temannya itu.


“Baiklah, sampai jumpa lagi ya Lan. Boleh aku minta nomormu yang bisa dihubungi? Mau ngga jika kamu masuk ke dalam grup chat SMP kita?” ucap Okto.


“Boleh, boleh kok. Sini mana ponselmu,” Bulan mengetik nomor ponselnya di ponsel milik Okto.


“Terima kasih ya Bulan, semoga kita bisa bertemu lagi.” kata Okto yang keudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang produksi.


“Ehem, ehem … “ tiba-tiba Bulan mendengar suara orang berdehem dekat dengan dirinya. Bulan menoleh ke arah belakang, rupanya sudah ada Bintang yang entah sudah berapa lama berdiri memperhatikan dirinya.


“Hmm … jadi begini kerjaan kamu kalau masih jam kerja terus ngobrol dengan orang asing lalu saling bertukar nomor. Setelah itu mau ketemuan dimana, mall, kafe, atau taman ? Iya, benar begitu ?” tanya Bintang sambil memandang Bulan dengan sangat tajam tepat di depan wajahnya yang berjarak kurang lebih lima sentimeter, membuat Bulan memejamkan matanya karena ngeri melihat tatapan Bintang.


“Kenapa diam ?!” tanya Bintang dengan nada tinggi.


“Dia temanku Bin …” ucap Bulan pelan karena ketakutan dengan amarah Bintang.


“Teman? Teman ketemu gede ? yang aku tahu teman kamu cuma Mega dan Nita kan, lalu laki-laki itu siapa, hah ?!” Bintang semakin emosi dan tanpa disadari tangannya mencengkeram pundak Bulan. Beruntung mereka di tempat yang sepi, jadi tidak ada karyawan lain yang melihat mereka berdua.


“Maaf Bin, tolong lepaskan tanganmu… hiks, hiks … “ Bulan memohon pada Bintang dan air matanya mulai mengalir.


Bintang pun tersadar dengan apa yang dia perbuat baru saja pada Bulan, setelah melihat gadis yang akan dinikahinya itu mulai menangis menahan rasa sakit.


“Ma .. maafkan aku Bulan, aku khilaf. Aku terlalu kasar padamu tadi, karena aku tidak suka ada laki-laki lain yang mendekatimu.” ucap Bintang meminta maaf pada Bulan. Namun Bulan hanya diam saja, kemudian Bintang berinisiatif untuk meraih pundak bulan dengan lembut dan memeluknya supaya Bulan bisa tenang.


“Kamu kembali ke ruanganku saja ya supaya kamu tenang, nanti aku akan bilang ke pak Tomi jika aku butuh bantuanmu dalam menangani proyek baru. Sekarang diamlah, jangan nangis lagi ya. Aku minta maaf ya Lan,” Bintang pun semakin erat memeluk Bulan sebagai permohonan maaf dan rasa bersalahnya.


Akhirnya Bintang menuntun Bulan masuk ke dalam ruangannya lagi, Bulan pun menemani Bintang bekerja di dalam ruangannya hingga waktunya pulang.


Bintang pulang bersama Bulan, sekarang setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang bersama-sama. Namun saat ini terasa hening di dalam mobil, Bulan masih diam tidak ingin bicara, sedangkan Bintang fokus pada mobilnya dan sesekali melirik ke arah Bulan.

__ADS_1


“Bulan … “ ucap Bintang memanggil bulan.”Jangan diam terus dong … aku kan sudah minta maaf sama kamu.”


“Bin … “ Bulan mulai membuka suaranya. “Hmm …” jawab Bintang.


“Aku lapar,” jawab Bulan. “Ya ampun Bulan, kamu diam dari tadi itu karena lapar ? Baiklah, kita ke restoran ya, kamu ingin makan apa ?” tanya Bintang.


“ Kita makan pizza aja yuk Bin,” ajak Bulan pada Bintang.


“Siap tuan puteri,” ucap Bintang sambil tersenyum ke arah Bulan, dan mengarahkan mobilnya menuju restoran pizza yang sudah terkenal di Indonesia.


Bulan pun membalas dengan tersenyum sambil berkata dalam hati ‘tampan sekali sih orang ini’ sambil matanya tidak lepas memandang Bintang.


Sesampai di restoran dan mereka sudah memesan pizza dan ice lemon tea, Bulan mencoba untuk membuka obrolan dengan Bintang.


“Bin …” ucap Bulan. “Ya, ada apa ?” Bintang mencoba untuk berkata secara pelan dan lembut.


“Aku mohon kamu jangan marah soal tadi di kantor ya. Dia itu Okto, teman aku saat duduk di bangku SMP. Kebetulan kami baru ketemu lagi setela sekian lama setela acara perpisahan. Saat ini dia magang disana Bin, jadi kamu jangan curiga padanya ya,” Bulan bercerita tentang laki-laki yang bertemu dengannya tadi.


“Apakah dia pacarmu di SMP ?” tanya Bintang penuh selidik.


“Bukan Bin, aku belum pernah pacaran. Dulu dia pernah mengutarakan isi hatinya kalau suka sama aku, tapi aku tolak karena aku merasa masih kecil dan masih ingin menuntut ilmu,” cerita Bulan.


“Hmm … apakah sekarang dia akan mengejarmu lagi ?” tanya Bintang. ‘’


“Mengapa kok ditolak lagi? Kamu sekarang kan sudah tidak kecil lagi, jadi boleh dong berpacaran,” goda Bintang.


“Karena di hati aku sudah ada yang mengisinya Bin … “ jawab Bulan malu.


“Oh ya, benarkah ? siapa orangnya, apakah aku kenal dia ?” tanya Bintang dengan terus menggoda bulan.


“Iiihhh … Bintaaaangg, kamu tuh tidak peka sekali sih jadi orang !” ucap Bulan sambil cemberut bibirnya.


“Hahaha…. kamu itu lucu ya, ada orang bertanya malah cemberut,” kata Bintang sambil mengunyah makanannya. “Siapa orang yang sudah mengisi hati kamu saat ini Lan ? berarti aku merasa bersalah dengan orang itu, karena sudah merebutmu dan akan menikahimu,” Bintang seolah penasaran dengan ucapan Bulan dan terus menggodanya.


Bulan memukul bahu Bintang yang duduk di sebelahnya,” Pikir sendiri sajalah,” ucap Bulan kesal.


“Aku lagi males mikir, beri contekan jawaban dong,” kata Bintang sekenanya.


“Orang yang sudah mengisi hati aku itu K - A - M - U …. kamu !” ucap Bulan menatap tajam ke arah Bintang sambil mengeja perhuruf.


Bintang terbatuk-batuk mendengar ucapan Bulan lalu dia minum seteguk, “Benarkah ?” sambil membalas tatapan Bulan. “Padahal yang ada di hati aku bukan kamu,” kata Bintang masih menggoda Bulan, dia memang sengaja begitu karena ingin tahu isi hati Bulan padanya.


“Siapa Bin ?!” ganti Bulan yang terkejut dengan ucapan Bintang.

__ADS_1


“Mau tahu ?” tanya Bintang. “Iya,” jawab Bulan singkat.


“Dia adalah seorang gadis yang sangat ceroboh, yang dulu saat pertama kali aku kenal gara-gara bajunya terpercik air comberan akibat dari mobilku yang melaju kencang, dan dia itu bernama Bulan Pramita Dharmaputri, anaknya Pak Dharma Putra dan sebentar lagi kami akan menikah.” ucap Bintang menjelaskan dengan panjang dan jelas.


Pipi Bulan pun bersemu merah mendengar pengakuan Bintang dan Bulan tersenyum bahagia meskipun sambil tersipu malu.


“Bin, bagaimana perasaanmu pada gadis itu ?” Bulan memberanikan diri untuk bertanya.


“Entahlah, perasaan apakah yang aku miliki saat ini padanya, yang jelas aku setiap hari selalu memikirkannya, tidak ingin berjauhan darinya dan selalu merindukannya,” jawab Bintang dengan tegas.


Bulan pun semakin melayang dibuatnya, tak terasa air matanya menetes di pipi. Dia tak menyangka ternyata di balik sikapnya yang arogan, Bintang juga memiliki sisi kelembutan.


“ Bin, sebelum hadirnya aku di hatimu, sudah ada berapa gadis yang pernah mengisi hatimu ?” Bulan mulai semakin berani bertanya.


“Sudah ada dua, jadi kamu yang ketiga dan yang terakhir buatku,’jawab Bintang sambil mengusap lembut pipi Bulan. “Aamiin … semoga meang aku yang terakhir bagimu Bin,”.


“Bin … “ ucap Bulan memanggil Bintang dengan lembut. “Hmm …” Bintang mendekatkan telinganya seolah-olah Bulan akan membisikkan sesuatu padanya. “Kamu adalah yang pertama dan terakhir buatku,” kata Bulan sambil memandang Bintang.


“Hah, serius ?” Bintang menatap Bulan minta penjelasan.


“Iya Bin, aku serius !” ucap Bulan sambil menampakkan senyum manisnya pada Bintang.


“Apakah kamu benar-benar sudah siap menjadi Nyonya Bintang Mahardhika Putra ?” tanya Bintang serius pada Bulan. “Insya Allah aku siap,” jawab Bulan dengan tegas.


“Bulan, maukah kamu berjanji padaku?” Bintang mengajukan pertanyaan lagi untuk memantapkan hatinya.


“Apa itu ?” tanya Bulan balik. “Jangan pernah tinggalkan aku ya !” jawab Bintang penuh harap. “Iya Bin, selama kamu pun tidak akan pernah meninggalkan aku,” ucap Bulan.


“Aku janji, aku akan selalu disampingmu, menjaga dirimu dan hatimu selamanya. Aku akan membuatmu bahagia” kata Bintang meyakinkan hati Bulan. “Iya Bin, terima kasih, akupun begitu,” Bulan juga meyakinkan hati Bintang.


Bintang memeluk erat Bulan seakan tidak mau melepasnya, mereka pun tidak menyangka pertemuan awal mereka berlanjut menjadi hubungan yang serius. Tak terasa mereka mengobrol hingga malam sudah larut, dan mereka pun keluar dari restoran menuju mobil untuk kembali pulang.


 


#######################


So sweet banget sih Bintang dan Bulan ini ...


Bagaimana ceritanya, masih ingin lanjut ??


Ketik komentarmu, berikan like dan vote untuk author ya. Jadikan cerita ini cerita favorit untuk kalian  ...


Selamat Membaca ... :-)

__ADS_1


__ADS_2